Selasa, 05 Juni 2012

Old Dirty Bastard's



Saya beruntung pernah menjadi anggota Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Tegalboto Universitas Jember. Saya beruntung bisa menjadi bagian dari sejarah panjang legenda yang berkubang pada wacana penulisan, filsafat dan juga kajian kebudayaan. Namun lebih dari itu, saya beruntung pernah dikirim ke luar untuk mengirimkan majalah di kampus-kampus Jogja.

Mungkin tanpa Tegalboto saya tak akan pernah menemukan apa itu mencintai Jogja dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Baru saja saya melihat foto kawan-kawan Jogja di Facebook. Malam ini saya merindu mereka. Merindukan diskusi omong-kosong-filsafat-taik-kucing yang dilakukan sampai dini hari. Berbincang perihal degilnya dunia dan bagaimana hidup mesti dihadapi dengan guyonan. Mengenai hidup yang larut dalam warna monokrom dan selebihnya mekanis. Menjadi sekrup atau sekedar pelumas dalam mesin besar bernama tanggung jawab.

Lucu. Bagaimana sebuah foto bisa melahirkan kenangan-kenangan yang lampau. Beserta segala hiruk pikuk suasana yang sepertinya baru saja terjadi. Seperti kenangan pada akhir 2007 saat pertama kali menginjakkan kaki ke Jogja dan mesti menjadi anak hilang karena buta arah. Bertemu seekor babon kribo bau tengik yang baru bangun dari pulas tidur di sebuah perpustakaan UKM.

Atau pertemuan bersama raksasa hitam legam yang bukan asal papua namun Klaten asli. Juga pertemuan dengan so called preman terminal pulo gadung yang berputing ganda. Juga santri Nahdatul Ulama yang bercita-cita jadi penjaga masjid Muhammadiyah. Atau priyayi gagal yang ogah minum aqua. Anarkhis KW 2. Ah terlalu banyak. Jogja terlalu banyak menyimpan orang orang yang sulit saya lupakan.

Setiap kali ke Jogja selalu berkelebat kawan-kawan lama yang kini sudah beranjak pergi. Menjadi pendidik, pewarta, advokat dan seterusnya. Mereka sudah melangkah dari hiruk pikuk keramaian dan privilage status mahasiswa. Mereka adalah para pemberani, lantang menyambut nasib yang belum tentu apa akhirnya. Mereka memutuskan untuk tidak lagi berkelit dengan usia yang bertambah dan tanggung jawab yang mengikuti.

Setiap kali ke Jogja selalu ada wajah baru yang menjadi rekan-rekan baru. Menjadi jangkar baru ingatan jika sudah pulang. Menemani lagi keharuan-keharuan centil yang tiba tiba meloncat saat dengkur suara kereta Logawa membawa saya pulang ke Jember. Selalu begitu sejak 2007 pertama kali datang ke Jogja. Kota yang selalu menyandera para pendatang untuk kembali dan selali kembali.

Kenangan itu melahirkan kerinduan-kerinduan yang tak perlu, Di saat-saat semestinya kita berpikir tentang hal gawat lainnya. Ah saya hanya rindu. Rindu kalian terlalu. Nyoooh!

1 komentar:

  1. Namanya juga foto. Merekam imaji.

    Seperti yang Cholil katakan dalam Kamar Gelap, "Yang kau jerat adalah riwayat, tidak punah jadi sejarah."

    Nikmati sejarah, karena sesungguhnya, kita sama sekali tak bisa hidup tanpanya. Haha.

    Aduh, jadi ngomong-taik-kucing begini. :P

    Salam.

    BalasHapus