Kamis, 01 Agustus 2013

Lupakan Follower! Menulislah

Ernest Hemingway, pada 10 Desember 1954, pernah menulis dalam naskah pidato penerimaan nobel yang tak bisa ia hadiri. Bahwa proses menulis adalah proses yang sunyi. “Writing, at its best, is a lonely life. Organizations for writers palliate the writer’s loneliness, but I doubt if they improve his writing. He grows in public stature as he sheds his loneliness and often his work deteriorates. For he does his work alone and if he is a good enough writer he must face eternity, or the lack of it, each day."  Menulis adalah kerja kesendirian dan seharusnya tidak diributkan oleh orang lain.

Hemingway bisa jadi merefleksikan laku menulis sebagai jalan hidupnya. Ia yang gagal berumah tangga, gagal bercinta dan akhirnya jadi pemabuk selalu menemukan puncak proses kreatif dari sunyi yang mencekam. The Old Man and The Sea misalnya disusun dengan sangat menarik sebagai usaha manusia yang bergulat dengan alam dalam kesendirian. Karya itu, meski bagi saya membosankan, mengantarkan Hemingway sebagai peraih penghargaan pulitzer dan nobel sastra sesudahnya.

Hari ini saya dikejutkan oleh pernyataan seseorang bahwa untuk menerbitkan sebuah karya, ia diminta memiliki setidaknya 200.000 follower akun sosial media Twitter. Saya pikir ada yang salah dan memalukan di sini. Tolok ukur penciptaan karya agar bisa diterbitkan bukan lagi berasal dari estetika dan kekuatan naskah, tapi berdasarkan jumlah nilai jual yang dihasilkan dari follower, yang bisa saja palsu, di akun sosial media? Penulis dipaksa menyerah oleh pasar dan penerbit menekan penulis untuk menghamba pada follower. Ini gila. Ini jauh lebih gila daripada keputusan toko buku besar membakar buku yang ia cetak sendiri.

Lalu begini pertanyaannya. Apakah Hemingway menulis sebagai upaya memuaskan rasa ego atau hanya menuruti editor? Kita tahu karya The Old Man and The Sea dipersembahkan untuk Maxwell Perkins, editor dan kawan Hemingway, tapi apakah ia menulis untuk Maxwell atau untuk pencapaian estetik karya? Saya kira yang kedua. Tapi mari lupakan Hemingway. Saya dan anda bisa berdebat perihal maksud dan keinginan Hemingway dalam berkarya. Anda bisa saja berkilah, "Kan Hemingway penulis besar. Pantas kalau karyanya laku jadi bisa menekan penerbit," untuk itu saya hendak bercerita tentang James Joyce dan Ulysses.

Ulysses kesulitan dan selalu ditolak untuk diterbitkan karena kompleksitas dan kerumitan bahasanya. Joyce tidak mau menyerah dan berkompromi dalam usaha menerbitkan karya ini. Meski dililit hutang dan hidup dalam kemiskinan ia menolak tawaran penerbit untuk menyederhanakan Ulysses. Toh pada akhirnya ia bertemu dengan Sylvia Beach, penerbit mandiri dan pemilik toko masyur Shakespeare and Co. Apakah karya Joyce laku? Tidak juga. Ia mati dalam keadaan melarat dan hampir dilupakan. Baru setelah kematiannya, dengan jasa Ezra Pound, karya ini bisa diapresiasi sebagai kanon sastra dunia.

Apakah hanya Joyce yang karyanya harus berjibaku dan bertentangan dengan banyak penerbit untuk bisa disebarkan? Tidak juga, ada nama besar lain seperti George Orwell, yang secara komikal, naskah Animal Farm miliknya ditolak karena dianggap bercerita soal Hewan, JK Rowling baru-baru ini ditolak naskahnya karena menggunakan nama pena Robert Galbraith, naskah “The Sound and the Fury” milik William Faulkner, peraih Nobel itu, ditolak oleh 13 penerbit sebelum akhirnya diterbitkan. Sementara Donal Ryan, seorang pamong praja dari Irlandia, harus ditolak 47 kali agar naskahnya bisa dicetak. Lalu apa yang ia peroleh? Penghargaan bergengsi Booker Prize!

Tapi kisah favorit saya soal anomali dunia penerbitan dan karyanya adalah Herman Melville, penulis buku masyur Moby Dick. Karya Melville barangkali adalah bukti dari oxymoron bernama industri literasi. Ketika hidup karya ini hampir tidak laku, dihina sebagai karya picisan dan tak berguna. Baru setelah ia meninggal muncul gerakan Melville Revival yang mengembalikan namanya kembali ke tahta sastra dunia. Salah satu tokoh yang mempopulerkan kembali nama Melville adalah kritikus sastra D. H. Lawrence. Padahal ketika hidup Moby Dick hanya dicetak sebanyak 3.000 eksemplar dan banyak retur karena tak laku. Tapi paska kemunculan Melville Revival karyanya diburu bak harta karun.

Tapi tentu anda bisa berkilah lagi. "Ah itu kan mereka penulis dunia. Mana ada penulis Indonesia yang mau hidup susah?"

Mari saya perkenalkan Almarhum penyair Saut Sitompul. Ia yang hidup dari mengamen puisi dari satu metromini ke metromini lainnya. Dikenal barangkali hanya oleh pedagang asongan disekitaran kawasan TIM dan mati ditabrak taksi. Sebagai penyair dan sastrawan penulis ia mati miskin. Karyanya tak banyak diperbincangkan dan mungkin buku monumentalnya "Konges Kodok" jarang didengar apalagi dikenal secara luas.  Apakah ia menolak hidup mapan dan kaya? Tidak. Dia hanya menolak menjadikan puisi, yang dianggapnya sakral, menjadi barang dagangan dengan menghamba pada selera kebanyakan.

Khrisna Pabichara, penulis buku best seller sepatu dahlan, juga mengalami hal yang sama. Sebelum akhirnya menulis trilogi novel biografi Dahlan Iskan, ia juga sempat merasakan getirnya ditolak penerbit karena karyanya dianggap tak laku dan tak punya nilai jual. Buku 10 Rahasia Pembelajar Kreatif, meski bernada motivasi, dianggap tak punya daya jual karena penulisnya belum terkenal. Tapi toh Khrisna tak menyerah serta mampu membuktikan, tak selamanya insting penerbit benar dan tak selamanya karya non mainstream tak laku dijual.

Tapi sejatinya apa sih tujuan kita menulis? Andrea Hirata dengan jelas memposisikan dirinya menulis untuk mencari uang. Ketika polemik klaim 100 tahun sastra Indonesia ia lantang berkata ""Jangan pernah bilang saya sastrawan. I'm a writer," yang ia lanjutkan dengan "Mana ada buku sastra yang laku? Saya perlu uang untuk bikin museum". Tapi apakah semua penerbit sepaham dengan ini? Atau memang menulis hari ini hanya untuk mengisi perut? Apakah menulis hanya perkara untuk menambah pundi uang lantas berleha-leha menikmati ketenaran?

Kalau ya mereka ini barangkali ada yang salah dengan para penerbit. Mereka telah jatuh pada kriteria pengkhianat kesusastraan. Dalam pidato masyurnya Milan Kundera menyebut golongan semacam ini sebagai kaum agélaste. Agélaste berasal dari kata Yunani yang berarti orang-orang yang tak mengenal humor dan tak pernah tertawa. Kundera merujuk pada kaum-kaum yang menyukai kondisi mapan, terus menerus mencari celah, mencari rente, mencari keuntungan tanpa ampun dan menolak memberikan pencerahan. Manusia yang hanya tahu untung dan rugi karena menganggap kebenaran itu absolut dan tunggal. Kebenaran menurut mereka sendiri.

Namun Kundera masih menyimpan nada harapan dalam keputusasaannya. "The agélastes, the nonthought of received ideas, and kitsch are one and the same, the three-headed enemy of the art born as the echo of God's laughter, the art that created the fascinating imaginative realm where no one owns the truth and everyone has the right to be understood. " Kita harus menyadari keberadaan mereka dan memaklumi bahwa tak semua orang berniat hidup dengan baik. Beberapa hanya ingin hidup dengan nyaman dan bersenang-senang. Dalam hal ini penerbit tentu ogah mengambil atau menerbitkan karya yang tak menghasilkan untung. Mereka punya karyawan dan target penjualan yang harus dikejar untuk bisa bertahan hidup. Ini tidak salah, barangkali hanya menyedihkan secara etis.

Penerbit seharusnya menjadi pabrik yang menghasilkan karya-karya yang tak hanya eklektik tapi juga estetik. Penerbit, seperti juga toko buku, harusnya bisa memberikan para konsumen mereka para pembaca ragam bacaan yang tidak monoton. Jika benar mitos yang mengatakan bahwa penerbit mengendalikan selera pasar, harusnya mereka bisa menerbitkan karya-karya bermutu di pasaran. Tidak hanya berbekal karya penulis yang "berfollower ratusan ribu". Musuh peradaban literasi bukanlah penerbit yang hanya ingin untung, toko buku yang menjual dengan harga mahal atau penulis yang karbitan. Musuh bersama kita adalah pemujaan terhadap karya-karya medioker yang lahir dari budaya instan.

Jika follower adalah sebuah prasyarat untuk menulis buku maka selamanya saya tak sudi menulis buku. Dalam sebuah artikel sinis, keji dan bernas yang disusun oleh Jacob Silverman, kolumnis Slate, terungkap bahwa generasi hari ini adalah generasi yang miskin kritik tenggelam dalam ewuh pakewuh buta. Banyak buku yang lahir dari para pesohor dadakan sosial media. Ada keterikatan rasa dalam relasi antara follower dan akun yang difollow. Sehingga berpengaruh kepada kualitas karya yang dihasilkan seringkali dikomentari dengan rasa sungkan, pujian buta dan tak bisa lagi objektif.

Penerbit jelas paham ini. Lantas mereka menyasar para follower yang "lugu" sebagai potensi keuntungan bebanyak-banyaknya. Tak terbilang buku yang lahir dari pesohor dadakan ini dan akhirnya hanya bertahan beberapa saat. Toh ketika ada bazar buku karya-karya picisan macam ini tak berharga lebih dari limaribu perak. Apakah hanya karya dari penulis social media? Sayangnya tidak. Penerbit akan menjual karya siapapun yang tak laku dengan harga murah. Saya pernah menemukan buku Air Kata-Kata karya Shindunata dan Cadas Tanios karya Amien Maalouf seharga 10ribu saja. Menyedihkan.

Sebagai penutup saya ingin mengutip sebuah sindiran Hemingway yang ia tulis hampir 60 tahun lampau. Tentang betapa membosankannya dunia sastra apabila ragam bacaan yang ada jadi seragam. Penerbit butuh makan dan penulis butuh bukunya laku dijual. Tapi apakah iya hanya untuk mencari uang kita menjejali generasi kita bacaan dengan kualitas seadanya?

"How simple the writing of literature would be if it were only necessary to write in another way what has been well written. It is because we have had such great writers in the past that a writer is driven far out past where he can go, out to where no one can help him."

4 komentar:

  1. Tertulis dengan baik, meskipun sedikit kurang fokus.

    Membikin saya jadi berpikir ulang apa tujuan saya mengecek statistik pengunjung blog di blog puisi/esai saya (dan apakah saya harus punya blog sama sekali).

    Saya setuju bahwa banyak penulis menulis dalam kesendirian, dan seperti Hemingway katakan dan Anda kutip, sementara mereka bertumbuh ke dalam keterkenalan, "they deteriorate in writing". Namun publikasi--sebuah pedang bermata dua seperti banyak hal lainnya di hidup--punya lakonnya sendiri yang tentu baik jika digunakan dengan bijak: kritik. Di sini kita menjumpai sebuah percabangan: kapankah sebuah karya itu selesai, dan kedua, sejauh apakah sang penulis karya harus menarik batas antara kesendiriannya dan perkataan orang.

    Paradoksnya adalah, publikasi memberi kesempatan bagi penulis untuk menerima kritik dan dengan demikian memperbaiki diri. Sementara publikasi itu sendiri adalah aksi mereduksi kesendirian, yang sesungguhnya krusial bagi sang penulis (terlebih dalam dunia puisi), dan pada akhirnya mengurangi kualitas tulisannya sendiri. Mungkin ini juga bisa jadi renungan mas penulis blog ini :)

    BalasHapus
  2. Tulisan yang mencerahkan...

    BalasHapus
  3. Dunia menulis memang mengalami dekadensi yang sampai tahap memilukan. Bagaimana mungkin follower yang sebetulnya menjadi bagian akhir dari kegiatan promosi, justru dikedepankan jadi prasyarat terbit tidaknya karya atau lebih jauh lagi dibuat tidaknya sebuah karya.

    Tulisan ini bisa jadi tamparan keras kalau ada yang penulis yang peduli, tapi di mata mereka yang abai hanya jadi tepukan di pipi saja.

    salam semangat,
    Amang

    BalasHapus
  4. Terima kasih sudah menulis artikel ini. Betul-betul pencerahan buat nulia lagi

    BalasHapus