Jumat, 01 Juni 2012

Percakapan Menjelang Maghrib

Ibu dan almarhum Kakak saya.


Setiap Ibu adalah samudera yang tak pernah lelah menerima segala yang sisa. Barangkali ibu adalah satu-satunya manusia yang menerima kau setengik apapun kau jadinya. Bagi ibu, selamanya kau adalah kanak-kanak yang sedang belajar meniti jalan. Sesekali ia akan turun gelanggang membantumu tertatih jalan. Lalu membiarkanmu sendirian menghadapi ketidakseimbangan. Untuk berakhir limbung atau terus tegar menghadapi jalanan.

Ibu saya juga demikian. Sekeras apapun, sekeji apapun, atau sejahat apapun sebuah kenyataan yang melekat pada anak-anaknya. Ia akan selalu menerima saya dan kakak saya dengan apa adanya. Mungkin ia akan marah dan berteriak-teriak tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk lantas selepas semua amarahnya tamat. Ibu saya akan diam lantas menyuruh kami semua untuk makan dan menganggao semua masalah tadi selesai.

Seperti kebanyakan anak tentara yang lahir sebelum kemerdekaan. Ibu saya adalah seorang abangan yang tak paham benar perihal agama. Itulah yang membuat dia selama sepuluh tahun terakhir tawadhu mendekatkan diri pada yang khalik. Ia belajar sendiri mengaji tanpa diajari siapapun. Membaca iqro secara otodidak lantas menghapal satu persatu huruf hijaiyah hingga mampu merangkai bacaan dengan benar.

Pelan namun pasti ibu saya belajar tentang tata cara sholat yang benar. Membaca Quran dengan tartil dan sesuai. Juga mengikuti sunah-sunah puasa lantas meningkat hingga ibadah tahajud yang selama lima tahun terakhir tak pernah ia tinggalkan. Ibu, bagi saya, adalah prototipe Ibrahim versi wanita yang mencari tuhan dalam usianya yang tak lagi muda. "Jika ada yang patut disesalkan, mungkin waktu mamah telat belajar agama. itu saja. Sisanya mamah bersyukur diberi nikmat selama hidup," katanya di suatu sore.

Ibu adalah seorang muslim yang berjihad. Karena sejatinya Jihad adalah mereka yang bersungguh-sungguh.

Rabu kemarin saya memutuskan pulang ke rumah setelah hampir sebulan tak melihat ibu . Beberapa hari sebelumnya Ibu tiri seorang kawan meninggal. Semalaman tubuh ini menggigil. Bagaimana jika ibu  meninggal? Sementara sampai 25 tahun hidup, tak sekalipun saya membuatnya bangga atau senang. Tak sekalipun dalam seperempat abad usia hidup, ibu bisa tersenyum bahagia karena apa yang telah saya perbuat.

Hari itu saya bergegas untuk pulang. Tak peduli jika ada tenggat waktu tulisan atau hutang wawancara. Hari itu saya mesti pulang apapun yang terjadi. Meski siang panas sedang garang-garangnya tak menghentikan niat untuk pulang menemui ibu sebelum sore. Karena hanya waktu itu saya bisa duduk dan bersantai bertukar pikiran bersama ibu dengan tenang.

Sore di rumah kami adalah saat-saat menikmati secangkir teh hangat dengan kue kering. Kebiasaan yang entah sejak kapan muncul. Ia datang begitu saja seperti musim yang berganti diam-diam.

Dulu saat almarhum kakak kedua saya masih hidup saya dan ibu selalu membuat dua jenis minuman. Kopi setengah pahit dan teh panas. Lalu bersama-sama menikmati sore yang berlalu di dapur. Menikmati senja yang beranjak rubuh sambil mendengarkan tartil pembacaan Quran dari corong masjid. Lantas berbincang tentang cucu-cucunya yang bertambah banyak. Tentang keinginan untuk naik haji dan menyepi sendiri dengan Tuhan. 

Meski kini kakak sudah tak ada, ritus minum teh itu tetap tak berubah. Saya kira ibu sedang menginat masa lalu. Mengenang kakak dengan cara yang paling sunyi. Ia selalu menerima takdir kakak yang meninggal di usia muda sebagai keputusan terbaik Allah. Tak seperti saya yang merutuki takdir, ibu selalu menerima. Meski saya tahu, kadang di tengah malam saat ia tahajud, ibu kerap menangis memohon ampun atas dosa almarhum kakak.

Mungkin itu juga alasan yang membuat saya berani untuk jujur. Untuk mengakui bahwa saya saat ini sedang jatuh cinta dengan seorang gadis katolik. Ibu harus tahu. Saya enggan berbohong padanya demi alasan apapun. Meski saya tahu keputusan ini memiliki resiko yang sangat besar. Semua menantu perempuan ibu saya adalah perempuan muslim yang berkerudung rapat. Memilih di luar kategori itu sama artinya berusaha menentang status quo.

Tapi saya selalu yakin, ibu adalah samudera, ia bisa menerima segala yang ada, tanpa merasa dibebani.

Sore itu saya jujur mengutarakan mengenai kedekatan saya dengan seorang gadis non muslim. Ibu hanya menanggapi ringan. "Sudah yakin mau pacaran sama orang katolik? Wong pacaran sesama islam aja udah gak boleh. Mana ada pacaran pas jaman nabi," kata ibu saya datar. Ia menyesap teh panasnya pelan-pelan dan tidak melihat saya.

Saya tahu ini awal mula diskusi panjang yang melelahkan. Ibu adalah wanita lembut yang memilliki hati sekeras karang. Sekali berkata tidak pantang ditarik kembali. Kami diam sejenak memberi jeda dari kalimat yang baru saja terucap. Setelah beberapa lama lantas saya kembali bicara. "InsyaAllah amanah Ma. Bisa jaga diri. Bisa jaga Mamah juga."

Ibu tak langsung menjawab alih alih ia meminum tehnya pelan sekali seperti punya waktu selamanya. "Apa dasarnya kamu ngomong gitu?" Saya tahu ibu bertanya tentang kredibilitas saya sebagai seorang lelaki. Jenis manusia yang seringkali menyerah pada nafsu selangkangan. "Pacarku jauh kok. Jadi gak macem-macem," kata saya singkat.

"Wong sing niat. Wesi wae iso putung," ujar ibu. Benar. Seringkali manusia yang bernafsu bisa melakukan apa saja. Nekat mengerjakan apapun agar bisa memuaskan keinginannya. Demikian juga saya sebagai manusia. "Sebisa mungkin jaga apa yang bisa dijaga." lalu diam. Sunyi yang menyebalkan.

Teh yang semula panas mulai beranjak hangat. Tapi perbincangan kami malah mulai memanas. Ibu bukan seorang ahli agama yang memiliki pengetahuan luas perihal hadist atau ayat Quran. Baginya islam itu sederhana. Islam adalah ibadah kepada Allah dan berbagai pada sesama manusia. Ia tak pernah merecoki paham islam yang dianut masing-masing anaknya. Entah itu liberal, konservatif atau kritis.

"Wong lanang kui imam. Sing iso gowo keluargane nang swargo," kata ibu saya. Ia bicara perihal kemungkinan-kemungkinan mengkonversi gadis yang saya sukai menjadi muslim. Ini merupakan salah satu ketakutan yang saya pikirkan dulu. "Allah memberikan kepada siapa hidayah yang dia terima. Aku gak mau memaksakan apa yang bukan menjadi hakku," kata saya singkat.

Ibu menoleh melihat mata saya dan mencoba mencerna perkataan saya. Ibu, berbeda dengan bapak, bukan orang yang disebutnya "wis tau kuliah" ibu hanya tamatan SMA yang gagal kuliah. Ia tak paham filsafat atau wacana islam kontenporer. "Aku gak mau memaksa seseorang jadi islam. Yen kui ra keinginanya sendiri," kata saya menambahkan. Ibu lantas kembali duduk seperti semula, menolak melihat mata saya.

"Kamu sudah yakin? Bukankah lebih baik yang seagama? Apa gak ribet nanti kalau mau serius. Nikahnya gimana?" kata ibu. Saya tertawa. Ibu berpikir terlalu jauh mengenai hal hal yang belum pasti. Saya sedang dekat dengan seseorang yang kebetulan katolik. Memang ada keinginan menikah namun bukan satu-satunya yang menjadi tujuan utama. "Sing penting dijinkan dulu. Piye?"

Lalu kembali ada jeda sunyi yang mencekik.

Teh ibu sudah tandas. Lantas ia berdiri untuk kemudian mencuci gelas cangkir yang ia pakai. Seperti anak itik, saya mengekor pada ibu dan menemaninya hingga sampai di tempat cuci piring. "Sebaik-baiknya wanita adalah yang menjaga auratnya," ia bicara tanpa melihat wajah saya. "InsyaAllah dia menjaga diri dan kehormatannya," saya tetap berdiri mematung.

Senja hampir selesai dan pengeras suara masjid, seperti biasa sejak dua tahun lalu, memutar surat Ar Rahman keras keras. Ibu saya berjalan menuju rak piring lantas membenamkan gelas cangkir di sana. Masih dengan kesunyian yang mencekik ia diam. "Kamu tahu mama punya adik yang dulu islam lalu berubah karena menikah sama orang kristen," katanya.

Ibu bertutur tentang seorang bibi di Purwodadi yang menikah dengan orang katolik. Buat ibu semua orang katolik ya kristen, ia tak mengenal dikotomi katolik protestan. "Iya tahu," saya jawab. Ibu lantas duduk di salah satu kursi dekat meja makan. "Mamah pernah kehilangan saudara sekali. Dia diasingkan oleh sodara-sodara yang lain. Bahkan dilarang mendekati jenazah bapak (eyang) waktu meninggal. Kamu mau kaya gitu?" lalu diam.

Ibu masih berpikir bahwa kristenisasi dilakukan dengan jalan pendekatan personal seperti pernikahan atau pacaran. "Jika Allah mau mengkafirkan seseorang. Tak ada satupun mahluk yang bisa menghentikan. Juga sebaliknya," kata saya. Saya tahu ibu masih menyimpan argumen-argumen lain. "Tapi kalau tak menjaga diri ya setan bisa datang darimana saja," saya tahu ibu mulai kecewa.

Saya ingin sekali menjelaskan bahwa jika seseorang ingin menjadi katolik ada banyak rangkaian yang mesti dilakukan. Tak seperti islam yang hanya membutuhkan saksi dan pembacaan syahadat dihadapan ulama. Konversi katolik melibatkan banyak ritus yang panjang dan keyakinan teguh. Ia tak serta merta bisa berubah hanya dengan pembaptisan atau datang ke gereja.

Tapi saya enggan menjelaskan. Entah kenapa menjelaskan tetek bengek mengenai kristenisasi adalah pembelaan diri. Itu hanya akan membawa kebingungan baru kepada ibu. Hal terakhir yang saya inginkan adalah ibu murka karena merasa digurui oleh anaknya. Ibu harus tetap tenang sampai ia memberi keputusan yang lahir dari pikiran dingin dan bukan emosi sesaat.

"Jadi piye?" kata saya bertanya.

Wajah tuanya perlahan berubah murung. Saya tahu ibu sangat kecewa. Karena dalam keluarga hanya saya yang belum menikah. Hanya saya yang selalu berbeda dari saudara yang lain. Hanya saya yang selama ini selalu diam saat semua saudara dimanjakan dengan hadiah-hadiah mewah.  Hanya saya juga yang selama ini tak sempat ia bahagiakan. Ibu selalu merasa berhutang pada saya karena tak pernah bisa memberikan kemakmuran yang pernah dicecap keluarga saya dahulu.

Keluarga kami pernah sangat mapan. Mempunyai rumah besar yang lengkap dengan segala hiburan yang diinginkan. Memiliki kendaraan dan benda-benda mewah. Namun saat saya masuk SMP semuanya berubah. Ayah saya kecelakaan sehingga menguras semua harta yang ada untuk biaya pengobatannya. Lebih dari itu kami jatuh miskin sehingga pernah saya dan ibu tak makan karena kehabisan beras.

"Cuma kamu anak mama yang belum tak senengno," kata ibu suatu saat.

Saya tak pernah menuntut sesuatu. Saya tak pernah meminta apapun dari ibu. Saya hidup dengan menyadari bahwa dilahirkan sebagai anaknya adalah sebuah kebanggaan yang tak terperi. Ibu masih diam dan saya memaksakan diri untuk menjawab. "InsyaAllah bisa jaga diri," lalu diam sebentar. "Jaga diri gimana. Wong kamu sekarang gak pernah sholat. Gak pernah ngaji. Gak kaya dulu," jawabnya cepat.

Ibu benar. Saat ini saya sedang mengambil jarak dengan Tuhan. Tuhan yang mengambil almarhum kakak saya secara tiba-tiba. Tuhan yang selalu diam saat saya terpuruk dikhianati dan ditinggalkan teman. Ada kemarahan yang belum tuntas dalam hati sehingga saya menolak beribadah. "InysaAllah nanti sholat lagi. Nanti ngaji lagi. Kalau sudah dikasih jalan," kata saya.

Sudut mata ibu membasah. Saya tahu itu berat baginya. Seorang muslimah yang baru belajar mengenal tuhan, menemukan anaknya menjauh dari tuhan, karena sebuah takdir yang semestinya diterima sebagai fitrah. "Ibu gak pernah minta apapun selain kamu sholat. Itu saja lainnya gak," kata ibu. Suaranya gemetar. Ini adalah pertaruhan terakhir. Ibu adalah segalanya bagi saya. Jika ia mengatakan tidak maka saya akan mengakhiri hubungan saya dengan pacar saya sekarang.

"Kalau Dhani sholat berarti boleh?" kata saya menawar.

Ibu diam. Ia hanya menatap kosong pintu yang ada di ujung ruangan.

"Kalau ngaji lagi boleh?" kata saya menambahkan.

Ibu tetap diam.

"Kalau nanti lulus kuliah boleh?" kata saya mendesak.

Ibu masih diam.

"Kalau nanti diajak kesini ketemu mama boleh?" saya menawarkan.

Tiba-tiba dengan gerakan cepat namun juga melambat. Seperti sebuah slowmo. Ibu bangkit dan menatap garang pada mata saya. "Asal kamu tetep islam. Asal kamu gak macem-macem. Sak karepmu," lalu ibu berjalan menuju kamar. 

Saya tahu ibu terpaksa. Ia menolak namun tak kuasa berkata tidak. Setidaknya hari itu saya sudah berusaha jujur. Entah kenapa saya merasa menyesal untuk berkata jujur. Tapi ada rasa lega yang menjalar di dada. Mungkin selepas ini saya putus dengan pacar saya. atau malah serius menikah dengannya, atau malah suatu saat kamu bermusuhan. Atau mungkin saya selepas ini saya ditinggalkan atau meninggalkan. Variabel kemungkinan itu berputar membuat saya lelah.

Saya masih menunggu ibu keluar dari kamar. Untuk kemudian minta maaf jika memang ada perkataan saya yang salah. Di dalam kamar hanya Tuhan yang tahu apa yang tengah terjadi. Setengah jam kemudian ia keluar dari kamar matanya memerah dan hidung mampet. Dengan menggunakan mukena lenggap ia membawa sajadah dan tasbih di tangan kanan. Tapi kali ini Ibu tersenyum. "Wong lanang kui sing dicekel omongane. Coba saiki sembahyang nang mesjid," katanya.

Saya tahu ibu sudah menerima keputusan saya. Saya tahu ibu adalah segala yang bernama keikhlasan. Ibu adalah ya dan tidaknya Tuhan. Saya yakin ada keraguan dalam ibu. Tapi adalah tugas seorang anak untuk meyakinkan ibunya perihal jodoh yang ia pilih. Tugas seorang anak pula untuk berbakti tanpa henti pada ibu. Hari itu saya sholat di masjid untuk pertama kalinya setelah entah berapa lama.

Ibu adalah penyelamat, yang menunjukan saya jalan pulang menuju Tuhan. 

Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa

5 komentar:

  1. ah Dhani..:')

    dhani, saya cerita, ya..:)

    pada akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi dengan kamu tahu siapa, karena saya pikir itu memang yang paling baik.. dan memang kenyataannya demikian.. :)

    pada akhirnya sebuah hubungan adalah bukan semata-mata hubungan 2 individu, tapi 2 keluarga.. dan waktu itu saya pikir saya sudah terlalu egois..

    tentu saja tidak akan pernah ada yang mudah, dhani, tidak akan pernah mudah bahkan meskipun kita menjalin hubungan satu agama sekalipun..

    namun, pada akhirnya yang lagi-lagi membuat saya memutuskan untuk hidup seperti sekarang adalah, bagaimana mungkin saya membiarkan anak-anak saya kebingungan apakah dia akan ikut mamanya sholat atau ikut ayahnya ke gereja..

    apakah saya juga tidak sedih, ketika saya seharusnya sholat dan dia mengimami saya, tapi itu tidak akan pernah ada..

    apakah juga tidak menyedihkan ketika dia harusnya bisa menggandeng tangan saya ketika pergi ke gereja dan duduk bersebelahan saat misa, tapi itu tidak akan pernah terjadi..

    bukankah masing-masing kita, juga butuh dekat dengan Tuhan kita masing-masing..? :)

    ah maaf dhan, saya curhat di sini..:')

    tapi yang pasti sekarang saya sudah bahagia dengan keputusan saya.. sangat bahagia, malah.. dan saya pikir itu adalah hal terbaik yang pernah saya lakukan.. :)

    ah ya, entah kamu menganggap saya sedang ceramah atau tidak, tapi yang pasti, akan jauh lebih baik jika Dhani bisa cepat membuat pilihan.. :) untuk ke depan.. :)

    _fay

    BalasHapus
  2. Cuk, seperti kata-kata Gita, mataku berkaca-kaca usai membaca tulisan ini. Emosi sublim membuncah, terserak di setiap paragraf. Aku mohon ampun, tidak akan lagi memanggilmu wahabi tukang goda perempuan. Ampun Dhan, ampun...

    BalasHapus
  3. mas dhani, entah ini posting keberapa yang membuat saya nangis. as always. kata-katamu magis, tidak pernah ingin melewatkan satupun huruf.

    BalasHapus
  4. seperti mendengar kisahku sendiri :')

    _ayu

    BalasHapus
  5. Sial, nangis nih.. :')

    BalasHapus