Senin, 31 Oktober 2011

Closer Kick Ass Quote Ever!


Saya selalu percaya, cinta atau apalah anda memaknainya, adalah sebuah proses apa boleh buat yang kadang terjadi secara alami. Tak perlu sedu sedan atau sebuah roman hiperbolis yang menjadikan cinta itu tereduksi maknanya. Banyak orang yang tak setuju dengan saya namun ada beberapa pula yang sepakat dengan pemahaman saya.

Sampai pada sekitar awal 2005 lalu saya menonton film Closer yang di tulis oleh Patrick Marber dan disutradarai oleh Mike Nichols. Film ini dengan kritis menyatakan penggambaran empatorang asing, dengan satu persamaan yaitu keterasingan dan birahi. Definisi cinta disini menjadi kabur dan menjadi sangat cair karena pemaknaan masing masing karakter tentang cinta sangat bias.

Karakter itu adalah Dan (Jude Law) seorang penulis obituari yang juga novelis gagal, Anna (Julia Roberts) fotografer profesional, Alice (Natalie Portman) penari telanjang dan Larry (Clive Owen) seorang dokter kulit. Masing-masing latar belakang yang berbeda ini menjadikan pemahaman mereka mengenai cinta menjadi beragam.

Plot film ini mengalir sederhana. Sesederhana anda melihat sebuah daun jatuh di taman atawa meramalkan reaksi seseorang yang sedang muak. Namun kesederhanaan inilah yang menjadikan Closer buat saya sangat personal dan intim. Karena tidak mengumbar romansa secara memuakan atau menebarkan dialog-dialog boros yang tak berguna.

Pada mulanya kisah dimulai dengan pertemuan antara Dan dan Alice yang terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Dan menolong Alice yang mengalami kecelakaan, lalu membawanya ke rumah sakit. Dalam trailernya produser film ini membuat sebuah kutipan yang sangat monumental "Love is an accident, waiting to happens". Serupa dengan segala macam kecelakaan, jatuh cinta, bisa terasa sangat menyakitkan.

Pertemuan Alice dan Dan sendiri dimulai dengan sebuah dialog yang sangat manis. "Hello Stranger," sebuah diktum komikal. Bahwa tak pernah seorang manusia waras jatuh cinta pada orang yang dikenalnya. Rasa asing dan sikap penasaran akan seseoranglah yang membuat kita jatuh cinta.

Kisah berlanjut dengan momen dimana Dan dan Alice jatuh cinta lalu hidup bersama. Setahun berlalu, kini Dan sedang akan merilis buku yang dia tulis dimana buku tersebut terinspirasi dari kehidupan Alice. Saat itu Dan sedang berada di studio foto dari Anna. Ternyata perasaan yang mereka miliki lebih dari sekedar hubungan kerja. Walaupun begitu Anna tidak ingin menyakiti perasaan Alice dengan merebut Dan.

Ada pula sosok Larry yang merupakan suami Anna digambarkan sebagai pria yang merasa harus memiliki wanita yang dia cintai. Bisa dibilang ini adalah sebuah obsesi terhadap kepemilikan ketimbang rasa cinta. Tapi sekali lagi perasaan ingin memiliki orang yang kita cinta entah cinta tersebut tulus ataupun obsesi, adalah hal yang wajar. Erich Fromm menggambarkan ini sebagai sebuah penyimpangan eros yang melahirkan tuntutan akan kepemilikan individu (manusia lain). Tapi cinta semacam ini kerap kali melahirkan penyesalan. Karena kadang kita tak pernah sadar apa yang kita miliki sampai kita kehilangan mereka.

Penceritaan film ini yang unik dalam pemotongan momennya membuat kejutan menjadi hal yang sering terjadi. Tiap selesai satu momen dan melompat ke momen berikutnya kita akan disuguhi fakta baru yang cukup mengejutkan walau terkadang tetap ada juga yang tertebak. Adalah hal menarik dalam film romantis mempunyai twist yang cukup mengejutkan baik di tengah hingga di ending. Tapi sayang ada beberapa hal yang saya rasa menjadi agak dipaksakan. Salah satunya adalah pada fakta sebenarnya mengenai Alice yang diungkap di akhir film. Apabila selama 4 tahun ini dia sungguh-sungguh mencintai Dan, sungguh aneh dia menyembunyikan hal tersebut bukan? Kenapa juga dia malah mengatakan yang sebenarnya pada Larry?

Saya juga selalu percaya True love nerver run smooth. Serupa penantian Florentino Ariza demi cinta dari Fermina Daza selama 50 tahun. Tapi penantian adalah penyiksaan paling keji bagi mereka yang sedang jatuh cinta.

Selama film berlangsung saya tak henti-henti dibuat tercengang dengan dialog film ini yang konyol, profetik, romantis (tanpa harus puitis) dan cerdas. Meski tak bisa mengalahkan dialog dalam Before Sunset dan V for Vendetta. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan yang menurut saya sangat keren dan kick ass!


Dan: I want Anna back.
Larry: She's made her choice.
Dan: I owe you an apology. I fell in love with her. My intention was not to make you suffer.
Larry: So where's the apology? Ya cunt.
Dan: I apologize. If you love her you'll let her go so she can be happy.
Larry: She doesn't want to be happy.
Dan: Everybody wants to be happy.
Larry: Depressives don't. They want to be unhappy to confirm they're depressed. If they were happy they couldn't be depressed anymore. They'd have to go out into the world and live. Which can be depressing.

Tapi kata si Idung teman saya yang imut berhidung mungil. Ini yang paling kick ass.

Dan : You think love is simple. You think the heart is like a diagram.
Larry : Have you ever seen a human heart? It looks like a fist, wrapped in blood! Go fuck yourself! You writer! You liar!

Agak nyindir sih. Mentang mentang penulis semuanya pembohong. Kutu kupret mah XD. oh ini kutipan lain yang agak sarkastik dan sedikit profetik.

Anna: Love bores you.
Dan : No, it disappoints me.

Hahaha i find it kinda funny though.
Yeah, she likes guilty fuck!

2 komentar:

  1. ini serius aku ga ngerti hahhahahhahahahahhahhaha

    BalasHapus
  2. apa ini nyebut2 idung -.-"

    BalasHapus