Sabtu, 24 November 2012

Mata Lelah

"Aku sudah bosan menangis." katamu suatu kali. Tapi benarkah demikian? Aku tahu kau berbohong. Menangis adalah satu-satunya jalan bagimu untuk melawan. Hidup yang teramat keji memaksamu untuk selalu diam. Semua usaha melawan seperti telah menabrak tembok berat. Amarah membuatmu lemas, kedengkian membuatmu terpuruk dan rasa benci hanya menambah kadar keresahanmu meningkat. Tak ada yang benar-benar berhasil membuatmu bangkit kecuali menangis.

Matamu adalah sepasang kebencian yang telah reda. Kita sama-sama paham harapan adalah musuh besar keinginan. Ia memberi ruh untuk kebencian. Setiap keinginan yang tak terwujud menjadikan manusia tengik. Kukira kamu tahu itu. Kukira aku juga mengalami hal ini. Bahwa ada beberapa keinginan, terlepas betapa hal itu sangat alami, tak mungkin bisa dipenuhi. Seperti juga kamu yang berharap ia kembali.

"Aku ingin kembali, tapi tak mungkin. Kamu mengharapkan hujan yang kering,"

Bisakah kita membuat metafora lain? Hujan, senja, malam, terang bulan, pantai, subuh sudah terlalu sering dijamah. dibuat berbagai idiom yang sebenarnya tak selalu tepat. Tak selalu benar dan tak selalu sesuai. "Ada senja di matamu, ada hujan di matamu, ada berak di matamu dan sebagainya," Tapi hanya itu yang terpikir. Hanya itu yang indah. Senja, hujan, badai selalu syahdu didengar. Seolah-olah hanya keadaan semacam demikian yang menggugah hati manusia.

"Matamu adalah sepasang badai yang telah usai."

Nah, boleh lah. Kau mulai berpikir seperti seorang penyair. Tapi penyair apkiran. Penyair pinggir kali yang bisa sangat sukses berkarir menjadi penulis kartu ucapan Valentine. "Brengsek. Kau tahu menjadi penyair tak mudah. Sudah berapa abad sejak manusia mengenal kata. Berapa milyar padu padan kata yang dibuat. Dan penyair harus membuat modifikasi baru," ya ya ya. Bahkan tuhan pun penyair. Pada mulanya adalah kata bukan?

Matamu masih redup. Masih seperti mendung yang ogah surut. Muram yang keras kepala. Monokromatik yang membuat pagan paling bebal sekalipun akan merasa melankolis. Bukankah tuhan menciptakan dunia dalam gelap? Lantas munculah cahaya. Di antaranya adalah warna murung. Tempat diantara kelam dan terang. "Kenapa mesti takut menangis? Takutlah ketika kau tak bisa lagi merasakan."

Gombal!

Tentu gombal. Lelaki adalah mahluk paling gombal setelah kuda. Itupun karena kuda tak bisa bicara. "Mengapa kuda? Mengapa bukan kupu-kupu yang cantik?" Kau tentu ingat sayangku. Dalam banyak kisah, kesatria berwajah tampan selalu datang dengan kuda putih bersurai lebat. Ia gagah, ia magis dan yang paling penting ia anggun. Misoginis yang paling tak pernah disadari oleh perempuan. Kuda adalah representasi keperkasaan namun mereka menyukainya. Kuda selalu gombal.

"Menangis adalah satu-satunya rumah dimana aku bisa nyaman tinggal. Suatu saat aku ingin mati seusai menangis panjang. Kelelahan." Mati adalah perkara mudah. Kau bisa saja menenggelamkan diri dalam larutan jus mangga. Atau menabrakan diri pada ratusan biri-biri yang menyeberang.Tapi untuk hidup? Untuk hidup kau harus memiliki nyali seorang penjudi! Kau akan bertaruh dalam hidup yang tak pasti. Kau akan menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tak satu setan pun tahu kemana akhirnya.

Matamu adalah lautan pasang. Ia menenggelamkan pelabuhan-pelabuhan kenangan yang gagal diselamatkan. "Kukira aku akan terus menunggu. Berharap semuanya baik-baik saja. Berharap bahwa hidup hanya perkara menanti lantas terjadi," katamu. Matamu kosong. Lelah menghadapi hidup. Kukira memang ada baiknya kau berhenti berkelahi dengan dirimu sendiri. Meyakinkan diri perihal harapan-harapan yang sebenarnya sudah tamat sebelum diperjuangkan. Tapi kau terlalu bebal meyakini tak ada yang tak mungkin.

"Biarkan aku tidur. Sebentar saja. Bangunkan aku jika kopi pekat pahitmu sudah tersedu," 

1 komentar: