Perdebatan keras antara Sanusi Pane dan
Sutan Takdir Alisyahbana dimulai dari postulat sederhana. Bahwa untuk menjadi
modern, kata Sutan Takdir, Indonesia harus melepaskan identitas kulturalnya
yang ketinggalan zaman dan udik. Kita harus mengekor barat dengan segala
kemajuan yang mereka punya. Cara berpikir, tata bahasa dan laku hidup
premordial yang dipilih oleh masyarakat Indonesia harus dibuang. Hal ini karena
“masyarakat kepulauan Nusantara yang
berabad-abad statisch mati ini“ kata Sutan Takdir bisa “menjadi dynamisch, menjadi hidup” dengan mengadopsi cara hidup barat. Tapi
benarkah demikian?
Sanusi Pane, salah seorang pemikir
Indonesia terbaik dizamannya, menolak ini. Ia mengatakan bahwa apa yang disebut
sebagai modernitas, nilai nilai kemajuan dan sejenisnya hanyalah perkara
perspektif. Saat peradaban masyarakat barat masih garuk biji, bapuk dan
dikuasai tahayul lantas membakar perempuan atas tuduhan praktik sihir. Peradaban
Nusantara telah mencapai puncaknya. Borobudur, ekspedisi dagang Sriwijaya, dan
syair-syair sufistik Hamzah Fansuri telah memukau peradaban dunia. Hanya orang
orang ahistoris dungu yang memuja secara buta peradaban barat sebagai sesuatu
yang hebat.
Kita tahu semua perdebatan ini karena artikel
Sutan Takdir yang berjudul Menuju
Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia-Pra-Indonesia yang dimuat dalam
Pujangga baru edisi 2 Agustus 1935. Dengan gagah dan garang Ia mendefinisikan
sebuah era baru peradaban kebudayaan Indonesia. Peradaban yang berbeda dengan
generasi yang sebelumnya, terlepas dari peradaban kerajaan kerajaan "Zaman
pra-Indonesia" yang dianggapnya menghambat kemajuan.
Kita pun tahu bahwa Sutan Takdir adalah
juru bicara barat pada zamannya, ia sering menulis, berbicara dan bergaya
barat. Barat, terutama tentang Eropa dan Amerika, dalam mata Sutan Takdir adalah
segala yang berarti kehebatan, peradaban tinggi dan kelas yang adiluhung.
Sementara nusantara adalah nama lain dari kebuntuan, cupet, jumud dan
ketinggalan zaman. Apakah ia salah? Saya pikir tidak. Ia hanya bicara tentang
sebuah usaha mimikri seorang inlander terhadap kebudayaan agung tuannya yang
dinilai lebih menyilaukan.
Mimikri, subaltern, hibridasi dan
sejenisnya dalam studi pos kolonial telah banyak bicara. Bagaimana seorang
manusia yang dijajah berusaha meniru penjajahnya. Sebagai upaya untuk jadi
setara, menjadi sederajat dan menjadi sejajar. Manusia-manusia yang
identitasnya diremukan lantas mengemis mencari jejak kebudayaannya sendiri.
Dalam kisah Minke, melalui epos panjang Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer, fenomena malu identitas sendiri sudah lunas digambarkan. Ia
adalah manusia yang tercerabut. Bukan jawa, bukan londo dan bukan pula pribumi.
Ia adalah manusia yang terasing.
Bagaimana wajah kita hari ini? Sosial media
hari ini telah mewarisi semangat Sutan Takdir dalam upayanya memuja barat. Para
manusia-manusia nusantara yang lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa
tanah airnya sendiri. Lebih metropolutan daripada manusia-manusia urban
sendiri. Lebih modern dari apa yang bisa dibayangkan oleh Sutan Takdir pada
zamannya. Mengejar identitas dunia karena segala yang tradisional adalah nama
lain kampungan dan norak.
Tentu anda bertanya-bertanya, apakah bahasa
tanah air itu? Apakah manusia-manusia urban itu? Apa itu identitas dunia? Dalam
sebuah esai tajam dari Bandung Mawardi berjudul Amnesia Bahasa Indonesia dan Kritik Diri yang dimuat di Lampung
Post pada 9 Mei 2010, tercatat beberapa jawaban dari pertanyaan di atas.
Perihal bahasa dan manusia urban yang menarik dari identitas linguistiknya dan
menggunakan bahasa lain sebagai usaha membentuk citra diri yang baru. Citra
yang cerdas, terdidik, kota, modern dan canggih.
Bandung dengan nada lirih menuduh bangsa ini
tak terbiasa dengan imajinasi, metafora, permainan bahasa, atau nalar bahasa.
Pelbagai polemik dalam ranah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, agama, dan
kultural kerap disebabkan dari kenihilan pengetahuan atas bahasa. Beberapa dari
kita lebih suka menggunakan leksikon asing daripada kata-kata dalam bahasa ibu
sendiri. Beberapa dari kita lebih gemar berkicau dalam bahasa Inggris ketimbang
menggali diksi dan lema baru yang ada dalam kazanah bahasa sendiri. Bandung
Mawardi memvonis masyarakat Indonesia tengah berada dalam kondisi Amnesia
Bahasa.
Tapi apa pentingnya sebuah bahasa.
Memangnya seberapa? Dude, how come you
saying this shit nigga? Misbahus
Surur, mahasiswa S-2 UIN Maliki Malang pada 3 April 2011 menulis artikel
menarik tentang bagaimana perjalanan bahasa melayu pasar menjadi bahasa
nasional seperti saat ini. Menurutnya pemanfaatan bahasa pada awalnya hanya
untuk kepentingan pragmatis. Sebagai alat tukar dan komunikasi parsial. Baru
saat muncul ide-ide nation state dan kesatuan. Beberapa orang seperti Muhammad
Yamin melihat bahasa sebagai sebuah alat pemersatu (lingua franca).
Hari ini di sosial media khususnya di
Indonesia bahasa merupakan citra. Ia adalah alat lain untuk mengembangkan
identitas kultural. Sebut saya naif dan tendensius. Tapi mari kita telaah dari
riset Semiocast, Twitter setidaknya digunakan oleh 22 persen pengguna Internet.
Secara global setidaknya ada 232 juta pengguna aktif twitter yang ramai
bergunjing. Dalam riset itu Semiocast pada Juni lalu diketahui jika Indonesia
menempati peringkat ketiga negara paling cerewet di twitter dengan 1 miliar
tweet.
Menariknya meski Indonesia berada di
peringkat ke tiga dalam daftar negara paling bawel berkicau. Hal ini tidak
lantas membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dominan di dunia. Coba lihat
saja rilisan Semiocast tentang lima bahasa yang paling banyak digunakan. Bahasa
yang digunakan itu antara lain: Inggris 34 persen, Jepang 16 persen, Spanyol 12
persen, Malaysia 8 persen, dan Portugis 6 persen. Lalu memangnya kenapa? Apa
hubungan antara penggunaan bahasa dengan pencitraan tadi?
Pengguna aktif twitter di Indonesia lebih
suka menggunakan bahasa Inggris daripada bahasanya sendiri. Tak ada yang salah
di sini. Fungsi bahasa toh tak pernah bergeser dari alat komunikasi. Sayangnya
di Indonesia, pada twitter khususnya, praktik berbahasa Inggris sudah jatuh
pada kategori cultural snobbery dan patronase asing sehingga berkicau dalam
bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah, menjadi sebuah aib yang terlampau
jijik untuk dilakukan.
Saya menuduh mereka, akun twitter milik
warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang melulu berkicau dalam bahasa
asing adalah orang orang yang memiliki krisis identitas. Manusia yang gagap
dalam berbahasa dan susah mengembangkan cara berkomunikasi yang membumi. Tapi
tuduhan toh tetap hanya akan berakhir tuduhan. Meski sedekat apapun fenomena
kebahasaan ini mirip dengan apa yang diramalkan James Wolcott dalam What’s a Culture Snob to Do? saya hanya
bisa nyinyir belaka.
What’s
a Culture Snob to Do? ditulis James Wolcott di
Vanity Vair. Dengan lahirnya internet dan sosial media apa yang dahulu hanya
sekedar milih beberapa, kini berpotensi dan pasti akan dimiliki oleh orang
kebanyakan. Konsep relasi budak tuan dalam kaca mata Marxian hanyalah mimpi
buruk masa lalu. Internet menciptakan hubungan egalitarian antara manusia.
Dalam hal ini pemanfaatan teknologi, pengetahuan dan tentu saja bahasa. Tetapi
Wolcott menyiratkan pula dengan munculnya teknologi ini, apa yang dahulu
sekedar impian negara dunia ketiga tentang negara superpower akan mendapat
jawabannya sendiri. Dalam internet, selama kau fasih berbahasa asing, kau
adalah bagian dari warga negara dunia.
Sayangnya kemajuan itu berhenti hanya
kepada pemanfaatan pembentukan citra diri belaka. Dengan adanya internet,
sekali lagi dalam twitter khususnya, peanfaatan bahasa Inggris melulu hanya
untuk usaha membentuk citra diri. Anda boleh jadi sangat sinis dan boleh curiga
bahwa pernyataan ini hanya sekedar asumsi tanpa bukti. Namun melihat dan
membaca bagaimana linikala berjalan dan berkembang, kita dibanjiri kutipan,
lelucon dan leksikon asing. Sementara kebahasaan kita terkapar jatuh hanya
digunakan oleh segelintir munsyi yang berusaha menjaga jati diri bahasanya
sendiri.
Saut Situmorang dalam esai sinis berjudul Indonesia – Inggris menanggap gejala
genit berbahasa kita sebagai usaha untuk menjadi liyan. Ia menuliskan dua
adegan manusia-manusia kota yang berbahasa Inggris dengan pemanfaatan yang
tepat. Seperti kata “get lost” yang
dimaknai ‘tak paham’ daripada ‘tersesat’ dan penggunaan kata ‘as soon as posibble’ yang dimaknai ‘bergegaslah’
daripada ‘sesegera mungkin’. Kesalahkaprahan idiomatik ini menurut Saut adalah
hal yang sah. Meski ia bisa jadi sebuah fenomena euforia di kalangan
orang-orang kota besar di Indonesia.
Meski sebenarnya dalam artikel itu Saut sedang menghantam Remy Sylado
yang ia tuduh alergi terhadap bahasa Inggris. Ia juga menyampaikan sebuah pesan
tersembunyi. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari pemanfaatan bahasa Indonesia
yang baik dan benar mesti diikuti oleh kesadaran fungsi bahasa yaitu
komunikasi. Melulu berkicau dalam bahasa Inggris agar dikira berbudaya, keren,
barat dan terdidik adalah sebuah kedunguan.
Pun kebencian terhadap bahasa asing
seharusnya tak membuat pembacanya menjadi anti asing. Saut menyampaikan bahwa dalam
konteks bahasa Indonesia-Inggris yang salah kaprah seperti pada twitter, bukan
peristiwa nginggris-nya yang mesti
diejek-ejek dengan sikap patronising tapi bagaimana kesalahkaprahan itu bisa
dikoreksi, terutama lewat media massa yang memang paling potensial untuk
merealisasikannya. Mereka, orang-orang Indonesia yang berkicau melulu dalam bahasa Inggris, berhak terus melakukan yang mereka suka, seperti juga pada akhirnya, kita berhak percaya, mereka akan terus
pura-pura menjadi apa yang mustahil mereka raih. Menjadi barat. Tapi tentu
saja, jika anda tak setuju, semua ini hanya sekedar oxymoron belaka.
Produktif sekali Mas Arman ini, ya... iri :(
BalasHapusBukankah terjemahan dr "social media" adalah media sosial bukannya sosial media?
BalasHapusPertama,
BalasHapusPihak terjajah tidak selalu 'mengekor' pihak pen-duduk. Contoh kaum indian benua amerikia, aborigin, palestina. Aspek 'culture' pra pendudukan memegang peranan penting. Meski pemberontak belanda, Jendral Besar Soedirman, pun memakai jas kombinasi kompeni dan keraton mataraman.
Kedua,
"Wuih, cantik-cantik koq ngapak-ngapak, yak?" ... hehe... so watt gitu lw...