Sabtu, 17 November 2012

Kini Masalah Su Dekat

Apa yang membedakan kengerian yang terjadi di Palestina dan di Papua?


Bagi saya ada yang lebih penting daripada sekedar latah ikut peduli pada masalah dalam negeri orang lain. Seperti ribut perihal peperangan yang beberapa hari ini terjadi di Jalur Gaza. Semestinya kepedulian tidak melulu harus dilakukan dengan terus-terusan latah berpendapat perihal urusan dapur orang lain. Palestina dan Israel adalah dua negara yang jauh sekali dari Indonesia. Kita, berusaha sekuat apapun, membaca data dan buku sebanyak apapun, tak akan pernah benar-benar bisa memahami masalah mereka.

Konflik Palestina dan Israel, bagi saya tak pernah menjadi konflik teologis. Ia murni konflik politik teritorial. Dalam salah satu catatannya, Akhmad Sahal, intelektual muslim Indonesia mengatakan. Peperangan antara bangsa Yahudi dan Bangsa Palestina muncul karena perebutan tanah. Israel lahir pada 1948 dengan mengusir lebih dari 700.000 orang Palestina. Para sarjana Arab lantas menyebut peristiwa ini sebagai al-Nakba (bencana hebat). Lantas apakah usaha kita untuk memahami peta konflik yang terjadi di tanah suci tiga agama ini? Saya kra tidak ada.

Sebelumnya perlu kita pahami masalah ini dengan membaca British Mandate for Palestine yang konon merupakan cikal bakal kelahiran negara Israel. Kemunculan negara Israel merupakan pengejawantahan dari pemikiran fasis utopis dari Theodor Herzl, yang meramalkan kemunculan Eretz Yisrael (Tanah Israel) sebagai tanah yang diwariskan tuhan. Gerakan kembali ke tanah suci inilah yang kemudian kita kenal sebagai gerakan zionis. Pelan-pelan sejarah ini dilunturkan media dan digiring menjadi konflik teologis.

Apa yang terjadi di Jalur Gaza hari ini adalah keseharian yang barangkali tiap hari terjadi disana. Pembunuhan dan pembantaian atas nama kedaulatan dilakukan sebagai sebuah tindakan standar pengamanan. Apa yang terjadi di Palestina hari ini barangkali mirip sekali dengan apa yang terjadi di Indonesia. Di Papua hampir setiap hari kekerasan dilakukan. Bagi saya daripada mesti harus kaget dan merasa gumun dengan apa yang terjadi di Jalur Gaza, apa yang terjadi di Papua lebih mengerikan.

Indonesia tak lebih baik daripada Israel. Negara yang mengaku berbineka tunggal ika ini hampir setiap hari melakukan penindasan yang lebih keji daripada Israel. Perebutan tanah adat dari masyarakat lokal, pembunuhan aktifis politik, dan pembungkaman pendapat. Sejak pemerintahan Indonesia hadir di tanah ini lebih dari 400.000 masyarakat asli dibantai. Barangkali ini merupakan angka kematian tertinggi yang dilakukan pemerintah Indonesia setelah tragedi 65.

Apakah Papua merupakan bangsa yang merdeka? Kita bisa berdebat panjang perihal ini. Seperti juga keberadaan Negara Palestina yang oleh Israel dianggap sebagai organisasi teroris. Pemerintahan kita menyematkan terma gerakan separatis bagi masyarakat Papua yang hendak merdeka. Mengapa? Pemerintahan kita menganggap bahwa Organisasi Papua Merdeka  merupakan gerakan separatis yang berkembang paska referendum tahun 1969, yang bagi banyak aktivis Papua, penuh cacat.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, Papua seperti sebagian tanah di Indonesia (bukan seluruhnya), merupakan bagian dari koloni Belanda. Pada 1950 Pemerintahan Belanda yang terdesak sedang menjanjikan dan mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat. Hingga pada akhirnya pada 1 Desember 1961 mereka menyatakan kemerdekaan diri dengan bendera Bintang Kejora dan lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua. Lantas jika kemerdekaan adalah hak segala bangsa, lantas apa yang pemerintah Indonesia lakukan bagi Papua hari ini menunjukan hal itu?

Terlalu banyak kasus kekerasan atas nama kemanusiaan yang terjadi di Papua untuk saya tuliskan di sini. Tapi sebagai perbandingan mari kita coba lakukan komparasi. Di Jalur Gaza militer Israel membantai anak-anak dan masyarakat sipil. Di Papua militer dan polisi kerap melakukan kekerasan yang sama. Jika di Tepi Barat masyarakat Palestina tak bisa bebas keluar masuk negaranya. Maka masyarakat Papua juga tak bisa bebas menikmati kekayaan tanahnya akibat Freeport. Dalam banyak hal saya kira Pemerintahan Indonesia tak lebih baik daripada pemerintahan Israel.

Kepedulian pada Jalur Gaza hari ini tak lebih dari komoditas politik bagi banyak kelompok politik. Memahami peta politik timur tengah sangat penting untuk memahami pernyataan saya ini. Kelompok Hamas juga Fatah di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan Ikhwanul Muslimin di Mesir sering memanfaatkan isu perang di Palestina sebagai usaha meraih dukungan. Tak mengherankan jika di tanah air ada beberapa partai yang getol membawa isu ini sebagai usaha menarik perhatian umat muslim Indonesia. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk menjaring suara.

Tentu kita seirng melihat beberapa organ politik maupun non politik di Indonesia yang kerap berdemonstrasi anti Israel dan anti Amerika Serikat. Dengan membawa berbagi foto korban kekerasan di Palestina kita diajak untuk peduli. Sayangnya usaha solidaritas ini dikotori oleh panji-panji partai politik yang menyertai. Belum lagi seruan-mirip-kotbah-usang perihal pentingnya negara khilafah untuk menyelamatkan negeri ini. Bagi saya tak ada yang lebih menjijikan daripada menarik simpati dengan mempertontonkan penderitaan orang lain.

Permasalahan di Papua juga menjadi sangat menarik ketika Front Pembela Islam, salah satu organ para militer berbasis teologi, memberikan pernyataan tentang tanah di timur Indonesia ini. Dalam salah satu jumpa pers para petinggi FPI menyatakan bahwa Papua harus tetap berada dibawah kedaulatan NKRI. Mereka siap berangkat jihad ke propinsi ini apabila terjadi usaha memisahkan diri. Di sini isu yang dibawa FPI bukan lagi perihal nasionalisme, namun juga perihal sentimen agama.

Sentimen agama di Indonesia boleh jadi merupakan bahan bakar paling efektif untuk mengendalikan massa. Hasyim Muzadi, salah satu intelektual NU dan MUI, pernah memberikan pernyataan kontroversial di salah satu TV swasta yang menyatakan bahwa di Papua sangat sulit membuat masjid. Oleh karena itu wajar apabila pembangunan gereja di tempat lain dipersulit. Saya kira disini ada upaya pemenuhan hak yang tidak adil antar umat beragama.

Dalam isu yang lebih privat Papua selalu direpresentasikan dengan daerah non muslim yang tak terdidik. Banyak kaum asli (indigenous people) yang dianggap barbar. Perhalan isu sektarian keagamaan ini menjadi meluas dan berkembang sebagai usaha untuk menurunkan organisasi paramiliter ke Papua. Metode semacam ini saya kira dilakukan sebagai usaha cuci tangan pihak militer dan aparat lokal yang terlalu banyak terlibat kekerasan. Sehingga lokus yang ada hendak ditarik menjadi pertentangan antar warga masyarakat.

Masalah lain yang perlu kita soroti adalah upaya pengambilan lahan untuk proyek kolosal Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Proyek ini memangsa jutaan hektar tanah adat yang dimiliki oleh warga lokal. Rosa Moiwend, salah satu aktivis Papua yang menentang proyek MIFEE pernah meramalkan bahaya proyek ini. Baginya identitas atau jati diri sebagai seorang Malind akan pelan-pelan punah seiring dengan punahnya unsur-unsur alam yang menjadi simbol setiap klan (Dema). Ia khawatir jika proyek pangan MIFEE ini hanya akan membawa kepunahan bagi orang lokal.

Apa yang terjadi di Jalur Gaza hari ini memang sangat menyedihkan. Sebuah tindakan keji pada kemanusiaan. Namun apa yang terjadi di Papua saya kira perlu mendapatkan perhatian yang sama. Lebih dari itu ini bukan lagi permasalahan agama. Bahwa mereka yang ada di Palestina juga sama menderita dengan masyarakat asli Papua. Tak ada yang lebih mengerikan daripada ditindas oleh orang asing di tanah air sendiri.

6 komentar:

  1. salam, kami ingin meminta izin untuk mempublikasi tulisan ini di http://metavana.tumblr.com/ k=jika anda tidak keberatan. terima kasih
    - komunal stensil, seni untuk penyadaran publik

    BalasHapus
  2. sudah dipublikasi di http://metavana.tumblr.com/. terima kasih mas arman

    BalasHapus
  3. kawan dhani saya meminta izin menshare dan mendiskusikan tulisannya di twitter saya @dirgot #dirgacaka
    adapun beberapa kalimatnya yg saya kutip, saya juga minta izin

    BalasHapus
  4. Nah!!! Tulisan macam ini yang perlu muncul di publik dan publik harus tau agar tidak ada kcenderungan untuk sok ikut2an prihatin padahal gak ngerti apa-apa. Salut Bro!

    BalasHapus
  5. ini yg pelu dikaji dan menjadi bahan permenungan bangsa ini

    BalasHapus