Selasa, 12 Juni 2012

Anatomi Kehilangan

Ia lahir dari sebuah keinginan. Dari sebingkai harapan yang tak utuh. Bopeng dan urung selesai. Seperti sebuah musim yang tak jelas bentuknya. Sebentar hujan lalu kering yang membahana. Direkatkan dengan terburu-buru oleh waktu. Seperti rasa gegas yang memuakan. Seperti buah yang dikarbit. Ia ada namun tak semestinya ada. Ia lahir dari sebuah keinginan.

Ia adalah sebuah kutukan yang dieja pelan. Masuk dari sebuah titik yang tak pernah di duga. Dilahirkan dari keinginan-keinginan yang melenceng. Sebuah cerita yang dibuat untuk tamat dengan segera. Menyisakan pertanyaan-pertanyaan atas detail yang dipaksakan. Seperti rasa lapar yang tertunda atau makan siang pada sore hari. Ia adalah kutukan yang dieja pelan.

Ia merupakan teriakan gagap dari orang yang menyerah. Kalut atas sebuah takdir yang diketik tergesa. Seolah akhir cerita sudah ditentukan saat penolakan terjadi. Perasaan yang meleleh. Ragu yang menembus hati dengan kekuatan yang lebih hebat dari doa para pendosa. Ada yang lepas. Menaut pada sungsai cerita lampau. Seperti anak itik yang lepas dari pelukan. Ia merupakan teriakan gagap dari orang yang menyerah.

"Kehilangan," katamu "Tak pernah menjadi sebuah pilihan. Ia adalah keadaan yang senantiasa. Kita pernah coba untuk berjuang. Memperdebatkan sebuah akhir yang telah lama kita ketahui ujungnya."

Ia serupa gagasan-gagasan mistik dari para sufi dan santo yang kasmaran. Penyatuan adalah upaya melepaskan diri dari yang fana. Membiarkan diri yang mendaging meretas luluh dalam yang gaib. Ornamen peleburan. Bahwa untuk bisa merasakan, kita mesti merelakan. Debu yang ringan atau besi yang keras. Adalah perkara persepsi. Dibentuk dari sudut pandang yang tak pernah utuh. Ia serupa gagasan-gagasan mistik dari para sufi dan santo yang kasmaran.

Ia jalan terakhir para pecundang. Meraung dalam satu titik temu yang dilibas kegetiran. Perihal ciuman yang tak memiliki arti apapun. Atau sebuah senyum sederhana yang meremukkan. Tentang sepetak mata yang pernah ditinggali. Di sana ada sebuah guguran daun. Kering lagi rapuh. Seakan jika ada sebuah nafas yang terlampau keras terhembus. Dedaunan itu akan lumat menjadi serpih pilu. Sehingga diam adalah bahasa lain dari 'maaf'. Ia jalan terakhir para pecundang.

Ia pelabuhan yang menyimpan langkah akhir para kelasi dan mualim.

"Maka biarlah aku berlalu. Seperti gelap yang menelan malam," katamu suatu malam.
"Kau tak pernah pergi," aku menahan laut yang bergelombang dalam sudut mataku. "Kau hanya berpindah. Tapi akan selalu ada, satu pojok kecil. Sebuah lubang yang menunggu kau isi. Entah kapan,"

"Kita adalah sebuah lelucon yang dibuat tuhan. Tapi terlalu gagu untuk bisa dipahami sebagai ujian,"

Karena satu adalah bahasa yang punah. Bahkan sebelum kau mencoba.


*semacam prosa yang disusun dari lirik dan lagu What If oleh Mocca*

5 komentar:

  1. Seperti biasanya, selalu membuat saya takjub tiap kali membaca prosa-prosa karya tuan..

    BalasHapus
  2. izinkan saya mengutipnya mas

    BalasHapus
  3. ah bagus sekali, indah

    BalasHapus