Kamis, 06 September 2012

Penerang

diambil dari
 http://antitankproject.files.wordpress.com/2008/07/munir-refuse-to-forget-project.jpg


Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apa kita biarkan mereka untuk gagah. Mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ganti baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sebuah kehinaan. Sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Sesuatu yang mereka bayar sampai titik manapun. Munir Said Thalib

Bagaimana seorang pahlawan mesti dikenang? Saya tak pernah suka pada konsep pahlawan. Pahlawan cenderung membentuk imaji sesosok manusia yang superior, seringkali egois dan kadang melahirkan jarak.  Mereka adalah manusia pilihan yang menolak bekerja secara komunal. Lebih sering bekerja sendiri karena menilai tak ada manusia lain yang setara dan bisa bekerja sebaik dirinya. Kepahlawanan adalah bahasa lain fasisme. Konsep ini cenderung melahirkan kebanggaan semu.

Tak pernah ada tolak ukur yang jelas bagaimana kita bisa mengenal atau mendefinisikan pahlawan. Ia merupakan terma abstrak, cair dan multi interpertasi. Konsep demikian selalu melahirkan pertentangan yang tak jarang malah hanya membawa kemudharatan. Tapi bagi saya ada konsep sederhana bagi pahlawan, mereka adalah orang-orang yang mampu membawa kita keluar dari kegelapan. Cahaya terang setelah lama takluk pada sesuatu yang suram. Pahlawan yang demikian tidak mengadili, ia menunjukan jalan, memberi contoh dengan berjalan seiring. 

Namun mengharapkan pahlawan yang demikian di Indonesia sama seperti menunggu Godot. Kita akan dipaksa berhadapan dengah harapan dengan hasil akhir yang sudah telak ditentukan. Kepahlawanan hanya sekedar keset yang diinjak-injak. Nilai disusun, jasa dibuat dan klaim perihal sejarah diplintir. Kita kerapkali memaknai sejarah, juga tokoh di dalamnya, sebagai sebuah narasi saklek yang haram dikritisi. Akhirnya pahlawan adalah manusia-manusia asing yang tak jelas betul kontribusinya pada alam bawah sadar kita. Lantas yang lahir adalah keterasingan pada sosok.

Bagi saya kata pahlawan hampir sinonim dengan nama Munir Said Thalib.

Munir, meminjam deskripsi Sidney Jones direktur eksekutif International Crisis Group, adalah tokoh yang menjadikan Indonesia lepas dari stigma negatif. Lebih dari itu, lanjutnya, Munir selalu memberikan harapan ketika yang lain sudah menyerah. Saya kira ini tidak berlebihan, Cak Munir merupakan representasi pekerja sosial yang berusaha keluar dari dikotomi penghamba proyek dan sponsor. Ia konsisten berjuang bukan atas nama biaya big boss, saya kira, lebih dari itu ia bekerja atas nama kemanusiaan. 

Munir bukan sekedar sesosok manusia yang parlente. Saya ingat sekali Munir mengendarai honda grand tahun 90an dengan helm kupluk dan jaket coklat usang. Untuk tokoh seperti Munir ia bisa dengan mudah dapat menikmati berbagai fasilitas sebagai seorang dhrektur eksekutif LSM. Namun Munir menolak itu semua. Padahal ketika ia meraih Right Livelihood Award pria asli Malang ini  memperoleh hadiah ratusan juta rupiah. Sebagian besar disumbangkan untuk Kontras, sisanya diminta untuk bisa membangun rumah sendiri di kampung halaman.

Munir adalah nama lain keberanian. Ketika sebagian besar aktifis negeri ini merengek pada lembaga donor dan bekerja atas nama pamrih. Munir berani menantang maut dengan menuntut pengungkapan kasus-kasus pelanggaran HAM berat. Sebagian besar terjadi pada era Soeharto yang bisa dengan mudah membunuh lawan politiknya. Kasus-kasus berat seperti peristiwa Talangsari, kerusuhan Tanjung Priuk, kekerasan Atjeh,  pembantaian Santa Cruz Timor-Timur, Pembunuhan aktifis Marsinah dan yang lainnya. Munir adalah salah satu dari sedikit orang yang berani berdiri paling depan menuntut kebenaran diungkap.

Pada kasus-kasus tersebut militer selalu menjadi tokoh antagonis yang diduga menjadi pelaku utama. Militer adalah nama lain penguasa ketika Soeharto berkuasa. Mereka adalah alat yang tak segan menindak, mengamankan, dan membela kepentingan negara. Apakah ini sempat membuat Munir gentar? Tentu saja. Sebagai manusia biasa Munir takut. Namun ia bukan takut akan dibunuh, lebih dari itu, ia menyadari segala resiko dengan terjun sebagai aktifis hak asasi manusia. Ketakutan terbesarnya adalah ia akan mengecewakan keluarga korban pelanggaran HAM. Ia takut ketika mati maka tak ada lagi yang akan meneruskan usahanya. Dalam banyak hal saya melihat sosok munir sebagai seorang lone wolf yang bekerja sendirian.

Apakah Munir adalah sosok yang tanpa cela? Saya kira tidak. Ia manusia biasa.

Munir terlalu naif. Ia berpikir mampu menyelesaikan seluruh masalah HAM di Indonesia sendirian. Entah mengapa saya hanya mendengar nama Munir, Munir, Munir yang terus berusara dalam berbagai kasus kekerasan di Indonesia. Bekerja sendiri sebagai lone wolf membuat banyak kasus di tanah air seolah seutuhnya bergantung pada Munir. Hal ini melahirkan banyak persepsi yang salah. Muncul pengkultusan Munir sebagai pahlawan HAM yang bekerja tunggal. Padahal perang melawan ketidakadilan bukanlah pekerjaan seorang diri. Ia membutuhkan banyak orang dan banyak bantuan untuk segera membantu penyelesaiannya. Di sini sosok Munir menjadi lalai.

Penyosokan Munir menyebabkan banyak kasus HAM di Indonesia seolah-olah hanya dibela, diperjuangkan dan diusut hanya olehnya. Ketika Munir meninggal akhirnya banyak kasus yang selama ini diperjuangkan Munir seolah hilang. Luput dari perhatian khalayak ramai karena si jendral yang berjuang paling depat sudah tamat riwayatnya. Meski hal ini tak seluruhnya benar. Munarman, salah satu pentolan FPI hari ini adalah salah satu dari sedikit penerus yang dulu pernah berjuang untuk HAM. Kinerja Munarman sangat baik saat pengurusan kejahatan kemanusiaan di Atjeh, meski kini ia berubah 180*.

Permasalahan HAM di Indonesia bukanlah perjuangan satu orang. Semestinya Munir bekerja dan percaya lebih banyak orang. Bahwa perlawanan terhadap mereka yang keji dan pengecut tak harus ditanggung sendiri. Bahwa ketakutan yang lahir dari teror tak mesti harus dirasakan sendiri. Namun dengan kematian Munir dan bagaiman ketidakadilan pada kasusnya terjadi telah melahirkan banyak pejuang HAM baru. Munir boleh jadi berubah menjadi mayat, namun semangatnya tetap hidup. Diwarisi oleh puluhan atau bahkan manusia-manusia baru lainnya. Kita bisa melihat hal ini dari Suciwati, istri mendiang Munir, yang tegak berdiri ketika orang lain menyerah. Ia berjuang, boleh dikatakan sendirian, menuntut penuntasan kasus munir.

Pada suatu ketika presiden kita yang juga musisi gagal itu bernah berkata "Munir murdered case is a test of our history," Tapi seperti semua janji gombal dan omong kosong yang telah kita dengar selama ini, kasus munir masih saja terbengkalai, dilupakan dan seolah-olah dianggap sudah selesai dengan ditangkapnya Pollycarpus. Namun kita semua tahu Munir, yang berarti penerang, adalah cahaya yang menolak padam. Melanjutkan kata-kata Goenawan Mohammad, Ia membuat kita semua tidak takut pada kegelapan.

Kegelapan membuat kita ragu dan cahaya memberikan kita kepastian. Apakah kita akan menyerah?

Saya kira kita tidak akan menyerah begitu saja pada teror dan tentu saja anda juga bukan? Menyerah pada teror hari ini berarti memberikan leher generasi berikut kita untuk disembelih. Munir mengajarkan itu diam-diam. Beberapa dari kita hanya menjadikan ia sosok tanpa pernah belajar mengerti. Perjuangan di tanah ini adalah perjuangan melawan ketakutan dan usaha melupakan. Mereka yang takut akan berusaha lupa, berusaha untuk membiarkan keadaan seolah baik baik saja. Mereka yang bebal akan menganggap usaha sekecil apapun melawan lupa adalah kesia-siaan. Tak pernah ada usaha sia-sia melawan penindasan.

Dalam perjuangan untuk kemanusiaan tak pernah ada usaha kecil, usaha besar atau usaha yang tak berguna. Semua usaha memiliki perannya masing-masing. Ada yang keras berteriak di jalan sembari mengangkat toa, ada yang salih membaca lantas menulis usaha keadilan, ada pula yang berjuang dengan diam-diam seraya memberdayakan masyarakat sekitarnya. Lantas bagaimana anda akan memposisikan diri? Dalam perang melawan kejahatan kemanusiaan tidak pernah ada area abu-abu. Jika anda tak berada dalam barisan solusi, maka anda adalah bagian dari masalah.

Saya menyadari bangsa ini adalah bangsa manja yang degil. Sekumpulan mahluk manja yang hanya peduli pada urusan perut dan dirinya sendiri. Manusia yang dimanjakan zaman dan menolak menjadi kritis. Rasa nyaman telah membuat kebanyakan dari kita tak mau peduli pada masalah orang lain. Kalian pasti punya satu dua teman yang menganggap remeh masalah Papua sebagai usaha merongrong nasionalisme. Mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah merasakan bagaimana pedihnya rumah direbut dan saudara dibunuh. Atau mereka tak pernah merasakan betapa sesaknya kehilangan ayah tanpa tahu apakah ia sudah meninggal atau masih hidup.

Kita hidup sepanjang hari dengan r`tusan hiburan yang memborbardir imaji bahwa negeri ini baik-baik saja. Berapa persen dari penduduk negeri ini yang tahu jika pernah ada kasus Talangsari, kasus pembantaian bangsa Atjeh, kasus Tanjung Priuk, Sum Kuning, Tragedi Semanggi, Marsinah dan kasus pembantaian atas nama PKI. Seolah olah label komunisme memberi kita kewenangan untuk membunuh, memperkosa lantas merebut hak hidup orang lain. Dalam banyak hal Munir berusaha menyadarkan pada kita, mereka yang ditindas adalah manusia yang sama dengan kita. Namun seperti biasa, suaranya barangkali sudah redup, mulai hilang ditengah hiruk pikuk televisi dan struk tagihan kartu kredit.

Semoga penduduk negeri ini sadar. Mendiamkan kejahatan adalah sama dengan turut berpartisipasi di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar