Selasa, 24 Juli 2012

RA Kosasih Seda


Pagi ini saya memulai pagi dengan berduka. Raden Ahmad Kosasih, salah satu komikus legendaris Indonesia, meninggal setelah pertarungan panjang melawan penyakit paru-paru yang dideritanya. Kematian kerap kali datang, seperti seorang sahabat jauh yang mampir tiba-tiba. Ia mengakrabi kita dengan cara yang tersembunyi.

Saya kira bangsa ini berhutang banyak pada RA Kosasih. Sedikit banyak ia telah memberikan anak-anak pada zamannya keberanian untuk bermimpi. Bahwa kepahlawanan ialah perihal karakter yang dibangun dari sikap diri. Hal ini diperlihatkan dalam jalinan narasi yang ia bangun dalam setiap cerita gambar yang dibangun. Dengan tegas dalam setiap karyanya ia membagi kubu. Hitam putih secara arbiter dengan garis yang lurus.

Dulu saat kecil Ayah saya memiliki koleksi lengkap komik karya RA Kosasih dan Teguh Santosa. Komik-komik ini, yang dahulu dibuat dalam dimensi besar, selalu memantik imaji saya yang paling liar. Bagaiman jika Gatot Kaca melawan Arjuna? Bima dan Dursasana siapa yang paling kuat? Kalau Batara Guru dan Semar berkelahi siapa yang menang? Imaji-imaji itu membuat saya berani untuk berpikir di luar konteks yang pakem. 

Sebagai penggemar sebagian besar karyanya, saya selalu menyelidik dengan ragu-ragu mengapa Kosasih menggambar karakternya dengan tubuh yang montok dan citra wajah oval. Berbeda dengan kolega satu profesinya Teguh Santosa yang cenderung tajam dan gelap. Kosasih menciptakan imaji setiap tokohnya seperti sebuah lingkaran yang kemudian diberi ekspresi. Hal ini melahirkan ciri khas yang mustahil ditiru oleh orang lain.

Lewat karakter yang oval itu pula Kosasih seolah ingin menunjukan kedekatan diri dengan manusia yang hidup. Seperti sebuah puisi yang mudah dimengerti. Seperti sebuah lagu yang mudah diingat. Menarik kemudian hampir seluruh karakter baik yang ia gambarkan selalu memiliki kumis tipis. Sementara tokoh yang jahat selali digambarkan dengan mata yang membelalak dan gigi besar dengan taring menjelang.

Mungkin jika ada yang kurang gathuk di hati saya adalah penokohan para karakter mahabaratha dan ramayana yang terlalu priyayi sentris. Hampir dalam setiap karyanya ia jarang memberikan ruang pada tokoh minor untuk muncul dan memberi nafas hidup. Seolah-olah kehidupan ini hanya diisi oleh para kaum ningrat. Entah karena hal ini pengaruh Kosasih yang lahir dari keluarga ningrat atau memang ia teguh pada pakem cerita wayang yang hanya menokohkan kaum ningrat dengan porsi utama.

Kosasih lahir pada 4 April 1919 di sebuah dusun di Bogor. Perkenalan awalnya dengan komik awalnya tidak di sengaja. Sebagai murid Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan, Kosasih muda mendapatkan kemudahan akses terhadap banyak buku fiksi. Salah satu yang paling ia sukai adalah kisah klasik mengenai si raja hutan Tarzan. Dari kesukaan itulah iseng-iseng ia membuat gambar ilustrasi. Bertahun-tahun usai lulus dari HIS ia tak lantas menjadi pamong praja. Malah ia mendapatkan pekerjaan pertama sebagai seorang komikus di harian Pedoman Bandung. 

Namun bukan karena sekedar sebagai komikus ia patut dikenang. Namun karena usahanya untuk melahirkan cerita yang dekat dengan para pembacanya. Meski ada beberapa hal komikal yang perlu dikenang. Seperti usaha Kosasih untuk membuat narasi Pandawa Seda yang terlalu dibuat Islami. Sepertinya ada sebuah tekanan keharusan bahwa cerita komik dari epos Hindu ini mesti di-Indonesiakan. Sehingga terpaksa memaksa pakem aslinya diadopsi dengan nilai-nilai yang 'sesuai dengan pancasila'.

Beberapa minggu yang lalu bersama seorang kawan saya menghadiri Jakarta Book Fair. Di salah satu lapak buku yang agak asing saya menemukan beberapa bendel komik Ramayana dengan tahun terbit sekitar 1968. Kami bertatap muka dengan seorang pemuda akhir tigapuluhan yang memborong tumpukan komik Kosasih. Dengan mata berbinar ia berkata "Komik RA Kosasih itu asli, kalau sampul depannya ada ijin dari Polda," katanya bangga.

Bagi mereka yang besar pada akhir 80an dan awal 90an pasti mengetahui tentang kredo ini. Perihal komik-atawa buku yang mesti lolos sensor kejaksaan dan polisi. Menjadi menarik karena meski Kosasih adalah salah satu seniman yang pernah menjadi korban kritik dan oposisi Lekra. Komiknya dianggap memiliki potensi "Mengganggu stabilitas kamtibmas". Apa pasal? Tentu karena naskah Barathayuda adalah mengenai perang dari status quo dan kebenaran. Di situ ada ketakutan yang dibuat-buat.

Bagi saya Kosasih adalah seorang pendongeng yang ulung. Meski ia sangat mencintai Komik dan Dongeng ia telah mengakui kekalahan pada umur dan telah berhenti menggambar pada medio 70an. Seingat saya komik terakhir yang ia buat adalah variasi lain dari Sri Dewi, tokoh superhero wanita lokal, yang bernama Cempaka. Karakter terakhir merupakan katarsis dari tokoh Tarzan yang menjadi idolanya selama bertahun lampau. 

Tapi lebih dari itu. Kosasih adalah penganyam mimpi. Ia mendekatkan epos Mahabarata sebagai sebuah pertarungan kebatilan dan kebenaran pada akhirnya mesti menang. Dalam babak Pandawa Seda bagi saya merupakan puncak spiritualitas dan kematangan Kosasih sebagai manusia dan komikus. Dengan panel-panel terbatas dan minim warna ia menciptakan sebuah perpisahan yang lugas. Satu-persatu tokoh baik dalam keluarga Pandawa dibunuh sesuai karmanya.

Pandawa Seda juga merupakan sebuah alegori dari sebuah zaman yang angkuh. Dibuat pada zaman ketika Lekra berkuasa kisah Mahabarata Kosasih dianggap terlalu kebarat-baratan. Melalui pena ia kemudian menggambarkan peperangan idiologis antara seniman zamannya. Ia turut jelas ambil bagian dalam perang tersebut. Bahwa kesenian tak melulu harus bersikap politis. Ia mesti bebas dan punya unsur hiburan dan tak selalu perihal propaganda.

Hari ini sekitar pukul 01.00 RA Kosasih meninggal. Seperti banyak legenda lain ia meninggalkan warisan besar bagi para pembacanya. Sebagai bapak komik modern Indonesia. Juga sebagai manusia yang dengan jeli menggambarkan zaman dalam tokoh wayang. Tentang negara beserta aparatusnya yang keji melalui simbol Hastina dan Kurawa, juga para oportunis tengil yang berkelindan diantara pemerintah yang disimbolkan melalui Sengkuni.

Saya selalu ingat tokoh Bhisma bikinan Kosasih. Tokoh ini menjadi salah satu yang paling karismatis dalam seluruh cerita bikinan kosasih. Hanya ia satu-satunya tokoh yang selalu konsisten ada dalam tiga babak cerita Mahabarata, Barathayudha dan Pandawa Seda. Bhisma yang menolak hak diri sebagai Raja dan memilih hidup sebagai seorang begawan. Manusia yang tidak takut mempersiapkan kematiannya sendiri.


RA Kosasih tak hanya menggambar. Ia menuliskan sejarah.

1 komentar: