Senin, 25 Februari 2013

Motion Arena dan Kebangkitan Indiegarden Jember



"Ja Akoe akan dibaca," kata Max Havelar dalam novel masyur karangan Multatuli, alias Eduard Douwes Dekker, yang ditulis pada tahun 1860. Entah mengapa hari itu, warung kopi cak wang, tempat saya menulis seharian memutar lagu-lagu jazz. Tidak seperti biasanya memang. Hari itu rekan-rekan dari komunitas musik indie Jember dan beberapa pegiat fotografi sedang ada kenduri sosial. "Motion Arena Dhan. Acara ini semacam release video clip musik dari beberapa band indie Jember," kata rekan saya Romdhi Fakhturozi yang kebetulan juga dosen program studi film dan televisi di Universitas Jember.

Sejak seminggu sebelumnya Romdhi sudah ramai mengganggu saya untuk hadir di acara ini. Bahwa acara ini penting untuk pengembangan komunitas musik, terutama musik indie, di Jember. Ia bilang ada beberapa karya video yang ia bikin dipertunjukan dan butuh masukan dan kritik. Di lain kesempatan ia pernah beradu pendapat dengan saya tentang kritik. "Kita disini (Jember) masih belum familiar dengan kritik. Mereka masih sungkan-sungkan," katanya. 

Agak lucu sebenarnya bagaimana sebuah komunitas berbasis musik harus memulai langkah besarnya dari medium visual. Kalau memang total bermusik ya bermusik saja. Bikin karya yang bagus. Distribusikan dan biar khalayak yang menilai. Toh banyak band indie di kota lain yang memakai metode ini dan baik-baik saja. "Tapi kota lain sudah punya budaya musik yang baik. Komunitas mereka hidup dan taste mereka sudah dibentuk," kata seorang pada satu waktu.

Apakah benar demikian? Kota ini sedemikian menyedihkankah sehingga perlu stimulan luar untuk bisa berkembang. Awalnya saya pikir Fingger, nama komunitas indie Jember, sudah sangat baik karena mampu menghasilkan band yang lumayan keren. Seperti Upnormal dan  Lin D band keren yang sudah saya kenal sejak SMA dulu. Hari ini ada The Bajahitam yang sejak lama sudah saya nantikan rilis album terbarunya. Setidaknya dengan barisan nama besar itu Jember tak punya alasan untuk merasa kecil atau inferior.

"Jember anak bandnya gak satu (kompak) mas. Masih ada gap-gapan satu sama lain," kata seorang kenalan saya. Ah tak masalah, toh dalam tiap proses kreatif terkadang dibutuhkan musuh untuk bisa meningkatkan kreatifitas kita. "Tapi ini beda. Kadang mereka cuma bikin musik apa yang trend saat itu. Sudah abis trendnya ganti lagi alirannya," kata kawan saya itu. Ah masa sih? Mentalitas anak muda di Jember seperti itu? Sejauh yang saya ingat mereka adalah creative minority yang pejal. Menolak untuk tunduk dan sigap melawan status quo.

Ketika Jeff Leven jurnalis Paste Magazine melahirkan terma Indiegarden, ia bicara dengan sinis tentang sebuah skena. Bahwa seringkali ekslusifitas sebuah komunitas membuat mereka lena pada sebuah status yang maha tahu dan kenal terlebih dahulu. Tanpa adanya upaya transfer of knowledge sehingga apa yang disebut cult akan tetap terjaga. Tapi di sisi lain ia juga mencoba memberikan sebuah wacana tentang distribusi pengetahuan dan keadilan untuk mendengarkan apapun tanpa harus dituduh sebagai seorang peniru atau ikut-ikutan.

Jeff barangkali berusaha adil untuk menyatakan bahwa siapapun berhak belajar mendengarkan Godspeed You Black Emperor, meskipun ia juga menyukai One Direction. Bahwa siapapun berhak mendengarkan Wilco meski ia penggemar berat Rihana. Indiegarden berbicara perihal usaha menyadari di luar trend yang coba disesakan MTV ada beberapa musik kanon yang layak didengarkan. Dan tak ada salahnya mencari selera musik sendiri dari berbagai aliran musik yang ada.

Ikhsan Sasmita, vokalis the bajahitam, dalam banyak kesempatan sering berkata tentang ini. "Bukan tentang siapa yang tahu duluan atau siapa yang paling paham. Tapi soal sharing." katanya. Ia benar. Sebuah komunitas selayaknya bekerja sebagai keluarga berbagi dalam berbagai hal. Hal ini juga berarti memberikan kritik yang jujur dan apa adanya. "Kita masih belum terbuka pada kritik. Masukan keras seringkali dianggap gak suka," lanjutnya.

Menjadi tahu roots sebuah aliran musik tak berarti kita harus menjadi ronin yang bekerja sendiri. Di UK kita mengenal skena musik Madchester yang lahir di akhir 1980an di Kota Manchester. Berkembang di sebuah klub malam bernama The Ha├žienda, konon sih kata wikipedia dimiliki oleh band legenda New Order dan Factory Records. Bayangkan jika Warung Kopi Cak Wang di Jember ini bisa melakukan hal serupa. Mencoba apa yang dilakukan The Ha├žienda sehingga bisa membidani band kanonik macam Happy Mondays dan The Stone Roses.

Tentu tak adil membandingakan Jember dengan Manchester. Dengan standar apapun tentu Jember memiliki kelemahan yang sangat besar. Lubang yang tak mungkin bisa membuat kota ini setara dengan mereka. Namun bukan berarti kita tak bisa mengadopsi pola gerilyawan para pegiat indie di kota itu bukan? Dalam artikel lain Guardian bercerita bagaimana skena musik Inggris dibangun dari apa yang mereka sebut sebagai Toilet Circuit. Sebuah cafe atau pub yang cukup sempit untuk bisa menampilkan band secara sederhana.

Seringkali dalam sebuah komunitas bukan tentang jumlah yang hadir, tapi siapa yang peduli dan mau mendengar. "Jember punya potensi," kata Ikhsan. Saya suka semangatnya serupa sebuah semangat yang pernah saya dengar. "Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin," pada beberapa hal kalimat ini merupakan sebuah motivasi yang baik. Bekerja secara nyata, sekecil apapun itu, lebih dari sekedar kata-kata kosong yang harus kita bayar mahal dari mulut motivator medioker.

Sebenarnya saya sudah kehilangan selera untuk bicara tentang komunitas musik. Terlalu banyak scenester yang meracuni proses kreatif hanya karena ingin dikenal. Dalam sebuah artikel yang pedas dan keji Noisey menuliskan enam alasan untuk mengakhiri sebuah skena. Salah satu alasan yang paling masuk akal adalah sebuah komunitas seringkali hanya diisi oleh orang yang itu-itu saja. Ketika ada orang baru akan ada sebuah rasa jengah. Hal ini diperparah oleh keberadaan orang-orang yang terlanjur menjadi berhala karena lahir duluan dan eksis duluan dalam komunitas itu.

Saya tak berkata bahwa Jember mengalami hal ini. Lebih dari itu saya salut dan menghormati bahwa ada beberapa senior skena yang masih mau turun dan berproses bersama. Salah satunya adalah Arie dari netlabel Mindblasting yang saya temui di Jogja ketika acara netlabel union. Orang ini adalah versi slackers dari Jendral Soedirman. Ia bercita-cita mengembangkan musik Jember dengan netlabel yang dimilikinya. "Saya bukan orang Jember. Cuma kuliah disana. Tapi saya punya ikatan dengan kota itu," katanya.

Skena musik di kota Bandung, Jakarta, Medan, Jogjakarta dan Malang mulai bergiat dari hal hal sederhana. Dari lingkar kecil pertemanan yang bergerak dengan sebuah tujuan sederhana. Bersenang-senang bersama kawan. Sebuah skena musik semestinya egaliter, mudah diakses dan yang jelas ia adalah tempat dimana siapapun bisa menjadi diri sendiri. Ekslusifitas sebuah komunitas hanya berarti satu hal. Elitisme. Elitisme adalah hal terahir yang dibutuhkan sebuah skena musik untuk bisa maju.

Tak ada salahnya menetapkan standar tinggi dalam proses pembelajaran. Kita bisa belajar bagaimana Jogja dan Malang hari ini mulai bergeliat dalam skena musik Indonesia. Komunitas kreatif, seniman, musisi dan penulis yang dulu didominasi oleh Jakarta atau Bandung mulai terkikis. Mulai dari zine kreatif macam Wave-E Zine di Medan dan Majalah Sintetik di Malang. Atau netlabel online semacam Yesnowave dan creative collective teater Garasi di Jogja. Nama-nama besar ini tidak lahir dalam sehari, seperti juga Roma tak dibangun dalam waktu semalam. Semua berasal dari proses panjang yang konsisten.

Tentu kita harus menyadari kemampuan diri sendiri dan melihat bagaimana keadaan kota Jember sendiri. Tapi semangat skena musik indie bukan sekedar unjuk pamer belaka. Saya kira rekan-rekan di Jember paham ini. Motion Arena lahir dari semangat itu. Bahwa sendirian komunitas musik Jember barangkali hanya akan jalan di tempat. Perlu ada kerja sama. Perlu ada kolaborasi dari orang-orang yang ingin berubah dan mengembangkan diri.

Whisnu Bakker, salah satu pegiat scene musik dan video maker di Jember, melihat Motion Arena sebagai ajang untuk menggali kreativitas. Bekerja sama dengan The Bajahitam ia memproduksi musik video untuk lagu M.O.N.S.T.E.R. Butuh waktu sekitar satu bulan bagi dia untuk melakukan riset, eksekusi tema, pengambilan gambar hingga editing kelar. Meski mengaku pro bono Whisnu melihat video ini sebagai simultan untuk membakar komunitas. "Jangan sungkan memberi masukan. Kritik keras juga tak apa," katanya.

Skena musik Indie Indonesia barangkali mulai mengadopsi medium medio sebagai katalis promosi saat MTV asia masih berjaya. Bukan untuk rebutan reputasi dan berharap bisa masuk dalam TV, tapi lebih kepada alternatif cara untk melakukan promosi visual terhadap band mereka masing-masing. Saya tak pernah setuju ini. Musik harusnya didengarkan sebagai sebuah suara an sich. Dulu sebelum ada televisi, piringan hitam dan radio adalah perang bagi musisi untuk melahirkan musik yang baik bagi para pendengarnya.

Tapi toh hal ini tidak salah. Mocca, Naif, My Pet Sally dan Es Nanas adalah beberapa band Indie Indonesia yang saya kenal awal dari teaser video. Ironisnya saya mengenal mereka dari MTV yang selama ini dikutuk keberadaanya. Chanel musik inilah yang pada Agustus 1981 pertama kali mengudara dan secara komikal memutar video klasik The Buggles "Video Killed the Radio Star". Saat itu seluruh dunia sedang riuh dengan perang dingin dua blok negara raksasa. Kelahiran video musik adalah eskapisme sempurna dari tengiknya politik dunia.

Tapi mari kita kembali ke Jember. Pentingkah adanya video musik untuk sebuah musik yang bahkan tak memiliki kemapanan persaudaraan? Saya pribadi awalnya skeptis atau lebih tepat apatis. Saya tak pernah percaya apapun kecuali buku. Tapi malam itu di sudut warung Kopi Cak Wang Jember, di tengah keriuhan yang hangat. Pegiat musik jember berkumpul dan melihat hasil karyanya masing-masing. Musisi melihat interpertasi lagu mereka dalam frame-frame yang diciptakan Video Maker. Jurang perbedaan medan kerja adalah nihil. Yang ada malah harapan.

Romdhi kawan saya yang juga Master dalam bidang komunikasi visual pernah berdebat panjang tentang bagaimana pengaruh budaya visual pada masyarakat. Bahasa visual adalah bahasa yang paling mudah dipahami oleh siapapun. Berbeda dengan text (tulisan), media gambar bisa memberikan pemaknaan yang ganda dan berlapis dalam satu waktu. Hal yang barangkali susah dilakukan oleh tulisan. "Motion Arena ingin mengeksploitasi itu. Setidaknya mereka suka gambarnya dulu baru nanti coba dengarkan musiknya," kata dia.

Saya mengamini Romdhi. Motion Arena bekerja seperti prinsip Bieber Effect. Sebuah leksikon yang lahir akibat fenomena Justin Bieber dan youtube. Kredonya sederhana "Di youtube siapapun bisa terkenal, siapapun bisa bernyanyi dan siapapun bisa jadi bintang". Tema ini usang. Karena puluhan tahun lampau begawan Pop Art Andy Warhol telah meramalkan ini dalam kalimat masyurnya "In the future," katanya "Everybody will be famous for 15 minutes,"

Youtube adalah sarana paling penting dalam perkembangan social media 2.0. Ia mudah diakses, gratis, menawarkan sistem promosi yang baik dan yang jelas siapapun bisa menggunakannya. Gangnam style, Youtube indie star, Harlem Shake adalah sedikit dari fenomena yang lahir dari sini. Motion Arena bisa memanfaatkan medium ini dan menjadi terkenal jika dilakukan dengan tepat. Tapi saya berharap terkenal bukanlah standar ukuran capaian. Lebih dari itu Motion Arena adalah ajang bagi anak muda kreatif Jember untuk berproses kreatif.

Motion Arena adalah sumbu awal dari ledakan ledakan lain yang akan lahir di Jember. Dengan akses internet yang maha luas. Music Streaming, Net Label dan file sharing adalah salah satu dari sekian banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa menghidupi skena musik. Kebuntuan pada satu cara yang konservatif hanya akan membuat kita terpasung dan ogah bergerak keluar. Sedikit banyak saya berharap The Bajahitam akan menjadi pioner band Jember yang berproses di netlabel.

Netlabel adalah cara lain untuk bisa menghidupkan sebuah komunitas. Frau, soloist Jogja, mulai memasarkan musiknya secara online dengan netlabel yesnowave asuhan Wok The Rok. Dengan membagikan musik gratis ia terbukti sukses menyebarkan karyanya secara luas. Apakah ia rugi? Tidak. Sampai hari ini “Starlit Carousel” terjual lebih dari 2.000 keping. Gratis dalah cara jual paling elegan dan paling efektif untuk memulai karir saat ini. Harapan untuk menjadi sukses dan dihargai karena karya sendiri bukan lagi hal yang mustahil.

Memelihara harapan barangkali adalah tindakan paling membosankan. Ia seringkali berkhianat pada kita ketika semangat menggebu, akan selalu ada saja rintangan yang mengganggu. Pada sebuah perbincangan yang intim, namun singkat dengan Cak Rahmad, salah satu dedengkot skena anak muda Jember. Kami memimpikan sebuah komunitas yang egaliter, kreatif dan utilitarian. Dibangun dari kebutuhan dan kebersamaan yang positif. "Jember bisa jadi kota hebat dan. Kita cuma perlu anak muda yang mau kerja," katanya.

Ia dengan sukarela ingin membiayai sebuah Zine yang berisi tentang kegiatan dan pemikiran yang bisa mendorong anak muda Jember bergerak. "Setidaknya dengan Motion Arena, pertemuan di Akber Jember, ada satu dua anak Jember yang mau bekerja,". Saya ingin membantu tapi cukup tahu diri bahwa saya bukanlah tipe orang yang bisa menepati janji. Waktu itu komitmennya adalah saya akan membantu siapapun yang ingin belajar menulis, akan dibantu sebisanya.

Tapi sampai hari ini Zine itu tak pernah terbit. Saya berharap Motion Arena tak berakhir menjadi sebuah one hit wonder yang ada ketika kita terangsang. Lantas usai ketika kita mencapai orgasme. Multatuli selalu membuat saya ingat bahwa setiap tetes keringat kerja kreatif akan selalu diingat. Semoga saja ada anak muda Jember hari ini yang mau total berproses dan berkata "Ja, akoe akan diingat,"

5 komentar:

  1. Komen ah :D
    disuruh komen sih hehe:
    maaf itu kayake salah ketik. Finger bukan Fingger :D

    Kritik ?
    mana mau anak band di jember di kritik.
    kritik keras dikit aja langsung heboh. yang dianggep gak suka lah, gak respek lah dsb dsb.
    kenapa aku bisa ngetik gini. iya liat jember dan scene nya bertahun tahun, hal ini udah wajar terjadi kok.

    Video ? visual ? Oh bikin musik dulu, promo gila gilaan, tur mandiri.
    baru mikirin youtube dan segala macam web penyedia layanan video.

    Jember punya kok band band yang udah jualan kaset, cd, albumnya kemana mana.
    lha itu Desecration, pioneer death metal jember udah menjual albumnya di luar negeri. terakhir aku pernah mendistribusikannya ke prancis :D
    Criminal Vagina ?
    itu satu track nya pernah ada di netlabel yang aku kelola, dan sudah mencapai 1000 an download.
    dari 1 track dari 1 website. belum lagi website lain yang membagikan lagu mereka secara gratis.
    Dissolved, Stregoica ? mereka pernah berada dalam 2 kali kompilasi metal yang mensejajarkan mereka dengan band dunia.


    indie itu menurutku lebih ke attitude. sistem produksi bisa juga.
    ada komunitas itu cuma wadah
    tapi kalo otak sama mental nya gak pernah "open mind" ya percuma
    yang ada cuma bentrok dan saling menjatuhkan.

    berkembang ?
    sudah kok tapi belum banyak yang tau atau perduli
    Ada yang pernah denger Gerilya Bawah Tanah ? acara tahunan kawan kawan komunitas punk?
    Pernah ada yang tau Jember Bising ?
    event yang diselenggarakan kawan kawan pecinta death metal?

    Dokumentasi karya aja berantakan kok.
    Aku pribadi masih mencari beberapa rilisan kaset/cd dari kawan kawan di jember. tapi entah dimana gak ada yang mendokumentasikan atau aku belum ketemu orangnya hehehe

    Ngomongin rilisan.
    aku dulu pernah menawarkan untuk ikut merilis dalam bentuk free download/creative commons, ada aja jawabannya.
    dan kagetnya udah membahas royalti.
    oke aku tau kok.
    tapi karya kalian itu hanya tersebar di jember. coba aja ke kota lain dan tanya apakah kalian kenal dengan nama band dari jember sebut aja deh.

    paling jawabannya, oh kenal, itu From This Accident, Criminal Vagina, Komik.
    dan beberapa band lain. yang memang aktif benar benar bergerilya.
    itu aja sih

    kok aku jadi curhat yo hahahaha.

    tapi untuk kepentingan dokumentasi karya
    dan perpustakaan musik di jember.
    aku pikir pembuatan video musik dan segalanya ini perlu kita cermati, dan emang kita pelihara,
    Bikin video dokumentasi pertunjukan, bikin video klip, bikin rekaman
    masukkan dalam perpustakaan musik jember. dan dikelola secara mandiri.
    itu akan lebih berharga

    jujur saja aku kehilangan momen momen membanggakan di jember.
    dan dengan kemajuan teknologi, apapun itu, harusnya bisa mengembangkan jember lebih dahsyat.

    AYO BIKIN PERPUSTAKAAN MUSIK JEMBER !

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya aku lupa masukin variabel GBT dan Jember bising hahahahaha

      Hapus
    2. Perpustakaan Musik Jember??? Brilliant Idea!!! Budalkan wis! Mulai dari yang kecil, sederhana, asal jalan! Mulai dari WarKop Cak Wang

      Hapus