Minggu, 05 Agustus 2012

Anasir / Retak

#1

Kau mencari satu titik untuk berhenti,
sementara rindu menunggu ditemukan.
Lalu mestikah kita bersengketa
perihal waktu dimana perpisahan
selalu menjadi bagian dari akhir cerita

#2

Hujan selalu datang dalam diam, juga
ketergesaan yang malu-malu.
Siapkah kita menghadapi masa
lalu yang merambat?

#3

Pada sebuah malam yang dihadiri bulan
awan datang dengan semangat.
Bahwa gelap, tak harus berujung pekat
juga harapan patut diperjuangkan.
Dengan atau tanpa bayonet,
pendosa berhak bertobat.

#4

Apa yang lebih parau dari keraguan?
Di bilik rumahnya hanya ada curiga.
Sementara manusia adalah fana.
Juga harapan, yang dibiarkan diam.

#5

Kita menyemai harapan seperti debu.
Takluk pada apa yang kasat mata
seolah-olah zaman lahir
karena ketiadaan. Sementara niskala
hadir seperti rupa udara.

#6

Sebuah perbincangan tergeletak tak berdaya.
Tatal kacang, juga ampas kopi.
"Kemerdekaan," katamu "Lahir dari manusia yang bangun dinihari"
Esok pagi, sepasang ayam jantan meludah.
"Manusia tak pernah belajar,"
tapi kita tak pernah tahu apa maksud ayam berkokok bukan?

#7

Yadnya Kasada, dengung rapal doa.
Serupa mantra. Serupa tulah.
Serupa wajah-wajah yang menunggu
debu surut, pagi usai, juga angan angan.
Larung sesaji di puncak api.

#8

Asa tetas di satu sudut bernama persimpangan.
Lalu kau, lelaki yang menganyam
dendam berkarat. Sudahkah masa depan
bercerita tentang satu cerita?
Tentang sungai Gangga yang
melabuhkan anak cucu Santanu.

#9

Sinode pagi dimana Musa datang sebagai
musafir yang kelelahan. "Adakah Yesus di antara kalian? Saya lapar."
"Tuan, tidakkah tuan tahu? Yesus mati
tiga hari lalu," kata seorang wanita bercadar hitam.
"Jika Yesus mati. Lalu siapakah yang
membukakan pintu maaf pada umat manusia?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar