Rabu, 18 Juli 2012

Tota'an





Langit biru dan matahari terik memanggang. Tepat pukul 11.00 di salah satu ruas jalan di Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Jember Jawa Timur. Ratusan orang datang berkumpul dengan membawa keranjang berisi burung dara. Mereka berarak. Ada yang berjalan, menaiki motor dan menaiki truk. Wajah mereka diliputi semangat yang meluap. Seolah hendak adu kebanggan.

            Matahari tak juga mengurangi teriknya. Sengat panasnya melahirkan bulir-bulir keringat diantara para warga yang berkumpul. Tentu tak hanya manusia saja yang merasakan panas. Hampir 4.000 burung dara yang dibawa orang-orang itu bergerak gaduh menolak panas. Hari itu mereka sedang bersiap untuk melakukan kegiatan tota’an, sebuah seremoni kebersamaan, yang kerap kali di lakukan masyarakat sisi selatan Jember.

            Seorang pria dengan peci hitam dan kemeja putih berdiri di salah satu gang di pinggir jalan itu. Ia mempersilahkan para pembawa burung dara untuk masuk dan berkumpul di halaman rumahnya. “Acara ini sebenarnya sebagai ajang silaturahmi dan juga pengenalan anggota baru terhadap paguyuban persaudaraan burung dara,” kata Haji Mohammad Solikhin, ketua paguyuban burung dara Dewa Angin Semboro, ketua panitia acara hari itu.





Setiap burung dara yang mengikuti kegiatan tota’an didandani dengan berbagai pernik. Seperti pita warna-warni dan juga hiasan jambul. Nama kelompok burung-burung itu pun mengundang senyuman. Ada kelompok yang menamakan dirinya kelompok penakluk cewek, ada pula anak manja, ada pula yang putra utama. “Penamaan ini buat senang-senang. Juga sebagai penanda kepemilikan.”


  Hari itu para pecinta burung dara dari seluruh kecamatan Semboro datang mengikuti tota’an. Kebanyakan dari mereka memang telah saling mengenal satu sama lain. “Keguyuban ini selalu kami jaga sebagai alat pemersatu, kalau burung ini kan cuma alasan hobi saja,” kata ia. Tak hanya disuguhi atraksi andukan dara, mereka juga diberikan makan gratis dan juga saling tukar info mengenai perawatan burung dara.

            Siang makin terik dan adzan dhuhur mulai berkumandang. Halaman rumah Haji Solikhin semakin ramai. Seperti layaknya pertemuan ibu-ibu, tota’an juga diramaikan dengan undian serupa arisan. Namun hadiah berasal dari kas organisasi atau hibah dari para penyumbang. “Intinya supaya ada yang lucu-lucu dan buat senang bersama. Hadiahnya juga tak besar,” ujar Haji Solikhin.

Dari arah jalan utama seorang pria berpakaian hitam dan berkumis tebal datang. Ia adalah Ismail Pacicik, penikmat burung dara asal Semboro. Ismail, begitu ia disapa, sudah mengenal tota’an sejak lama. Kebiasaan ini bahkan telah menjadi salah satu identitas kultural sejak lama. “Dari saya kecil sudah ada tota’an ini. Kalau gak salah malah tahun 60an itu lebih banyak lagi,”.

            Dari penuturan Ismail hobi ini kemudian berkembang tak hanya di daerah Semboro saja. Namun mulai meluas ke daerah Tanggul hingga Mangli di pusat kota Jember. hal ini karena keunikan hobi ini yang membuat para pemilik burung dara bisa saling unjuk kebolehan kemampuan. “Mereka ini dilatih untuk patuh dan ingat sama tuannya, itu yang membuat saya tertarik sama hobi ini,”

            Ismail dan Haji Solikhin lantas berjalan ke tengah lapangan. Mereka berdiskusi sebentar lantas mengambil sepasang burung dara, lantas memeriksanya. “Ada istilahnya pengantin barat sama timur. Burung dara yang berasal dari dua daerah yang beda,” kata Ismail. Dari dua burung tersebut rencananya akan dilepaskan sebagai tanda awal dimulainya acara tota’an.

Selepas pasangan pengantin itu diterbangkan. Para perawat burung dara dari berbagai kelompok berkumpul ditengah lapangan. Mereka bersiap untuk melepaskan ribuan burung yang sedari tadi telah dipersiapkan.Wajah mereka ada yang cemas, ada yang tergelak, ada pula yang mengantuk. “Ayo sodara-sodara siap. Nanti kalau sudah dihitung tiga dilepas ya,”.

“Satu, dua, tigaaaaa. Ayo sodara-sodara dilepas,” teriak Haji itu. Langit serta merta ditutupi burung dara. Lapangan lokasi acara tota’an berlangsung riuh ramai dengan teriakan. Namun para pemilik burung dara tak terlihat khawatir dara mereka hilang. Karena mereka tahu bahwa burung-burung tersebut akan kembali. “Sudah dilatih untuk ingat rumah. Jadi mau dilepas dimanapun pasti akan kembali kata Ismail.

            Hobi ini sendiri potensial untuk dijadikan kebiasaan atau adat istiadat mengingat sejarahnya yang lumayan panjang. pada masa pergolakan politik Indonesia tahun 60an. Totaan sempat dimanfaatkan orang-orang Lesbumi dan NU untuk menjaga kesatuan desa. mereka menganggap tota’an sangat berpotensi di infiltrasi paham-paham PKI. “Tapi dulu biasanya sebelum tota’an ada pengajian, sekarang sudah nggak,”

            Dulu PKI melakukan pendekatan dengan menggunakan perangkat kesenian seperti ludruk. Sesuatu yang mudah dan murah untuk diperagakakan. Daerah Semboro sendiri meski bukan basis NU, banyak dihuni oleh seniman-seniman dalang dan penari reog Ponorogo. Sampai hari ini jejak kesenian ini masih bisa dilihat dan ditemui di Semboro.



            Kesenian seperti wayang dianggap PKI sebagai seni kaum priyayi. Sehingga untuk mencari tandingan terhadap kesenian itu dulu sering diadakan seni ludruk dan kesenian politis. Andreas Harsono, jurnalis dan penulis, pernah bercerita konon dulu pada saat terjadi coup PKI. Sungai Bedadung yang membelah kota Jember pernah memerah dengan darah. Namun sayang sampai hari ini, masih belum ada naskah yang bisa membuktikan itu.

            Meski tota’an sudah banyak dan jamak ditemui di Semboro, namun kesenian ini masih kalah pamor dengan atraksi lain di Jember seperti JFC atau Kesenian Patrol. Seringkali tota’an diselenggarakan dengan dana swadaya yang melibatkan para pesertanya untuk membayar acara yang mereka ikuti. “Padahal saya yakin ini bagus jika dibuat atraksi turis,” kata Haji Solikhin polos.

            Selain itu jika pemanfaatnya tepat, Haji Solikhin percaya ini bisa menjadi daya tarik pariwisata. mengingat banyaknya peserta dan ruang lingkup tota’an yang tak terbatas di satu daerah saja. kadang dalam satu kampung bisa memiliki 2-3 kelompok burung dara. “Acara ini biasanya diadakan setahun dua kali, bisa jadi acara penarik turis kalau mau,” pungkasnya.

                Siang sudah tergeincir dan sore sudah diambang kehadiran. Wajah-wajah kelelahan berpeluh itu menyunggingkan senyum. Mereka adalah kelompok terakhir penjaga budaya tota’an. Entah sampai kapan kebudayaan ini akan bisa terjaga. Namun Haji Solikhin dan Ismail yakin budaya ini akan tetap ada. “Saya sudah mengajarkan anak saya, tetangga saya, saudara saya. Masa tidak ada yang mau melanjutkan? Kan ini warisan.”. Sementara para merpati tadi terbang entah kemana. 




*semua foto oleh Heru Putranto*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar