Senin, 20 Desember 2010

Kalau Saja Saya

Jadi andaikata seperti ini, memang benar saya ini megalomaniak, besar mulut dan banyak omong. Ya mbok sekali-kali jangan diam tapi bilang, kalo saya ini adalah seorang keparat. Tak perlu jadi Nero kan untuk membakar Roma? Kira kira begitu. Jangan tunggu saya menghancurkan diri untuk kemudian diberitahu. Ya namanya manusia, kalo salah sekali duakali dibiarkan. Tapi kalo terus terusan salah kalian biarkan, ya kalian juga keparat.

Saya toh mengakui kalo misalnya saya ini sekedar penjiplak, mungkin, seringkali malah menolak jujur pada diri sendiri. Tapi bukankah Plato hanya mengutip Dialog bersama Socrates? Bukan, kalau anda pikir saya menyamakan diri, ya itu namanya naif. Apalah saya didepan mahaguru Filsafat Aristoteles itu. Saya masih belum memiliki nyali seperti Zizek yang secara acak adut meruntuhkan semua norma. Ya saya sekedar Dhani, itu yang anak Kesejahteraan Sosial 2005 yang sampai taun 2010 belum juga lulus.

Ini sekedar andai dan semua yang andai itu tak perlu biaya. Gratis, bebas dan mudah. Andai saya tidak jadi saya sekarang ya mungkin saya tidak kenal kalian dan tidak akan menulis seperti ini. Ya mungkin saya akan jauh lebih baik-baik saja, lebih kurus, dan lebih laku. Ini masih dalam konteks andai, bukankah andai itu bebas untuk sekedar konstruksi? Bebas dari segala macam hukum, mau hukumnya Newton, Hawkin ataulah Einstein. Apalagi hukumnya Muhammad, Sidharta atawa Musa. Bebas sebebasnya Nurdin jadi Ketua PSSI.

Anggap saja seperti ini, saya yang kebetulan namanya pasaran, Arman Dhani Bustomi. Pada tahun 2007 gak ikut-ikutan ababil masuk Lembaga Pers Mahasiswa yang so called organisasi perjuangan. Mungkin saat ini saya sudah bekerja disalah satu perusahaan multi nasional di nusantara. Sudah punya pacar anak Ekonomi yang cakep, bohai, seksi dan setengah berkerudung. Kemana-mana naek Yamaha Vixion dan Honda Tiger minimal naek motor modifan seharga kuliah saya selama 10 tahun. Saya akan nampak keren, dalam definisi anak muda, pakaian kantor, IPhone dan Gadget lainnya.

Saya gak paham dengan konsumerisme dan saya gak paham dengan outsourcing. Dua kata itu asing, wong tiap hari saya musti kerja keras untuk memenuhi setorang, target penjualan dan bonus akhir tahun. Saya adalah apa yang saya jual sebulan ini. Anggap saja demikian. Seandainya saya tidak masuk ke organisasi ABABIL macam Tegalboto, pasti saat ini saya sudah tidak perawan. Buat apa? Wong gak terlalu penting, representasi banal atas norma sudah saya injak dalam-dalam atas nama kelelakian dan kejantanan. Ya, saya jantan karena sudah tidak perjaka. Bahwa saya akan menderet-deretkan nama gadis A, cewek B, Tante C dan sebagainya. Karena saya pejantan tangguh yang luar biasa.

Anggap saja begini, atas konsekwensi memiliki Vixion, IPhone dan Pacar Cantik saya masuk dalam nominasi manusia unggulan versi diskotek, distro dan disana sini. Wong punya duit, punya kuasa dan meski agak dipaksa punya tampang setara Primus Yustisio. Jadi abdi dunia gaul, penegak budaya massa dan avant garde mode. Saya akan asing pada Efek Rumah Kaca apalagi Pure Saturday. Hidup saya penuh dengan Armada, ST 12, Drive dan yang paling penting Radja. Apalagi yang lebih indah daripada suara lengking ian kasela dengan dadam dadadam nya?

Sekali lagi saya adalah manusia pilihan, jauh dari kesusahan apalagi hiruk pikuk pergerakan. Apapula pergerakan itu? Taik kucing macam apa? Apalah arti sebuah ikatan komunal didepan raksasa korporasi milyaran dolar? Di depan Sukhoi dan M16? Membusuk diludahi peluru atas ide absurd bernama idealisme? Bah! amit-amit cabang bayi, semoga semua keturunan saya dijauhkan dari yang namanya pemikiran kiri dan ketersesatan wacana!

Kalau pun kemudian saya memutuskan untuk jadi abdi negara itu pun sebuah pilihan investasi yang benar. Sedikit membayar pada apa yang anda sekalian sebut sebagai cukong, calo atau makelar. Amtenaar bung amtenaar! apa yang lebih gagah daripada menggunakan seragam dan merayakan upacara setiap hari senin? tidak ada bung tidak ada. Y mungkin yang lebih gagah adalah saat kita berdiri tegak mengantri gaji ke 13. itu saja.

Coba saja saat tergelincir dalam jurang nista pers mahasiswa saya lekas-lekas keluar dan bertobat, ya tidak perlu saya dikakangi beban moril idealisme. Sungguh setan dan sial sekali mereka yang kemudian sedikit banyak diberakin ide ini? Mewujudkan tatanan dunia yang sempurna, tanpa cela dan konsisten? Berak macam apa ini yang tidak mau dibasuh? Menyusahkan saya saja, ini jikalau kemudian saya menjadi Amtenaar, bakal menjadi semacam rem untuk saya menerima salam tempel dan sedekah tanpa syarat. Ya namanya manusia, masa pemberian ditolak? kan haram. Idealisme itu sungguh setan sekali, makanya saya setuju pada Machiavelli.

Anggap saja kemudian sekarang saya menyesal, lalu kabur, dan menyerah. Ya gak masalah, Ini Indonesia bukan amerika. kalo menyerah dan pasrah itu kodrat, bukan mental kita untuk berjuang. 350 tahun dijajah, mereka yang melawan toh didikan barat. Kita ini abdi, budak, dan inlander. gak usah sok-sokan jadi pejuang dan melawan. nanti lucu. semacam komedi tapi tidak komikal hanya ironis.

Tapi kalau kemudian anda mengamini, ya konyol, ini hanya gumam. Dan mereka yang meyakini gumam, sepertinya akan selalu tersesat arah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar