Langit biru dan matahari terik memanggang. Tepat pukul 11.00 di salah satu ruas jalan di Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Jember Jawa Timur. Ratusan orang datang berkumpul dengan membawa keranjang berisi burung dara. Mereka berarak. Ada yang berjalan, menaiki motor dan menaiki truk. Wajah mereka diliputi semangat yang meluap. Seolah hendak adu kebanggan.
Matahari tak juga mengurangi teriknya. Sengat panasnya melahirkan
bulir-bulir keringat diantara para warga yang berkumpul. Tentu tak hanya
manusia saja yang merasakan panas. Hampir 4.000 burung dara yang dibawa
orang-orang itu bergerak gaduh menolak panas. Hari itu mereka sedang bersiap
untuk melakukan kegiatan tota’an, sebuah seremoni kebersamaan, yang
kerap kali di lakukan masyarakat sisi selatan Jember.
Seorang pria dengan peci hitam dan kemeja putih berdiri di salah
satu gang di pinggir jalan itu. Ia mempersilahkan para pembawa burung dara
untuk masuk dan berkumpul di halaman rumahnya. “Acara ini sebenarnya sebagai
ajang silaturahmi dan juga pengenalan anggota baru terhadap paguyuban
persaudaraan burung dara,” kata Haji Mohammad Solikhin, ketua paguyuban burung
dara Dewa Angin Semboro, ketua panitia acara hari itu.
Setiap burung dara yang mengikuti kegiatan tota’an
didandani dengan berbagai pernik. Seperti pita warna-warni dan juga hiasan
jambul. Nama kelompok burung-burung itu pun mengundang senyuman. Ada kelompok
yang menamakan dirinya kelompok penakluk cewek, ada pula anak manja, ada pula
yang putra utama. “Penamaan ini buat senang-senang. Juga sebagai penanda
kepemilikan.”
Hari itu para pecinta burung dara dari seluruh kecamatan Semboro datang mengikuti tota’an. Kebanyakan dari mereka memang telah saling mengenal satu sama lain. “Keguyuban ini selalu kami jaga sebagai alat pemersatu, kalau burung ini kan cuma alasan hobi saja,” kata ia. Tak hanya disuguhi atraksi andukan dara, mereka juga diberikan makan gratis dan juga saling tukar info mengenai perawatan burung dara.
Hari itu para pecinta burung dara dari seluruh kecamatan Semboro datang mengikuti tota’an. Kebanyakan dari mereka memang telah saling mengenal satu sama lain. “Keguyuban ini selalu kami jaga sebagai alat pemersatu, kalau burung ini kan cuma alasan hobi saja,” kata ia. Tak hanya disuguhi atraksi andukan dara, mereka juga diberikan makan gratis dan juga saling tukar info mengenai perawatan burung dara.
Siang makin terik dan adzan dhuhur mulai berkumandang. Halaman
rumah Haji Solikhin semakin ramai. Seperti layaknya pertemuan ibu-ibu, tota’an
juga diramaikan dengan undian serupa arisan. Namun hadiah berasal dari kas
organisasi atau hibah dari para penyumbang. “Intinya supaya ada yang lucu-lucu
dan buat senang bersama. Hadiahnya juga tak besar,” ujar Haji Solikhin.
Dari arah jalan utama seorang pria berpakaian hitam dan berkumis
tebal datang. Ia adalah Ismail Pacicik, penikmat burung dara asal Semboro.
Ismail, begitu ia disapa, sudah mengenal tota’an sejak lama. Kebiasaan
ini bahkan telah menjadi salah satu identitas kultural sejak lama. “Dari saya
kecil sudah ada tota’an ini. Kalau gak salah malah tahun 60an itu lebih
banyak lagi,”.
Dari penuturan Ismail hobi ini kemudian berkembang tak hanya di daerah
Semboro saja. Namun mulai meluas ke daerah Tanggul hingga Mangli di pusat kota
Jember. hal ini karena keunikan hobi ini yang membuat para pemilik burung dara
bisa saling unjuk kebolehan kemampuan. “Mereka ini dilatih untuk patuh dan
ingat sama tuannya, itu yang membuat saya tertarik sama hobi ini,”
Ismail dan Haji Solikhin lantas berjalan ke tengah lapangan.
Mereka berdiskusi sebentar lantas mengambil sepasang burung dara, lantas
memeriksanya. “Ada istilahnya pengantin barat sama timur. Burung dara yang
berasal dari dua daerah yang beda,” kata Ismail. Dari dua burung tersebut
rencananya akan dilepaskan sebagai tanda awal dimulainya acara tota’an.
Selepas pasangan pengantin itu diterbangkan. Para perawat burung
dara dari berbagai kelompok berkumpul ditengah lapangan. Mereka bersiap untuk
melepaskan ribuan burung yang sedari tadi telah dipersiapkan.Wajah mereka ada
yang cemas, ada yang tergelak, ada pula yang mengantuk. “Ayo sodara-sodara
siap. Nanti kalau sudah dihitung tiga dilepas ya,”.
“Satu, dua, tigaaaaa. Ayo sodara-sodara dilepas,” teriak Haji itu.
Langit serta merta ditutupi burung dara. Lapangan lokasi acara tota’an
berlangsung riuh ramai dengan teriakan. Namun para pemilik burung dara tak
terlihat khawatir dara mereka hilang. Karena mereka tahu bahwa burung-burung
tersebut akan kembali. “Sudah dilatih untuk ingat rumah. Jadi mau dilepas
dimanapun pasti akan kembali kata Ismail.
Hobi ini sendiri potensial untuk dijadikan kebiasaan atau adat
istiadat mengingat sejarahnya yang lumayan panjang. pada masa pergolakan
politik Indonesia tahun 60an. Totaan sempat dimanfaatkan orang-orang Lesbumi
dan NU untuk menjaga kesatuan desa. mereka menganggap tota’an sangat
berpotensi di infiltrasi paham-paham PKI. “Tapi dulu biasanya sebelum tota’an
ada pengajian, sekarang sudah nggak,”
Dulu PKI
melakukan pendekatan dengan menggunakan perangkat kesenian seperti ludruk.
Sesuatu yang mudah dan murah untuk diperagakakan. Daerah Semboro sendiri meski
bukan basis NU, banyak dihuni oleh seniman-seniman dalang dan penari reog
Ponorogo. Sampai hari ini jejak kesenian ini masih bisa dilihat dan ditemui di
Semboro.
Kesenian seperti
wayang dianggap PKI sebagai seni kaum priyayi. Sehingga untuk mencari tandingan terhadap kesenian itu
dulu sering diadakan seni ludruk dan kesenian politis. Andreas Harsono, jurnalis dan penulis, pernah
bercerita konon dulu pada saat terjadi coup PKI. Sungai Bedadung yang membelah
kota Jember pernah memerah dengan darah. Namun sayang sampai hari ini, masih
belum ada naskah yang bisa membuktikan itu.
Meski tota’an sudah banyak dan jamak ditemui di Semboro,
namun kesenian ini masih kalah pamor dengan atraksi lain di Jember seperti JFC
atau Kesenian Patrol. Seringkali tota’an diselenggarakan dengan dana
swadaya yang melibatkan para pesertanya untuk membayar acara yang mereka ikuti.
“Padahal saya yakin ini bagus jika dibuat atraksi turis,” kata Haji Solikhin
polos.
Selain itu jika
pemanfaatnya tepat, Haji Solikhin percaya ini bisa menjadi daya tarik
pariwisata. mengingat banyaknya peserta dan ruang lingkup tota’an yang
tak terbatas di satu daerah saja. kadang dalam satu kampung bisa memiliki 2-3
kelompok burung dara. “Acara ini biasanya diadakan setahun dua kali, bisa jadi
acara penarik turis kalau mau,” pungkasnya.
Siang sudah tergeincir dan sore sudah diambang kehadiran. Wajah-wajah kelelahan berpeluh itu menyunggingkan senyum. Mereka adalah kelompok terakhir penjaga budaya tota’an. Entah sampai kapan kebudayaan ini akan bisa terjaga. Namun Haji Solikhin dan Ismail yakin budaya ini akan tetap ada. “Saya sudah mengajarkan anak saya, tetangga saya, saudara saya. Masa tidak ada yang mau melanjutkan? Kan ini warisan.”. Sementara para merpati tadi terbang entah kemana.
*semua foto oleh Heru Putranto*
Siang sudah tergeincir dan sore sudah diambang kehadiran. Wajah-wajah kelelahan berpeluh itu menyunggingkan senyum. Mereka adalah kelompok terakhir penjaga budaya tota’an. Entah sampai kapan kebudayaan ini akan bisa terjaga. Namun Haji Solikhin dan Ismail yakin budaya ini akan tetap ada. “Saya sudah mengajarkan anak saya, tetangga saya, saudara saya. Masa tidak ada yang mau melanjutkan? Kan ini warisan.”. Sementara para merpati tadi terbang entah kemana.
*semua foto oleh Heru Putranto*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar