Seharusnya ada perayaan 12 juli lalu. Saat jakartabeat merayakan weekend mixtape ke #5 bertemakan Occupy. Jakartabeat melupakan satu
nama besar di Amerika Serikat. Si murung Hendry David Thoreau. Pria
dengan jambang selebat Oma Irama ini seorang pacifist yang menolak penindasan dengan
cara damai. Sebuah usaha intelectual mocking terhadap pemerintahan (baca
negara) tanpa membuat aparatusnya merasa tersinggung.
Pada musim panas Juli 1846
Thoreau melewati satu malam dalam sebuah sel dingin di kota Concord. Sebagai
kulit putih terdidik ia menentang perbudakan setelah beberapa tahun sebelumnya
menolak membayar sebagian dari pajak yang dikenakan padanya. Tipikal kelompok
kelas menengah ngehe yang sadar gerakan. Tentunya gerakan ini perlu nama,
lantas entah siapa yang tengik menyebut tindakan pria berjambang ini sebagai
Pembangkangan Sipil karena tiga tahun selepas ia dipenjara, pada 1849
melahirkan esai panjang berjudul Resistance to civil government.
Lantas pemikiran iseng muncul
seusai membaca catatan pinggir Goenawan Mohammad yang mulai membosankan itu.
“Jika Thoreau hidup pada era Google yang maha tau. Kira-kira lagu seperti apa
yang akan ia dengarkan?” Maka keisengan ini berujung pada upaya saya menyusun
lima lagu tentang pembangkangan sipil. Meski dalam esainya Thoreau tak pernah
menyebutkan frase Civil Disobidience secara gamblang. Saya kira
akan menyenangkan merumuskan pembangkangan dalam sebuah sajak lagu.
Oh tentu saja saya hanya
bercanda saat mengatakan bahwa daftar ini dibuat sebagai perayaan Weekend mix-tape. Karena saya tidak berasal
dari scene indie manapun. Meski saya memaknai Indie senagai the art of having fun. Toh daftar ini dibuat
sebagai bentuk lain tahlilan terhadap 150 tahun usia pembangkangan sipil yang
dilahirkan Thoreau. Setelah mengobrak-abrik 111 giga file musik yang sebagian
besar diunduh secara ilegal saya menyusun lima lagu untuk Thoreau.
Hasilnya ya tentu saja sekedar
daftar lagu eklektik. Alasannya? Karena saya bukan pendengar musik yang taat.
Sehingga memilih lima lagu dari beberapa dekade terakhir adalah upaya melawan
kelampauan yang nisbi. Juga karena saya tak paham benar perbedaan antara resistance dan disobidience. Apakah perlawanan adalah
bentuk pembangkangan atau malah sebaliknya? Tapi sajak dalam lagu toh bisa
ditafsirkan secara bebas.
Secara sadar saya menyisihkan
We Shall Over Come yang dipopulerkan oleh Joan Baez. Lagu ini yang sempat
sangat jamak di dengar di era 70an, bukanlah lagu yang menganjurkan
pembangkangan. Lagu itu lebih seperti bentuk lain dari pacifist yang digaungkan oleh Ghandi.
Meski pada 1956 Rosa Parks bersama Marthin Luther King Jr, dalam great march of Washington We Shall Over Come adalah
anthem para pejuang hak sipil.
Saya juga menyadari bahwa
sebagian besar dari daftar yang saya susun sebagian besar berasal dari Amerika.
Ada sebuah ironi yang menyebalkan. Tanah kebebasan toh tidak bebas-bebas amat
sehingga melahirkan pemikir yang merumuskan ide tentang pembangkangan sipil.
Negara yang dibangun dari 300 tahun pembantaian dan perang saudara. Apa yang
lebih tengik dari itu?
5. We're Not Gonna Take It Lyrics - Twisted
Sister (1984)
We've got the right to choose and
There ain't no way we'll lose it
This is our life, this is our song
Saya mesti mengakui tidak semua glam/hair metal dekaden. Beberapa bisa dengan
cerdas meramu kata-kata dan lirik yang secara semiotik berupa perlawanan
terhadap segala yang mapan. 1980an adalah masa di mana seluruh orang sudah muak
dengan perang dingin. Kejatuhan Soviet dan runtuhnya Berlin. Teror Petrus di
Indonesia membuat para preman bergidik nyeri dan jalanan menjadi sepi di malam
hari.
Twisted Sister mentasbihkan diri sebagai kumpulan pemberontak. Dengan sound
mirip heavy metal mereka melawan apapun yang ditasbihkan pada sebuah band
metal. Gelap, garang dan menakutkan. Lantas mengubahnya menjadi berwarna,
terang dan penuh suka cita. Twisted Sister boleh jadi salah satu band yang
mencoba mengeluarkan Amerika Serikat dari regresi semangat akibat dua perang
tanpa hasil.
4. The Revolution Will Not Be Televised - Gil
Scott-Heron (1971)
Green Acres, The Beverly Hillbillies, and
Hooterville
Junction will no longer be so damned relevant,
and
women will not care if Dick finally gets down
with
Jane on Search for Tomorrow because Black people
will be in the street looking for a brighter
day.
The revolution will not be televised.
Sebut saya sebagai pendengar
musik yang naif. Tapi the godfather of hip-hop ini adalah seorang imam mahdi.
Jauh di masa 1970 an saat Fox News dan CNN belum sebejat hari ini. Ia telah
meramalkan bahwa media akan menjadi anjing pudel peliharaan pemerintah. Maka
satu-satunya jalan melawan hal tersebut adalah berhenti menonton TV, memulai
jaringan informasi sendiri dan lakukan perubahan dari tingkat RT/RW.
Thoreau dengan pedas
menuliskan “Unjust laws exist;” dengan jeda panjang lantas ia melanjutkan
dengan sebuah pertanyaan penting ” shall we be content to obey them, or shall
we endeavor to amend them, and obey them until we have succeeded, or shall we
transgress them at once?” Sejalan dengan itu Gil, menurut saya telah berusaha
abai dengan adanya negara dengan perangkat komunikasi mereka.
3. I Ain't Marching Anymore - Phil Ochs (1965)
For I stole California from the Mexican land
Fought in the bloody Civil War
Yes I even killed my brothers
And so many others But I ain't marchin' anymore
Mari kita sepakati bahwa Phil Ochs bukan Bob Dylan dan ia sama sekali tidak
berupaya menjadi Dylan. Meski hubungan Ochs dan Dylan lebih seperti mentor dan
murid dalam relasi yang di gambarkan dalam Star Wars. Dalam banyak hal, berbeda
dengan Dylan, Ochs yang memutuskan secara sadar masuk ke dalam aksi politik.
Ochs secara terbuka mendukung Kuba saat perang dingin berlangsung. Ia bahkan
perlu repot membaca kembali Engels dan Marx, meski tak pernah benar-menar
meyakini manifesto komunis sebagai nubuat.
I Ain't Marching Anymore merupakan rangkuman singkat
sejarah kekerasan yang ada di Amerika Serikat. Mulai dari pembantaian kaum
Indian sampai dengan rasialisme kulit hitam. Bahwa demokrasi yang hadir hari
ini dibangun dari darah. Mungkin lagi ini juga salah satu yang mendorong
sejarawan radikal AS, Howard Zinn menuliskan A People's History of the
United States.
Puncaknya adalah ajakan Ochs untuk menolak wajib militer dan bagian dari perang
Vietnam.
2. No Suprises – Radiohead (1997)
You look so tired and unhappy
Bring down the government
They don't, they don't speak for us
I'll take a quiet life
Tahun 90an adalah puncak dari
malaise cita rasa. The so called generasi X berusaha melepaskan
identitas diri dari apa yang telah mapan sebelumnya. Repetisi dari sejarah yang
berulang-ulang. Pekerjaan yang membosankan dan para pemuda hanya menjadi skrup
dari korporasi internasional. Saat Radiohead masih belum semenyebalkan hari ini
(ya menyebalkan mereka ogah konser di Indonesia) yang dengan sinis memotret
sikap nyinyir kelas menengah ngehe. Bring down the government adalah oxymoron dari sebuah
negara yang masih terbuai mitos monarki.
Radiohead lewat no surprises
seolah ingin mengajak para pendengarnya menjalankan apa yang disebut Thoreau
sebagai “Quietly declare war with the State” bahwa hidup yang monoton,
seragam dan tertebak ujungnya adalah sebuah kesia-siaan. Untuk itu salahkan
pemerintah dan boikot terhadap pekerjaan apapun. Lagu ini bukan sebuah
penolakan terhadap zaman ia hanya mengejeknya. Tentu lagu ini masih relevan
didengar oleh para pejuang hak-hak sipil melalui Ipod di salah satu pojok
starbucks.
1. Mosi Tidak Percaya – Efek Rumah Kaca (2008)
Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak
berdaya
Thoreau menutup esai
panjangnya dengan sebuah harapan. Bahwa kelak di masa depan akan ada sebuah
negara yang berpihak pada masyarakatnya. “I have imagined, but not yet
anywhere seen.” Saya mesti percaya pada Cholil dan kawan-kawan bahwa satu
kalimat di atas adalah puncak dari segala yang bernama pembangkangan. Bahwa
suatu saat masyarakat di negara yang mulai membusuk ini akan sampai pada satu
titik bahwa mereka sudah cukup dikadalin oleh pemerintahannya. Titik dimana
negara bersama aparatusnya telah menjadi Leviathan dalam terminologi Hobbesian.
Pemerintahan korup dan
ragu-ragu adalah sebuah lelucon yang mesti diakhiri. Dengan lirik lagu yang
mudah diingat, mudah dicerna dan mudah dinyanyikan. Lagu ini sebenarnya
berpotensi menjadi sebuah koor wajib pada setiap demonstrasi damai. Tapi
pembangkangan sipil ala Thoreau bukanlah demonstrasi jalanan yang dilakukan
dengan kekerasan. Thoreau menginginkan kesadaran kritis dari para warganya
untuk menuntut pemerintah bekerja dengan benar. "ini masalah kuasa,
alibimu berharga, kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?"
in honorable mention
Rage Against The Machine - take the power back
Pink Floyd - Mother
Swami - Bongkar
Flaming Lips - Jesus Shootin' Heroin
Arcade Fire - Antichrist Television Blues
Tidak ada komentar:
Posting Komentar