Jumat, 18 Januari 2013

Papuma


Tidak ada yang pernah tahu siapa nama laki-laki itu. Beberapa orang menyebutnya Babah Wang, yang lain memanggilnya Koh Wang, sementara sebagian lagi memanggilnya Pak Wang. Hampir semua orang di Papuma[i] menengenalnya. Pria itu adalah orang yang membangun masjid dan juga kelenteng agung Dewi Kwan Im. Pria itu pula yang puluhan tahun lalu membabat alas, melintasi tebing terjal dan menemukan jalan untuk membuka Papuma. Semua orang di pantai itu tahu tapi mereka memilih diam. Koh Wang tak suka keramaian, ia lebih suka menikmati ketan hambar dalam kesunyian.

Matahari tak pernah terlambat terbit di pantai pasir putih yang cemerlang itu. Cahayanya menembus rentetan bebatuan karang terjal yang melindungi gugus pantai dari pejal ombak. Ombak laut selatan yang bergemuruh menghajar tebing-tebing yang melintang di sisi barat Papuma. Orang selalu bilang itu tanda berkah, kelak jika ombak papuma menjinak sebuah bencana akan terjadi. “Beh[ii] beneran ini, dulu pas Merapi meletus, ombak di sini itu tenang sekali. Saya sampe tak berani melaut,” kata seorang nelayan di Papuma.

Sebuah karang menjulang di tengah laut di lepas laut Papuma. Seperti lingga yang tegak menantang simbol kejantanan, ia garang dikikis pasang surut laut Papuma. “Manusia semestinya seperti itu. Berdiri tegak mengarungi samudera hidup,” kata Koh Wang tiba-tiba. Aku tahu Koh Wang tak suka bicara, tapi jika ia bicara ia hendak menyampaikan sesuatu yang penting. Sebuah petuah yang tak menggurui, aku tak suka digurui, tapi mendengar Koh Wang bicara bisa jadi sebuah kejadian yang sebulan sekali belum tentu terjadi.

Matahari beranjak naik. Pasir-pasir putih yang cemerlang itu memantulkan warna kemerahan. Pantai sudah sejak subuh tadi ramai oleh manusia-manusia yang menunggu perahu datang. Membawa berbagai jenis ikan seperti kerapu, tongkol, kuniran, tengiri, kakap dan lain sebagainya. Di antara mereka ada perempuan-perempuan berkerudung seadanya, memakai gelang-gelang emas tebal dengan wajah sayup menahan kantuk. “Itu pengambe’[iii] mereka pengepul ikan dari nelayan. Sebagian curang, membeli dengan harga murah. Mirip dengan ijon yang membeli padi sebelum masa panen. Yang lain amanah, biasanya petugas dari pelelangan ikan,” ujar Koh Wang.

Wow. Dua kalimat dalam waktu 15 menit? Koh Wang sedang suntuk? Pria yang selalu diam ini bicara lebih banyak dari jatah makannya sehari. Sudahkah kubilang Koh Wang pelaku Mutih? Ia hanya makan sekali sehari. Hanya ketan atau nasi putih. Pada hari-hari tertentu ia makan tumis sayur dengan bawang putih. Tanpa garam. Aku kadang kagum bagaimana ia masih bisa bertahan seharian. Ketika kutanyakan ia hanya mengalihkan senyum. “Kami sudah biasa prihatin. Sejak dulu,” katanya suatu saat ketika kutanyakan.

Siapa kami? Belakangan aku tahu siapa yang dimaksud Koh Wang dengan kami. Mereka adalah etnis Tionghoa. Paska 1965 kondisi politik Indonesia memanas. Begitu juga Lumajang, kota dimana Koh Wang tinggal. Ia cerita dahulu babahnya adalah seorang juragan tebu yang sukses. Setelah kejadian Gestok seluruh harta keluarganya dirampas orang tak dikenal. Beruntung nyawa mereka diselamatkan oleh seorang kyai di kaki gunung Semeru. “Saya berhutang nyawa sama wak haji. Saat selamat, babah saya berjanji ingin balas budi. Dia bilang kalau nanti sukses lagi minta dibikinkan masjid saja,” kata Koh Wang.

Saya tahu rasanya menjadi kaum minoritas di Indonesia. Seringkali menjadi berbeda berarti menjadi pusat perhatian. Menjadi sebuah sasaran tembak untuk koreksi, seringkali saya harus mengalah dan tunduk pada konsensus umum. Menyembunyikan identitas yang sudah mendarah daging sejak saya dilahirkan.

"Apa kamu percaya tuhan Wesi?" kata Koh Wang.

"Kenapa bertanya itu?"

"Penasaran. Kalau tak mau menjawab tak apa,"  

"Aku sudah tidak percaya lagi, tidak sejak beberapa tahun terakir" jawabku mantap.

Koh Wang kembali terdiam. Memandang wajahku lekat-lekat seolah mencari sesuatu yang disembunyikan.
"Kenapa tidak percaya?"

Kini giliranku memandang wajah Koh Wang lekat-lekat. Mencari-cari sekerat tanda-tanda dari wajahnya yang teduh dengan berbagai kerutan. Aku selalu kagum dengan segala kerutan di wajah orang-orang baya. Dibalik setiap kerutan yang memahat wajah seseorang selalu ada cerita yang barangkali tak berujung kebahagiaan. Tiap kerutan adalah sebuah penanda peristiwa, barangkali juga sebagai luka. Tapi di wajah Koh Wang aku tak melihat apa-apa. Kerutan itu seperti barisan gunung Argopuro yang melintang. Ia adalah keagungan yang sunyi.

“Sepertinya kita semua percaya ada hal yang lebih dari sekedar nalar dan perasaan. Kebanyakan dari kita menyebutnya Tuhan, Illah, atau Kebenaran. Tapi tak pernah benar-benar ada tuhan buatku. Tuhan adalah kemewahan yang terlalu mahal untuk bisa kupenuhi dengan segala rasa ingin tahuku,” kataku panjang.

"Kamu terlalu kaku," katanya pelan tanpa emosi.

"Maka biarlah demikian Koh," aku tak hendak berdiskusi atau berdebat. Mendengar Koh Wang sedari tadi bicara sudah sangat membuatku senang. Pria pendiam yang hidupnya seperti avonturir ini sungguh terlalu sayang untuk dilewatkan dengan perdebatan panjang. “Koh suka bangun pagi? Tadi dari Lumajang berangkat jam berapa?” kataku mengalihkan pembicaraan.

Hari ini adalah tepat momen acara Petik Laut Larung Sesaji yang biasa diadakan tiap bulan suro. Papuma menjadi salah satu dari tiga pantai di Jember yang mengadakan upacara adat ini. Sejak kemarin berbagai umbul-umbul dan panggung hiburan rakyat digelar. Semalam sejak pukul 9 sampai dinihari tadi ada pagelaran wayang kulit. Aku menontonnya sendirian. Bagiku unik saja, di Jember kota yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kebudayaan mataraman bisa muncul pagelaran Wayang Kulit dengan gaya Yogyakarta.

Sementara panggung yang semalam digunakan wayang kulit dibersihkan, beberapa orang mempersiapkan tiang pancang untuk acara Petik Laut. Di tengah panggung sebuah miniatur kapal dengan ukuran satu setengah meter berdiri. Di dalamnya ada kepala kerbau, berbagai macam sayuran, buah-buahan lokal, nasi tumpeng kuning dengan berbagai lauk juga ditata rapi. Beberapa jenis bunga seperti mawar di taburkan disekeliling kapal.

“Mereka percaya bahwa tuhan itu adil. Kita menyebutnya dengan banyak nama, tapi sedikit sekali kita membalas berkah yang diberi-Nya,” kata Koh Wang tiba-tiba. Ia lantas berdiri turun dari bukit penanjakan, salah satu sudut Papuma yang memberikan kita spot pemandangan paling luas. Hari semakin siang, beberapa saat lagi Petik Laut akan dilangsungkan. Koh Wang selaku pengurus Kelenteng Dewi Kwan Im harus bersiap. Aku mengikutinya pelan, rasa kantuk karena semalaman tak tidur membuatku hati-hati. Bisa konyol jika terjatuh di bukit terjal ini.

Sepanjang perjalanan Koh Wang hanya diam saja. Ia hanya membalas sapaan para nelayan Papuma dengan anggukan dan senyum. Beberapa pedagang makanan di kawasan wana wisata itu menawarinya mampir, sekedar sarapan atau ngopi-ngopi. Dengan menangkupkan tangan Koh Wang menolak semua tawaran itu. Padahal jika mau ia bisa saja makan gratis. Toh hampir semua pedagang di sini diberikan modal olehnya.

Di persimpangan jalan sebelum masuk kompleks kelenteng Koh Wang bertemu dengan Budi Mulia. Nama aslinya Oey Beng Hwa, pendiri sekolah Wushu legendaris di Jember yang saat PON tahun ini meraih emas untuk Jatim. Hari ini Om Budi mau kasih unjuk gratis Barongsai untuk acara Petik Laut. Sejak kemarin murid-murid Om Budi latihan bersama kelompok reog Sastroatmojo pimpinan Cak Mat.

Cak Mat adalah salah satu pendatang dari Sumenep yang tinggal di Wuluhan. Ia adalah orang dengan visi kerja keras yang luar biasa. Barangkali di Jember hanya dia orang madura yang memiliki kelompok Reog Ponorogo. Cak Mat dan Koh Wang adalah pasangan karib yang aneh, jika Koh Wang adalah pendiam yang akut maka Cak Mat adalah manusia yang tak bisa diam. Ada saja yang ia ceritakan. Mulai dari merpatinya yang baru saja menang tota’an[iv] sampai dengan istrinya yang minta dapur baru.

“Loh Wesi kok uda dek[v] sini. Piye sekripsimu? Kalo udah kelar main ke kantor om,” kata Om Budi.

Sial, malah bahas skripsi. Aku malas diceramahi Om Budi yang disiplin itu soal bagaimana aku harus kuliah. Pelan-pelan aku mohon diri dan pergi ke pojokan Papuma yang sepi. Sekilas tadi kulihat rombongan reog Cak Mat sudah tiba. Kepala merak yang besar itu diturunkan dari truk besar lantas disandarkan di salah satu pohon. Kesalahan besar. Hutan di pinggir Papuma adalah habitat alami monyet-monyet dan biawak liar. Salah menaruh barang monyet nakal tadi bisa merusak atau mencuri barang-barang bawaan pengunjung.

Benar saja. Begitu tiba, Cak Mat bersumpah serapah melempari monyet yang menarik-narik bulu merak reog miliknya.

“Dirusak cak? Mbok dipindah saja. Ditaroh di samping truk. Aman pasti,”

“Telat cong[vi], ini sudah dicabuti. Untuk tidak banyak. Kamu darimana? Sama Koh Wang? Mana orangnya. Ini ada titipan ketan dari istriku, saya suaminya malah gak dikasih apa-apa. Ini pelanggaran betul cong,” katanya menyerocos sambil memperlihatkan bungkusan plastik.

Aku terus saja berjalan melihat kerusakan kepala merak, untungnya tak banyak yang diambil. Monyet-monyet hutan Papuma memang nakal. Tapi itu hanya terjadi pada musim kemarau saja. Dimana saat hutan-hutan mereka tak memiliki buah atau sedang kekeringan. Dalam hutan Papuma ini juga terdapat berbagai macam burung-burung yang indah. Beberapa waktu lalu Piere, seorang peneliti burung Prancis datang ke sini untuk melihat Elang Jawa. Ia bilang hutan Papuma adalah salah satu dari sedikit lokasi dimana burung hebat ini masih hidup secara liar.

Hutan di Papuma tak luas. Barangkali hanya sekitar empat hektar saja. Tapi rimbun tanaman ini termasuk yang paling padat. Di dalamnya ada biawak, beberapa jenis ular, puluhan jenis burung dan beberapa jenis monyet. Mendengar cerita orang bahwa Koh Wang dahulu membabas alas sendirian di sini untuk membangun Klenteng membuatku bergidik. Cak Mat yang berperawakan besar dan kekar itu saja masih suka malas masuk hutan Papuma. Angker katanya.

“Wesi. Oi Wesi Ayo, Petik Lautnya sudah mau dimulai,” kata Cak Mat di kejauhan.

Baru saja kutinggalkan rupanya panggung lokasi dimana sesaji Petik Laut ditaruh sudah banyak orang berkumpul. Ada seorang kyai, seorang pemuka agama Persada dan jajaran Muspida berdiri mengitari sesaji itu. Setelah sambutan, Mas Warso, pemuga Agama Persada mulai mendoakan sesaji itu dengan tungku menyan. Agama Persada sendiri adalah aliran kepercayaan yang ada di Ambulu. Agama ini merupakan salah satu dari cabang aliran kebathinan Sapta Dharma yang berkembang di Jawa Tengah.

Mas Warso, seperti juga Koh Wang, bukan warga asli Ambulu. Ia dan keluarganya merupakan keturunan dari warga pendatang yang datang dari Purworejo. Jember sebagai daerah pertanian dulunya bukan sebuah kota yang besar. Baru pada 1850 an Jember mulai berubah menjadi kota urban ketika George Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa.

“Jember ini kotanya pendatang. Banyak yang jatuh cinta lantas tinggal di sini. Saya salah satunya,” kata Mas Warso ketika kami pertama kali bertemu. Meski pendatang Mas Warso sudah mulai mahir berbahasa madura. Di Jember Jawa dan Madura adalah bahasa komunikasi dari kebanyakan orang. Sehari-hari selain pemuka agama keyakinan Sanggar Candi Busana Persada, Mas Warso bekerja sebagai guru dan petani sayur mayur. “Saya ini keturunan petani mas. Kalo ndak garap lahan badan saya ini pegel-pegel,” katanya sambil bercanda.

Barangkali hanya di Jember ini saja aliran keyakinan atau agama minoritas diberikan kesempatan untuk bereksistensi. Terlebih pada acara kebudayaan seperti Petik Laut ini mereka boleh ambil bagian untuk berdoa meminta berkah sesuai keyakinannya. Tradisi ini setiap tahun menarik perhatian banyak wisatawan. Piere yang dari Prancis itu dulu juga pernah mengaku takjub. “Cuma di Indonesia saya bisa lihat perbedaan keyakinan bisa bersatu berdampingan dalam sebuah tradisi,” katanya.

Setelah sesaji didoakan oleh Mas Warso dan kyai tadi. Kelompok Barongsai Om Budi langsung tampil. Penonton yang sebagian besar anak-anak itu dibuat takjub. Apalagi ketika barongsai tadi berduet dengan kelompok reog milik Cak Mat. Gemuruh tepuk tangan langsung membahana membanjiri Papuma. Penampilan itu merupakan bentuk akulturasi budaya dari para pendatang yang mendiami Jember. Atraksi antara pemain wushu dan warok menghasilkan sebuah interaksi budaya yang sublim.

Seorang anak kecil digendong di atas kepala merak. Hal ini bukan hal yang mudah. Perlu latihan menahun dan tenaga yang kuat, mengingat kepala reog praktis hanya ditahan oleh kekuatan gigi dan leher saja. Salah-salah kepala bisa patah dan berakibat fatal. Setelah hampir setengah jam atraksi tersebut. Pembawa acara mengatakan bahwa Petik Laut akan segera dilakukan. Pelan-pelan sesaji diangkat oleh enam orang berbadan kekar dengan pakaian jarik. Di depannya anak-anak kecul berpakaian kebaya berjalan beriringian.

Tujuan akhir sesaji itu sebelum dilarung dilaut adalah Kelenteng Dewi Kwan Im yang megah di sudut Papuma. Klenteng besar ini konon diklaim orang sebagai kelenteng Dewi Kwan Im terbesar di Asia Tenggara. Koh Wang sudah terlihat bersiap di depan altar pemujaan. Ia menunggu dengan tenang ketika arak-arakan sesaji masuk ke dalam kompleks Kelenteng itu. Setelah benar-benar masuk dan diletakkan di depan altar, Koh Wang lantas duduk bersujud di depan altar. Semua penonton diam. Wangi dupa menyeruak menambah kudus suasana.

Beberapa turis manca negara yang menonton turut diam. Mereka larut dalam suasana mistik yang diberikan ketika tangan-tangan kurus Koh Wang meraba-raba sesaji. Setelah usai, ia hanya mengangguk yang dilanjutkan kembali dengan suara gamelan dan gebuk barongsai yang bertalu-talu. Sesaji lantas dibawa ke pinggiran pasir putih Papuma. Miniatur kapal itu lantas digotong ke tengah laut.

Laut biru nan jernih Papuma lantas menelan sesaji dalam kapal kecil itu. Pelan-pelan keramaian memudar. Di tempat itu hanya ada aku, Cak Mat dan Koh Wang. Kami duduk di pinggir pantai dalam kesunyian. Menatap sesaji itu sampai habis dari pandangan. “Ini masak mau diam terus. Wang ini ada ketan dari istriku,” kata Cak Mat memecahkan kesunyian. Koh Wang hanya tersenyum seraya meraih bungkusan ketan itu.

Siang sudah beranjak habis, matahari tampak dihadang barisan gunung dibelakang papuma. Rindang pepohonan di atas kepala kami semakin membuat teduh. Cak Mat sedari tadi masih bercerita tentang ramainya tawaran manggung di desa-desa sekitar Ambulu. Sementara Koh Wang makan ketan itu pelan-pelan. Aku sendiri masih larut dalam pertanyaan. Bagaimana bisa pantai sekecil ini bisa menerima begitu banyak perbedaan dan hidup selaras. Sementara matahari mulai tergelincir dan petang segera tiba






[i] Singkatan dari Pantai Putih Malikan sebuah ceruk pantai berbentuk bulan sabit di kecamatan Wuluhan Jember.
[ii] Sebuah gimmick khas phendalungan. Semacam “Eh tau gak sih”
[iii] Secara literer berarti penghadang.
[iv] Tradisi melepas sekelompok merpati dari desa Ambulu untuk memeriahkan bulan Muharam.
[v] Gimmick khas Jember sebagai kata ganti yang merujuk pada tempat. Seperti Dek mana, Dek atas kasur dsb
[vi] Panggilan untuk anak lelaki madura, singkatan dari kacong. Untuk perempuan jebing atau bing. 

3 komentar: