Indonesia saya rasa telah gagal
menunjukan wajahnya yang damai. Alih-alih memberikan senyum ramah terhadap
sesama, yang nampak hari ini adalah kebencian-kebencian yang terlembaga,
terstruktur dan dibiarkan. Hal ini melahirkan fasisme dan teror dibenak
masyarakat kita. Sehingga yang terjadi adalah pelan-pelan muncul pembiaran
kekerasan dan kebencian pada kelompok-kelompok minoritas.
Hari ini, komunitas Syiah di Sampang Madura kembali diserang. Oleh mereka yang mengaku memiliki otoritas keimanan tuhan. Sebuah klaim tengik nan sombong yang semestinya tak perlu terjadi. Keimanan adalah perkara hati dan usaha untuk menjadi manusia berguna bagi yang lain. Parang dan darah tak seharusnya menjadi bagian dari dakwah. Ia adalah sebuah usaha degil yang menunjukan betapa fana dan hinanya manusia lain, yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan.
Kasus-kasus kekekerasan pada
kelompok keagamaan makin lama semakin meningkat. Konstruksi pemahaman masyaraka
juga semakin dialihkan. Bahwa di Indonesia ini merupakan bangsa yang didasari
dari sebuah dominasi teologis tertentu. Hukum diludahi dan aparatus negaranya
hanya menjadi penonton. Kita sedang menyaksikan teater besar dimana para pemain
figuran bebas bermain semaunya, sementara pimpinan sirkus sibuk berkutat pada
banalisme album musik.
Indonesia telah gagal
mengaplikasikan ide tentang bhineka tunggal ika sebagai sebuah jalan tengah.
Egoisme sektarian menjadi sebuah pemandangan sehari-hari. Sehingga dalam lambat
laun bangsa ini digerogoti permusuhan yang kasat mata. Semakin banyak orang
yang merasa memiliki klaim pembenaran atas tindakan kekerasan atas nama Tuhan.
Sementara Islam, dalam hal ini sebagai agama yang dipinjam namanya, telah
diperkosa esensi ajaran-ajarannya.
Islam adalah agama yang damai. Ia
rahmatan lil alamin. Bukan hanya sekedar
milik umat muslim saja. Saya kira kita perlu belajar banyak dari bagaimana
sejarah agama ini sendiri. Seluruh umat islam juga tak boleh hanya diam dan
menerima dogma sebagai sebuah kue siap saji. Kita semestinya kritis mencari dan
belajar bahwa, pacifisme dan upaya damai merupakan jalan yang paling dianjurkan
dalam Islam. Ia berusaha menempatkan kemanusiaan lebih utama daripada
kepentingan kelompok semata.
Dalam suatu Hikayat Kalifah Umar
ibn Khatab pernah mengancam seorang gubenur dalam pemerintahannya, karena telah
berlaku tak adil pada seorang yahudi yang rumahnya dirusak. Islam begitu
memuliakan manusia terlepas apapun keyakinan mereka. Umar yang sama juga pernah memberikan jaminan
kepada setiap orang, bahwa dalam pemerintahannya setiap ritus keagamaan dijamin.
Saya kira kita sudah lama melupakan sejarah yang semestinya dibangun dari
kesabaran dan memaafkan.
Indonesia hari ini juga merupakan
negara yang abai pada makna. Hal-hal sederhana yang salah kaprah dimaknai
sebagai sebuah kebenaran. Seperti penggunaan kata dalam kehidupan sehari-hari yang
bisa menjadi sebuah fitnah. Barangkali juga hanya di Indonesia Institusi
Keagamaan bisa seenaknya memberikan label pemaknaan pada sebuah kata. Majelis
Ulama Indonesia contohnya, dimana ia dengan seenaknya memaknai pluralitas
sebagai “Keyakinan yang membenarkan semua agama.” Bahkan ketololan mesti
memiliki batas saya kira.
Pluralisme merupakan sebuah jalan
landai perdamaian. Ia tidak memiliki tanjakan atau turunan yang curam. Kelokan
yang tajam atau tanda jalan yang
menyesatkan. Pluralisme semestinya dimaknai secara luas dan tidak
semberono membenarkan semua agama. Ia lebih dari itu semua. Saya kira banyak
dikalangan ulama kita yang enggan belajar mencari tahu pengetahuan di luar
agama sebagai sebuah pembanding. Hal ini lantas melahirkan kejumudan dan sempit
pemikiran.
Saya percaya semua agama berupaya
menyiapkan para umatnya berujung pada keselamatan dan cinta kasih terhadap
sesama. Sudah tidak relevan lagi memperdebatkan kebenaran atas tafsir wahyu.
Juga kepatuhan buta pada tokoh agama yang tak memberikan contoh laku hidup yang
damai. Saya selalu meyakini bahwa kebencian hanya melahirkan kebencian lainnya,
juga tak ada kemuliaan yang bisa diraih dari sebuah kerusakan.
Di Indonesia hari ini
memproklamirkan diri sebagai Syiah, Ahmadi atau Baha’I adalah usaha bunuh diri.
Mereka adalah kelompok minoritas yang sengaja dibiarkan disakiti. Arus
informasi yang beredar kemudian menjadi sangat bias. Sekali lagi, penggunaan
bahasa kemudian menjadi sangat krusial disini. Sesat, tidak dikenal, asing dan
juga ormas keagamaan menjadi terma-terma bisu yang menyesatkan. Khalayak ramai
dipaksa menafsirkan sendiri kata-kata tersebut sehingga melahirkan xenopobia
akut.
Saya kira kita perlu mencari wajah
damai indonesia. Wajah yang tak lagi murung dan garang dalam menghadapi perbedaan.
Kita semua bisa melakukannya dengan sebuah langkah sederhana. Seperti melakukan
refleksi kritis terhadap pemikiran teolog, politik kebudayaan yang kaku lagi
naif. Tentu ini akan sia-sia jika tak diimbangi dengan usaha dialog yang
tenang, tanpa kebencian dan tanpa pretensi idiologis apapun.
Kita tak bisa lagi mengharap pada
pemerintah. Mereka telah menjadi abai pada masyarakat dengan membiarkan
kekerasan atas nama agama terjadi. Membiarkan sepak terjang kedegilan kelompok
fasis sebagai sebuah tindakan wajar. Kita mesti belajar untuk tak lagi
menggantungkan diri pada pemerintah. Memulai sendiri upaya damai tersebut
dengan kelompok-kelompok minoritas seperti Syiah, Ahmadi dan lainnya.
Pluralisme saya kira merupakan
upaya untuk mengerti, bukan membenci apa yang tak kita ketahui.
:(
BalasHapus