Pada suatu hari barangkali di
akhir musim gugur, pemikir Strukturalis Prancis Roland Barthes begitu terkesima
dengan penampakan foto adik Napoleon yang ia sebut sebagai momen magis “…melihat
langsung mata sang kaisar”. Seusai itu Barthes begitu terobsesi pada medium foto
yang seolah mampu menghentikan waktu. Hal inilah yang kelak membuat filsuf
metropolis ini berupaya keras untuk menjelaskan fotografi yang dianggapnya sama
sekali berbeda dengan film (cinema).
Camera Lucida boleh jadi tapal batas usaha barthes untuk menjelaskan
fenomena fotografi, yang mengejutkan, tak sempat ia bahas pada Mythology. Apa
pasal? Bagi Barthes fotografi adalah ‘… a
weightless transparent envelope’ Lantras ia membagi predikat fotografi
menjadi operator (pencipta foto), spectator (penonton), dan spectum (objek dalam foto).
Ada dimensi pemahaman yang
berbeda dari masing masing predikat ketika menikmati objek foto. Hal ini
membuat fotografi menjadi sebuah entitas yang sama uniknya dengan film dan
karya sastra. Barangkali hal inilah yang membuat Barthes, yang juga kritikus
sastra, menjadikan fotografi sebagai ranah penelitiannya. Salah satu yang
paling menarik bagaimana ia menawarkan perspektif multiplisitas pemaknaan atas
sebuah foto.
“Ketika aku memotret diriku
sendiri,” katanya “ada sebuah identitas yang hilang. Apakah ia yang ada dalam
foto itu adalah aku, atau aku yang sedang memandang fotoku sendiri adalah aku?”
pernyataan filosofis yang barangkali menarik untuk dicermati secara lebih
lanjut. Pada halaman 14 Camera Lucida
Barthes mengemukakan ‘Total-Image …Death
in person; others… turn me… into an
object…. classified in a file, ready for the subtlest of deceptions…’
Lantas apakah realitas dalam foto
itu? Mata kita melihat sebuah objek yang sama persis dengan realitas mata
telanjang. Yang membikin berbeda adalah dalam sebuah foto objek menjadi statis.
Menjadi sebuah dimensi lain yang seolah-olah tak pernah berubah. Barthes
sepaham dengan Sartre perihal posisi spectator dalam spectum. ‘…they
drift between the shores of perception, between sign and image, without ever
approaching either ’.
Realitas menjadi tak penting lagi.
Diktum seeing is believing menjadi
tak relevan kemudian karena apa yang kita lihat belum tentu benar dan apa yang
terpampang pada sebuah foto bukan realitas yang final. Menarik coba kita
kaitkan apa yang dipahami Barthes pada Camera Lucida dengan John Berger dan Ways of Seeing-nya.
Berger berpendapat apa pemahaman
kita atas realitas ‘melihat’ tergantung pada bagaimana pengetahuan kita atas
objek tersebut. Ia bisa jadi sebuah sebuah reproduksi pemahaman atas pengalaman
masa lalu dan bias lingkungan dimana kita lihat. Di awal Berger menjelaskan
bagaimana relasi antara kata-kata dan realitas yang kita lihat sehari-hari. Ia
lantas menawarkan sebuah pertanyaan eksistensialis “melihat dan pemahaman benda
hadir lebih dahulu daripada penamaan benda tersebut,”
Berger percaya bahwa “An image is a sight which has been recreated
or reproduced” dengan nada yang
lebih nyinyir ia melanjutkan “which has
been detached from the place and time in which it first made its appearance ,,”
sejalan dengan ini sebuah realitas mesti diretas sedemikian rupa sehingga ia
bisa benar-benar lepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya.
Pengaruh yang dikatakan Berger
ini sejalan dengan konsep Anxiety of
Influence yang dicetuskan Harold Bloom. Pemahaman kita dalam melihat objek
fotografi menjadi terbatas akan pengalaman dan pengetahuan kita. Sehingga tafsir
setiap individu menjadi unik dan terbatas pada individu tersebut. Dengan demikian
Berger seolah berkata tak pernah ada tafsir tunggal pada sebuah produk foto.
Ah tapi semua itu terlalu serius.
Fotografi seringkali hanya tentang mengabadikan perasaan atau sekedar menyimpan
kenangan. Begitu.
Ah tapi semua itu terlalu serius.. termasuk serius mengabadikan perasaan :)
BalasHapus