Senin, 14 Januari 2013

Fæder

Shakespeare membuka adegan salah satu drama masyurnya, Hamlet, dengan sebuah duka. Kematian seorang raja dan berkabungnya sebuah kerajaan. Denmark pada abad kegelapan merupakan dataran dengan lanskap murung. Seorang pangeran pulang ke rumah hanya untuk menemui bahwa ayah, sang raja Hamlet, yang ia cintai telah berkalang tanah. Kematian barangkali merebut segala keceriaan, juga nalar, sehingga merubah pangeran yang lembut hati itu menjadi keras.

Sebenarnya bagaimana hubungan Hamlet dengan sang ayah? Apakah benar kematian yang membuatnya merubah diri? Ataukah ada yang lain? Saya tak pernah memiliki hubungan yang cukup romantis dengan sosok ayah untuk bisa memahami perasaan tokoh Hamlet. Terlalu banyak kepedihan juga fakta brengsek yang membuat saya tak lagi punya kedekatan emosional dengan ayah saya sendiri. We're both not quite a family, we're simply stranger with history.

Jadi ketika beberapa kawan bercerita mengenai betapa dekat ayah dan baiknya ayah mereka. Ada sedikit rasa iri dan asing yang meneruak di dada saya. Perasaan yang dulu pernah saya rasakan dan kini hilang sama sekali. Perasaan sebagai seorang anak dan relasinya kepada orang tua laki-laki. Relasi patron yang didasar semangat patriarki. Hubungan antara seorang lelaki dewasa dengan lelaki yang lebih muda. Perasaan macam ini barangkali adalah sebuah kemewahan bagi saya.

Ketika ayah sahabat saya meninggal perasaan duka atas kehilangan itu menjadi asing. Bagaimana ia kemudian menuturkan kisah hidup ayahnya dengan sangat santun, lugu, bernas dan komikal. Dalam satu kisah ia bercerita tentang satu fragmen hidup ayahnya di masa lalu. Sementara dikisah lain ia bercerita bagaimana hubungan mereka dijalin dengan sangat unik dan egalitarian. Bukan lagi hubungan antara mahluk superior dan inferior sebagaimana hubungan ayah dan anak lelakinya biasa terjadi.

Beberapa waktu lalu seorang kawan, ia perempuan manis aktivis baby cuddlers, juga kehilangan ayahnya. Saya tak benar-benar kenal. Pertemuan dengannya pun hanya sekali saja. Tapi bagamana cara ia mengingat dan bercerita tentang ayahnya, saya jadi iri. Barangkali Euripides, seorang aktor dan pakar tragedi Yunani, benar. To a father growing old nothing is dearer than a daughter. Anak perempuan adalah permata hati seorang ayah, yang kepada lelaki manapun ia akan beradu nyawa untuk mempertahankannya.

Kawan perempuan itu mengingatkan saya pada tokoh Portia dalam drama masyur lain Shakespeare, Merchant of Venice. Jika Hamlet menggambarkan sedikit cinta anak lelaki pada ayahnya, maka Merchant of Venice adalah usaha seorang anak gadis memenuhi harapan mendiang ayahnya. Portia, sebagaimana kawan saya itu adalah seorang gadis manis, pintar, berempati namun konservatif dalam beberapa hal. Atau dalam bahasa seorang kritikus teater dalam penggambarannya pada Portia,  a free spirit who abides rigidly by rules.

Lantas ketika sang ayah meninggal kawan perempuan saya itu begitu tegar, begitu kuat dan begitu tabah. Setidaknya itu yang bisa saya bayangkan dari perkataannya di jejaring sosial. Anggap saya naif, tapi mengingat begitu dekat hubungan mereka saya jadi berpikir. Bagaimana cara ia berdamai dengan kematian? Saya tak pernah bisa berdamai dengan kematian. Tidak juga dengan segala kehilangan yang lain. Barangkali manusia, seperti saya dan anda, memang tak pernah didesain untuk merelakan sesuatu hilang dan pergi begitu saja. Kita memiliki insting primata untuk selalu mengumpulkan, menyimpan tanpa benar-benar bisa merelakan sesuatu.

Pada kematian, bentuk  kehilangan yang paling purna, saya mengutuk segala kebersamaan yang tak bisa lagi ada. Apalagi ketika si kawan tadi menuturkan cerita tentang stasiun kereta, tentang ayahnya yang menjemput di antara keramaian. Atau ketika ia berdebat perihal makanan dan masakan. Atau bagaimana ia mengingat momen sederhana pertengkaran konyol kedua orang tuanya yang berujung damai. Bisakah kita melupakan hal ini? Fragmen kecil dari masa lalu yang membuat kita tersadar bahwa hidup adalah fana sementara kehilangan adalah nyata.

Barangkali hanya dengan berlaku demikian saya bisa benar-benar menjadi manusia yang utuh. Bukan seseorang yang munafik dan berpura-pura ikhlas merelakan. Kematian meninggalkan luka, kesedihan dan lubang besar menganga pada diri kita. Tapi bukan pada itu manusia menyerah kalah. Tapi pada kenangan-kenangan yang lahir dari kebersamaan di masa lalu. Manusia adalah mahluk kenangan yang seringkali gagal memahami masa lalu sebagai sebuah proses pendewasaan. Mereka hidup di sebuah masa yang telah terjadi dan menjadikannya sandaran kehidupan.

Kematian seorang ayah selalu membuat saya tersadar betapa rapuhnya ikatan keluarga itu. Keluarga tak lebih dari sebuah kebetulan-kebetulan yang terjadi. Kebetulan kau anak orang itu, kebetulan kau diberi nama olehnya dan kebetulan lantas kau menjalin hubungan bersamanya. Dalam satu sajak yang seringkali terucap dari Khalil Gibran; "Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life's longing for itself." katanya dalam satu sajak. Kemudian ia lanjutkan dengan penekanan yang lebih satir"You are the bows from which your children as living arrows are sent forth."

Tapi bagi saya tak ada sajak yang begitu dekat dengan kematian dan ayah dalam satu waktu lebih dari sajak Alen Ginsberg yang berjudul  Father Death Blues. Sajak yang ditulis Allen di atas pesawat terbang yang membawanya pulang ke pemakaman sang ayah, Louis Ginsberg di tulis pada 1976. Sajak ini dibuka dengan sebuah pernyataan sederhana yang menusuk "Hey Father Death, I'm flying home," yang ia lanjutkan dengan dua baris sajak lain yang menegaskan rasa kehilangan Allen dengan sangat cerdas, "Hey poor man, you're all alone / Hey old daddy, I know where I'm going,"

Bagi penggemar Allen Ginsberg kedekatannya dengan sang ayah tergambar jelas lewat Family Business: Selected Letters Between a Father and Son kumpulan surat yang dikirimkan antara anak dan ayah ini. Di dalamnya ada berbagai hal remeh yang dibicarakan, perihal pekerjaan, berbagi semangat, kebangkrutan, permasalahan pribadi sampai dengan makanan kesukaan. Dalam satu surat tertanggal 31 maret 1956 Louis meminta Allen untuk mengurangi minum, "Try not to get drunk," sebab, kata Louis, "one gets disabled and sometimes injured."

Intensitas surat menyurat mereka yang terjadi sejak 1944 sampai dengan 1976 tetap terjaga. Meski isi dari surat tersebut tak lagi sepanjang di awal mereka melakukan interaksi ini. Namun tahun-tahun menjelang kematian sang ayah Allen dan Louis semakin menyadari bahwa mereka adalah seorang parter kreatif yang tak bisa lepas. Pada Selasa 11 Januari 1972 Louis mengirimkan surat beserta sajak berjudul "A Woman Acted Queerly in a Bus," meski tahu Allen adalah penyair terkenal ia tak ragu meminta pendapat. Meski mengirimkan puisi pada Allen disebutnya sebagai tindakan "...sending coals to the proverbial Newcastel" Hal ini tak membuat Louis atau Allen jengah malah hal ini semakin memperkuat hubungan di antara mereka.

Kedekatan inilah yang membuat sajak Father Death Blues memiliki barisan sajak yang kuat dan terjalin begitu rapi. Pada frasa "O Children Deaths go breathe your breaths / Sobbing breasts'll ease your Deaths" Allen menggambarkan bagaimana kematian seringkali membuat kita tercekat seolah lupa bernapas. Sementara di saat yang sama tangisan meringankan kehilangan tadi. Lantas ia melanjutkan penutup paragraf syair ini dengan metafora paling brilian tentang air mata dan rasa sakit. Yang ditulis Allen dalam satu fragmen cantik "Pain is gone, tears take the rest,"

Dua kawan saya juga Allen Ginsberg memberikan saya sebuah imaji tentang relasi ayah dan anak yang tak pernah saya miliki. Sebuah hubungan yang dilandaskan dari cinta, keluarga bahagia dan juga ketulusan. Sebagai anak dari seorang ayah yang berpoligami dan misoginis hal ini tak pernah saya temui. Mungkin ini yang membuat saya merasa asing ketika kematian seorang ayah mampu merubah perilaku seseorang hingga ia menjadi bijak. Saya khawatir jika ayah saya meninggal, saya tak mampu menjadi sebijak mereka. Seperti barisan sajak penutup Father Death Blues, saya hanya bisa berharap itu hanya ketakutan bodoh semata.

Father Breath once more farewell
Birth you gave was no thing ill
My heart is still, as time will tell.

1 komentar:

  1. Justru yang aku khawatirkan adalah menjadi bijak karena sejak lama telah "membunuh" ayah.

    BalasHapus