Sabtu, 22 September 2012

Sajak Subtil Abdul Hadi W.M



Jika saya ditanya siapa penyair Madura yang sajaknya selalu membuat saya tergetar, dengan cepat saya akan menjawab Abdul Hadi W.M. Bukan mengecilkan arti Zhawawi Imron, namun bagi saya Abdul Hadi adalah seorang sufi penyair yang menjauh dari peradaban. Ia seperti punya daya magis untuk meramu kata sebagai sebuah doa.  Belum lagi puluhan berbagai telaah yang ia buat mengenai dunia sufi tanah air yang membuat kita terperangah, dengan luasnya pemikiran dan pengetahuan beliau.

Perkenalan awal saya dengan beliau adalah dari buku tentang Hamzah Fansuri, penyair sufistik asal Barus Sumatera Utara. Dalam buku itu ia beberapa kali memberikan pengantar. Karena penasaran akhirnya saya memutuskan mencari tahu siapa dan apa karya dari bung Abdul Hadi tersebut. Seperti kelasi yang menemukan pulau setelah lama melaut. Sajak-sajaknya, saya kira, adalah sebuah ekstraksi dari pergulatan seorang penyair.

Saya melihat sajak-sajak yang disusun Abdul Hadi terasa sangat dekat, mistis, juga melenakan. Seperti pelukan seorang kekasih yang telah lama tak berjumpa. Atau sesekali seperti seorang tua yang tiba-tiba nyerocos mengenai hari akhir, lantas berpesan mengenai agama. Terkadang juga bisa beralih rupa menjadi seorang demonstran kelelahan yang terlalu gemas dengan kondisi sosial yang ada. Abdul Hadi WM seorang perupa yang masih belum puas memahat satu tema dalam setiap puisi-puisinya.

Seperti yang tertuang pada sajak-sajak dalam kumpulan sajak Tergantung Pada Angin. Kumpulan sajak ini pertama kali diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1977. Menjadi menarik karena sebagian kumpulan sajak yang dibikin Abdul Hadi WM selalu diterbitkan oleh DKJ. Padahal ia adalah penyair kelahiran Madura dan banyak menulis syair tentang pantai Madura di Jawa Timur.  Dalam Nina Bobo Sebuah Kursi, Abdul Hadi bermain dengan persepsi dan ke-mahluk-an sebuah benda. Seperti berikut;
Tidurlah Kursi, tidurlah di atas ombak.
Tidurlah di samping nyenyak dan gelisah tak nampak.
Tidurlah bersama sunyi, bersama jemu yang membengkak.
Dan bersama gemetar yang memangku anak.
Dalam satu bait sederhana Abdul Hadi bercerita tentang sebuah keadaan yang gawat. Suatu kerinduan akan suasana yang baik-baik saja. Ia bicara tentang keresahan yang kasat mata. Entah mengapa dalam sajak ini saya membayangkan imaji tentang seorang diktaktor tua, seorang mantan penguasa, atau pemimpin yang jatuh. Tidurlah kursi, tidurlah di atas ombak. Si penyair seperti sedang menasihati agar sang pemimpin tadi berhenti untuk memiliki keinginan berkuasa.

Penyair selalu menggawat-gawatkan hal sederhana dan menyederhanakan hal gawat. Namun di tangannya, Abdul Hadi berusaha tenang. Ia mampu merangkum segala yang sederhana tetap sederhana namun memiliki makna yang gawat. Atau bisa jadi hal gawat dibuat sangat gawat  dengan kata yang mudah dimengerti. Seperti dalam lanjutan sajak berikut;
Tidurlah.
Di samping kabut
derai angin dan luka yang menuliskan sajak
Saya sangat menyukai frase derai angin dan luka yang menuliskan sajak. Kalimat ini seperti sebuah suasana hati yang kelelahan. Suasana kota yang baru saja meringkuk sendiri dihajar hujan lebat. Seperti tanah basah seusai kemaru panjang. Semangat yang terbata-bata namun memaksa diri untuk bangkit. Ada getar yang tak terperi dari sebuah derai angin meski sedang luka namun ingin terus memaksa diri menulis sajak.

Belakangan saya juga mengetahui jika Abdul Hadi juga menerjemahkan beberapa karya sufistik dan syair dari Muhammad Iqbal. Salah satunya adalah Pesan Kepada Bangsa-bangsa Timur. Dalam kumpulan sajak yang berjudul asli Pas Chih Bayad Kard, Abdul Hadi saya kira dengan piawai membuat penyederhanaan sajak Iqbal yang terkenal sangat rumit itu. Rumit di sini bukan dalam pemahaman susah diterjemahkan, namun susah mencari padan kata yang tepat dan sesuai dengan konteks sajak yang dimaksud.

Novelis dan penerjemah sastra Indonesia asal Australia, Harry Aveling, secara khusus menyebut sajak Abdul Hadi sebagai "(sebuah) sikap hidup mati yang berpusat pada hubungan alam dan manusia," lebih khusus Aveling menilai sajak awal Abdul Hadi sangat terpengaruh dengan puisi liris yang dibawa Chairil Anwar dan dikembangkan Sapardi Djoko Damono. Harry dengan sikap yang memuji "Sajak-sajaknya lembut, banyak menggunakan statemen semu dan subtil," meski seusai era 70an banyak sajak Abdul Hadi yang kemudian mengalami pendewasaan dengan memasukan humor-humor dan bentuk pemikiran sufistik.

Meski sangat rajin mengkaji pemikiran sufistik, Abdul Hadi menolak dikatakan sebagai seorang Sufi. Baginya gelar itu terlalu tinggi dan mulia untuk disematkan padanya. Ia lebih memilih dikategorikan sebagai seorang manusia yang gemar belajar perihal kebijaksanaan sufi. Dalam kumpulan esainya Hermeneutika, Estetika dan Religiusitas Abdul Hadi membuka diri bahwa kajian sufi yang sempat marak pada dekade 70 dan 80an telah banyak mempengaruhi tapal batas kesusastraan Indonesia. Namun sedikit sekali kajian yang membahas mengenai apa itu sufi dan tulisan yang bisa mendekatkan dunia sufi dan pembacanya.

Abdul Hadi bukanlah orang yang dengan pengetahuan seadanya lantas mengangkat diri sebagai sufi. Berbeda dengan beberapa orang yang kita kenal hari ini sebagai sufi plastik, kehidupan Abdul Hadi WM jauh dari hingar bingar media. Hal ini bisa jadi merupakan pengamalan dari sense of exile yang ia temukan pada banyak kehidupan sufi. "Sense of exile merupakan pengalaman kefakiran atau kesadaran anak dagang," kata Abdul Hadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar