Ada
dua baris sajak dari Alexander Sergeyevich Pushkin, seorang penyair Soviet,
yang amat saya sukai. Kira-kira bunyinya seperti ini “The senseless years extinguished mirth and laughter, Oppress me like
some hazy morning-after”. Puisi itu bercerita tentang tahun-tahun yang
berlalu seperti kentut. Berlalu tanpa bisa kita lihat dan rasakan tapi mampu
kita hidu baunya. Percaya atau tidak saya membuang waktu selama hampir delapan
tahun untuk kuliah di Universitas Jember. Sebagian besar saya lewati sebagai
seorang pegiat pers mahasiswa.
Saya tak
bangga akan status ini, malahan, ada beberapa hal yang saya sesali. Waktu-waktu
yang terbuang itu harusnya bisa lebih berharga lagi jika bisa saya abdikan
untuk hal yang lebih penting. Tidur, jalan-jalan atau lebih banyak bermain
misalnya. Selama ini menjadi bergiat dalam pers mahasiswa atau mari kita sebut
saja aktif dalam jurnalisme mahasiswa adalah perihal menjadi aktivis. Menjadi
seseorang yang idealis dan terbakar semangat. Tapi rupanya ini tak seluruhnya
benar dan juga tak seluruhnya salah. Ada beberapa hal yang baik dan buruk yang
saya tekuni ketika bergelut dengan jurnalisme mahasiswa.
Jurnalisme
mahasiswa lahir dari dua kata. Jurnalisme dan mahasiswa. Jurnalisme adalah segala
kegiatan yang berkaitan dengan tindakan jurnalistik seperti menuliskan berita,
mencari informasi, wawancara dan reportase. Sedangkan mahasiswa adalah, hmm,
bagaimana saya harus menuliskannya. Seorang manusia purna sekolah yang sedang
menempuh pendidikan tinggi? Atau seorang manusia yang kebetulan punya kelebihan
duit sehingga bisa menikmati universitas? Atau seorang manusia yang berupaya
menjalani pendidikan tingkat lanjut dengan speksifikasi ilmu tertentu?
Menentukan definisi mahasiswa lebih sulit daripada menentukan apa yang bukan
mahasiswa.
Tapi bukan
berarti jurnalisme mahasiswa tak memiliki arti. Secara sederhana jurnalisme
mahasiswa adalah peristiwa, tindakan, produk serta perilaku yang berkaitan
dengan jurnalistik dan dilakukan oleh mahasiswa dengan isu-isu yang dianggap
penting bagi kehidupan kampus dan mahasiswa. Definisi jurnalisme mahasiswa
relatif tetap dari zaman ke zaman. Namun semangat yang melatarinya kerap
berubah dari satu era ke era yang lainnya. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan
para mahasiswa dan masyarakat dimana mereka tinggal. Mengapa ada masyarakat?
Karena kerap kali objek pemberitaan jurnalisme mahasiswa adalah lingkup kampus
tapi juga masyarakat dimana mereka tinggal.
Apa yang
melandasi lahirnya jurnalisme mahasiswa? Untuk itu mari kita bayangkan bagaimana
jadinya jika sebuah tulisan bisa mampu merubah kondisi yang sedang porak
poranda. Bayangkan pula jika tulisan itu disusun dengan sebuah semangat untuk
memberi. Bayangkan pula kamu menulis itu dengan semangat bersenang-senang.
Bukan sesuatu yang berat. Hanya sekedar menulis, seperti kamu menulis status di
facebook atau berkicau di twitter. Sebuah tindakan sederhana yang sepertinya
tak berat, hanya sekedar mengisi waktu luang. Tapi dari tulisan itu kamu bisa
melakukan perbaikan. Pernahkah kamu memikirkan hal ini?
Dalam
sejarahnya jurnalisme mahasiswa dibangun selaras dengan kebutuhan zaman. Jika
pada zaman kolonial keberadaan Jurnalisme Mahasiswa adalah untuk menyebarkan
semangat perjuangan. Maka pada era demokrasi terpimpin jurnalisme mahasiswa
berbicara tentang politik golongan. Jika pada orde baru pers mahasiswa
berbicara tentang represi pemerintah dan kesenjangan sosial. Maka pada era paska reformasi jurnalisme mahasiswa sudah sangat cair dan mencari bentuk
barunya. Beberapa pers mahasiswa mengadopsi media masa realtime yang memberikan
informasi terkini dan cepat tanpa ada kedalaman berita. Ada pula yang fokus
pada metode investigasi dan penelusuran fakta secara mendalam dan bernas.
Dengan kata lain jurnalisme mahasiswa hari ini sudah sangat jauh berbeda dengan
dahulu.
Ketika kita
bicara tentang jurnalisme mau tak mau kita harus bicara tentang politik
redaksi. Politik redaksi adalah idiologi, atau pedoman, atau cita-cita, atau
garis acuan sebuah lembaga yang bekerja dalam bidang jurnalistik. Politik
redaksi memberikan petunjuk teknis filosofis bagaimana sebuah lembaga pers
semestinya bekerja. Dengan kata lain politik redaksi jurnalisme mahasiswa harus
disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga. Tidak harus seragam dan tidak
harus radikal. Jika sebuah lembaga pers mahasiswa merasa isu-isu aktual terkini
dari para selebritis adalah penting. Maka beritakanlah. Tujuan utama dari
sebuah lembaga jurnalistik adalah memberi kabar untuk dibaca dan diketahui.
Memberitakan sesuatu yang tak dibaca itu artinya lembaga itu gagal.
Tapi
bagaimana seharunya sebuah lembaga pers mahasiswa bergerak dan bekerja?
Indonesia hari ini adalah negara yang dikepung oleh akses informasi yang gegas.
Berita dan pengetahuan datang silih berganti lebih cepat dari kedipan mata.
Hanya dengan akses internet dan ponsel kita bisa mengetahui segalanya berkat
bantuan google yang maha tahu. Lantas apa gunanya berdiri pers mahasiswa jika
semua berita telah disediakan oleh internet? Sebagai Jurnalis Mahasiswa tugas
kita adalah menuliskan narasi-narasi minor yang luput atau tak tuntas dibahas
oleh media mainstream.
Katakan
pada hari ini dunia sedang disibukan dengan isu susu formula yang diklaim lebih
baik daripada ASI. Apakah benar demikian? Sebagai mahasiswa kita harus kritis
mencari tahu fakta, data dan argumen yang tepat untuk menolak pernyataan
tersebut. Disinilah jurnalisme mahasiswa bergerak. Memberitakan atau memberikan
sebuah pandangan lain dari berita yang terlanjur marak tanpa adanya kedalaman,
kejelasan dan kepastian sumber data. Di sisi lain jurnalisme mahasisa juga tak
perlu terjebak pada paradigma idealis. Bahwa mahasiswa harus berjuang demi
rakyat, harus kritis pada pemerintah dan harus radikal dalam bekerja.
Jurnalisme mahasiswa untungnya punya kelebihan untuk tak terjebak pada
terma-terma seperti itu.
Kalian bisa
menawarkan sebuah paradigma baru dalam penulisan kreatif jurnalistik. Bahwa
melulu mengabarkan hal buruk terhadap suatu hal, seperti penggusuran kasar oleh
satpol PP, tak lantas bisa membuat kita peduli. Tapi bagaimana menuliskan hal
itu secara lebih dekat, lebih personal dan lebih menyeluruh agar pembaca bisa
ikut merasakan penderitaan objek berita kita. Di sisi lain pers mahasiswa bisa
menjadi penyebar semangat positif. Ketika tim peneliti dari fakultas kalian
meraih prestasi internasional misalnya, ceritakan bagaimana proses kreatif itu
berlangsung, apa saja kendalanya dan bagaimana kalian bisa menularkan
kreatifitas semacam itu pada pembaca kalian.
Poin
penting dari berdirinya lembaga pers mahasiswa adalah menjadi bagian dari
komunitas. Entah itu fakultas, universitas atau bahkan unit terkecil para
mahasiswanya. Menjadi bagian dari komunitas artinya harus paham benar tentang
kebutuhan, keinginan, dan masalah yang ada di dalamnya. Pers mahasiswa hari ini
juga mesti jeli melihat kondisi realitas sosial di kampusnya. Bergerak ke luar
kampus tanpa peduli rumah sendiri adalah tindakan konyol. Lebih dari itu
mahasiswa harusnya juga paham bahwa eksistensi diri bisa selaras dengan
kebutuhan akademik dan kebutuhan pribadi. Pers mahasiswa memberikan ruang bagi
mereka yang ingin mempraktikan ilmu yang diperoleh selama kuliah. Melalui
analisis-analisis dari masalah yang ada disekitarnya. Tentu bukan hal yang
mudah tapi bukankah lebih baik jika kalian bisa mengerjakan dua hal dalam satu
waktu?
Ketika saya
mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan Jurnalisme Advokasi di Makasar
selama sebulan. Saya memanfaatkan waktu itu untuk menjelajahi propinsi
tersebut. Dalam kesempatan itu juga sempat mampir di Toraja dan melihat
bagaimana kota itu dibangun dari peradaban megalitikum yang mengagumkan. Tentu
saja pergi kesana tak hanya untuk plesiran. Ketika ada penugasa peliputan media
di daerah sengketa di Kabupaten Takalar. Saya menyempatkan diri untuk mengerjakan
tugas resolusi konflik dari kampus. Sehingga dalam satu waktu dua pekerjaan
kuliah dan menulis untuk media bisa dikerjakan secara sinergis.
Aktif dalam
kegiatan jurnalisme mahasiswa membuat kita terlatih untuk menulis, berpikir
kritis, banyak membaca dan berjejaring dengan luas. Hal ini kelak akan sangat
membantu dalam proses pengembangan karakter diri. Ketika SD barangkali hanya
mimpi saya bisa memiliki teman nun jauh di luar negeri dan berkesempatan untuk
melakukan studi ke luar. Tapi hari ini semua itu adalah hal yang nyata.
Menggeluti pers mahasiswa membuat saya berkenalan dengan banyak orang dan
terjun dalam hal-hal yang tak mungkin saya capai jika hanya menjadi mahasiswa
biasa. Mahasiswa biasa yang saya maksud adalah mereka yang hanya kuliah, kosan,
perpus dan seterusnya tanpa ada kegiatan positif yang lain.
Saya tak
berkata bahwa pers mahasiswa adalah satu-satunya sarana untuk bisa berkembang.
Malah saya mendorong kalian untuk aktif bergabung dengan organisasi. Tak hanya
pers mahasiswa. Aktif dalam organisasi berarti melatih diri untuk bekerja
dengan orang asing dan mengatasi masalah secara kolektif. Di situ karakter
kalian akan terbentuk dan orang bisa melihat kemampuan kalian secara
sesungguhnya. Bukan tidak bungkin kalian bisa beruntung terpilih mendapatkan kesempatan
untuk mengembangkan diri karena dipercaya memiliki kemampuan lebih dari yang
lain.
Tapi tentu
saja perlu diingat, tugas penting mahasiswa adalah untuk kuliah. Saya mengerti
resiko ini karena pernah mengalami delapan tahun kuliah dan mengecewakan banyak
orang karenanya. Jangan sampai karena aktif di organisasi malah membuat kita
lalai pada tanggung jawab diri sendiri. seringkali beberapa dari mahasiswa
menjadi asik sendiri dalam kegiatan organisasi sehingga membuat mereka lupa
diri. Dan menganggap “ah tak penting kuliah itu. Yang penting adalah eksistensi
diri”. Hal ini salah dan sepatutnya kalian hindari
Salah satu
ciri dari mahasiswa adalah memiliki tanggung jawab baik pada diri sendiri
maupun pada orang lain. Ketika kalian memutuskan untuk kuliah dengan biaya dari
orang tua maka tugas kalian adalah memberikan kebanggaan dan menuntaskan kuliah
dengan semaksimal mungkin. Jangan anggap diri kalian seorang jurnalis jika tak
mampu berpegang teguh pada nilai-nilai dan norma sosial. Seorang jurnalis
semestinya bekerja dengan tanggung jawab dan integritas yang teguh. Tapi tentu
saja, kita boleh kok bersenang-senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar