Kamis, 16 Januari 2014

Cagar Alam, Sempu Dan Ketololan-Ketololan Itu

Menjelang tegah malam Rabu 15 Januari 2014 lalu, akun @indtravel mengumumkan pemenang kompetisi video perjalanan bertajuk #IndonesiaKayaRasa. Salah satu pemenang kategorinya adalah video kampanye #SaveSempu tentang kondisi cagar alam pulau Sempu yang ada di Malang, Jawa Timur. Sampai di sini saya tak ada masalah kecuali dengan sangat disayangkan pada akhirnya sebuah lembaga pariwisata, bukan konservasi alam, memenangkan video yang berpotensi mengajak orang-orang dungu tidak berotak untuk datang berwisata ke sebuah pulau yang jelas berstatus hutan lindung.

Sampai pukul 12 malam video karya Suhindarto itu masih bisa dilihat. Meski berkonsep kampanye gerakan penyelamatan cagar alam. Video itu dengan detil menjelaskan lokasi, cara mengakses tempat dan lebih jauh Suhindarto menawarkan bantuan kepada siapapun yang hendak ke Sempu berikut akomodasinya. Saya melihat ada kejanggalan di sini. Apabila video itu dibuat untuk kampanye penyelamatan sebuah cagar alam, lantas bagaimana bisa ia masuk dalam sebuah daerah konservasi yang membutuhkan izin khusus? Lebih dari itu apabila video itu dimenangkan melulu hanya karena alasan most viewed seperti yang dijelaskan oleh salah satu staf #IndonesiaKayaRasa, apakah tidak ada pertimbangan pemenangan karena masalah etik dan hukum?

Tapi ada baiknya kita pahami dulu apa dan bagaimana sebenarnya Cagar Alam Pulau Sempu itu dan kaitannya dengan masalah konservasi alam. Lebih khusus mengapa kita perlu perlu melestarikan alam di atas kepentingan ekonomis pariwisata. Ini barangkali memuakan, semacam kotbah, tapi jika anda mau sedikit saja berpikir menggunakan otak yang jarang anda manfaatkan itu. Barangkali anda bisa paham, mengapa Cagar Alam Pulau Sempu wajib dan harus dilindungi dengan menghentikan total seluruh kegiatan travel dan pariwisata yang ada di dalamnya.

Cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Menurut wikipedia demikian. Tapi secara khusus Cagar Alam adalah jaminan lindung dari sebuah ekosistem yang berjalan alami. Di dalamnya alam berkembang tanpa campur tangan manusia yang juga bisa menjadi penyedia plasma nutfah. Sebuah medium yang dilahirkan alami oleh alam untuk kebutuhan-kebutuhan manusia.

Klisenya Cagar Alam adalah penyedia oksigen, kebutuhan plasma nutfah untuk rekayasa genetika dan juga pelestarian flora juga fauna. Jika pengetahuan dasar ini saja tidak bisa anda kuasai maka saya tak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Cagar Alam menjadi penting untuk kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Segala pikiran "Ah cuma dikit aja, cuma bentar aja, cuma saya saja" apa bila dilakukan oleh 1.000 orang maka juga berpotensi merusak. Cagar alam harus benar-benar steril agar ekosistem mahluk hidup di dalamnya menjadi terjaga benar.

Cagar Alam Pulau Sempu masuk dalam kewenangan dan pengawasan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember. Diperkirakan luas kawasan cagar alam ini sekitar 877 hektar. Orang tak banyak paham dan mencari tahu jika status cagar alam itu tidak hanya meliputi kawasan daratnya tetapi juga perairan darat dan perairan lautnya. Sejak ditetapkan menjadi Cagar alam berdasarkan SK Gubernur Jenderal .No. 46 STBL 1928 No. 69  pada 15 Maret 1928, status pulau ini menjadi ilegal dan melanggar hukum apabila dimasuki tanpa ijin. Tapi tentu kita tahu, manusia manusia dungu selalu punya cara untuk memuaskan keinginan penaklukan mereka.

Dari data yang dimiliki BKSDA Wilayah III Jember potensi ekosistem yang ada dalam pulau ini beragam melintang dari flora dan fauna baik darat maupun laut. Struktur hutannya hanya memilki satu alpisan tajuk pohon dan jenisnya relatif sedikit, yang dengan tololnya sering dibabat oleh pelintas ilegal untuk masuk pulau ini.  Banyaknya manusia yang masuk akan mengganggu ekosistem karena adanya sampah. Beberapa kali ditemukan juga adanya pengunjung yang mengambil tanaman/benda dari kawasan hutan lindung tersebut. Dampaknya ekosistem yang ada menjadi terganggu dan rusak sama sekali.

Tumpukan sampah yang ditinggalkan oleh orang orang yang datang berkunjung di pulau tersebut. Dalam Cagar Alam Pulau Sempu ditemukan beberapa titik pembakaran sampah dan sisa sampah yang tak terangkut pulang. Beberapa di antaranya dikhawatirkan merusak dan meracuni ekosistem murni yang ada di dalamnya. Belum lagi manusia yang masuk dalam lingkungan danau yang seharusnya dijaga kemurniannya. Seperti Danau Telaga Lele dan Danau Segara Anakan. Kedua danau itu berperan sebagai sumber air dan kantong-kantong penyimpanan air tawar bagi hewan asli Pulau Sempu.

Sejarah Membosankan Konservasi Alam

Di Asia Timur, konservasi sumber daya alam telah dimulai saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan. Di sini anda bisa belaja bahwa konservasi telah ada dan diperkenalkan kepada manusia meskipun konsep konservasi tersebut masih bersifat kuno. Dalam cataan yang diberikan oleh Dheny Mardiono, staff BKSDA Wilayah III Jember, Cagar Alam Pulau Sempu memiliki sejarah yang lumayan panjang dan dalam perihal perlindungan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Dheny Mardiono, dalam artikel Sejarah Konservasi Hindia Belanda, mengungkapkan bahwa upaya untuk mengelola sumber daya hutan oleh pemerintahan kolonial Belanda telah dimulai pada pertengahan abad ke-19. Sebelumnya lebih dari 200 tahun lamanya hutan alam jati dieksploitasi secara besar-besaran oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memasok bahan baku industri-industri kapal kayu milik pengusaha Cina dan Belanda, yang tersebar di sepanjang pantai Utara Jawa mulai dari Tegal, Jepara, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, sampai Pasuruan

Sampai akhir abad ke-18 kondisi hutan jati di Jawa mengalami degradasi yang sangat serius. Karena itu, ketika pemerintah kolonial Belanda kemudian mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal, salah satu tugas yang dibebankan kepada Daendels adalah merehabilitasi kawasaan hutan melalui kegiatan reforestasi pada lahan-lahan hutan yang mengalami degradasi serius. Untuk itu Daendels membentuk Dienst van het Boschwezen (Jawatan Kehutanan), lantas membuat perencanaan reforestasi untuk kawasan hutan yang mengalami degradasi, mengeluarkan peraturan mengenai kehutanan, yang membatasi pemberian ijin penebangan kayu jati, dan memberi sanksi pidana bagi penebang kayu-kayu jati tanpa seijin Jawatan Kehutanan.

Sebentar lalu apa kaitannya dengan Sempu? Dalam sejarah konservasi tanaman Indonesia dan Hindia Belanda terdapat nama dr. S.H. Koorders pendiri dan ketua pertama Nederlands Indische Vereeniging tot Natuurbescherming (Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda). Bekerjasama dengan ahli Botani Th.Valeton, lahirlah kemudian karya besar “Bijdragen tot de kennis der boomsoorten van java” (Sumbangan pengetahuan tentang jenis-jenis pohon dari Jawa) 1893-1914 yang terdiri dari 13 jilid. Koorders menginginkan adanya perlindungan terhadap tumbuhan dan tempat hidupnya untuk masa depan, tetapi perhatiannya diarahkan kepada cagar yang lebih luas  dan mempunyai arti lebih umum.

Kooders adalah salah satu orang yang memohon pada pemerintah Kolonial Belanda Saat itu untuk membentuk Cagar Alam agar tetap lestari. Perlu diketahui bahwa mendirikan suatu Cagar alam, saat itu sangat sulit, maka Pemerintah Hindia Belanda pada bulan Maret  1916 menerbitkan Staatblad nomor 278 yang memuat tentang ketentuan Perlindungan Alam Hindia Belanda, sehingga dimungkinkan menujuk daerah tertentu sebagai Cagar Alam. Apabila Cagar Alam terletak di hutan negara, maka pengawasannya dilakukan oleh pegawai kehutanan yang memangku distrik hutan atau memangku KPH. Cagar Alam lainnya berada dibawah pengawasan Pemerintah Daerah. Lalu apa hubungannya dengan Sempu? Sabar. Anda akan tahu nanti.

Melalui Dheny Mardiono saya juga mengetahui peristiwa penting lainnya dalam sejarah perlindungan alam di Indonesia. Yaitu pada tahun 1925, Belanda mendirikan Komisi Belanda untuk Perlindungan Alam Internasional (Nederlands comissie voor Internationale  Natuurbescherming), yang dipimpin oleh Mr. P.G. Tienhoven (ketua dari organisasi Perkumpulan Perlindungan Alam di Nederland (Vereeniging tot behound van Natuurmonumenten). Walaupun Komisi yang baru dibentuk untuk kepentingan internasional, tetapi memiliki perhatian yan besar terhadap Hindia Belanda.

Selain mendesak memperbaiki ketentuan dan menegakkan aturan tetapi juga mengusulkan untuk membentuk cagar alam yang lebih luas untuk perlindungan satwa liar yang lebih besar. Lalu masuklah kita kepada keputusan 15 Maret 1928 dimana Cagar Alam Pulau Sempu masuk menjadi lokasi konservasi alam yang dilindungi. Pada tahun 1932 setelahnya diundangkan  ”Natuurmonumenten en Wildreservaten ordonantie” (Ordonansi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa).

Pada tahun 1941 diselesaikan ordonansi perlindungan alam yang baru yaitu Staatsblad 1941 No. 167 untuk mengganti Ordonansi tahun 1932. Beberapa istilah diganti, diantaranya adala Natuur monumenten (Cagar Alam) dan Wild reservat (Suaka Margasatwa) diganti menjadi Natuur reservat (Cagar Alam) dan Natuur park (Taman Alam). Dalam ordonansi ini dimungkinkan dibentuknya cagar alam diluar tanah negara (daratan), tetapi dimungkinkan juga tempat lain setelah mendapat persetujan dari pengguna hak, seperti contoh adalah perlindungan terhadap terumbu karang dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari masyarakat/nelayan yang biasa mencari ikan didaerah tersebut.

Kawasan Suaka Alam hanya dapat dimasuki setelah mendapat ijin tertulis dari pengelola tetapi taman alam lebih terbuka untuk umum. Tugas dan kewenangan berada di bawah Dinas Boschwezen tetapi untuk beberapa urusan tertentu dapat dialihkan/diserahkan  kepada  instansi lain. Dibanding dengan Ordonansi yang lama, pada era ini juga dimungkinkan kegiatan di cagar alam dan kegiatan perburuan di taman alam. Namun perburuan itu terbatas dan hanya boleh dilakukan oleh orang orang tertentu yang memiliki izin. Cagar Alam Sempu adalah salah satu kawasan yang mutlak dilarang untuk menjadi kawasan perburuan atas peraturan baru tersebut. Itu adalah sedikit dari sejarah panjang nan rumit bagaimana cagar alam dibentuk dan dilindungi di Indonesia.

Kementrian Tolol dan Masyarakat Dungu

Sejujurnya saya sudah patah arang dan ogah mau peduli dengan status Cagar Alam Pulau Sempu. Bahkan saat Pradikta Dwi Anthony, seorang traveler dan buzzer jomblo, membuat petisi online untuk melindungi pulau itu saya tak ambil bagian. Buat apa? Toh pada akhirnya orang orang tolol dan dungu itu akan tetap datang. Orang yang jarang memakai otaknya itu akan tetap pamer dan terobsesi untuk masuk dalam pulau yang dilindungi itu. Toh kawan-kawan saya, yang juga traveler, angkat tangan dan menganggap bahwa memperdebatkan etis tak etis masuk ke kawasan cagar alam sebagai zona pariwisata hanya masalah kuno dan klise.

Tapi saya luar biasa kaget malam tadi. Saat lembaga negara melalui salah satu akun media sosialnya, mendorong dan memuji video catatan perjalanan ke Pulau Sempu bertajuk #IndonesiaKayaRasa. Apakah kebodohan ini sudah demikian luar biasanya? Bahkan institusi negara memfasilitasi masyarakatnya untuk masuk secara ilegal ke kawasan hutan lindung. Kita tahu kawasan itu tentu bisa diakses dengan ijin khusus yang dikeluarkan atas nama penelitian ilmu pengetahuan. Saya tahu. Anda tahu. Orang-orang yang asyik berfoto dan instagram ria di Sempu tadi bukanlah peneliti.

Disini saya akan mulai mempertanyakan keputusan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia yang mencantumkan Cagar Alam Pulau Sembu sebagai salah satu destinasi wisata. Sebagai lembaga negara yang punya akses informasi yang lebih baik daripada khalayak, semestinya kementrian ini tidak dengan gegabah mencantumkan sebuah daerah konservasi sebagai produk jualannnya. Tentu sebagai lembaga negara Kemenparekraf bisa lebih cerdas dan memakai otaknya ketimbang individu-individu dungu yang tak paham aturan negara. Kita tahu ada banyak akun travel di media sosial menyadarkan hidupnya yang menyedihkan pada Pulau Sempu dan masa bodoh dengan status cagar alanya. Apakah Kemenparekraf juga demikian menyedihkan?

Kepada Suhindarto selaku pembuat video yang lantas dimenangkan dalam kompetisi #IndonesiaKayaRasa saya juga ingin bertanya. Apakah bung sudah mendapatkan ijin untuk masuk dalam kawasan Cagar Alam itu? Jika memang video itu bung bikin untuk kampanye #SaveSempu mengapa bung tawarkan akomodasi dan bantuan untuk sampai kesana? Sadarkah bung Suhindarto yang dengan detil menjelaskan lokasi perlokasi, kendaraan dan panorama Cagar Alam Pulau Sempu mampu menarik pelancong yang ahistoris perihal status pulau itu? Jika ada seseorang yang justru malah tertarik untuk datang ke sana apa tanggung jawab anda jika kemudian ia membuang sampah sembarangan?

Kepada siapapun manusia manusia dengan perkembangan daya pikir rendah yang bangga telah datang ke Cagar Alam Pulau Sempu. Apa yang anda tinggalkan selain sampah di pulau itu? Sadarkah anda telah melibas dan masuk teritori terlarang daerah yang dilindungi? Lalu apa anda pikir atas nama ketidaktahuan anda boleh serta merta terbebas dari kesalahan itu? Berapa orang yang telah anda ajak dan rekomendasikan ke pulau itu? Mengapa anda tidak sedikit cerdas sebelumnya dan mencari tahu soal sejarah dan kondisi pulau itu? Pada akhirnya apa yang bisa anda sisakan selain foto-foto dan jejak merusak pada daerah perlindungan itu?

Kepada para travel agen yang menawarkan paket wisata ke Cagar Alam Pulau Sempu. Saya tentu bisa menulis dengan kata-kata yang lebih santun daripada ini. Tapi saya sudah lelah. Barangkali anda akan berkata "Ah orang sirik, orang cari rejeki kok diganggu!" Tentu saya tak akan ganggu anda. Orang yang hidup mencari makan dari tindakan ilegal dalah hak orang itu. Barangkali karena lapar dan kemiskinan anda sekalian berhenti menggunakan daya pikir anda. Barangkali karena keterdesakan kebutuhan uang anda memilih untuk tak mau tahu dan terus merusak alam. Itu hak anda. Saya tak bisa memaksa orang untuk jadi cerdas, seperti saya tak bisa melarang orang untuk jadi (maaf) idiot.

Kepada khalayak sisanya yang hendak dan akan menuju Cagar Alam Pulau Sembu. Ini sekedar himbauan, yang tentu saja bisa dilupakan dan dibuang jauh-jauh. Anda punya pilihan untuk memihak akal sehat dan nurani anda. Anda bisa dengan cerdas memilih untuk tidak datang. Tapi pun jika anda datang pastikan anda membawa kembali ratusan sampah yang anda bawa, jangan menginjak taman apapun dalam perjalanan anda, jangan mengganggu hewan apapun yang anda temui, dan jangan masuk ke dalam ekosistem yang bisa hancur hanya karena hawa tubuh anda.

Kepada BKSDA Wilayah III yang sebelumnya telah berusaha berdialog dengan pihak warga, pemerintah daerah dan pengusaha pariwisata. Namun akhirnya terpaksa kalah karena warga yang protes pelarangan paket wisata karena memutus mata pencahariannya. Barangkali ini waktu yang tepat untuk menurunkan status cagar alam itu menjadi daerah kawasan wisata terbatas. Hal ini halal, lagipula jika ini dilakukan anda bisa mendapatkan pemasukan tambahan, memotong mata rantai calo yang keparat dan juga mengedukasi turis-turis yang berpotensi bodoh yang membuang sampah sembarangan. Kita selalu punya pilihan untuk meghadapi masalah bukan?

Pada akhirnya ini akan jadi debat kusir. Pilihannya menjadi terbatas pada dua hal. Jika anda mendiamkan ini, maka anda masuk dalam masalah. Jika anda bersuara anda dianggap sebagai orang caper yang cari-cari masalah. Saya tahu itu. Toh saya akui saya cuma caper, semua ini dilakukan agar follower twitter nambah. Tabique.


3 komentar:

  1. ah! gak asik videonya comment disable! padahal mau tak spamming di video!

    BalasHapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai wisata bersejarah.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai tempat wisata di indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

    BalasHapus
  3. Saya dulu juga sempat berdebat keras dengan teman satu komunitas fotografi yang hendak pergi camp ke pulau sempu. Lalu saya dan sahabat saya pelan-pelan ngejelasin tentang status pulau tsb. tapi mereka bnyak ngeles dgn argumen2 mereka sendiri dan bilang "Itu artikel tahun berapa? memangnya masih berlaku?" pdhl tjuan saya hanya memberi tahu ttg stts pulau sempu biar pada akhirnya niat mereka untuk kesana dibatalkan. dan soal artikel masih berlaku ato tidak tetap saja status pulau sempu sebagai Cagar alam masih berlaku sampai seterusnya. eh malah sebaliknya mereka marah2 dgn berbagai ocehanya yg bilang "kita jaga kebersihan kok, kita nggak buang sampah, kita tahu cara melindungi alam". padahal hanya dengan tidak membuang sampah saja itu tidah cukup toh.huhhhh sampai capek jelasinya sama orang2 egois seperti mereka #curhat hehe

    sebelumnya salam kenal, saya suka tulisan anda tentang pulau sempu ini. :)

    BalasHapus