Selasa, 07 Januari 2014

Bahasa, Sosial Media, dan Kita

Perdebatan keras antara Sanusi Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana dimulai dari postulat sederhana. Bahwa untuk menjadi modern, kata Sutan Takdir, Indonesia harus melepaskan identitas kulturalnya yang ketinggalan zaman dan udik. Kita harus mengekor barat dengan segala kemajuan yang mereka punya. Cara berpikir, tata bahasa dan laku hidup premordial yang dipilih oleh masyarakat Indonesia harus dibuang. Hal ini karena “masyarakat kepulauan Nusantara yang berabad-abad statisch mati ini“ kata Sutan Takdir bisa “menjadi dynamisch, menjadi hidup” dengan mengadopsi cara hidup barat. Tapi benarkah demikian?

Sanusi Pane, salah seorang pemikir Indonesia terbaik dizamannya, menolak ini. Ia mengatakan bahwa apa yang disebut sebagai modernitas, nilai nilai kemajuan dan sejenisnya hanyalah perkara perspektif. Saat peradaban masyarakat barat masih garuk biji, bapuk dan dikuasai tahayul lantas membakar perempuan atas tuduhan praktik sihir. Peradaban Nusantara telah mencapai puncaknya. Borobudur, ekspedisi dagang Sriwijaya, dan syair-syair sufistik Hamzah Fansuri telah memukau peradaban dunia. Hanya orang orang ahistoris dungu yang memuja secara buta peradaban barat sebagai sesuatu yang hebat.

Kita tahu semua perdebatan ini karena artikel Sutan Takdir yang berjudul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia-Pra-Indonesia yang dimuat dalam Pujangga baru edisi 2 Agustus 1935. Dengan gagah dan garang Ia mendefinisikan sebuah era baru peradaban kebudayaan Indonesia. Peradaban yang berbeda dengan generasi yang sebelumnya, terlepas dari peradaban kerajaan kerajaan "Zaman pra-Indonesia" yang dianggapnya menghambat kemajuan.

Kita pun tahu bahwa Sutan Takdir adalah juru bicara barat pada zamannya, ia sering menulis, berbicara dan bergaya barat. Barat, terutama tentang Eropa dan Amerika, dalam mata Sutan Takdir adalah segala yang berarti kehebatan, peradaban tinggi dan kelas yang adiluhung. Sementara nusantara adalah nama lain dari kebuntuan, cupet, jumud dan ketinggalan zaman. Apakah ia salah? Saya pikir tidak. Ia hanya bicara tentang sebuah usaha mimikri seorang inlander terhadap kebudayaan agung tuannya yang dinilai lebih menyilaukan.

Mimikri, subaltern, hibridasi dan sejenisnya dalam studi pos kolonial telah banyak bicara. Bagaimana seorang manusia yang dijajah berusaha meniru penjajahnya. Sebagai upaya untuk jadi setara, menjadi sederajat dan menjadi sejajar. Manusia-manusia yang identitasnya diremukan lantas mengemis mencari jejak kebudayaannya sendiri. Dalam kisah Minke, melalui epos panjang Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer, fenomena malu identitas sendiri sudah lunas digambarkan. Ia adalah manusia yang tercerabut. Bukan jawa, bukan londo dan bukan pula pribumi. Ia adalah manusia yang terasing.

Bagaimana wajah kita hari ini? Sosial media hari ini telah mewarisi semangat Sutan Takdir dalam upayanya memuja barat. Para manusia-manusia nusantara yang lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa tanah airnya sendiri. Lebih metropolutan daripada manusia-manusia urban sendiri. Lebih modern dari apa yang bisa dibayangkan oleh Sutan Takdir pada zamannya. Mengejar identitas dunia karena segala yang tradisional adalah nama lain kampungan dan norak.

Tentu anda bertanya-bertanya, apakah bahasa tanah air itu? Apakah manusia-manusia urban itu? Apa itu identitas dunia? Dalam sebuah esai tajam dari Bandung Mawardi berjudul Amnesia Bahasa Indonesia dan Kritik Diri yang dimuat di Lampung Post pada 9 Mei 2010, tercatat beberapa jawaban dari pertanyaan di atas. Perihal bahasa dan manusia urban yang menarik dari identitas linguistiknya dan menggunakan bahasa lain sebagai usaha membentuk citra diri yang baru. Citra yang cerdas, terdidik, kota, modern dan canggih.

Bandung dengan nada lirih menuduh bangsa ini tak terbiasa dengan imajinasi, metafora, permainan bahasa, atau nalar bahasa. Pelbagai polemik dalam ranah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, agama, dan kultural kerap disebabkan dari kenihilan pengetahuan atas bahasa. Beberapa dari kita lebih suka menggunakan leksikon asing daripada kata-kata dalam bahasa ibu sendiri. Beberapa dari kita lebih gemar berkicau dalam bahasa Inggris ketimbang menggali diksi dan lema baru yang ada dalam kazanah bahasa sendiri. Bandung Mawardi memvonis masyarakat Indonesia tengah berada dalam kondisi Amnesia Bahasa.

Tapi apa pentingnya sebuah bahasa. Memangnya seberapa? Dude, how come you saying this shit nigga? Misbahus Surur, mahasiswa S-2 UIN Maliki Malang pada 3 April 2011 menulis artikel menarik tentang bagaimana perjalanan bahasa melayu pasar menjadi bahasa nasional seperti saat ini. Menurutnya pemanfaatan bahasa pada awalnya hanya untuk kepentingan pragmatis. Sebagai alat tukar dan komunikasi parsial. Baru saat muncul ide-ide nation state dan kesatuan. Beberapa orang seperti Muhammad Yamin melihat bahasa sebagai sebuah alat pemersatu (lingua franca).

Hari ini di sosial media khususnya di Indonesia bahasa merupakan citra. Ia adalah alat lain untuk mengembangkan identitas kultural. Sebut saya naif dan tendensius. Tapi mari kita telaah dari riset Semiocast, Twitter setidaknya digunakan oleh 22 persen pengguna Internet. Secara global setidaknya ada 232 juta pengguna aktif twitter yang ramai bergunjing. Dalam riset itu Semiocast pada Juni lalu diketahui jika Indonesia menempati peringkat ketiga negara paling cerewet di twitter dengan 1 miliar tweet.

Menariknya meski Indonesia berada di peringkat ke tiga dalam daftar negara paling bawel berkicau. Hal ini tidak lantas membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dominan di dunia. Coba lihat saja rilisan Semiocast tentang lima bahasa yang paling banyak digunakan. Bahasa yang digunakan itu antara lain: Inggris 34 persen, Jepang 16 persen, Spanyol 12 persen, Malaysia 8 persen, dan Portugis 6 persen. Lalu memangnya kenapa? Apa hubungan antara penggunaan bahasa dengan pencitraan tadi?

Pengguna aktif twitter di Indonesia lebih suka menggunakan bahasa Inggris daripada bahasanya sendiri. Tak ada yang salah di sini. Fungsi bahasa toh tak pernah bergeser dari alat komunikasi. Sayangnya di Indonesia, pada twitter khususnya, praktik berbahasa Inggris sudah jatuh pada kategori cultural snobbery dan patronase asing sehingga berkicau dalam bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah, menjadi sebuah aib yang terlampau jijik untuk dilakukan.

Saya menuduh mereka, akun twitter milik warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang melulu berkicau dalam bahasa asing adalah orang orang yang memiliki krisis identitas. Manusia yang gagap dalam berbahasa dan susah mengembangkan cara berkomunikasi yang membumi. Tapi tuduhan toh tetap hanya akan berakhir tuduhan. Meski sedekat apapun fenomena kebahasaan ini mirip dengan apa yang diramalkan James Wolcott dalam What’s a Culture Snob to Do? saya hanya bisa nyinyir belaka.

What’s a Culture Snob to Do? ditulis James Wolcott di Vanity Vair. Dengan lahirnya internet dan sosial media apa yang dahulu hanya sekedar milih beberapa, kini berpotensi dan pasti akan dimiliki oleh orang kebanyakan. Konsep relasi budak tuan dalam kaca mata Marxian hanyalah mimpi buruk masa lalu. Internet menciptakan hubungan egalitarian antara manusia. Dalam hal ini pemanfaatan teknologi, pengetahuan dan tentu saja bahasa. Tetapi Wolcott menyiratkan pula dengan munculnya teknologi ini, apa yang dahulu sekedar impian negara dunia ketiga tentang negara superpower akan mendapat jawabannya sendiri. Dalam internet, selama kau fasih berbahasa asing, kau adalah bagian dari warga negara dunia.

Sayangnya kemajuan itu berhenti hanya kepada pemanfaatan pembentukan citra diri belaka. Dengan adanya internet, sekali lagi dalam twitter khususnya, peanfaatan bahasa Inggris melulu hanya untuk usaha membentuk citra diri. Anda boleh jadi sangat sinis dan boleh curiga bahwa pernyataan ini hanya sekedar asumsi tanpa bukti. Namun melihat dan membaca bagaimana linikala berjalan dan berkembang, kita dibanjiri kutipan, lelucon dan leksikon asing. Sementara kebahasaan kita terkapar jatuh hanya digunakan oleh segelintir munsyi yang berusaha menjaga jati diri bahasanya sendiri.

Saut Situmorang dalam esai sinis berjudul Indonesia – Inggris menanggap gejala genit berbahasa kita sebagai usaha untuk menjadi liyan. Ia menuliskan dua adegan manusia-manusia kota yang berbahasa Inggris dengan pemanfaatan yang tepat. Seperti kata “get lost” yang dimaknai ‘tak paham’ daripada ‘tersesat’ dan penggunaan kata ‘as soon as posibble’ yang dimaknai ‘bergegaslah’ daripada ‘sesegera mungkin’. Kesalahkaprahan idiomatik ini menurut Saut adalah hal yang sah. Meski ia bisa jadi sebuah fenomena euforia di kalangan orang-orang kota besar di Indonesia.

Meski sebenarnya dalam artikel itu Saut sedang menghantam Remy Sylado yang ia tuduh alergi terhadap bahasa Inggris. Ia juga menyampaikan sebuah pesan tersembunyi. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari pemanfaatan bahasa Indonesia yang baik dan benar mesti diikuti oleh kesadaran fungsi bahasa yaitu komunikasi. Melulu berkicau dalam bahasa Inggris agar dikira berbudaya, keren, barat dan terdidik adalah sebuah kedunguan.

Pun kebencian terhadap bahasa asing seharusnya tak membuat pembacanya menjadi anti asing. Saut menyampaikan bahwa dalam konteks bahasa Indonesia-Inggris yang salah kaprah seperti pada twitter, bukan peristiwa nginggris-nya yang mesti diejek-ejek dengan sikap patronising tapi bagaimana kesalahkaprahan itu bisa dikoreksi, terutama lewat media massa yang memang paling potensial untuk merealisasikannya. Mereka, orang-orang Indonesia yang berkicau melulu dalam bahasa Inggris, berhak terus melakukan yang mereka suka, seperti juga pada akhirnya, kita berhak percaya, mereka akan terus pura-pura menjadi apa yang mustahil mereka raih. Menjadi barat. Tapi tentu saja, jika anda tak setuju, semua ini hanya sekedar oxymoron belaka.


3 komentar:

  1. Produktif sekali Mas Arman ini, ya... iri :(

    BalasHapus
  2. Bukankah terjemahan dr "social media" adalah media sosial bukannya sosial media?

    BalasHapus
  3. Pertama,
    Pihak terjajah tidak selalu 'mengekor' pihak pen-duduk. Contoh kaum indian benua amerikia, aborigin, palestina. Aspek 'culture' pra pendudukan memegang peranan penting. Meski pemberontak belanda, Jendral Besar Soedirman, pun memakai jas kombinasi kompeni dan keraton mataraman.

    Kedua,
    "Wuih, cantik-cantik koq ngapak-ngapak, yak?" ... hehe... so watt gitu lw...

    BalasHapus