Jumat, 30 November 2012

Anak


Barangkali tak ada penulis yang begitu terobsesi dengan anak yatim selain Samuel Langhorne Clemens. Kita dibuat berkenalan dengan sosok Huckleberry Finn dan Tom Sawyer sebagai sebuah anti tesis bahwa menjadi yatim piatu melahirkan melankolia. Berbeda dengan banyak teks teologis yang menempatkan anak yatim piatu sebagai korban yang lena dan tak berdaya. Dengan penokohan yang luarbiasa kita bisa belajar perihal bagaimana kehidupan keras harus dijalani.

Mark Twain, begitu kebanyakan dari kita mengingat nama lain Samuel, juga berupaya melakukan dekonstruksi pada teks dewasa. Siapa yang patut disebut dewasa? Apakah ia melulu diukur dari umur? Atau ada upaya lain untuk melakukan pembebatan konteks kedewasaan? Upawa keras Twain bisa dilihat dengan kemampuan menulisnya yang luwes. Ia bicara perihal kebijakan dari mulut seorang anak-anak. Sehingga kita seringkali dipaksa terdiam atas sebuah kebenaran yang susah payah kita abaikan.

Dalam Huckleberry Finn misalnya, seorang anak (atau remaja?) bisa jadi lebih baik dari orang dewasa sekitarnya dalam konteks keberagaman ras. Si Nigger Jim, tokoh budak kulit hitam, dalam kisah ini melahirkan banyak aforisme dan fallacy terhadap pembenaran perbudakan pada masanya. Belum lagi persahabatan mereka berdua yang begitu syahdu sehingga membuat beberapa sarjana menganggap hal ini sebagai bentuk lain homoseksualitas.

Sementara dalam kisah Tom Sawyer, Mark Twain ingin bicara tentang bagaimana kenakalan anak-anak adalah bentuk kreativitas berpikir, keberanian bertindak dan pemberontakan terselubung. Jika ia menempatkan Huck sebagai anak yang pemberontak egalitarian maka Tom adalah representasi pemberontak yang agresif. Lebih dari itu kedua tokoh ini mengajarkan setiap anak yang membacanya untuk hidup sehidup-hidupnya dan menikmati masa kanak-kanak sebagai laku kreatif.

Anak-anak adalah sebuah kanvas. Bagi saya anak-anak tak punya beban masa lalu. Mereka selalu membayangkan masa depan sebagai sebuah kebebasan absolut. Sementara orang dewasa menganggap kedewasaan adalah penjara. Saya sendiri seringkali menginginkan untuk kembali menjadi anak-anak. Menjadi tak bertanggung jawab dan menikmati hidup. Anak-anak merupakan bentuk paling subtil dari kemerdekaan ekspresi.

Lantas apakah yatim piatu itu? Secara sederhana mereka adalah anak-anak yang telah ditinggalkan orang tua. Baik ayah maupun ibu. Namun dalam banyak hal terma ini meluas menjadi anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Mereka yang dipaksa asing dari relasi keluarga. Dalam banyak kisah kontenporer anak yatim adalah para pahlawan yang menunggu bangkit.

Sayangnya tidak semua kisah anak yatim menjadi kisah yang menyenangkan. Lebih dari itu menjadi anak-anak yang ditinggalkan tidak melulu menjadi kisah yang mendewasakan. Dalam sebuah sajak dari Walt Whitman ia bicara tentang kedewasaan dengan cara pandang yang lain. Walt bertanya “What do you think has become of the young and old men?” katanya dengan sebuah keragu-raguan.  “All goes onward an outward.... and nothing collapses  and to die is different from what any one supposed, and luckier

Sajak itu berjudul A Child said, What is a Grass?. Ada kekecewaan dan negativitas yang hendak ditawarkan oleh Walt. Barangkali dewasa bukanlah hasil. Ia adalah proses yang keras dan tangguh. Tak ada kehidupan yang mudah. Bahkan untuk menjadi hedonis dibutuhkan nyali besar menafikan nurani. Sementara orang dewasa harus berupaya keras menyingkirkan ego dan gengsi. Anak-anak, dalam hal ini menikmati hidup, adalah pemberani yang tak tanggung-tanggung.


Sementara dalam tataran teologis, beberapa agama menempatkan anak yatim sebagai prioritas pihak yang mesti disejahterakan. Lebih dari itu ganjaran kemuliaan pada setiap usaha memuliakan anak yatim akan diberikan lebih dari laku sosial yang lain. Dalam islam misalnya, Rasulullah bersabda “Aku dan penjaga anak yatim akan berada di dalam Jannah yang berdekatan seperti dekatnya jari tengah dan jari telunjuk.” Metafora jari tengah dan telunjuk adalah sebuah wujud lain dari laku salih keagamaan mesti sejajar dengan laku salih sosial.

Keyakinan Budha juga memperkenalkan Shravasti salah satu distrik di India, sebagai Taman Pelindung Anak Yatim dan para Pertapa. Di dalamnya dituturkan sang Budha pernah membantu MahaMogallanam, salah satu murid Budha, untuk menyelamatkan ke dua orangtuanya dari siksaan reinkarnasi hantu. Di sini posisi anak yang harusnya selalu dilindungi dan diayomi, berubah menjadi seorang pahlawan yang mesti memberikan keselamatan bagi orang tuanya.

Tentunya menjadi tidak adil jika saya menuliskan Mahamoggallana yang sudah dewasa itu sebagai anak-anak. Saya hanya berusaha memberikan perspektif bagaimana jika anak-anak menjadi mesiah? Penyelamat yang sebenarnya selama ini kita tunggu namun jarang kita pahami keberadaannya. Dalam islam anak-anak sholeh merupakan dambaan karena mampu menyelamatkan orang tua dari api neraka. Sementara dalam kepercayaan katolik anak adalah objek suci yang perlu diselamatkan melalui pembaptisan.

Menjadi menarik bagaimana anak-anak dalam banyak budaya diperlakukan. Betrand Russel, melalui sejarah Filsafat Barat, menceritakan bagaimana anak-anak cacat dalam mayarakat Sparta "diseleksi" sehingga yang tertinggal dan hidup hanyalah mereka yang baik secara fisik dan prima dalam pemikiran. Juga bagaimana dalam banyak kebudayaan peralihan antara anak-anak menjadi dewasa dirayakan sebagai sebuah ritus yang serius dan seringkali beresiko fatal.

Tapi apakah anak-anak itu? Anak-anak bagi saya adalah state of mind. Meminjam istilah yang digunakan seringai dalam salah satu lirik lagunya "generasi menolak tua". Anak-anak bukan lagi hanya berkisar pada kondisi fisik an sich. Ia adalah laku hidup. Menjadi anak-anak adalah keberanian tersendiri. Sementara menjadi dewasa begitu membosankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar