Senin, 31 Mei 2010

Moehamad Rosyidin ; tentang Titi, seksi dan image.



Hari itu panas sekali, kira-kira 34’ C. Berkubang dalam kolam renang mungkin sangat menyenangkan. Saat itu waktu menunjukan pukul 11 siang. Tapi Ochi, pria macho itu biasa disapa. Nampak segar bugar dan tak nampak gurat kelelahan diwajahnya. Mungkin efek global warming belum bisa menjamah keperkasaan Ochi yang dicapai lewat latihan berjam-jam di Gym 2 kali seminggu. Wajahnya lumayan tampan, meski untuk bukan ukuran standart yang akan diterima oleh casting sinetron. Namun cukup tampan untuk bisa menaklukan perempuan-perempuan yang ada di Unej ini. Tawanya yang khas sulit untuk bisa ditiru bahkan oleh Negara Cina sekalipun. Tawanya yang berderai-derai dengan sudut bukaan mulut tertentu sehingga bisa menimbulkan suara ahag-ahag-ahag yang khas.

Tepat pukul 11.10 siang nampak 2 mahasiswi berjalan beriringan. Serta merta Ochi menyenggol tanganku. Memberi tanda untuk memperhatikan salah seorang diantaranya. Perempuan manis berkerudung coklat bernama titi (bukan nama sebenarnya) itu tersenyum sangat manis. Sesaat saya sendiri dibuat sangat terpukau. Bagaimana tidak? Titi sangat cantik, manis, modern namun tetap religius secara bersamaan. Kini saya tahu mengapa Ochi sering mangkal di jembatan tiap hari. Mungkin inilah penyebabnya Titi. Seorang gadis manis, wow sekarang dia akan memiliki satu lagi penggemar rahasia.

Setelah titi dan temanya berlalu saya bertanya kepada Ochi “mas ayu yo? Seger delok’e”

“iyo le, Titi namanya” ochi berujar sambil tetap cool.

“akhir-akhir ini populasi mahasiswi berkerudung mulai bertambah yo? Kira-kira kenapa mas?” tanyaku sok imut.

“populasi gundulmu, mbok piker kewan populasi?” katanya sambil tertawa khas.

Menurutnya kecendurungan mahasiswa mulai banyak berkerudung bisa jadi merupakan pengaruh dari film Ayat-ayat cinta (AAC). Kesuksesan novel dan filmnya berdampak secara tidak langsung terhadap trend mahasiswi dalam life style mereka. Kemudaian saya berikan perbandingan dengan mahasiwi-mahasiswi berpakaian up-to-date (baca:seksi). Saya menyanggah pendapatnya tentang teorinya tentang AAC karena meski film dan novelnya sukses. Populasi mahasiwi-mahasiswi up-to-date juga menunjukan jumlah yang banyak atau jika boleh meminjam bahasa teman saya Erik. Jumlahnya meningkat secara significant.

Ia kembali menjelaskan dengan senyum manisnya, bahwa life style juga memiliki beberapa variabel-variabel pembentuknya. Seperti bacaan, dorongan kebutuhan dan apa yang kita konsumsi. Apa yang kita baca adalah apa yang membentuk pemikiran kita. Bacaan memberikan kontribusi terhadap cara kita berfikir, mengkonstruksi logika kita dan menawarkan pilihan idealisme. Ochi juga mengeluhkan penurunan kualitas buku bacaan mahasiswa saat ini yang hanya terjebak pada buku-buku self empowering dan buku-buku pembentukan kepribadian. Buku-buku semacam itu hanya buku bacaan ringan (ia mengklasifikasinyanya sendiri).

Variabel kedua adalah dorongan kebutuhan, mahasiswi-mahasiswi up-to-date tadi mungkin memiliki kebutuhan from nobody become somebody, kebutuhan menjadi pusat perhatian, kebutuhan menjadi terkenal atau dikenal dan yang terakhir kebutuhan akan pujian. Subjektifitas yang masuk akal aku menyebutnya. Wanita mempunyai kecenderungan untuk disayang dan dimanja. Hal inilah yang kemudian berkembang menjadi kebutuhan akan keberlangsungan sebuah eksistensi perempuan.

Variabel ketiga adalah apa yang mahasiswi-mahasiswi up-to-date tersebut konsumsi. Apa yang konsumsi akan mendefinisikan kita, begitu ochi berpendapat. Sebagai contoh mahasiswi berpakaian trendy merek dari butik terkenal, sepatu yang lagi nge-hips, make up ini itu. Mahasiswi tadi ingin mencitrakan diri sebagai seseorang yang high class. Akan sangat kontras dengan saya yang gak tau malu dan slengean. Saya ini merupakan produk-produk cuci otak TB.

Sebagai sebuah perbandingan. Teman (mesum) baik saya. Inu Basidjanardana dalam mengatakan bahwa sebuah proses simbolisasi bawah sadar seseorang terjadi akibat adanya factor eksternal yang kemudian tanpa disadari oleh individu itu berubah menjadi simbolisasi diri yang kemudian digunakan untuk menarik masa. Dalam kasus ini, perempuan secara tidak sadar menginternalisasi trend, buku bacaan dan apa yang mereka konsumsi menjadi bagian dari pesona yang kemudaian membuat mereka tampak sangat menarik. Simply irresistible.

Kembali lagi tentang Titi (yang senyumnya kini bikin saya panas dingin) yang cantik dan anggun dengan kerudung. Saya bertanya-tanya tentang keputusannya mennggunakan kerudung. Dengan variabel-variabel yang ditawarkan Ochi tadi saya belum mendapatkan jawabannya. Saya berpendapat bahwa kondisi social dimana Titi tinggal dan pola pendidikan yang diberikan orang tuanya, bisa jadi hal paling berpengaruh dalam pembentukan Titi saat ini. Saya sepakat dengan pemikiran dari Irmayanti Meliono dalam artikelnya perempuan dan ritual. Ia berpendapat bahwa didalam lingkungan social budaya, perempuan melakukan interaksi, dan berdialong dengan berbagai orang. Melalui dialog tersebut terjadi hubungan yang akrab dan harmonis, karena masing-masing dapat menerima dan menghargai berbagai pendapat sejauh didukung dengan argument yang logis dan rasional. Dengan memberikan pemahaman demokratis akan pentingnya pemakaian kerudung dan segala hal yang akan mengikutinya. Merupakan sebuah doktrinisasi ritual agama yang tidak memaksa malah mengajak dengan lembut dan efektif.

Soeharto,paranoid dan post colonial

Hari itu makin panas saja. Pantat dan tenggorokanku terasa perih. Tapi sekali lagi manfaat olahraga menjadikan Ochi tahan banting di segala situasi dan kondisi. Dia tetap tenang-tenang saja meski memakai jaket, dan gurat lelah apalagi panas tak tampak diwajahnya. Tiba-tiba saya melihat teman saya Indra sedang bersama temannya yang berasal dari luar jawa. Terbersit sebuah pertanyaan ringan yang hendak saya lontarkan pada pria (yang katanya manis) disebelah saya ini.

“mas opo’o yoh kok arek-arek Padang iku senengane kumpul karo arek sak daerah’e?” aku bertanya sambil menyeka keringat dijidatku.

“yoh mergane mungkin mereka merasa nyaman saja dengan teman-teman sesamanya” katanya tetap saja dengan wajah (sok) cool yang membuatku bikin merinding.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa sikap ekslusifitas itu merupakan bentuk dari upaya menjaga identitas cultural yang mereka punyai. Jauh dari rumah dimana kita biasa tinggal, berbahasa berbudaya dan berperilaku. Semua itu membuat mereka merasakan ketakutan akan terkikisnya sebuah identitas yang dibangun dari mana kita berasal. Dengan ekslusifitas dari sesama daerah, yang biasanya dipayungi oleh organisasi-organisasi premordial. Mereka mahasiswa-mahasiswa daerah tidak perlu merubah bahasa dan perilaku khas daerah masing-masing. Ochi juga berpendapat bahwa sikap tersebut bisa jadi juga disebabkan oleh inferioritas berada di tempat yang jauh dari rumah. Ia membuat teori menarik tentang kosnpirasi Soeharto dengan usaha jawanisasi Indonesia.

Ochy berpendapat bahwa, dulu saat orde baru masih berkuasa Soeharto berusaha memarginalkan orang luar daerah dengan segala cara. Seperti pembatasan kekuasaan jabatan yang biasanya hanya dipegang oleh militer atau orang jawa saja. Ia kemudian menguatkan teori konspirasi Soeharto (saya menyebutnya begitu) dengan program transmigrasi. Ia mempertanyakan kenapa harus orang jawa yang harus pergi keluar? Jika ingin memajukan kenapa tidak melakukan pendidikan putra-putra daerah luar jawa, dan memandirikan mereka. Dan jika masalahnya adalah jumlah penduduk jawa yang luarbiasa meningkat, mengapa program KB tidak dioptimalkan? (Dua peryantaan terakhir adalah kesimpulan saya sendiri)

Saat panas yang tidak tertahankan mulai merambat naik, omongan ngelantur tadi mulai makin ngealntur. Sambil menikmati kwaci hasil curian teman saya anak AN, pembicaraan kami ngelantur soal apa itu inferior. Berhubung saya metaok saya pikir inferior itu interior. Jadinya dalam pikiran otak saya yang segede upil gajah ini mempertanyakan antara interior dengan teori konspirasi Soeharto. Namun jawaban pertanyaan tersebut terjawab saat ia mengatakan post-kolonial. Post-kolonial melahirkan sikap inferioritas, yaitu sikap rendah diri akibat terlalu lama dijajah. Setidaknya itu arti yang dijelaskan Dyah (orang suku papua, mantan pimred TB) pada saya. Inferioritas akhirnya melahirkan ketidak percayaan diri, menganggap apa yang dilaur dirinya lebih baik dan lebih indah. Sehingga orang—orang inferior cendrung menjadi rendah diri dan menutup mata atas potensi yang ada.

Arti Pergerakan

Panas sudah sangat kurang ajar, membakar setiap lemak dari selulit tubuh saya. Saya minum tegukan terakhir pocary sweat saya. Sesaat mata usil saya melihat teman-teman ekstra dari I kuadrat. Kemudian iseng-iseng saya bertanya pendapatnya tentang teman-teman ekstra.

“mas sampean ngerti ceritone PSM tah?” kataku.

“sing endi? Oh iyo aku tau rungu” ia menjawab.

“konyol gak sih, mereka mempermasalahkan hal-hal yang gak penting!” kataku.

Untuk kalian yang belum mengerti ada apa dengan PSM fisip, ijinkan saya untuk menceritakannya. PSM adalah sebuah UKM yang sulit terlacak keberadaanya di fisip. UKM yang memiliki anggota namun tidak memiliki kesekretariatan. UKM yang kemudian pada kongres Fisip dipermasalahkan izin, keberadaan dan struktur pengurusnya. Yang menjadi masalah adalah mereka UKM PSM dalam keikutsertaanya mengikuti kongres tidak mengikuti AD/ART kongres. Disinyalir keberatan diajukan oleh teman-teman ekstra –yang kita sama ngerti tabiatnya- yang duduk dalam kepengurusan HMJ dan BEM.

Menurutnya organisasi ekstra kampus (ekstra) yang memproklamirkan dirinya organisasi pergerakan hanya sebuah organisasi kosong saja. Menurut Ochi, ekstra hanya terjebak pada wacana internal organisasi dan berhenti disitu saja. Tidak ada tindak lanjut dari wacana yang didiskusikan. Berbagai hal mendasari fenomena tersebut. Seperti : doktrinasi dari anggota senior dari organisasi ekstra tersebut. Adanya kepentingan dari tiap individu dalam keanggotaan ekstra tersebut. Dan yang paling parah adalah, mereka hanya bisa menilai orang lain tanpa ada kemauan dan kemampuan untuk introspeksi diri. Hal ini berdasarkan pengalamanya saat menjadi mahasiswa baru nan culun dimana ia mendengar penghinaan dan cibiran dari salah satu ekstra yang merasa superior dan mengiferiorkan ekstra lain. Dengan gagah berani kemudian ia menjawab “heh asal kamu tahu saya ini anggota organisasi ekstra **** (sensor untuk melindungi korban), kami ini malam berwacana, pagi langsung aksi!” kemudian dia melanjutkan. “dari pada kamu **** (sensor untuk melindungi pelaku) hanya bisa berwacana kosong tanpa ada implementasi nyata” katanya berapi-api mirip pak karno saat hendak buang hajat.

Rafli mantan Pemimpin Umum saya sebelumnya pernah berteori. Mereka (anak-anak ekstra) hanya terjebak pada kepentingan saja. Mereka terjebak pada ekslusifitas dari kelompoknya sendiri sehingga gagal membangun citra baik keluar. Ochi juga berasumsi bahwa setiap ekstra memiliki pelindung dibelakangnya. Ekstra merupakan produk terusan dari partai kelompok-kelompok tertentu yang bertopeng pergerakan. Ekstra hanya sebuah produk perpanjangan tangan partai dalam melakukan kaderisasi di ranah kampus, yang seharusnya bebas dari partai politik!.

Ochi juga mengkritisi salah satu ekstra yang menawarkan kemapanan matrealisme melalui kedok penelitian lapangan, survey, dan beasiswa. Apa korelasi dari sebuah pergerakan dan hal-hal tadi? Tidak ada, semua itu hanya sebuah umpan dalam menarik keanggotaan dalam organisasi munafik yang berkedok pergerakan. Jika dengan dibandingkan dengan Tegalboto, yang dengan sangat kejam dan brutal mendidik anggotanya dalam berproses. Eksistensi diukur dari karya, mending diam. Anda lebih baik diam daripada bicara namun tanpa karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar