Senin, 31 Mei 2010

Gus dalam sebuah pamflet Obat



Saya tidak begitu mengenal orang tua yang satu ini, dan tidak akan berpura-pura sok kenal. Buat saya ia hanya seorang tua yang sensasional, sok dan sombong. Tindak tanduknya menyebalkan, tidak tahu etika, udah cacat tapi masih saja cari perhatian saja. Saya sendiri salah satu orang yang setuju ia dilengserkan 7 tahun lalu. Jujur, saya kurang begitu percaya akan kemampuannya saat menjadi presiden. Buat saya bagaimana ia bisa memimpin negara, jika melihat dan berjalan saja susah. Pernyataannya banyak sekali kontroversi, doyan mencopot menteri, selalu mendengar bisikan dan yang jelas ia suka sekali jalan-jalan keluar negeri.

Sampai suatu saat saya membaca sebuah komik kecil tentang hidupnya. Saat itu saya di Jogja, di kontrakan seorang kawan. Saya begitu terkesima dengan jalan hidupnya, bagaimana ia menjalani dan mengisi masa mudanya. Bagi saya yang gelagapan membaca Karl Marx akan sulit membayangkan jika ia pada masa SMA sudah tuntas melahap Das Kapital. Pemikirannya tentang pluralisme, kesetaraan gender dan sekedar teguh pendirian meski dicerca. Lahir dalam keluarga “darah biru” Nahdatul Ulama, dan sanggup berbicara dalam banyak bahasa. Tidak membuat ia menjadi manusia yang sombong. Kerendahan hati dan sulitnya mendendam, konon yang membuat banyak umat menjadi jatuh hati padanya.

Hanya sedikit orang yang memahami keluwesannya dalam bertindak, bukan karena ia seorang aburd macam Albert Camus. Namun lebih seperti Socrates tua yang pergi ke pasar menyalakan petasan kesadaran atas tatanan norma munafik yang banal. Gus putra seorang kyai besar, yang membangun organisasi tua dari bawah. Merintis pelan-pelan sehingga menjadi sebuah raksasa besar yang berbasiskan keilmuan islam pesantren tradisional. Gus adalah seorang tua bijak yang besar dari deretan didikan dan bacaan yang gagal fanatis dalam pesona agama dogmatis.

Ialah Gus yang berani membiarkan ketakutan dibungkam, melepaskan kemerdekaan bagi kaum sipit untuk berekspresi, untuk berkeyakinan dan untuk memberi angpau saat imlek. Ialah Gus yang siap berdiri paling depan dalam usaha toleransi dan pembaruan atas nama kedamaian. Dan bukan paham sempit buta peledak diri di jalanan. Ialah Gus yang datang pelan dituntun perbedaan untuk menyatu dalam bahasa kedamaian, pelan, sendirian dan tabah. Ia mungkin pernah jatuh di tikam sekumpulan Hyena bersafari di senayan. Sekumpulan anak taman kanak-kanak yang belum tuntas membahasakan kepentingan rakyat dari pada kepentingan nikmat.

Gus yang lari dari negeri piramid menuju negeri Syahrazad untuk belajar bebas. Bukan bebas tanpa tanggung jawab, tapi bebas dengan sikap. Sikap untuk melenyapkan hal yang kukuh kolot statis menuju sikap yang luwes moderat dinamis. Ia bukan wali,sungguh mati bukan. Ia tak patut disembah, bukan karena ia berucap tuhan tak perlu dibela. Karena ia yakin ia hanya sekedar manusia dengan sedikit kelebihan yang dimiliki. Ia sama seperti kau, saya, kita dan mereka. Namun tak memiliki mata yang seringkali tertutup kepentingan, nafsu dan fanatisme.

Islam adalah Rahmatan Lil Alamin itu final dan titik. Lalu kenapa ada yang membawa parang berteriak Allahuakbar? Dengan semangat merusak dan menghancurkan mereka yang berbeda. Ia kah tuhan? Bukan Ia hanya sekumpulan domba yang tersesat dari gembala-gembala sabar dan syukur. Gus mungkin sering dihujat, menerima baptis, satanis atau bahkan kafir! Oh bukan, bukankah agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku? Lalu mengapa kalian memaksakan?

Gus adalah aspirin, viagra dan segenap lexotan dalam satu waktu. Ia memberikan trance dalam perbedaan, meredakan nyeri ketakutan, dan memberikan gairah persatuan. Ia tak perlu resep, tak perlu dosis, karena kitalah yang tau apa penyakit kita. Apakah itu kebencian, prasangka, fanatisme sempit atau bahkan superioritas diri. Maka ambilah sebutir, rasakan bedanya, berjalanlah dalam lorong sempit bernama kesadaran diri. Yang diapi t gereja persatuan, masjid perdamaian, dan pura kebebasan. Tarik tujuan anda, ia mungkin sudah dicerai berai tanah, tersublimasi menjadi dzat yang menunggu jumpa di akherat. Sama seperti Gandhi, Mirza, Sidharta dan putra Maria. Lalu kenapa kau masih disini dan diam? Ambilah sebutir. Lalu rasakan bedanya, jika sakit anda masi berlangsung, maafkan saya mungkin memang stadium penyakit anda sudah akut. Dan perlu amputasi hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar