Sabtu, 18 Januari 2014

Ngomong Terus Dhan, Naskahnya Kapan?

Jika kamu ingin menulis di Jakartabeat, maka kamu harus menulis sesuatu yang berat. Kaya sanggul Bu Ani. #Hhe, gak ding. Konon kamu harus menulis dengan teori yang tinggi, mengutip filsuf dan sesekali harus ngomong Inggris. Tapi ya itu dia, itu bohong. Orang yang menulis di Jakartabeat itu kalau gak lagi putus cinta, ditolak ya kadang ditikung temen sendiri. Menulis di Jakartabeat adalah menulis tentang diri sendiri, merasakan apa sebenarnya kehendak kerumunan. Ide tentang Wisdom of The Crowd yang dimanifestasikan dalam kata-kata orang yang gagal bercinta.

Tulisan pertama saya untuk Jakartabeat adalah tulisan tentang Gus Dur, yang puji tuhan Alhamdulillah, ditolak redaksi karena terlalu buruk. Saat itu saya pikir ah media pretensius. Menulis soal Gus Dur saja ditolak. Tapi kita tahu Jakartabeat sebenarnya adalah situs mantan playboy dan pecinta gagal. Entah benar atau hanya mitos. Semua penulis Jakartabeat pernah mengalami tuna asmara. Saat itu saya masih belum gagal bercinta, ya tulisannya masih dangkal, masih jelek. Hanya mereka yang gagal bercinta yang bisa menulis bagus. Itu dibuktikan saat tulisan saya, Insureksi Dalam Melodi, yang sedianya naskah lomba penulisan musik Jakartabeat diunggah di situs itu.

Saya curiga tulisan saya dimuat karena kedekatan personal yang intim-berbagi-sempak bersama Nuran Wibisono. Rekan yang lebih dahulu karyanya dimuat di Jakartabeat. Seperti juga Ardi Wilda dan Nuran, suatu hari bung Philips Vermonte yang mantan playboy dan intelejen Opsus itu mengirim pesan singkat di chat Facebook. Beliau bertanya tentang skripsi. Saya tahu itu hanya sekedar basa basi. Tapi perhatian dan pesannya tentang sekolah itu membuat saya terharu, meski sampai kini apa isi pesan itu masih samar terlupakan.

Bersama Taufiq Rahman, Philips memulai blog berburu vinyl. Mereka berdua paham benar caranya memantik anak muda ingusan sok pinter untuk berani menulis dan berani berpendapat. Barangkali itu yang membuat Jakartabeat menjadi berbeda. Memberi ruang pada generasi baru untuk memberikan perspektif yang lebih segar. Meski pada awalnya situs Jakartabeat diampu oleh orang orang tua yang cenderung sudah matang menulis macam Ulil Absar Abdhala, Ari Perdana dan Akhmad Sahal. Toh mereka juga memberi kesempatan pada anak-anak muda untuk ambil bagian.

Tapi ada yang lebih penting daripada patah hati lalu menulis di Jakartabeat. Tentang bagaimana sesungguhnya budaya literasi dibangun daripada sekedar gunjing warung kopi. Jakartabeat harus diakui melahirkan tradisi kritis untuk mengapresiasi karya, baik musik, film, buku dan isu-isu humaniora dalam tulisan yang berkualitas. Kita bisa berdebat panjang perihal bagaimana kriteria tulisan yang berkualitas. Tapi harus diakui paska kemunculan media sosial Jakartabeat konsisten melahirkan tulisan-tulisan dengan pemahaman mendalam tentang sebuah tema. Ini yang barangkali susah dimengerti oleh manusia yang terlalu malas berpikir atau telah merasa tahu segalanya.

Internet troll, hipsterdom dan segala kebudayaan snobs sesudahnya adalah apa yang membuat Jakartabeat terus dan harus ada. Kita harus mengajari para pemalas dan orang yang sudah merasa mahfum dan paham soal musik itu cara berpikir yang baik. Jakartabeat memberikan ruang polemik dengan bebas. Memberikan tempat untuk beradu pemikiran secara sehat dan adil. Tidak sekedar gibah-tanpa-taut di ruang media sosial. Ia juga bukan sekedar ejekan tertawaan dari sisa renik peradaban skena yang telah bubar. Orang-orang skena musik yang dulu pernah berjaya, kini sudah tidak ada, dan merasa takut saat eksistensi picisan mereka mulai digerus oleh Jakartabeat.

Orang-orang ini hanya bisa melakukan kelakar kelas dua. Hasut gosip yang diserukan via anonimitas dan kata-kata canda yang menyamarkan kebencian. Jakartabeat memberikan apa yang mereka inginkan, tapi terlalu takut untuk mereka layani melalui tulisan. Barangkali juga perkara nyali dan karakter, bahwa guyonan bisa jadi alasan paling mudah untuk menyembunyikan kekerdilan. Tapipak internet kok diseriusin. Tinggal nulis aja kok susah. #hhe

Sayang hari ini Jakartabeat seperti kehabisan nafas. Naskah-naskah jarang turun gelanggang mencerahkan khalayak. Mereka sudah habis digulung segala kampanye banal dari gerakan sosial berbasis tagar. Jakartabeat hari ini sudah tidak lagi sekritis dahulu. Para penulisnya menjadi malas. Para pendirinya sibuk menjadi kelas menengah mapan yang berburu vinyl. Saya sendiri? Tentu saja sibuk menjadi selebtweet. Sampai-sampai Mas Pry, palang pintu penjaga kuncek web sering nagih. "Janji nulis ini itu dhan, kapan mau ditulis?" katanya.

Barangkali regenerasi adalah jawabannya. Meracuni generasi baru yang lebih berani, lebih segar dan lebih pintar untuk turun tangan (tapi yang bukan kampanye Anies Baswedan) menulis kembali tentang musik, buku, film dan isu humaniora. Menulis untuk meruntuhkan berhala-berhala sebelumnya. Saya kira generasi hari ini macam Raka Ibrahim dan Dik Debby Utomo perlu dicari padan rekannya lagi. Mereka yang tak punya tempat, tapi punya kemampuan menulis, perlu diberi kesempatan untuk muncul dan berpendapat. Hingga pada suatu saat Jakartabeat sendiri harus berhenti, saat ia sudah menjadi kanon dan kebenaran mutlak.

Selamat ulang tahun Jakartabeat. Sehingga bahasa lu keberatan deh Dhan. Kek mo kuliah filsafat. #hhe #karenahheAdalahBecanda. Hipster paan ga pernah sholat. Tamat.

3 komentar:

  1. ngeri yo tulisan senior iki

    BalasHapus
  2. aku terharu membaca tulisanmu mas. -____- opo meneh tulisan awe sing nggo ultah Jakartabeat, ono curhatan yang tersirat. Yaitu jebul dekne sing dipedot karo wedok e, tak kiro dekne sing medot. Sedih memang, dan sampai saat ini aku jek bingung kudu nulis apik sing kepiye ben iso ngehits melalui Jakartabeat :))) ^^

    BalasHapus
  3. wow.. tak hanya menulis saja..namun ada curahan hati yang tersirat didalamnya..maut mas tulisannya.. :D

    BalasHapus