Jumat, 04 November 2011

82 Tatal mengenai Cinta Yang Terlampau Usang



Sebermula rasa penasaran. Seorang kenalan saya Idham Rahmanarto fotografer jenius muda berbakat mentwtit tentang buku. The book of waiting, katanya dalam sebuah tweet. Seperti kebanyakan kaum snobs buku saya tertarik untuk kemudian mencari tahu dan meminta Idham untuk memberinya kepada saya. Dan inilah buku yang ia berikan. A Lover's Discourse, sebuah gumam, racauan dan kicau resah mengenai cinta.

Saya tidak pernah tahu bila Roland Barthes, sang filsuf dandy ini, adalah seorang yang melankolis. Setidaknya itu yang saya raba dari kumpulan 82 tatal perihal cinta yang ia buat. Barthes, merangkai sekumpulan fragmen-fragmen definisi dan perenungan mengenai perasaan yang ia curigai sebagai cinta. Tentu saja tidak melulu pemaknaan yang rapuh, lembek, menye, atau memuakkan.
Salah satu fragmen tatal yang saya sukai adalah exil / exile. Sebuah kondisi kalah, atawa pengakuan terhadap superioritas terhadap liyan. Atau dalam bahasa Barthes, "Deciding to give up the amorous condition," katanya. Sebagai sebuah bentuk penyesalan dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan. "The subject sadly discovers himself exiled from his Image-repetoire."

Jika Barthes menulis Mythology dalam keadaan geram terhadap kondisi sastra Perancis saat itu. Maka saya boleh menduga Ia menulis A Lover's Discourse dalam keadaan galau yang akut. Banyak fragmen-fragmen kisah, cerpen, puisi dan gumaman tak jelas yang melingkupi tatal ini. Seolah tak hendak memberikan penjelasan yang utuh terhadap permasalahan yang kerap menempel ketat pada cinta itu sendiri.

Seperti penjelasan Barthes pada fading / fade-out. Saya merasa kondisi ini merupakan titik nadir Barthes dalam mendefiniskan cinta yang gagal. "Painful ordeal in which the loved being appears to withdraw from all contact," katanya. Sekilas kondisi ini mirip dengan exil / exile karena menggambarkan sebuah pelarian dan sikap desertir. Namun Barthes lebih ingin mengambarkan fading / fade-out sebagai sebuah sikap nyepi daripada harus menghadapi permasalahan cinta secara frontal.

Barthes menggambarkan penokohan seseorang yang pengecut. "Without such enigmatic indifference even being directed against the amorous subject or pronounced to the advantage of anyone else, world or rival." katanya. Ada rasa getir dan lelah dari tatal ini. Seperti kisah cinta Lancelot dan Guinevere yang berkubang di bawah tahta Artur. Kondisi dilematis yang kerapkali diselesaikan dengan penyerahan diri terhadap super-ego.

Sedikit banyak selama beberapa waktu ini saya merasa didewasakan. Kerapkali dengan cara yang tengik dan brengsek. Namun diam-diam buku ini memberikan semacam pencerahan terhadap cinta. Sebuah usaha merekonstruksi definisi dan pemahaman terhadap cinta. Tapi pada akhirnya, jika saya boleh meminjam sajak Chairil Anwar, cinta serupa nasib. Adalah kesunyian masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar