Selasa, 03 Januari 2012

di atap Patehan memandang petang yang rubuh




: untuk Aufa

di atap Patehan memandang petang yang rubuh
kita berbincang tengang masa depan
perihal keinginan dan cita-cita
menggigir harapan
seusai meraih toga

tentang sepuluh anak lelaki
lima anak perempuan
dan guyonan klub sepak bola pribadi
dari darah daging sendiri
kita tertawa lepas
dan sudut lesung pipi
paling indah di jawa itu
menubrukku diam diam

sebelum lebai memanggil maghrib,
dan sepeda warna-warni melacur
kau berkata :
: “aku senang
Akhirnya kita bisa bicara
layaknya karib lama yang
tak pernah jumpa,”
lalu seruan panggilan tunduk
menyeruak diantara tebal dinding
plengkung gading dan dua
pohon beringin kembar

kelak seusai pertemuan itu
kau akan bercerita
pada keturunanmu
: “kemarahan menemukan bentuknya
sedang amarah mencari wajah
Dasamuka seorang pecinta
yang dipecundangi rama
dengan muslihat
dan seekor kera,”

matahari sudah tergelincir sepi
sementara aku merindu Seno
untuk menulis lagi
sepotong senja
untuk sahabatku


*sembari mendengar The Camerawalls

Tidak ada komentar:

Posting Komentar