Sabtu, 28 Juli 2012

Thoreau Mix Tape List





Seharusnya ada perayaan 12 juli lalu. Saat jakartabeat merayakan weekend mixtape ke #5 bertemakan Occupy. Jakartabeat melupakan satu nama besar di Amerika Serikat.  Si murung Hendry David Thoreau. Pria dengan jambang selebat Oma Irama ini seorang pacifist yang menolak penindasan dengan cara damai. Sebuah usaha intelectual mocking terhadap pemerintahan (baca negara) tanpa membuat aparatusnya merasa tersinggung.

Pada musim panas Juli 1846 Thoreau melewati satu malam dalam sebuah sel dingin di kota Concord. Sebagai kulit putih terdidik ia menentang perbudakan setelah beberapa tahun sebelumnya menolak membayar sebagian dari pajak yang dikenakan padanya. Tipikal kelompok kelas menengah ngehe yang sadar gerakan. Tentunya gerakan ini perlu nama, lantas entah siapa yang tengik menyebut tindakan pria berjambang ini sebagai Pembangkangan Sipil karena tiga tahun selepas ia dipenjara, pada 1849 melahirkan esai panjang berjudul Resistance to civil government.

Lantas pemikiran iseng muncul seusai membaca catatan pinggir Goenawan Mohammad yang mulai membosankan itu. “Jika Thoreau hidup pada era Google yang maha tau. Kira-kira lagu seperti apa yang akan ia dengarkan?” Maka keisengan ini berujung pada upaya saya menyusun lima lagu tentang pembangkangan sipil. Meski dalam esainya Thoreau tak pernah menyebutkan frase Civil Disobidience secara gamblang. Saya kira akan menyenangkan merumuskan pembangkangan dalam sebuah sajak lagu.

Oh tentu saja saya hanya bercanda saat mengatakan bahwa daftar ini dibuat sebagai perayaan Weekend mix-tape. Karena saya tidak berasal dari scene indie manapun. Meski saya memaknai Indie senagai the art of having fun. Toh daftar ini dibuat sebagai bentuk lain tahlilan terhadap 150 tahun usia pembangkangan sipil yang dilahirkan Thoreau. Setelah mengobrak-abrik 111 giga file musik yang sebagian besar diunduh secara ilegal saya menyusun lima lagu untuk Thoreau.

Hasilnya ya tentu saja sekedar daftar lagu eklektik. Alasannya? Karena saya bukan pendengar musik yang taat. Sehingga memilih lima lagu dari beberapa dekade terakhir adalah upaya melawan kelampauan yang nisbi. Juga karena saya tak paham benar perbedaan antara resistance dan disobidience. Apakah perlawanan adalah bentuk pembangkangan atau malah sebaliknya? Tapi sajak dalam lagu toh bisa ditafsirkan secara bebas.

Secara sadar saya menyisihkan We Shall Over Come yang dipopulerkan oleh Joan Baez. Lagu ini  yang sempat sangat jamak di dengar di era 70an, bukanlah lagu yang menganjurkan pembangkangan. Lagu itu lebih seperti bentuk lain dari pacifist yang digaungkan oleh Ghandi. Meski pada 1956 Rosa Parks bersama Marthin Luther King Jr, dalam great march of Washington We Shall Over Come adalah anthem para pejuang hak sipil.

Saya juga menyadari bahwa sebagian besar dari daftar yang saya susun sebagian besar berasal dari Amerika. Ada sebuah ironi yang menyebalkan. Tanah kebebasan toh tidak bebas-bebas amat sehingga melahirkan pemikir yang merumuskan ide tentang pembangkangan sipil. Negara yang dibangun dari 300 tahun pembantaian dan perang saudara. Apa yang lebih tengik dari itu?

5. We're Not Gonna Take It Lyrics - Twisted Sister (1984)

We've got the right to choose and
There ain't no way we'll lose it
This is our life, this is our song

                Saya mesti mengakui tidak semua glam/hair metal dekaden. Beberapa bisa dengan cerdas meramu kata-kata dan lirik yang secara semiotik berupa perlawanan terhadap segala yang mapan. 1980an adalah masa di mana seluruh orang sudah muak dengan perang dingin. Kejatuhan Soviet dan runtuhnya Berlin. Teror Petrus di Indonesia membuat para preman bergidik nyeri dan jalanan menjadi sepi di malam hari.

                Twisted Sister mentasbihkan diri sebagai kumpulan pemberontak. Dengan sound mirip heavy metal mereka melawan apapun yang ditasbihkan pada sebuah band metal. Gelap, garang dan menakutkan. Lantas mengubahnya menjadi berwarna, terang dan penuh suka cita. Twisted Sister boleh jadi salah satu band yang mencoba mengeluarkan Amerika Serikat dari regresi semangat akibat dua perang tanpa hasil.     

4. The Revolution Will Not Be Televised - Gil Scott-Heron (1971)

Green Acres, The Beverly Hillbillies, and Hooterville
Junction will no longer be so damned relevant, and
women will not care if Dick finally gets down with
Jane on Search for Tomorrow because Black people
will be in the street looking for a brighter day.
The revolution will not be televised.

Sebut saya sebagai pendengar musik yang naif. Tapi the godfather of hip-hop ini adalah seorang imam mahdi. Jauh di masa 1970 an saat Fox News dan CNN belum sebejat hari ini. Ia telah meramalkan bahwa media akan menjadi anjing pudel peliharaan pemerintah. Maka satu-satunya jalan melawan hal tersebut adalah berhenti menonton TV, memulai jaringan informasi sendiri dan lakukan perubahan dari tingkat RT/RW.

Thoreau dengan pedas menuliskan “Unjust laws exist;” dengan jeda panjang lantas ia melanjutkan dengan sebuah pertanyaan penting ” shall we be content to obey them, or shall we endeavor to amend them, and obey them until we have succeeded, or shall we transgress them at once?” Sejalan dengan itu Gil, menurut saya telah berusaha abai dengan adanya negara dengan perangkat komunikasi mereka.  

3. I Ain't Marching Anymore - Phil Ochs (1965)

For I stole California from the Mexican land
Fought in the bloody Civil War
Yes I even killed my brothers
And so many others But I ain't marchin' anymore

                Mari kita sepakati bahwa Phil Ochs bukan Bob Dylan dan ia sama sekali tidak berupaya menjadi Dylan. Meski hubungan Ochs dan Dylan lebih seperti mentor dan murid dalam relasi yang di gambarkan dalam Star Wars. Dalam banyak hal, berbeda dengan Dylan, Ochs yang memutuskan secara sadar masuk ke dalam aksi politik. Ochs secara terbuka mendukung Kuba saat perang dingin berlangsung. Ia bahkan perlu repot membaca kembali Engels dan Marx, meski tak pernah benar-menar meyakini manifesto komunis sebagai nubuat.

I Ain't Marching Anymore merupakan rangkuman singkat sejarah kekerasan yang ada di Amerika Serikat. Mulai dari pembantaian kaum Indian sampai dengan rasialisme kulit hitam. Bahwa demokrasi yang hadir hari ini dibangun dari darah. Mungkin lagi ini juga salah satu yang mendorong sejarawan radikal AS, Howard Zinn menuliskan A People's History of the United States. Puncaknya adalah ajakan Ochs untuk menolak wajib militer dan bagian dari perang Vietnam.

2. No Suprises – Radiohead (1997)
You look so tired and unhappy
Bring down the government
They don't, they don't speak for us
I'll take a quiet life

Tahun 90an adalah puncak dari malaise cita rasa. The so called generasi X berusaha melepaskan identitas diri dari apa yang telah mapan sebelumnya. Repetisi dari sejarah yang berulang-ulang. Pekerjaan yang membosankan dan para pemuda hanya menjadi skrup dari korporasi internasional. Saat Radiohead masih belum semenyebalkan hari ini (ya menyebalkan mereka ogah konser di Indonesia) yang dengan sinis memotret sikap nyinyir kelas menengah ngehe. Bring down the government adalah oxymoron dari sebuah negara yang masih terbuai mitos monarki.

Radiohead lewat no surprises seolah ingin mengajak para pendengarnya menjalankan apa yang disebut Thoreau sebagai “Quietly declare war with the State” bahwa hidup yang monoton, seragam dan tertebak ujungnya adalah sebuah kesia-siaan. Untuk itu salahkan pemerintah dan boikot terhadap pekerjaan apapun. Lagu ini bukan sebuah penolakan terhadap zaman ia hanya mengejeknya. Tentu lagu ini masih relevan didengar oleh para pejuang hak-hak sipil melalui Ipod di salah satu pojok starbucks.


1. Mosi Tidak Percaya – Efek Rumah Kaca (2008)

Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya

Thoreau menutup esai panjangnya dengan sebuah harapan. Bahwa kelak di masa depan akan ada sebuah negara yang berpihak pada masyarakatnya. “I have imagined, but not yet anywhere seen.” Saya mesti percaya pada Cholil dan kawan-kawan bahwa satu kalimat di atas adalah puncak dari segala yang bernama pembangkangan. Bahwa suatu saat masyarakat di negara yang mulai membusuk ini akan sampai pada satu titik bahwa mereka sudah cukup dikadalin oleh pemerintahannya. Titik dimana negara bersama aparatusnya telah menjadi Leviathan dalam terminologi Hobbesian.

Pemerintahan korup dan ragu-ragu adalah sebuah lelucon yang mesti diakhiri. Dengan lirik lagu yang mudah diingat, mudah dicerna dan mudah dinyanyikan. Lagu ini sebenarnya berpotensi menjadi sebuah koor wajib pada setiap demonstrasi damai. Tapi pembangkangan sipil ala Thoreau bukanlah demonstrasi jalanan yang dilakukan dengan kekerasan. Thoreau menginginkan kesadaran kritis dari para warganya untuk menuntut pemerintah bekerja dengan benar. "ini masalah kuasa, alibimu berharga, kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?"


in honorable mention

Rage Against The Machine - take the power back
Pink Floyd - Mother
Swami - Bongkar
Flaming Lips - Jesus Shootin' Heroin
Arcade Fire - Antichrist Television Blues

Tidak ada komentar:

Posting Komentar