Jumat, 01 Maret 2013

Semacam Memoar Tentang Pers Mahasiswa


            Ada dua baris sajak dari Alexander Sergeyevich Pushkin, seorang penyair Soviet, yang amat saya sukai. Kira-kira bunyinya seperti ini “The senseless years extinguished mirth and laughter, Oppress me like some hazy morning-after”. Puisi itu bercerita tentang tahun-tahun yang berlalu seperti kentut. Berlalu tanpa bisa kita lihat dan rasakan tapi mampu kita hidu baunya. Percaya atau tidak saya membuang waktu selama hampir delapan tahun untuk kuliah di Universitas Jember. Sebagian besar saya lewati sebagai seorang pegiat pers mahasiswa.

Saya tak bangga akan status ini, malahan, ada beberapa hal yang saya sesali. Waktu-waktu yang terbuang itu harusnya bisa lebih berharga lagi jika bisa saya abdikan untuk hal yang lebih penting. Tidur, jalan-jalan atau lebih banyak bermain misalnya. Selama ini menjadi bergiat dalam pers mahasiswa atau mari kita sebut saja aktif dalam jurnalisme mahasiswa adalah perihal menjadi aktivis. Menjadi seseorang yang idealis dan terbakar semangat. Tapi rupanya ini tak seluruhnya benar dan juga tak seluruhnya salah. Ada beberapa hal yang baik dan buruk yang saya tekuni ketika bergelut dengan jurnalisme mahasiswa.

Jurnalisme mahasiswa lahir dari dua kata. Jurnalisme dan mahasiswa. Jurnalisme adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan tindakan jurnalistik seperti menuliskan berita, mencari informasi, wawancara dan reportase. Sedangkan mahasiswa adalah, hmm, bagaimana saya harus menuliskannya. Seorang manusia purna sekolah yang sedang menempuh pendidikan tinggi? Atau seorang manusia yang kebetulan punya kelebihan duit sehingga bisa menikmati universitas? Atau seorang manusia yang berupaya menjalani pendidikan tingkat lanjut dengan speksifikasi ilmu tertentu? Menentukan definisi mahasiswa lebih sulit daripada menentukan apa yang bukan mahasiswa.

Tapi bukan berarti jurnalisme mahasiswa tak memiliki arti. Secara sederhana jurnalisme mahasiswa adalah peristiwa, tindakan, produk serta perilaku yang berkaitan dengan jurnalistik dan dilakukan oleh mahasiswa dengan isu-isu yang dianggap penting bagi kehidupan kampus dan mahasiswa. Definisi jurnalisme mahasiswa relatif tetap dari zaman ke zaman. Namun semangat yang melatarinya kerap berubah dari satu era ke era yang lainnya. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan para mahasiswa dan masyarakat dimana mereka tinggal. Mengapa ada masyarakat? Karena kerap kali objek pemberitaan jurnalisme mahasiswa adalah lingkup kampus tapi juga masyarakat dimana mereka tinggal.

Apa yang melandasi lahirnya jurnalisme mahasiswa? Untuk itu mari kita bayangkan bagaimana jadinya jika sebuah tulisan bisa mampu merubah kondisi yang sedang porak poranda. Bayangkan pula jika tulisan itu disusun dengan sebuah semangat untuk memberi. Bayangkan pula kamu menulis itu dengan semangat bersenang-senang. Bukan sesuatu yang berat. Hanya sekedar menulis, seperti kamu menulis status di facebook atau berkicau di twitter. Sebuah tindakan sederhana yang sepertinya tak berat, hanya sekedar mengisi waktu luang. Tapi dari tulisan itu kamu bisa melakukan perbaikan. Pernahkah kamu memikirkan hal ini?

Dalam sejarahnya jurnalisme mahasiswa dibangun selaras dengan kebutuhan zaman. Jika pada zaman kolonial keberadaan Jurnalisme Mahasiswa adalah untuk menyebarkan semangat perjuangan. Maka pada era demokrasi terpimpin jurnalisme mahasiswa berbicara tentang politik golongan. Jika pada orde baru pers mahasiswa berbicara tentang represi pemerintah dan kesenjangan sosial. Maka pada era paska reformasi jurnalisme mahasiswa sudah sangat cair dan mencari bentuk barunya. Beberapa pers mahasiswa mengadopsi media masa realtime yang memberikan informasi terkini dan cepat tanpa ada kedalaman berita. Ada pula yang fokus pada metode investigasi dan penelusuran fakta secara mendalam dan bernas. Dengan kata lain jurnalisme mahasiswa hari ini sudah sangat jauh berbeda dengan dahulu.

Ketika kita bicara tentang jurnalisme mau tak mau kita harus bicara tentang politik redaksi. Politik redaksi adalah idiologi, atau pedoman, atau cita-cita, atau garis acuan sebuah lembaga yang bekerja dalam bidang jurnalistik. Politik redaksi memberikan petunjuk teknis filosofis bagaimana sebuah lembaga pers semestinya bekerja. Dengan kata lain politik redaksi jurnalisme mahasiswa harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga. Tidak harus seragam dan tidak harus radikal. Jika sebuah lembaga pers mahasiswa merasa isu-isu aktual terkini dari para selebritis adalah penting. Maka beritakanlah. Tujuan utama dari sebuah lembaga jurnalistik adalah memberi kabar untuk dibaca dan diketahui. Memberitakan sesuatu yang tak dibaca itu artinya lembaga itu gagal.

Tapi bagaimana seharunya sebuah lembaga pers mahasiswa bergerak dan bekerja? Indonesia hari ini adalah negara yang dikepung oleh akses informasi yang gegas. Berita dan pengetahuan datang silih berganti lebih cepat dari kedipan mata. Hanya dengan akses internet dan ponsel kita bisa mengetahui segalanya berkat bantuan google yang maha tahu. Lantas apa gunanya berdiri pers mahasiswa jika semua berita telah disediakan oleh internet? Sebagai Jurnalis Mahasiswa tugas kita adalah menuliskan narasi-narasi minor yang luput atau tak tuntas dibahas oleh media mainstream.

Katakan pada hari ini dunia sedang disibukan dengan isu susu formula yang diklaim lebih baik daripada ASI. Apakah benar demikian? Sebagai mahasiswa kita harus kritis mencari tahu fakta, data dan argumen yang tepat untuk menolak pernyataan tersebut. Disinilah jurnalisme mahasiswa bergerak. Memberitakan atau memberikan sebuah pandangan lain dari berita yang terlanjur marak tanpa adanya kedalaman, kejelasan dan kepastian sumber data. Di sisi lain jurnalisme mahasisa juga tak perlu terjebak pada paradigma idealis. Bahwa mahasiswa harus berjuang demi rakyat, harus kritis pada pemerintah dan harus radikal dalam bekerja. Jurnalisme mahasiswa untungnya punya kelebihan untuk tak terjebak pada terma-terma seperti itu.

Kalian bisa menawarkan sebuah paradigma baru dalam penulisan kreatif jurnalistik. Bahwa melulu mengabarkan hal buruk terhadap suatu hal, seperti penggusuran kasar oleh satpol PP, tak lantas bisa membuat kita peduli. Tapi bagaimana menuliskan hal itu secara lebih dekat, lebih personal dan lebih menyeluruh agar pembaca bisa ikut merasakan penderitaan objek berita kita. Di sisi lain pers mahasiswa bisa menjadi penyebar semangat positif. Ketika tim peneliti dari fakultas kalian meraih prestasi internasional misalnya, ceritakan bagaimana proses kreatif itu berlangsung, apa saja kendalanya dan bagaimana kalian bisa menularkan kreatifitas semacam itu pada pembaca kalian.

Poin penting dari berdirinya lembaga pers mahasiswa adalah menjadi bagian dari komunitas. Entah itu fakultas, universitas atau bahkan unit terkecil para mahasiswanya. Menjadi bagian dari komunitas artinya harus paham benar tentang kebutuhan, keinginan, dan masalah yang ada di dalamnya. Pers mahasiswa hari ini juga mesti jeli melihat kondisi realitas sosial di kampusnya. Bergerak ke luar kampus tanpa peduli rumah sendiri adalah tindakan konyol. Lebih dari itu mahasiswa harusnya juga paham bahwa eksistensi diri bisa selaras dengan kebutuhan akademik dan kebutuhan pribadi. Pers mahasiswa memberikan ruang bagi mereka yang ingin mempraktikan ilmu yang diperoleh selama kuliah. Melalui analisis-analisis dari masalah yang ada disekitarnya. Tentu bukan hal yang mudah tapi bukankah lebih baik jika kalian bisa mengerjakan dua hal dalam satu waktu?

Ketika saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan Jurnalisme Advokasi di Makasar selama sebulan. Saya memanfaatkan waktu itu untuk menjelajahi propinsi tersebut. Dalam kesempatan itu juga sempat mampir di Toraja dan melihat bagaimana kota itu dibangun dari peradaban megalitikum yang mengagumkan. Tentu saja pergi kesana tak hanya untuk plesiran. Ketika ada penugasa peliputan media di daerah sengketa di Kabupaten Takalar. Saya menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas resolusi konflik dari kampus. Sehingga dalam satu waktu dua pekerjaan kuliah dan menulis untuk media bisa dikerjakan secara sinergis.

Aktif dalam kegiatan jurnalisme mahasiswa membuat kita terlatih untuk menulis, berpikir kritis, banyak membaca dan berjejaring dengan luas. Hal ini kelak akan sangat membantu dalam proses pengembangan karakter diri. Ketika SD barangkali hanya mimpi saya bisa memiliki teman nun jauh di luar negeri dan berkesempatan untuk melakukan studi ke luar. Tapi hari ini semua itu adalah hal yang nyata. Menggeluti pers mahasiswa membuat saya berkenalan dengan banyak orang dan terjun dalam hal-hal yang tak mungkin saya capai jika hanya menjadi mahasiswa biasa. Mahasiswa biasa yang saya maksud adalah mereka yang hanya kuliah, kosan, perpus dan seterusnya tanpa ada kegiatan positif yang lain.

Saya tak berkata bahwa pers mahasiswa adalah satu-satunya sarana untuk bisa berkembang. Malah saya mendorong kalian untuk aktif bergabung dengan organisasi. Tak hanya pers mahasiswa. Aktif dalam organisasi berarti melatih diri untuk bekerja dengan orang asing dan mengatasi masalah secara kolektif. Di situ karakter kalian akan terbentuk dan orang bisa melihat kemampuan kalian secara sesungguhnya. Bukan tidak bungkin kalian bisa beruntung terpilih mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri karena dipercaya memiliki kemampuan lebih dari yang lain.

Tapi tentu saja perlu diingat, tugas penting mahasiswa adalah untuk kuliah. Saya mengerti resiko ini karena pernah mengalami delapan tahun kuliah dan mengecewakan banyak orang karenanya. Jangan sampai karena aktif di organisasi malah membuat kita lalai pada tanggung jawab diri sendiri. seringkali beberapa dari mahasiswa menjadi asik sendiri dalam kegiatan organisasi sehingga membuat mereka lupa diri. Dan menganggap “ah tak penting kuliah itu. Yang penting adalah eksistensi diri”. Hal ini salah dan sepatutnya kalian hindari

Salah satu ciri dari mahasiswa adalah memiliki tanggung jawab baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Ketika kalian memutuskan untuk kuliah dengan biaya dari orang tua maka tugas kalian adalah memberikan kebanggaan dan menuntaskan kuliah dengan semaksimal mungkin. Jangan anggap diri kalian seorang jurnalis jika tak mampu berpegang teguh pada nilai-nilai dan norma sosial. Seorang jurnalis semestinya bekerja dengan tanggung jawab dan integritas yang teguh. Tapi tentu saja, kita boleh kok bersenang-senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar