Selasa, 26 Februari 2013

Sulur Rindu

Kekasihku yang manis meski tanpa riasan. 

Kutuliskan rindu beserta beberapa buah doa yang kupetik ketika subuh baru saja datang dan matahari menyisingkan cahayanya yang silau. Di dalamnya ada beberapa sajak cinta, sepotong maaf dan selembar harapan. Bahwa kelak ketika kita bertemu. Aku dan kau akan berhenti bertengkar perihal jumlah anak, perdebatan tentang antara memelihara anjing atau kucing, atau betapa tidak masuk akalnya memakan indomie goreng dengan nasi. Kita hanya akan bicara tentang puisi, tentang air panas, ranjang yang empuk dan berpelukan seraya berpikir bahwa pagi hari adalah saat yang paling purna untuk kembali tidur dan ogah berpikir tentang masa depan.

Kekasihku yang lugu meski selalu ragu.

Kutitipkan pula sekarung harapan yang kusiangi pelan-pelan agar seluruh tubuhnya sempurna dan segar ketika sampai padamu di pulau timur jauh. Karung itu kupinjam dari si fulan yang baru pulang melaut setelah sewindu ia mengadu nasib di samudra barat. Karung itu ia bilang bisa menyimpan harapan yang paling liar, paling bengis dan yang paling nakal sekalipun. Tentu saja sayangku, harapanku ini tak berjenis demikian. Harapanku adalah rintik haru tangisan kita seusai pertengkaran yang sengit. Kita seringkali lupa betapa cinta itu yang melandasi luka. Kuharap kau disana menyimpan banyak perban dan obat merah. Karena ketika kusiangi harapan-harapan itu, beberapa durinya menusukku dalam. Semoga bekas darahnya telah bersih kuseka dan kau tak perlu tertusuk duri yang sama.

Kekasihku yang lucu meski selalu cemberut.

Kubacakan sepenggal berita tentang harga kredit rumah yang naik hingga mencekik gaji kita yang tak seberapa itu. Mampukah kita masih bermimpi tentang rumah dengan sebuah halaman sederhana di belakangnya? Tentang rumah dengan petak kebun bunga, sayur bayam dan juga kandang ayam. Sehingga jika pagi kukuk ayam jantan brengsek itu membangunkanku dari tidur yang hanya beberapa jam itu. Harga kredit rumah yang kepalang brengsek ini apakah akan membuat kita bekerja seperti kuda? Kau dan aku dan mungkin beberapa anak kita? Entahlah kasihku.

Kekasihku yang santun meski selalu manyun.

Kuingatkan kau untuk tak pernah lupa mengikuti misa pagi. Bertemu tuhan di hari minggu, apa yang lebih asyik dari itu? Ketika sebagian dari kita tenggelam dalam tidur pulas setelah semalaman berpesta hingga pagi. Kau dengan gaun putih dan membawa alkitab membacakan firman-firman tuhan. Lantas membuat tanda salib di depan rosario. Aku yang sudah lupa makna beribadah ini hanya bisa mendekati tuhan dengan memandangimu menjadi salih. Aku lupa cara membaca Al Quran. Juga lupa cara mengucap takbir. Tapi semua itu hanya sementara. Semoga.

Kekasihku yang baik dan tak pernah mendendam.

Kulantunkan sepenggal lagu Moldy Peaches untukmu. Anyone but you. Bahwa kau dan aku adalah sepasang ugly people yang saling mencintai. Kita lebih sering bertengkar daripada jumlah presiden SBY mengucapkan kata prihatin. Kita lebih sering diam-diam ngambek serupa anak SMP berdebat perihal remeh temeh konyol daripada jumlah kita saling merayu dan bertemu. Tapi bukankah hal yang demikian membuat kita bebas untuk jadi diri sendiri? Jujur dan memahami satu sama lain? 

Kekasihku yang jauh. Sudah ya? Aku harus revisi lagi agar cepat wisuda dan kita bisa menikah. Mungkin agak lama. Tapi lebih baik daripada kita berkelahi lagi bukan?

1 komentar: