Minggu, 26 Agustus 2012

Ada Apa Indonesia?



Indonesia saya rasa telah gagal menunjukan wajahnya yang damai. Alih-alih memberikan senyum ramah terhadap sesama, yang nampak hari ini adalah kebencian-kebencian yang terlembaga, terstruktur dan dibiarkan. Hal ini melahirkan fasisme dan teror dibenak masyarakat kita. Sehingga yang terjadi adalah pelan-pelan muncul pembiaran kekerasan dan kebencian pada kelompok-kelompok minoritas.

Hari ini, komunitas Syiah di Sampang Madura kembali diserang. Oleh mereka yang mengaku memiliki otoritas keimanan tuhan. Sebuah klaim tengik nan sombong yang semestinya tak perlu terjadi. Keimanan adalah perkara hati dan usaha untuk menjadi manusia berguna bagi yang lain. Parang dan darah tak seharusnya menjadi bagian dari dakwah. Ia adalah sebuah usaha degil yang menunjukan betapa fana dan hinanya manusia lain, yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan.

Kasus-kasus kekekerasan pada kelompok keagamaan makin lama semakin meningkat. Konstruksi pemahaman masyaraka juga semakin dialihkan. Bahwa di Indonesia ini merupakan bangsa yang didasari dari sebuah dominasi teologis tertentu. Hukum diludahi dan aparatus negaranya hanya menjadi penonton. Kita sedang menyaksikan teater besar dimana para pemain figuran bebas bermain semaunya, sementara pimpinan sirkus sibuk berkutat pada banalisme album musik.

Indonesia telah gagal mengaplikasikan ide tentang bhineka tunggal ika sebagai sebuah jalan tengah. Egoisme sektarian menjadi sebuah pemandangan sehari-hari. Sehingga dalam lambat laun bangsa ini digerogoti permusuhan yang kasat mata. Semakin banyak orang yang merasa memiliki klaim pembenaran atas tindakan kekerasan atas nama Tuhan. Sementara Islam, dalam hal ini sebagai agama yang dipinjam namanya, telah diperkosa esensi ajaran-ajarannya.

Islam adalah agama yang damai. Ia rahmatan lil alamin. Bukan hanya sekedar milik umat muslim saja. Saya kira kita perlu belajar banyak dari bagaimana sejarah agama ini sendiri. Seluruh umat islam juga tak boleh hanya diam dan menerima dogma sebagai sebuah kue siap saji. Kita semestinya kritis mencari dan belajar bahwa, pacifisme dan upaya damai merupakan jalan yang paling dianjurkan dalam Islam. Ia berusaha menempatkan kemanusiaan lebih utama daripada kepentingan kelompok semata.

Dalam suatu Hikayat Kalifah Umar ibn Khatab pernah mengancam seorang gubenur dalam pemerintahannya, karena telah berlaku tak adil pada seorang yahudi yang rumahnya dirusak. Islam begitu memuliakan manusia terlepas apapun keyakinan mereka.  Umar yang sama juga pernah memberikan jaminan kepada setiap orang, bahwa dalam pemerintahannya setiap ritus keagamaan dijamin. Saya kira kita sudah lama melupakan sejarah yang semestinya dibangun dari kesabaran dan memaafkan.

Indonesia hari ini juga merupakan negara yang abai pada makna. Hal-hal sederhana yang salah kaprah dimaknai sebagai sebuah kebenaran. Seperti penggunaan kata dalam kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi sebuah fitnah. Barangkali juga hanya di Indonesia Institusi Keagamaan bisa seenaknya memberikan label pemaknaan pada sebuah kata. Majelis Ulama Indonesia contohnya, dimana ia dengan seenaknya memaknai pluralitas sebagai “Keyakinan yang membenarkan semua agama.” Bahkan ketololan mesti memiliki batas saya kira.

Pluralisme merupakan sebuah jalan landai perdamaian. Ia tidak memiliki tanjakan atau turunan yang curam. Kelokan yang tajam atau tanda jalan yang  menyesatkan. Pluralisme semestinya dimaknai secara luas dan tidak semberono membenarkan semua agama. Ia lebih dari itu semua. Saya kira banyak dikalangan ulama kita yang enggan belajar mencari tahu pengetahuan di luar agama sebagai sebuah pembanding. Hal ini lantas melahirkan kejumudan dan sempit pemikiran.

Saya percaya semua agama berupaya menyiapkan para umatnya berujung pada keselamatan dan cinta kasih terhadap sesama. Sudah tidak relevan lagi memperdebatkan kebenaran atas tafsir wahyu. Juga kepatuhan buta pada tokoh agama yang tak memberikan contoh laku hidup yang damai. Saya selalu meyakini bahwa kebencian hanya melahirkan kebencian lainnya, juga tak ada kemuliaan yang bisa diraih dari sebuah kerusakan.

Di Indonesia hari ini memproklamirkan diri sebagai Syiah, Ahmadi atau Baha’I adalah usaha bunuh diri. Mereka adalah kelompok minoritas yang sengaja dibiarkan disakiti. Arus informasi yang beredar kemudian menjadi sangat bias. Sekali lagi, penggunaan bahasa kemudian menjadi sangat krusial disini. Sesat, tidak dikenal, asing dan juga ormas keagamaan menjadi terma-terma bisu yang menyesatkan. Khalayak ramai dipaksa menafsirkan sendiri kata-kata tersebut sehingga melahirkan xenopobia akut.

Saya kira kita perlu mencari wajah damai indonesia. Wajah yang tak lagi murung dan garang dalam menghadapi perbedaan. Kita semua bisa melakukannya dengan sebuah langkah sederhana. Seperti melakukan refleksi kritis terhadap pemikiran teolog, politik kebudayaan yang kaku lagi naif. Tentu ini akan sia-sia jika tak diimbangi dengan usaha dialog yang tenang, tanpa kebencian dan tanpa pretensi idiologis apapun.

Kita tak bisa lagi mengharap pada pemerintah. Mereka telah menjadi abai pada masyarakat dengan membiarkan kekerasan atas nama agama terjadi. Membiarkan sepak terjang kedegilan kelompok fasis sebagai sebuah tindakan wajar. Kita mesti belajar untuk tak lagi menggantungkan diri pada pemerintah. Memulai sendiri upaya damai tersebut dengan kelompok-kelompok minoritas seperti Syiah, Ahmadi dan lainnya.

Pluralisme saya kira merupakan upaya untuk mengerti, bukan membenci apa yang tak kita ketahui.

1 komentar: