Minggu, 30 Mei 2010

Saat Redaksi Harus Memilih

Kebenaran adalah omongan banyak orang, namun urusan sedikit orang

(George Berkeley)


Seorang kawan pernah terkejut saat saya berteriak mengumpat saat menonton sebuah berita. Sesaat ia menegur saya mengapa saya marah-marah dan mengucapkan sumpah serapah. Secara pribadi saya jengkel dengan kualitas pemberitaan salah satu stasiun televisi lokal. TV One yang saat itu memberitakaan tentang penggerebekan teroris di Temanggung, Jawa Tengah. Salah satu reporter lapangan TV One yang saya anggap sok tahu adalah Ecep S. Yasa. Seorang wartawan yang kemudian dikarbit menjadi wartawan spesialis terorisme oleh TV One.


Kekecewaan dan kemarahan saya bukan karena alasan pribadi. Kualitas pemberitaan dan akurasi pemberitaan TV One yang membuat perasaan saya tidak karuan. Sadar atau tidak kemampuan tim redaksi TV One dalam pemberitaan penggrebekan Temanggung sangat buruk. Berulangkali statement yang diberikan oleh pembawa berita dan reporter lapangan TV One meleset dari apa yang dikatakan. Seorang wartawan senior asal Jember, Oryza Ardiansyah pernah berkata kepada saya. “Wartawan ibarat pedagang yang menjual kepercayaan. Seorang wartawan memberitakan sesuatu yang belum dilihat, di dengar dan diketahui secara jelas oleh khalayak”. Maka sangat penting untuk menjaga kepercayaan itu.


Sejalan dengan pemikiran itu, saya pribadi kemudian menjadi kesal dan mempertanyakan apa saja kerja tim redaksi berita TV One. Bagaimana bisa dalam pemberitaan media mereka bisa sangat kecolongan sehingga bisa berulang kali memberitakan informasi yang salah bahkan ngawur? Haram hukumnya sebuah media memberi pemberitaan ngawur, salah apalagi bohong. Robert Vare, yang pernah bekerja untuk majalah The New Yorker berpendapat sama. Kesucian seorang wartawan terletak pada fakta dan akurasi kebenaran beritanya. Maka cukuplah hal ini menjadi afirmasi kemarahan dan sumpah serapah saya atas kualitas pemberitaan TV One saat itu.


Politik redaksi: nurani vs pasar


Pers mahasiswa adalah sebuah entitas penerbitan pers alternatif. Pers yang konon katanya bebas dari kungkungan kepentingan dan mencoba menjadi idealis. Kabarnya demikian, namun seringkali pemberitaan media dan fakta dilapangan kontras dan berbeda. Pemberitaan yang bias makna, syarat kepentingan dan seringkali tanpa disertai cover both side.


Pemberitaan media yang demikian bisa dikatakan sebagai media yang tak layak terbit atau media sampah. Karena media yang tidak mampu menyuarakan kebenaran harus dimusnahkan. Meningat media yang mempunyai fungsi sebagai penyampai kabar, informasi, dan sebuah media komunikasi. Coba bayangkan apa yang terjadi jika sebuah berita yang salah dipercaya?


Ada seorang pujangga media yang sangat kritis pada abad ini. Noam Chomsky namanya. Ia banyak mengkritisi pengaruh kekuasaan dan korporasi media dalam suatu pemberitaan. Kita biasa mendengar dalam sebuah kapal, pantang memiliki dua nahkoda. Pers umum atau yang biasa saya sebut sebagai industri media, terdapat banyak sekali pembuat keputusan terhadap bagaimana pemberitaan suatu media. Mulai dari pemilik modal, dewan redaksi, dan idiologi politik suatu media.


Idiom bad news is good news masih menjadi iman yang sangat lekat dalam industri media. Seringkali dalam pemberitaan media melebih-lebihkan suatu kejadian, disisi lain malah sedikit sekali mendapat porsi perhatian. Sebagai contoh, pemberitaan penyiksaan Manohara menjadi sebuah sensasi yang sangat luarbiasa. Ia direpresentasikan sebagai gadis lemah yang diculik, disiksa dan direngut haknya oleh keluarga kerajaan Malaysia. Sangat kontras sekali dengan proporsi pemberitaan Nirmala Bonat atau 2.239.566 buruh migran asal Indonesia yang direngut hak asasinya (Kamis, 17 Juni 2004 Tempo interaktif).


Apa yang membuat sebuah objek pemberitaan menjadi tidak imbang? Mungkin Chomsky punya jawabannya. Dalam The market is advertisers -- that is, other businesses. The product is audiences! Manohara dan berjuta buruh migran secara kualitas kemanusiaan adalah sama, yang membedakan adalah nilai jual beritanya. Hampir setiap hari kita akan menemui kasus pelanggaran hak asasi terhadap buruh migran, namun akan jarang sekali kita menemui kisah penculikan, penganiayan dan pelecehan seksual terhadap model cantik. Maka dimulailah dagelan pemberitaan dalam media kita, mulai dari stasiun televisi, koran, radio dan media online membeo dalam pemberitaan. Alasannya sederhana, karena hal itu menjual. Persetan dengan fakta dan realitas lainnya.


Masmimar Mangiang salah satu wartawan penulis di Pantau, pernah berucap “Media massa punya kewajiban membantu publik dengan kejujuran, dan dengan memuliakan fakta”. Media jurnalistik harusnya memiliki sebuah integritas dalam pemberitaan. Pemberitaan yang jujur, menyuarakan liyan, bebas nilai dan menjadi sebuah media koreksi terhadap status quo. Terdengar idealis? Harus! Idealisme menjadikan seorang manusia berarti dan terkendali. Sebuah idealisme akan menjadi bahan bakar untuk mengendalikan atau mengkoreksi kondisi yang menyimpang.


Adalah kebenaran fungsional yang coba ditawarkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Menurut mereka kebenaran yang ada dalam media terbentuk dalam banyak lapisan dan bias lingkungannya. Sehingga dalam pemberitaan kita harus mencari sebanyak mungkin fakta lapangan yang ada. Tentu saja dengan seobjektif dan seakurat mungkin.


Ada sebuah pepatah latin Ridentem dicere verum quid vetat? Artinya “apa yang mencegah manusia untuk menertawakan kebenaran?” terlalu banyak kebohongan yang kita telah terima. Mengakibatkan kita mempercayai kebohongan tersebut sebagai sebuah kenyataan. Realitas berita di lapangan harus kita tampilkan apa adanya, tanpa perlu ditambahi, dibumbui dan di rekonstruksi agar lebih menarik. Keakuratan dan kebenaran dalam sebuah pemberitaan, menjadi tolak ukur kualitas media yang menyampaikan.


Akhir kata. Biarlah pergulatan pemikiran antara nurani dan pasar menjadi sebuah pedoman kita dalam melaporkan sebuah pemberitaan. Apakah kita akan menuruti pasar dengan memberikan berita kosong bombastis atau memberitakan kebenaran sepahit apapun itu. Semua kembali kepada anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar