Senin, 30 Januari 2012

Dadidudedo









~ hidup hanya tentang menghadapi rasa takut dan menyikapi kehilangan

Kamu bilang hidup itu seperti roda yang berputar. Tapi aku selalu percaya hidup itu seperti membaca buku yang tebal. Kadang kita marah, sedih, benci, senang, cemburu, dendam, jatuh cinta dan sebagainya saat membaca sebaris kalimat. Dalam banyak hal membaca buku mengajarkan kita untuk menyikapi hal-hal yang belum terjadi. Tapi bukankah segala yang sudah diprediksi itu menyebalkan. Ya, kamu dan aku tahu itu.

Aku sedang malas bercerita tentang kehilangan, karena ku pikir untuk apa? Toh sudah ada kamu yang selalu bawel dan gegas memarahiku saat lalai. Kukira manusia itu mahluk paling dhoif dan rakus diantara mahluk tuhan yang lain. Iblis sombong, tapi ia tak rakus. Ia hanya menggoda manusia untuk kemudian ditinggalkan dalam tindakan dosa. Tapi bukan untuk itu kan aku menulis ini? Mungkin ini hanya sekedar fase keresahan yang teramat labil. Seperti hujan yang datang saat hari masih terang.

Pagi ini melankolis sekali. Entahlah, mungkin fakta bahwa kita sama-sama lahir dan bertemu untuk kemudian jatuh cinta itu sepertinya komikal sekali. Kamu adalah apa yang terbalik dariku. Kamu adalah orang yang disiplin. Gegas. Patuh dan selalu taktis dalam bersikap. Sedang aku. Bahkan dalam dua menit kedepan aku masih bingung hendak melakukan apa. Sudah kubilang, hidup yang terencana, hanya akan berujung kepada kekecewaan. Itu yang tak aku mau.

Tapi biarlah toh aku mau menjadi melankolis. Seperti sajak lagu Desember dari efek rumah kaca yang sangat kamu sukai itu. Kukira lagu itu bukan lagu riang. Sedih malahan. Tapi bukankah kebahagiaan bukan hanya tentang gelak tawa? Tapi juga tentang dengan siapa kamu berbagi kesedihan. Dus kamu selalu ada saat aku sedih dan terhantam hebat. Dan yang lebih monumental kamu masih ada disana meski kesedihan dan kejumudan diriku kamu ketahui. Boleh aku tanya, hatimu terbuat dari apa?

Ya sudah, mungkin cukup sekian dulu. Aku harus pergi. Ya ya ya menemui dosen, untuk kemudian mempersiapkan sidang. Itu kan yang kamu mau? Kamu bahkan lebih bawel dari ibuku sendiri perihal kelulusan ini. Tapi semua itu tak penting. Fakta bahwa kamu ingin memberikan aku yang terbaik itu lebih dari cukup. Lebih dari sajak paling bagus yang pernah dibuat Neruda. Dan pagi ini, rindu berkecambah seperti jamur di musim hujan. 


2 komentar:

  1. sepertinya di hari ini ada kesamaan pada alur cerita kita mas.hehehe

    BalasHapus
  2. wew... manteb mas . i like this ...

    BalasHapus