Kamis, 29 November 2012

Pada Sebuah Foto




Pada suatu hari barangkali di akhir musim gugur, pemikir Strukturalis Prancis Roland Barthes begitu terkesima dengan penampakan foto adik Napoleon yang ia sebut sebagai momen magis “…melihat langsung mata sang kaisar”. Seusai itu Barthes begitu terobsesi pada medium foto yang seolah mampu menghentikan waktu. Hal inilah yang kelak membuat filsuf metropolis ini berupaya keras untuk menjelaskan fotografi yang dianggapnya sama sekali berbeda dengan film (cinema).

Camera Lucida boleh jadi tapal batas usaha barthes untuk menjelaskan fenomena fotografi, yang mengejutkan, tak sempat ia bahas pada Mythology. Apa pasal? Bagi Barthes fotografi adalah ‘… a weightless transparent envelope’ Lantras ia membagi predikat fotografi menjadi operator (pencipta foto), spectator (penonton), dan spectum (objek dalam foto).



Ada dimensi pemahaman yang berbeda dari masing masing predikat ketika menikmati objek foto. Hal ini membuat fotografi menjadi sebuah entitas yang sama uniknya dengan film dan karya sastra. Barangkali hal inilah yang membuat Barthes, yang juga kritikus sastra, menjadikan fotografi sebagai ranah penelitiannya. Salah satu yang paling menarik bagaimana ia menawarkan perspektif multiplisitas pemaknaan atas sebuah foto.

“Ketika aku memotret diriku sendiri,” katanya “ada sebuah identitas yang hilang. Apakah ia yang ada dalam foto itu adalah aku, atau aku yang sedang memandang fotoku sendiri adalah aku?” pernyataan filosofis yang barangkali menarik untuk dicermati secara lebih lanjut.  Pada halaman 14 Camera Lucida Barthes mengemukakan ‘Total-Image …Death in person; others… turn me…  into an object…. classified in a file, ready for the subtlest of deceptions…

Lantas apakah realitas dalam foto itu? Mata kita melihat sebuah objek yang sama persis dengan realitas mata telanjang. Yang membikin berbeda adalah dalam sebuah foto objek menjadi statis. Menjadi sebuah dimensi lain yang seolah-olah tak pernah berubah. Barthes sepaham dengan Sartre perihal posisi spectator dalam spectum.  ‘…they drift between the shores of perception, between sign and image, without ever approaching either ’.

Realitas menjadi tak penting lagi. Diktum seeing is believing menjadi tak relevan kemudian karena apa yang kita lihat belum tentu benar dan apa yang terpampang pada sebuah foto bukan realitas yang final. Menarik coba kita kaitkan apa yang dipahami Barthes pada Camera Lucida dengan John Berger dan Ways of Seeing-nya.



Berger berpendapat apa pemahaman kita atas realitas ‘melihat’ tergantung pada bagaimana pengetahuan kita atas objek tersebut. Ia bisa jadi sebuah sebuah reproduksi pemahaman atas pengalaman masa lalu dan bias lingkungan dimana kita lihat. Di awal Berger menjelaskan bagaimana relasi antara kata-kata dan realitas yang kita lihat sehari-hari. Ia lantas menawarkan sebuah pertanyaan eksistensialis “melihat dan pemahaman benda hadir lebih dahulu daripada penamaan benda tersebut,”

Berger percaya bahwa “An image is a sight which has been recreated or reproduced”  dengan nada yang lebih nyinyir ia melanjutkan “which has been detached from the place and time in which it first made its appearance ,,” sejalan dengan ini sebuah realitas mesti diretas sedemikian rupa sehingga ia bisa benar-benar lepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya.



Pengaruh yang dikatakan Berger ini sejalan dengan konsep Anxiety of Influence yang dicetuskan Harold Bloom. Pemahaman kita dalam melihat objek fotografi menjadi terbatas akan pengalaman dan pengetahuan kita. Sehingga tafsir setiap individu menjadi unik dan terbatas pada individu tersebut. Dengan demikian Berger seolah berkata tak pernah ada tafsir tunggal pada sebuah produk foto.

Ah tapi semua itu terlalu serius. Fotografi seringkali hanya tentang mengabadikan perasaan atau sekedar menyimpan kenangan. Begitu.

1 komentar:

  1. Ah tapi semua itu terlalu serius.. termasuk serius mengabadikan perasaan :)

    BalasHapus