Sabtu, 04 Januari 2014

7 Tokoh Yang Harusnya Punya Pengaruh Besar Dalam Sastra Indonesia

Saat peluncuran buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh saya sudah menduga bahwa buku itu akan melahirkan polemik. Bukan, bukan karena saya seorang peramal, tapi saya tahu dalam iklim sasta yang masih fasis, manja dan egois di Indonesia. Membikin daftar pretensius dengan label berpengaruh itu sama saja mengatakan bahwa Allah itu tak ada di depan segerombolan FPI. Kita hanya akan jadi bulan-bulanan ejek dan hantaman dari kelompok sastra tanah air yang merasa punya kanonnya masing-masing.

Dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terdapat beberapa tokoh sastra yang memang berpengaruh. Dalam pengantar bukunya Tim 8 yang menjadi konseptor dan penyusun buku ini menyebutkan bahwa "Yang dimaksud dengan tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh adalah orang yang melalui karya sastra, gagasan, pemikiran, dan tindakannya memberikan pengaruh dan dampak cukup luas khususnya pada dinamika kehidupan sastra, dan umumnya pada dinamika kehidupan intelektual sosial, politik dan kebudayaan Indonesia yang lebih luas."

Melihat definisi itu jelas kita bisa mendebat siapa-siapa saja tokoh dalam daftar itu yang sangat berpengaruh, dan tak punya pengaruh apa-apa. Tapi tentu sebagai penulisan yang konon saintifik dan berdasarkan debat intelektual yang keras 33 nama itu memang punya prestasinya sendiri. Seperti Taufiq Ismail penyair yang jago berpolemik soal moral sambil menangis, Ayu Utami penulis feminis yang galak tentang isu perempuan tapi bukan isu perkosaan, atau juga Helvy Tiana Rosa yang membikin forum lengkar pena tapi tak jauh beda dengan lembaga dakwah pengajian.

Setiap orang punya pembaca dan punya standarnya masing-masing terhadap karya berkualitas. Meski buruk dan sumbing, kita harus hargai selera itu sebagai bagian dari demokrasi yang sehat. Pada pengantar buku tersebut juga dituliskan 4 kriteria pamungkas untuk menentukan masuk sebagai tokoh sastra berpengaruh. Antaralain. 1. Pengaruhnya berskala nasional, 2. Pengaruhnya relatif berkesinambungan, 3. Menepati posisi kunci, penting dan menentukan, 4. Dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang melahirkan pengikut, penentang dan melahirkan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.

Namun pertanyaannya adalah apakah 33 tokoh tadi masuk memiliki ke empat kriteria di atas? Ataukah hanya salah satu saja? Kriteria itu meski tampak sangat mentereng sangat mudah untuk dibantah. Seperti Ayu Utami berpengaruh Skala Nasional? Nasional apakah maksudnya Jawa? Mochtar Lubis berpengaruh secara berkesinambungan? Bahkan generasi twitter hari ini, saya yakin, ada yang tak tahu siapa dia. Lantas bagaimana cara mengukur kriteria tadi sehingga bisa diterima oleh para pembacanya? Saya kira itu perlu studi yang mendalam yang serius, dan tentu saja, disokong dana yang besar.

Tapi cukuplah itu. Meminjam kriteria tadi saya akan menyusun 7 tokoh lain yang harusnya punya pengaruh besar dalam sastra Indonesia. Tokoh tokoh ini mungkin tidak masuk dalam keempat kriteria di atas. Barangkali hanya ada 3 dari 4 kriteria atau bahkan hanya 1 dari 4 kriteria. Tapi meminjam pleidoi dari Tim 8, daftar ini saya susun melalui perdebatan yang sangat panjang, intens dan mendalam dengan diri saya sendiri. Semoga anda sebagai pembaca berkenan membaca.

1. Umbu Landu Paranggi

Umbu bukan penyair yang hebat, bukan penulis yang ulung, bukan pula esais yang konsisten menulis kolom yang sama bertahun-tahun. Umbu juga kritikus yang keras dan gemar melakukan dokumentasi sastra yang ketat. Ia tak punya pengaruh besar kecuali pada jagat kecilnya sendiri di Malioboro. Namun menuliskan nama Emha Ainun Najib tanpa menuliskan nama Umbu, bagi saya adalah sebuah pengkhianatan besar. Seharusnya penulis penulis yang Umbu besarkan namanya, didik kepenyairannya dan didorong kepenulisannya ambil suara. Bagaimana mungkin pria teduh hati yang memberikan nafas sastra pada Malioboro ini dilupakan begitu saja perannya?

1970 an Umbu bersama penyair-penyair di Jogja membikin Persada Studi Klub yang melahirkan forum puisi Malioboro. Putra mahkota kerajaan di Sumba yang baik hati itu hidup seperti gelandangan. Berjalan kian kemari membawa tas kresek yang berisi naskah puisi. Ia mendorong orang orang untuk mengenal keberaksaraan. Umbu tak ingin membangun gedung mewah pertunjukan sastra yang mahal, atau menciptakan jurnal sastra yang berisi makian. Ia hanya ingin orang menulis dan membikin karya. Sesederhana itu dan selalu konsisten selama bertahun-tahun.

Bahkan dalam indeks nama 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh nama Umbu tak masuk sebagai basa-basi. Saya juga tak temukan namanya dalam kolom nama yang mempengaruhi Emha Ainun Najib. Sedemikian tak pentingkah namanya sehingga orang yang dihormati oleh Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, dan Yudistira Adi Nugraha ini tak masuk bahkan dalam sekadar ewuh pakewuh terima kasih? Tapi saya tahu, anda tahu, dan orang orang yang memiliki akal sehat tahu. Umbu tak butuh itu semua, Bahkan jikalau ada 1.000.000 tokoh sastra paling penting di Nusantara, namanya tak masuk. Ia tak akan marah. Ia lebih daripada itu.

2. Kho Ping Hoo

Sukawati Asmaraman menuliskan narasi besar jagat persilatan China dengan detil. Ia bicara tentang pertentangan aliran hitam dan putih, gelap dan terang, serta segala romansa manusia yang hidup dalam dunia yang dihuni oleh para pendekar. Namun tak banyak orang yang mengetahui jika penulis yang menggunakan nama pena Kho Ping Hoo ini sebenarnya tak pernah sekalipun pergi ke tanah Tiongkok. Meski demikian siapapun yang membaca karyanya akan sepakat bahwa segala cerita yang ia tulis dalam karya-karyanya tampak sangat detil.

Lantas apa sebenarnya yang membuat karya Kho Ping Hoo menjadi istimewa? Cara bertutur, kisah yang menarik, drama yang memikat dan deskripsi jurus serta konflik yang dibangun memiliki daya magis tersendiri. Karya-karyanya melibas batas identitas rasial dan kultural sehingga, meski karyanya banyak berlatar di China, Kho Ping Hoo mampu menarik pembaca Indonesia. Bahkan tak jarang penggemarnya merasakan bahwa karya-karya ini lahir dari kekayaan budaya nusantara yang dikemas dalam cerita bernuansa tiongkok.

Sayang meski telah menulis banyak karya dan melahirkan generasi pembaca genre silat yang fanatik. Nama Kho Ping Hoo tidak mendapatkan tempat selayaknya dalam kazanah sastra Indonesia. Ia masih dianggap sebagai penulis medioker karena menerbitkan karya-karya populer yang dianggap picisan. Padahal pada zamannya ia adalah penulis yang tak dilahirkan dan dipromosikan oleh Balai Pustaka, penerbit warisan kolonial. Tak ada penulis silat yang tak berhutang jasa padanya, ia memperkenalkan genre baru yang sangat istimewa tapi malu diakui sebagai sebuah karya sastra estetik.

3. Seno Gumira Ajidarma

Tak terbilang generasi penulis muda Indonesia yang berusaha meniru, menyadur, menjiplak dan menuliskan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku bagi gebetan mereka. Para penulis itu begitu terpukau dengan kemampuan eksplorasi kesederhanaan diksi Seno dalam tema senja. Generasi penulis muda Indonesia kontemporer dalam buku Perkara Menulis Senja sebagai penghormatan terhadap karyanya itu. Tak terhitung sajak dan prosa yang dituliskan pengarang setelahnya untuk menjadi Seno berikutnya lantas gagal dan sekedar jadi epigon menyedihkan.

Namanya memang disebutkan dalam daftar itu, bersama juga Umar Kayam, Danarto YB Mangunwijaya, Utuy Tatang Sontani dan Sitor Situmorang. Pembuktian pengaruh besar bisa kita lihat dari gunjing rasan yang terjadi ketika cerpennya Aku, Pembunuh Munir dimuat banyak penulis yang mencibir. Ia masih punya pengaruh dan masih punya pesona. Meski sempat juga dituduh plagiator oleh Akmal Nasery Basral, penulis novel Aburizal Bakrie, karena menulis cerpen Dodolit Dodolit Dodolibret tak membuat namanya di blacklist di kompas dan bisa lebih baik nasibnya daripada Dadang Ari Murtono yang juga plagiat itu.

Tapi tentu saja kita perlu bertanya apa warisan besar Seni selain cerpen yang banya dikutip orang pacaran itu? Kisah-kisah dalam Saksi Mata dan kredo Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara saya kira lebih dari cukup untuk memasukan namanya dalam daftar itu. Kecuali tentu saja ia tak lebih hebat dan lebih penting daripada pencetus Puisi Esai yang langgam penulisannya telah digagas oleh Goenawan Mohammad sejak lama. Tapi apalah arti Seno yang bukan penulis hebat itu dibandingkan dengan yang mulia Taufiq Ismail, penyelamat moral bangsa ini dari gerakan mazhab selangkangan.

4. Saut Situmorang

Tahi kucing jika sebuah daftar sastra tak menyertakan nama Saut di dalamnya jika salah satu tolok ukur yang digunakan adalah berpengaruh dan menghasilkan polemik. Saut Situmorang yang sejak dulu konsisten menghantam Utan Kayu, dan kini Salihara, harus masuk daftar itu. Buku Politik Sastra miliknya dengan bernas dan teliti menuliskan bagaimana bahwa kondisi sastra Indonesia mutakhir itu tak lebih dari sekedar dagelan. Tuduhannya tentang sastrawan yang dibayar untuk jadi jongos ide-ide liberalisme juga terbukti dalam buku Kekerasan Budaya Paska 1965 milik Wijaya Herlambang. Apa yang sebelumnya cuma sekedar "coretan kakus" kini kebenarannya tak bisa dielak lagi dan itu adalah fakta tak terbantahkan.

Ia turut membidani lahirnya manifesto Boemipoetra, menolak masuk karyanya dalam Katulistiwa Literary Award, puisi cyber sampai dengan kritiknya pada Goenawan Mohammad. Ia melahirkan banyak penggemar yang berusaha meniru perangainya. Tapi tentu saja tak ada Saut kecil, Saut adalah Saut sendiri tanpa perlu dijilat oleh pemuda tanggung yang sedang krisis identitas, menghantam sana sini biar terlihat kiri dan seksi. Saut tahu betul apa yang ia kerjakan, Saut sedang menghantam otoritas dari kelompok sastra yang terlalu ekslusif sehingga menganggap diri sendiri besar dan keren.

Dalam Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk kita bisa membaca bahwa otoritas tadi dilawan dengan kemunculan internet. Dalam internet tidak ada kanon semua orang bisa menjadi penulis dan sastrawan. Inilah yang melahirkan generasi baru penulis penulis internet yang bebas Sehingga mereka tidak perlu lagi menggantungkan nasib karyanya pada sebuah lembaga otoritas. Kita boleh tertipu, mereka yang menganggap bahwa Saut hanya bisa membacot dan mengumpat perlu membaca karyanya. Banyak jurnal dan puisi yang ia terbitkan dalam bahasa asing tanpa perlu mematut diri dan narsis karenanya. Jika ia tak masuk daftar sebagai penulis yang berpengaruh, meski saya ragu ia akan mau, lantas apalah daftar itu berguna?

5. Icha Rahmanti

Cintapuccino adalah karya teenlit paling fenomenal yang pernah ada di Indonesia. Itu jika anda menganggap teenlit sebagai sebuah genre sastra. Teenlit punya estetika, pembaca dan pengaruhnya sendiri. Genre ini melahirkan penulis-penulis yang tak terjebak pada penokohan sastra mapan. Malah ia membangun iklimnya sendiri dengan sehat. Icha Rahmanti bagi saya perlu masuk dalam daftar itu karena ia membuka pintu kesempatan bagi penulis-penulis remaja setelahnya. Seperti Raditya Dika dan.. Raditya Dika. Hanya Raditya Dika? Tentu tidak ada banyak nama lain, tapi hanya dua nama ini yang saya baca dari booming sastra remaja saat zamannya.

Icha Rahmanti memberikan nafas baru dari bacaan yang cenderung pretensius dari penulis yang ada saat itu. Kita dipaksa memilih sastra snobs ala Dewi Lestari dan Supernova I atau sastra feminis ala Djenar Maesa dan sejenisnya. Sebagai pembaca saya menikmati karya-karya teenlit, meski lupa nama penulisnya, seperti Dea Lova, Eiffel I'm In Love, dan Gege Mengejar Cinta. Ia adalah semangat zaman, bahwa toko buku sampai hari ini, masih dikooptasi oleh genre penulis remaja yang menawarkan bahasa yang segar dan populer.

Indonesia Buku dan Muhidin M Dahlan memasukan Cintapuccino sebagai 100 Buku Sastra Yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan. Gus Muh menilai karya Icha Rahmanti ini memantik generasi baru penulis muda yang tak ingin masuk dalam dikotomi sastra kanon. Mereka adalah penulis-penulis yang hanya ingin bercerita tentang dirinya sendiri, tentang cinta ala remaja, konfliknya dengan bahasa mereka sendiri. Sesuatu yang susah ditemui oleh banyak sastrawan yang terjebak pada bentuk dan berusaha memitoskan diri. Icha disisi lain, malah menjadi kanon dalam genre yang ia bidani tanpa sadar.

6. Enny Arrow

Mereka yang lahir pada era 80an mustahil tak mengenal Enny Arrow. Penulis spesialis birahi ini jauh lebih vulgar, estetik dan berani daripada penulis selangkangan kelas dua semacam Djenar Maesa atau Ayu Utami. Karya-karya dikenal sangat luas dan menembus seluruh kalangan baik tukang becak, mentri kabinet pembangunan, kepala sekolah, guru TK, santri sampai dengan kyai. Tapi mengapa sedikit polemik dan kepengaruhan yang dibahas atas namanya? Ah kalian ini bagaimana? Jika membahas Enny Arrow maka dengan otomatis akan membuka selaput diri bahw kalian pun, pada zaman itu, membaca karya sastra yang dianggap murahan, picisan dan kampungan

Enny Arrow menuliskan adegan persenggamaan dengan estetika yang indah. Tentu ada birahi di sana, ada pergumulan manusia dan juga skandal. Tapi Enny tak sedang bicara tentang feminisme. Ia bicara tentang kebutuhan manusia, yang seperti makan juga berak, sebenarnya adalah hal yang wajar. Enny menuliskan fiksi dengan logika yang masuk akal. Bukan menuliskan tentang gadis terbelakang yang masturbasi dengan seonggok kayu hanya untuk menciptakan metafora. Ia adalah penulis yang menginspirasi generasi setelahnya untuk bicara bahwa seks adalah hal yang indah dan tak perlu malu menuliskan tentang itu.

Enny Arrow bukan saja penulis mampu mendobrak tabu dan melibas norma-norma kesusilaan yang ada. Ia bicara tentang kejujuran yang oleh para kaum sastrawan pada zamannya susah diceritakan. Ia bicara tentang kondisi ranjang yang panas alih-alih negara yang ruwet, ia bicara tentang kenikmatan kelamin alih-alih gaya puisi yang baru,  Enny Arrow adalah fantasi yang tak berani diraih dan dicapai oleh kalangan yang sok suci dan ingin tampil budiman. Seperti Taufiq Ismail, harusnya masuk dalam tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Karena ia menulis karya dengan apa adanya dan menginspirasi generasi setelahnya untuk menuliskan selangkangan atas nama pseudo feminisme semacam "biarkan perempuan menuliskan tentang tubuhnya sendiri".

7. Arman Dhani Bustomi

Kenapa ada nama saya di sini? Oh tentu saja karena sebagai pemilik dan sponsor dari blog ini. Tentu saja saya berhak untuk masuk dalam daftar ini. Selain, jika anda masih ingat, sebagai orang yang dituduh kritikus saya pernah bikin polemik besar di akhir 2012 saat meluncurkan artikel lima buku tak layak terbit. Dalam buku itu saya menghantam nama-nama besar sastra Indonesia. Mereka yang saya kritik toh masih ada beberapa yang ingat, meski kini barangkali sudah lupa atas kritik saya. Sebagai budayawan yang rendah hati dan baik budi saya merasa harus masuk dalam daftar ini karena saya telah mendidik masyarakat luas dengan kejujuran.

Daftar itu lantas menjadi polemik yang berkepanjangan sehingga saya dengan berat hati harus menerima gelar kritikus sastra dan budayawan. Sebagai manusia yang beriman dan bertakwa pada tuhan tentu saja saya tak bisa menolak permintaan khalayak. Karya saya yang bagus, keren dan estetik juga membuka mata banyak penikmat sastra Indonesia. Dengan demikian kiranya penting bagi saya untuk memasukan nama saya dalam daftar tokoh yang harusnya punya pengaruh besar dalam sastra Indonesia. Betapa tidak? Dalam zaman sosial media yang begitu gegas ini saya punya 3.871 follower. Lebih banyak dari Acep Zamzam Noor yang cuma 60 orang. Dari perbandingan itu saja saya sudah berhak kan?

Saya tak tahu siapa sponsor dan penyandang dana 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh tapi sebagai pemilik dan penulis situs kandhani.net saya berkewajiban memasukan nama saya sendiri. Apakah ini fair? Tentu saja fair. Saya merujuk pada hadits sahih yang pernah dilakukan oleh komite nobel sastra pada 1974. Saat itu Vladimir Nabokov, pengarang novel masyur Lolita, masuk dalam nominasi peraih Nobel sastra. Namun kalah kepada Eyvind Johnson dan Harry Martinson. Karya Nabokov dianggap tak punya estetika dan pengaruh apa apa, sementara karya Johnson dan Martinson mencirikan semangat eropa. Oh ya sudahkah saya sebutkan jika Eyvind Johnson dan Harry Martinson adalah juri Nobel saat itu dan memenangkan karya mereka sendiri?

Demikianlah saya susun daftar ini dengan ilmiah dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Semua argumen yang ada di sini valid karena sebagai penulis dan pemilik blog ini saya berhak untuk memuaskan orang yang telah membayar saya. Siapa? Diri saya sendri. Jika anda tak puas, silahkan bikin daftar sendiri. Tabik.


27 komentar:

  1. Kayaknya Abdullah Harahap juga perlulah masuk tokoh berpengaruh ehehehe

    BalasHapus
  2. Dhani semprul... Apik. Tenan... !😉

    BalasHapus
  3. hehehe... ngarep selanjutnya ada yang bikin daftar:
    7 sastrawan yg di ujung ajalnya masih miskin aja.
    7 sastrawan yg pintar jualan shg kaya raya
    7 sastrawan yg nggak dikenal anak muda witterland

    jabat erat!

    BalasHapus
  4. Brengsek tenan tulisan iki. Pangeran Siahaan tersimak tua dan membosankan jadinya.

    BalasHapus
  5. Yup betul Eny Arrow harus masuk,ingat smp sembunyi2 baca wkwkwk.Kho ping hoo keren sebagai pendobrak cersil China dengan rasa Indonesia.Setiap baca seperti diajak turun langsung ke gelanggang.Banyak pelajaran moral yg aku dapat setelah baca serial Kho ping Hoo.Djenar itu siapa?tidak tahu blasss.Di era internet byk kok penulis bagus bertebaran di situs penulisan.Coba masuk ke Wattpad dot com pilih Bahasa Indonesia banyak penulis keren.Salah satunya Naiqueen

    BalasHapus
  6. Bastian Tito harus masuk !!!! Katakan anda membacanya dan jadi gila karenanya!!!

    BalasHapus
  7. mantapppppppppp

    BalasHapus
  8. Keren Jek! Aku ridlo ente masuk daftar itu.

    BalasHapus
  9. hahaha asik om

    BalasHapus
  10. urutan terakhir ini adalah contoh yang disajikan untuk sarkasme! haha

    BalasHapus
  11. Cukkk, asu tenan,,,,,,,, Megaloman tapi keren. Duh daniiiiiiiiiiiii njur seng ngepek mantu kowe sopo ngene iki?

    BalasHapus
  12. Cuk, dani rekkkkkkkkkkkkkkkk ! Asu tenan tulisan iki tapiu aku seneng. Njur yen ngene iki awakmu sido dimantu sopo?

    BalasHapus
  13. kerennn banget cuk! biar tambah rame jagad sastra yg selama ini adem-ayem... rame masalah wacana kan bagus daripada masalah penyair yang telah "nguyuh enak" secara ilegal! wkwkwk

    BalasHapus
  14. joss! no 6 itu 'sesuatu banget' hahaha

    BalasHapus
  15. mosok Freddy S karo Mira W ora mlebu daftar?

    BalasHapus
  16. Aje gile! yang nomor terakhir sama sekali tidak terduga :D

    BalasHapus
  17. Tulisan yang sangat menarik Mas Dhani. Sebaiknya dilanjutkan dengan 33 Tokoh Sastra yang Paling tak Terpengaruh. Tolok ukurnya: tokoh sastra yang tak terpengaruh oleh iming-iming uang penghargaan (Seno, Sitor, Saut), tokoh sastra yang tak terpengaruh oleh arus kekuasaan (Wiji Thukul), tokoh sastra yang tak terpengaruh oleh iming-iming popularitas (Umbu Landhu Parangi).

    Kalau kesulitan, Mas Dhani bisa menambahkan tolok ukurnya: tokoh sastra yang tak terpengaruh untuk menjadi penyair (Eka Kurniawan, Puthut EA, Linda Christanty, dll).

    BalasHapus
  18. aslik! yang terakhir itu unpredictable. :))

    BalasHapus
  19. Kho Ping Hoo benaran dimasukin. X)))

    BalasHapus
  20. sindiran yang manis kakak. Tante suka

    BalasHapus
  21. Kecuali nama terakhir, yang tentunya saya anggap sebagai sebuah banyolan, saya setuju dengan 6 nama lainnya. Walaupun juga bertanya, di mana nama Hilman pengarang Lupus itu? Juga pertanyaan siapakah tokoh dibalik nama pena Enny Arrow itu? Apakah mungkin Enny Arrow adalah nama kolektif dari beberapa orang?

    Hal lain, secara umum, sebetulnya daftar apapun tentang yang paling musti tidak pernah sepi dari perdebatan, entah itu 100 tokoh paling berpengaruh, entah 10 film terbaik tahun ini, entah siapa perempuan paling seksi dalam sejarah.

    Pasti ada nama yang menurut sebagian orang tidak pantas masuk, dan sebagian lagi justru dipertanyakan karena tidak masuk. Dan dari perdebatan itulah justru kita semua belajar.

    Saya tidak setuju dengan petisi yang meminta pemerintah campur tangan, apalagi sampai jauh meminta pemerintah menarik buku--atau bentuk ekspresi lain--dari peredaran.

    BalasHapus
  22. Boleh juga. Aku hanya menyoroti sedikit saja pas Mas Dhani ngomongin Enny Arrow. Saya kira gak perlulah menyebut Ayu Utami dan Djenar sebagai penulis selangkangan kelas dua atau apalah, biar pengetahuan yang Mas Dhani bagikan tidak ternodai subjektivitas yang tidak perlu. Begitu saja, terima kasih. Salam budaya.

    BalasHapus