Sabtu, 15 September 2012

Kemiskinan

Saya tak pernah membenci kemiskinan seperti malam ini. Ketika saya melihat empat anak kecil mengais daging di atas sisa makanan pada sebuah pesta. Dengan baju kumuh, mata kuyu dan gigi menguning. Anak-anak itu bergegas mengumpulkan tiap potongan daging utuh yang tak habis dimakan para tamu undangan. Ada sebuah kegetiran. Sebuah ironi yang tengik di sana. Beberapa orang dengan pakaian anggun dan mewah, rangkaian kalung dan gelang emas menikmati potongan besar daging. Lantas membiarkan sisanya terbuang. Sementara anak-anak itu, menatap nanar menunggu piring disingkirkan. 

Saya tak pernah membenci kemiskinan sebagai sebuah takdir. Tak pernah ada manusia yang seharusnya dilahirkan miskin. Tuhan orang islam berkata kemiskinan dekat dengan kekufuran. Sementara tuhan orang nasrani kemiskinan dekat dengan anak tuhan. Tak pernah ada tuhan yang berhak memberikan kemiskinan pada manusia. Kemiskinan, meminjam bahasa Mohandas Gandhi, adalah seburuk-buruknya kekerasan. Ia memangsa harapan. Ia meremukkan keinginan dan memaksa orang untuk menyerah lantas mengemis pada nasib yang terlanjur disematkan.

Saya tak pernah membenci kemiskinan sebagai sebuah akibat. Saya melihat seorang nenek yang bekerja dari subuh hingga petang pada sebuah keluarga. Sendiri ia menyapu rumah, memasak, mencuci piring dan pakaian lantas merapikan kamar. Saya tak pernah percaya ada strata dalam pekerjaan. Saya tak percaya bahwa ada manusia yang digaji 20 milyar sebulan, sementara ada manusia yang bekerja berpeluh sehari penuh hanya untuk 20ribu rupiah. Saya tak percaya pada manusia yang bisa dengan tengik berkata itu adalah akibat sistem. Akibat nasib. Akibat kemalasan.


Saya pernah belajar dipaksa berteman dengan kemiskinan yang pelik. Hidup dengan melihat ibu saya mesti berpuasa karena tak tega berebut makan dengan dua anaknya yang sekolah. Hidup dengan rasa malu karena hampir setiap hari penagih hutang datang dan menggedor pintumu seperti seorang pesakitan. Hidup dengan rasa minder karena hampir tak ada yang bisa dibanggakan dari sebuah hidup yang melarat. Kemiskinan menghancurkan semua kebanggaan.

Saya tak pernah membenci kemiskinan seperti malam ini. Kebencian yang mengiris sehingga kamu berpikir menikmati hidup adalah sebuah dosa bakhil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar