Selasa, 12 Juni 2012

Gumam

Mungkin, ada baiknya kita berhenti bicara terlalu banyak dan lebih meluangkan waktu untuk mendengar. Seperti sunyi subuh yang hendak menyambut pagi. Seperti diam seorang ibu yang melihat lelap tidur anaknya. Karena kata-kata sudah terlalu banyak digunakan seperti lembu di sawah. Mereka kini pelan-pelan menjadi ringkih dan kehilangan daya seperti baterai yang bekerja tanpa henti.

Pekik ramai manusia yang berlomba-lomba ingin dipercaya, ingin dibela dan ingin dibenarkan. Kata-kata sudah jadi becak yang lalu-lalang seusai jam pulang sekolah. Kata-kata telah kelelahan dalam keramaian bunyi yang terlalu. Bahwa manusia, meski bukan satu-satunya yang berkata-kata, sudah terlampau memperkosa makna. Kata kini jadi sekedar angin lalu. Semacam musim yang beredar lalu selesai.

Kata-kata menjadi murah. Seikat beberapa rupiah. Menjadi semacam dagangan yang hampir tak berguna. Hampir gratis dan hampir dilupakan. Dijejalkan melalui berbagai medium yang meraga. Kegenitan yang dibuat-buat sehingga meluluhkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Seperti tetes air di tengah hujan deras. Rumah yang dibangun dari sisa-sisa kayu kapal perompak. Sebuah imaji yang tanggung. Kesia-siaan yang bernama jamak dan kebanyakan.

Seusai kata adalah bunyi. Seusai bunyi adalah sunyi. Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar