Tidak ada yang pernah tahu siapa nama laki-laki itu.
Beberapa orang menyebutnya Babah Wang, yang lain memanggilnya Koh Wang,
sementara sebagian lagi memanggilnya Pak Wang. Hampir semua orang di Papuma[i]
menengenalnya. Pria itu adalah orang yang membangun masjid dan juga kelenteng
agung Dewi Kwan Im. Pria itu pula yang puluhan tahun lalu membabat alas,
melintasi tebing terjal dan menemukan jalan untuk membuka Papuma. Semua orang
di pantai itu tahu tapi mereka memilih diam. Koh Wang tak suka keramaian, ia
lebih suka menikmati ketan hambar dalam kesunyian.
Matahari tak pernah terlambat terbit di pantai pasir
putih yang cemerlang itu. Cahayanya menembus rentetan bebatuan karang terjal
yang melindungi gugus pantai dari pejal ombak. Ombak laut selatan yang
bergemuruh menghajar tebing-tebing yang melintang di sisi barat Papuma. Orang
selalu bilang itu tanda berkah, kelak jika ombak papuma menjinak sebuah bencana
akan terjadi. “Beh[ii] beneran
ini, dulu pas Merapi meletus, ombak di sini itu tenang sekali. Saya sampe tak
berani melaut,” kata seorang nelayan di Papuma.
Sebuah karang menjulang di tengah laut di lepas laut
Papuma. Seperti lingga yang tegak menantang simbol kejantanan, ia garang
dikikis pasang surut laut Papuma. “Manusia semestinya seperti itu. Berdiri
tegak mengarungi samudera hidup,” kata Koh Wang tiba-tiba. Aku tahu Koh Wang
tak suka bicara, tapi jika ia bicara ia hendak menyampaikan sesuatu yang
penting. Sebuah petuah yang tak menggurui, aku tak suka digurui, tapi mendengar
Koh Wang bicara bisa jadi sebuah kejadian yang sebulan sekali belum tentu
terjadi.
Matahari beranjak naik. Pasir-pasir putih yang
cemerlang itu memantulkan warna kemerahan. Pantai sudah sejak subuh tadi ramai
oleh manusia-manusia yang menunggu perahu datang. Membawa berbagai jenis ikan
seperti kerapu, tongkol, kuniran, tengiri, kakap dan lain sebagainya. Di antara
mereka ada perempuan-perempuan berkerudung seadanya, memakai gelang-gelang emas
tebal dengan wajah sayup menahan kantuk. “Itu pengambe’[iii] mereka pengepul ikan dari nelayan.
Sebagian curang, membeli dengan harga murah. Mirip dengan ijon yang membeli
padi sebelum masa panen. Yang lain amanah, biasanya petugas dari pelelangan
ikan,” ujar Koh Wang.
Wow. Dua kalimat dalam waktu 15 menit? Koh Wang
sedang suntuk? Pria yang selalu diam ini bicara lebih banyak dari jatah
makannya sehari. Sudahkah kubilang Koh Wang pelaku Mutih? Ia hanya makan sekali
sehari. Hanya ketan atau nasi putih. Pada hari-hari tertentu ia makan tumis
sayur dengan bawang putih. Tanpa garam. Aku kadang kagum bagaimana ia masih bisa
bertahan seharian. Ketika kutanyakan ia hanya mengalihkan senyum. “Kami sudah
biasa prihatin. Sejak dulu,” katanya suatu saat ketika kutanyakan.
Siapa kami? Belakangan aku tahu siapa yang dimaksud
Koh Wang dengan kami. Mereka adalah etnis Tionghoa. Paska 1965 kondisi politik
Indonesia memanas. Begitu juga Lumajang, kota dimana Koh Wang tinggal. Ia
cerita dahulu babahnya adalah seorang juragan tebu yang sukses. Setelah
kejadian Gestok seluruh harta keluarganya dirampas orang tak dikenal. Beruntung
nyawa mereka diselamatkan oleh seorang kyai di kaki gunung Semeru. “Saya
berhutang nyawa sama wak haji. Saat selamat, babah saya berjanji ingin balas
budi. Dia bilang kalau nanti sukses lagi minta dibikinkan masjid saja,” kata
Koh Wang.
Saya tahu rasanya menjadi kaum minoritas di
Indonesia. Seringkali menjadi berbeda berarti menjadi pusat perhatian. Menjadi
sebuah sasaran tembak untuk koreksi, seringkali saya harus mengalah dan tunduk
pada konsensus umum. Menyembunyikan identitas yang sudah mendarah daging sejak saya
dilahirkan.
"Apa kamu percaya tuhan Wesi?" kata Koh
Wang.
"Kenapa bertanya itu?"
"Penasaran. Kalau tak mau menjawab tak
apa,"
"Aku sudah tidak percaya lagi, tidak sejak
beberapa tahun terakir" jawabku mantap.
Koh Wang kembali terdiam. Memandang wajahku
lekat-lekat seolah mencari sesuatu yang disembunyikan.
"Kenapa tidak percaya?"
Kini giliranku memandang wajah Koh Wang lekat-lekat.
Mencari-cari sekerat tanda-tanda dari wajahnya yang teduh dengan berbagai
kerutan. Aku selalu kagum dengan segala kerutan di wajah orang-orang baya. Dibalik
setiap kerutan yang memahat wajah seseorang selalu ada cerita yang barangkali
tak berujung kebahagiaan. Tiap kerutan adalah sebuah penanda peristiwa,
barangkali juga sebagai luka. Tapi di wajah Koh Wang aku tak melihat apa-apa.
Kerutan itu seperti barisan gunung Argopuro yang melintang. Ia adalah keagungan
yang sunyi.
“Sepertinya kita semua percaya ada hal yang lebih
dari sekedar nalar dan perasaan. Kebanyakan dari kita menyebutnya Tuhan, Illah,
atau Kebenaran. Tapi tak pernah benar-benar ada tuhan buatku. Tuhan adalah
kemewahan yang terlalu mahal untuk bisa kupenuhi dengan segala rasa ingin
tahuku,” kataku panjang.
"Kamu terlalu kaku," katanya pelan tanpa
emosi.
"Maka biarlah demikian Koh," aku tak
hendak berdiskusi atau berdebat. Mendengar Koh Wang sedari tadi bicara sudah
sangat membuatku senang. Pria pendiam yang hidupnya seperti avonturir ini
sungguh terlalu sayang untuk dilewatkan dengan perdebatan panjang. “Koh suka
bangun pagi? Tadi dari Lumajang berangkat jam berapa?” kataku mengalihkan
pembicaraan.
Hari ini adalah tepat momen acara Petik Laut Larung
Sesaji yang biasa diadakan tiap bulan suro. Papuma menjadi salah satu dari tiga
pantai di Jember yang mengadakan upacara adat ini. Sejak kemarin berbagai
umbul-umbul dan panggung hiburan rakyat digelar. Semalam sejak pukul 9 sampai
dinihari tadi ada pagelaran wayang kulit. Aku menontonnya sendirian. Bagiku
unik saja, di Jember kota yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kebudayaan mataraman bisa muncul pagelaran Wayang Kulit
dengan gaya Yogyakarta.
Sementara panggung yang semalam digunakan wayang
kulit dibersihkan, beberapa orang mempersiapkan tiang pancang untuk acara Petik
Laut. Di tengah panggung sebuah miniatur kapal dengan ukuran satu setengah
meter berdiri. Di dalamnya ada kepala kerbau, berbagai macam sayuran,
buah-buahan lokal, nasi tumpeng kuning dengan berbagai lauk juga ditata rapi. Beberapa
jenis bunga seperti mawar di taburkan disekeliling kapal.
“Mereka percaya bahwa tuhan itu adil. Kita
menyebutnya dengan banyak nama, tapi sedikit sekali kita membalas berkah yang
diberi-Nya,” kata Koh Wang tiba-tiba. Ia lantas berdiri turun dari bukit
penanjakan, salah satu sudut Papuma yang memberikan kita spot pemandangan
paling luas. Hari semakin siang, beberapa saat lagi Petik Laut akan
dilangsungkan. Koh Wang selaku pengurus Kelenteng Dewi Kwan Im harus bersiap.
Aku mengikutinya pelan, rasa kantuk karena semalaman tak tidur membuatku
hati-hati. Bisa konyol jika terjatuh di bukit terjal ini.
Sepanjang perjalanan Koh Wang hanya diam saja. Ia
hanya membalas sapaan para nelayan Papuma dengan anggukan dan senyum. Beberapa
pedagang makanan di kawasan wana wisata itu menawarinya mampir, sekedar sarapan
atau ngopi-ngopi. Dengan menangkupkan tangan Koh Wang menolak semua tawaran itu.
Padahal jika mau ia bisa saja makan gratis. Toh hampir semua pedagang di sini
diberikan modal olehnya.
Di persimpangan jalan sebelum masuk kompleks
kelenteng Koh Wang bertemu dengan Budi Mulia. Nama aslinya Oey Beng Hwa,
pendiri sekolah Wushu legendaris di Jember yang saat PON tahun ini meraih emas
untuk Jatim. Hari ini Om Budi mau kasih unjuk gratis Barongsai untuk acara
Petik Laut. Sejak kemarin murid-murid Om Budi latihan bersama kelompok reog
Sastroatmojo pimpinan Cak Mat.
Cak Mat adalah salah satu pendatang dari Sumenep
yang tinggal di Wuluhan. Ia adalah orang dengan visi kerja keras yang luar
biasa. Barangkali di Jember hanya dia orang madura yang memiliki kelompok Reog
Ponorogo. Cak Mat dan Koh Wang adalah pasangan karib yang aneh, jika Koh Wang adalah
pendiam yang akut maka Cak Mat adalah manusia yang tak bisa diam. Ada saja yang
ia ceritakan. Mulai dari merpatinya yang baru saja menang tota’an[iv]
sampai dengan istrinya yang minta dapur baru.
“Loh Wesi kok uda dek[v]
sini. Piye sekripsimu? Kalo udah kelar main ke kantor om,” kata Om Budi.
Sial, malah bahas skripsi. Aku malas diceramahi Om
Budi yang disiplin itu soal bagaimana aku harus kuliah. Pelan-pelan aku mohon
diri dan pergi ke pojokan Papuma yang sepi. Sekilas tadi kulihat rombongan reog
Cak Mat sudah tiba. Kepala merak yang besar itu diturunkan dari truk besar
lantas disandarkan di salah satu pohon. Kesalahan besar. Hutan di pinggir
Papuma adalah habitat alami monyet-monyet dan biawak liar. Salah menaruh barang
monyet nakal tadi bisa merusak atau mencuri barang-barang bawaan pengunjung.
Benar saja. Begitu tiba, Cak Mat bersumpah serapah
melempari monyet yang menarik-narik bulu merak reog miliknya.
“Dirusak cak? Mbok dipindah saja. Ditaroh di samping
truk. Aman pasti,”
“Telat cong[vi], ini
sudah dicabuti. Untuk tidak banyak. Kamu darimana? Sama Koh Wang? Mana
orangnya. Ini ada titipan ketan dari istriku, saya suaminya malah gak dikasih
apa-apa. Ini pelanggaran betul cong,”
katanya menyerocos sambil memperlihatkan bungkusan plastik.
Aku terus saja berjalan melihat kerusakan kepala
merak, untungnya tak banyak yang diambil. Monyet-monyet hutan Papuma memang
nakal. Tapi itu hanya terjadi pada musim kemarau saja. Dimana saat hutan-hutan
mereka tak memiliki buah atau sedang kekeringan. Dalam hutan Papuma ini juga
terdapat berbagai macam burung-burung yang indah. Beberapa waktu lalu Piere,
seorang peneliti burung Prancis datang ke sini untuk melihat Elang Jawa. Ia
bilang hutan Papuma adalah salah satu dari sedikit lokasi dimana burung hebat
ini masih hidup secara liar.
Hutan di Papuma tak luas. Barangkali hanya sekitar
empat hektar saja. Tapi rimbun tanaman ini termasuk yang paling padat. Di
dalamnya ada biawak, beberapa jenis ular, puluhan jenis burung dan beberapa
jenis monyet. Mendengar cerita orang bahwa Koh Wang dahulu membabas alas
sendirian di sini untuk membangun Klenteng membuatku bergidik. Cak Mat yang
berperawakan besar dan kekar itu saja masih suka malas masuk hutan Papuma.
Angker katanya.
“Wesi. Oi Wesi Ayo, Petik Lautnya sudah mau
dimulai,” kata Cak Mat di kejauhan.
Baru saja kutinggalkan rupanya panggung lokasi
dimana sesaji Petik Laut ditaruh sudah banyak orang berkumpul. Ada seorang
kyai, seorang pemuka agama Persada dan jajaran Muspida berdiri mengitari sesaji
itu. Setelah sambutan, Mas Warso, pemuga Agama Persada mulai mendoakan sesaji
itu dengan tungku menyan. Agama Persada sendiri adalah aliran kepercayaan yang
ada di Ambulu. Agama ini merupakan salah satu dari cabang aliran kebathinan
Sapta Dharma yang berkembang di Jawa Tengah.
Mas Warso, seperti juga Koh Wang, bukan warga asli
Ambulu. Ia dan keluarganya merupakan keturunan dari warga pendatang yang datang
dari Purworejo. Jember sebagai daerah pertanian dulunya bukan sebuah kota yang
besar. Baru pada 1850 an Jember mulai berubah menjadi kota urban ketika George
Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan
memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa.
“Jember ini kotanya pendatang. Banyak yang jatuh
cinta lantas tinggal di sini. Saya salah satunya,” kata Mas Warso ketika kami
pertama kali bertemu. Meski pendatang Mas Warso sudah mulai mahir berbahasa
madura. Di Jember Jawa dan Madura adalah bahasa komunikasi dari kebanyakan
orang. Sehari-hari selain pemuka agama keyakinan Sanggar Candi Busana Persada,
Mas Warso bekerja sebagai guru dan petani sayur mayur. “Saya ini keturunan
petani mas. Kalo ndak garap lahan badan saya ini pegel-pegel,” katanya sambil
bercanda.
Barangkali hanya di Jember ini saja aliran keyakinan
atau agama minoritas diberikan kesempatan untuk bereksistensi. Terlebih pada
acara kebudayaan seperti Petik Laut ini mereka boleh ambil bagian untuk berdoa
meminta berkah sesuai keyakinannya. Tradisi ini setiap tahun menarik perhatian
banyak wisatawan. Piere yang dari Prancis itu dulu juga pernah mengaku takjub.
“Cuma di Indonesia saya bisa lihat perbedaan keyakinan bisa bersatu
berdampingan dalam sebuah tradisi,” katanya.
Setelah sesaji didoakan oleh Mas Warso dan kyai
tadi. Kelompok Barongsai Om Budi langsung tampil. Penonton yang sebagian besar
anak-anak itu dibuat takjub. Apalagi ketika barongsai tadi berduet dengan
kelompok reog milik Cak Mat. Gemuruh tepuk tangan langsung membahana membanjiri
Papuma. Penampilan itu merupakan bentuk akulturasi budaya dari para pendatang
yang mendiami Jember. Atraksi antara pemain wushu dan warok menghasilkan sebuah
interaksi budaya yang sublim.
Seorang anak kecil digendong di atas kepala merak.
Hal ini bukan hal yang mudah. Perlu latihan menahun dan tenaga yang kuat,
mengingat kepala reog praktis hanya ditahan oleh kekuatan gigi dan leher saja.
Salah-salah kepala bisa patah dan berakibat fatal. Setelah hampir setengah jam
atraksi tersebut. Pembawa acara mengatakan bahwa Petik Laut akan segera
dilakukan. Pelan-pelan sesaji diangkat oleh enam orang berbadan kekar dengan
pakaian jarik. Di depannya anak-anak kecul berpakaian kebaya berjalan
beriringian.
Tujuan akhir sesaji itu sebelum dilarung dilaut
adalah Kelenteng Dewi Kwan Im yang megah di sudut Papuma. Klenteng besar ini
konon diklaim orang sebagai kelenteng Dewi Kwan Im terbesar di Asia Tenggara.
Koh Wang sudah terlihat bersiap di depan altar pemujaan. Ia menunggu dengan
tenang ketika arak-arakan sesaji masuk ke dalam kompleks Kelenteng itu. Setelah
benar-benar masuk dan diletakkan di depan altar, Koh Wang lantas duduk bersujud
di depan altar. Semua penonton diam. Wangi dupa menyeruak menambah kudus
suasana.
Beberapa turis manca negara yang menonton turut
diam. Mereka larut dalam suasana mistik yang diberikan ketika tangan-tangan
kurus Koh Wang meraba-raba sesaji. Setelah usai, ia hanya mengangguk yang
dilanjutkan kembali dengan suara gamelan dan gebuk barongsai yang bertalu-talu.
Sesaji lantas dibawa ke pinggiran pasir putih Papuma. Miniatur kapal itu lantas
digotong ke tengah laut.
Laut biru nan jernih Papuma lantas menelan sesaji
dalam kapal kecil itu. Pelan-pelan keramaian memudar. Di tempat itu hanya ada
aku, Cak Mat dan Koh Wang. Kami duduk di pinggir pantai dalam kesunyian.
Menatap sesaji itu sampai habis dari pandangan. “Ini masak mau diam terus. Wang
ini ada ketan dari istriku,” kata Cak Mat memecahkan kesunyian. Koh Wang hanya
tersenyum seraya meraih bungkusan ketan itu.
Siang sudah beranjak habis, matahari tampak dihadang
barisan gunung dibelakang papuma. Rindang pepohonan di atas kepala kami semakin
membuat teduh. Cak Mat sedari tadi masih bercerita tentang ramainya tawaran
manggung di desa-desa sekitar Ambulu. Sementara Koh Wang makan ketan itu
pelan-pelan. Aku sendiri masih larut dalam pertanyaan. Bagaimana bisa pantai
sekecil ini bisa menerima begitu banyak perbedaan dan hidup selaras. Sementara matahari mulai tergelincir dan petang segera tiba
[i] Singkatan dari
Pantai Putih Malikan sebuah ceruk pantai berbentuk bulan sabit di kecamatan
Wuluhan Jember.
[ii] Sebuah gimmick
khas phendalungan. Semacam “Eh tau gak sih”
[iii] Secara
literer berarti penghadang.
[iv] Tradisi
melepas sekelompok merpati dari desa Ambulu untuk memeriahkan bulan Muharam.
[v] Gimmick khas
Jember sebagai kata ganti yang merujuk pada tempat. Seperti Dek mana, Dek atas
kasur dsb
[vi] Panggilan
untuk anak lelaki madura, singkatan dari kacong.
Untuk perempuan jebing atau bing.
suka dengan kisah dan penuturannya :)
BalasHapusinspiratif n menyentuh
BalasHapuseh ada cak mat di sini :D
BalasHapus