Selasa, 21 Januari 2014

Inilah Indonesia, Paham?


Agak janggal jika hari ini anda mengeluh. Bahwa pemberitaan media hari ini melulu fokus tentang bencana banjir di Jakarta. Bahwa media-media hari ini alpa dan seolah melupakan keberadaan bencana lain yang lebih serius, lebih penting dan lebih berbahaya daripada acara basah tahunan Ibukota. Jika anda masuk dalam pihak-pihak yang merasakan bahwa media hari ini tidak berpihak pada rakyat. Anda ada dalam barisan dungu atau luar biasa naif.

Sejak dulu, jauh sebelum retorika dialog fiktif Aidit dalam film G 30 S PKI, yang berkata Jawa adalah Koentji. Jakarta adalah pusat segalanya. Jakarta adalah makro dan mikro kosmos Indonesia. Otak segala obsesi mahaburuk ini adalah Soekarno. Pada sebuah fragment di Lapangan IKADA ia berkata, kira kira semacam ini,  “Harus Jakarta! Soviet punya Moskwa, Jepang punya Tokyo, Itali punya Roma. Indonesia harus punya Jakarta.” Maka mimpi buruk ibukota manja yang ditopang oleh kota-kota, provinsi-provinsi, dan pulau-pulau dimulai.

Jakarta adalah segala yang menjadi wajah Indonesia modern. Ia berencana memiliki gedung bertingkat tertinggi di asia tenggara, berencana memiliki transportasi masal monorail pertama di nusantara, dan ia memiliki lapangan pekerjaan yang tidak pernah habis. Seluruh kepentingan nasional diketok palu dari kota ini. Segala tipu daya intrik politik dan kelindan hasrat dimulai dari kota ini. Pencaplokan kayu melalui HPH, pengerukan batubara di hutan adat, sampai dengan vonis keputusan sengketa pemilihan umum daerah ditentukan oleh Jakarta. Ini yang membuat kota manja ini begitu penting, tak peduli kota lainnya sekarat beradu nyawa karena bencana.

Anda sekalian pasti paham. Media hari ini menetek pada kepentingan pemodal. Ini bukan telaah ala Marxis yang kepalang usang itu. Ini sekedar logika hitungan matematika sederhana. Pemodal ingin tahu kondisi Jakarta, akses jalannya, arus pembangunannya dan segala kebijakan di dalamnya. Ini masalah angka yang ditulis di jalan. Tidak ada yang istimewa. Bahwa jika Jakarta lumpuh, bisnis macet maka pundi uang akan berhenti. Jika pundi uang berhenti pemodal akan mundur, industri mati gaya, pengusaha garuk biji, cukong negara akan kehabisan uang, dan media yang menetek dari mereka semua tak punya pemasukan. Jakarta harus diberitakan! Meski tak ada yang baru di dalamnya!

Anda semestinya bisa belajar bahwa dalam media, segalanya adalah tentang kapital juga kepentingan. Bahwa pada bencana lain itu tak ada hubungan dengan hati nurani apalagi kemanusiaan. Bayangkan saja erupsi dari Gunung Sinabung telah terjadi sejak 15 September 2013 dan masih terjadi sampai hari ini. Telah empat bulan dan hampir nihil kepedulian negara apalagi pemerintah daerah. Pada data yang dilansir oleh kolektif relawan setempat tercatat ada 25.810 jiwa pengungsi yang tersebar di 38 titik. Lantas jika anda masih bertanya pemerintah kemana? Anda masuk dalam kriteria telmi.

Tentu saja pemerintah, yang diwakili oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, peraih penghargaan  World Statesman Award 2013 dari Appeal of Conscience Foundation, sedang sibuk menuliskan pengalamannya bertemu mahluk halus. Sebagai musisi dan selebtweet tentu beliau sedang sibuk berkoordinasi dengan para cendikia di Bali untuk memperbincangkan karya kanon terbarunya Selalu Ada Pilihan. Sebuah buku masyur yang telah menjadi klasik bahkan sebelum dibaca. Karya luarbiasa yang hanya patut disandingan dengan buku sejenis berjudul Anak-Anak Revolusi karya anda-tahu-siapa.

Tak tahukah anda jika Appeal of Conscience Foundation adalah lembaga terpercaya yang haibat dalam memberikan penghargaan negarawan bersih dan berempati. Dengan kredo yang sungguh suci nan indah semacam “peace, security and shared prosperity.” Lembaga yang sama pernah memberikan panggung kepada jagoan jagal otak diraja kebijakan perang USA yang bijak bestari Dr Henry Kissinger untuk bicara. Maka pantaslah apabila Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang hendak memberikan gelar pahlawan kepada sang ayah mertua, Sarwo Edhie Wibowo perwira penjagal 3 juta perusak negara bernama PKI, menerima penghargaan adiluhung tersebut. Sungguh pantas tiada tercela.

Sebagai pemimpin demokratis yang menjamin kebebasan berpendapat, demikian kata Direktur Pemberitaan LKBN Antara Akhmad Kusaeni, Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentu sangat peduli dengan penderitaan masyarakat Gunung Sinabung. Presiden dengan penuh perjuangan menuliskan buku agar dapat dibaca oleh seluruh pengungsi, dan hey, buku tebal itu dapat pula menjadi bahan bakar penghangat badan atau sekedar pengganti bantal. Bagaimana tidak? Ia memberikan logistik yang tepat sasaran. Ia memberikan bantuan setelah empat bulan bencana berlalu, tentu sebuah kepedulian yang taktis bukan.

Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang juga meraih Antara Achievement Award 2013 tentu sangat prihatin dengan kondisi bangsa ini. Coba saja anda lihat, saat Bu Ani Yudhoyono sibuk main instagram dan mencari bu Jokowi serta bu Ahok, ia dengan tanggap membuat kata-kata mutiara penggugah semangat di twiiter. Dengan selera yang sangat estetik Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan dorongan semangat melalui ucapan, bukan dengan tindakan nyata. Karena sebagai pemimpin beliau tahu, rakyat butuh janji bukan bukti.

Pun saat media sibuk meributkan banjir Jakarta yang rutin hadir setiap tahun. Kota Manado diterbang bencana yang serupa. Tentu saja dengan ekskalasi yang lebih tinggi, lebih menakutkan dan lebih mencekam. Lagi-lagi media, seperti juga Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan sasmita mengurus hal yang lebih penting. Pemberitaan mengenai penggeledahan Bapak Sutan Bathoegana yang terhormat. Berita ini tentu lebih penting bagi khalayak luas masyarakat Indonesia, mengingat sebagai stand up comedian, beliau adalah publik figur yang kehadirannya ditunggu dan dinanti masyarakat luas.

Saat Manado diterjang banjir, belasan orang meninggal dunia, sebagai seniman Ibu Ani Yudhoyono tentu tergugah hatinya. Coba saja anda simak bagaimana media kita yang begitu luar biasa merespon kegelisahan hati beliau. Dilaporkan dalam berita prime time, alih alih melaporkan kondisi terkini bencana yang merengut korban nyawa. Media kita dengan bijak bestari mengabarkan curahan hati Ibu Ani Yudhoyono yang maha penting itu. Bukankah di sana, dalam berita itu, pun kita bisa belajar. Saat frasa banjir membuat rakyat sengsara, Ibu Ani langsung berpikir tentang Jakarta dengan menyebutkan Ibu Jokowi dan Ibu Ahok. Ketimbang ibu kepala daerah Manado. Yakinlah anda semua, Ibu Ani yang telah lama memiliki tustel itu sangat peduli dengan banjir Jakarta daripada banjir Manado.

Sebagai Pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan hal yang sangat jamak, apabila Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya prioritas penanganan. Jangan lupa bertahun - tahun yang lalu Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berjanji pada korban kekerasan HAM, juga mbak Suciwati Munir, untuk menyelesaikan kasus mereka. “The test of our history,” ungkap beliau. Maka saksikanlah, saking sibuknya beliau berusaha mengungkap kasus itu, Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai tak sempat sekalipun menemui ibu-ibu kamisan yang menyambangi istananya. Pasti berat bagi pemimpin besar yang mudah iba hati seperti Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menahan diri untuk tak datang mencium kaki ibu-ibu itu. Beliau sedang konsisten menunaikan janji untuk menyelesaikan kasus HAM tersebut. Bukankah ini adalah sebuah sikap maha ksatria?

Jadi tolonglah. Percayalah bahwa Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang berusaha sekuat tenaga untuk membantu anda semua Rakyat Indonesia untuk bahagia. Sudahkah anda lihat peran Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menurunkan harga Tabung Gas LPG itu? Beliau dengan tanggap langsung memerintahkan Pertamina yang merugi, namun bisa membangun gedung tertinggi di dunia dengan dana triliunan, untuk menurunkan harga Gas LPG. Ini adalah sebuah langkah kecil dari pria yang pernah dipromosikan untuk meraih nobel perdamaian itu.


Jadi, wahai Rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai Presiden tentunya Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ingin mewujudken daripada cita-cita Proklamator kita Soekarno tentang social rechtvaardigheid. Kita memang dalam keadaan tergencet, terinjak dan hina dina dalam bencana ini. Tapi anda diharap sabar dahulu, tenanglah diri anda, jangan melawan dan protes. Karena semua sedang dalam instruksi bapak presiden. Apakah anda sekalian tidak paham beliau di Jakarta sedang berusaha melakukan itu semua? 

1 komentar:

  1. Eh, jagal-jagal ngono, pak Sarwo Edhie Wibowo ki sing biyen mbangun Sekolahku lho kang.... *Ra nyambung Gus!!

    BalasHapus