Selasa, 10 Mei 2011

Catatan perihal Peti Mati Kekasihku


~ Adakah kematian yang tak perih?

Pernahkah anda berada di sebuah titik terendah kehidupan sehingga tak hendak lagi bangkit? Seolah-olah seluruh dunia berjibaku menjegal anda, memaksa anda untuk terus terpuruk. Segala cahaya seolah hilang. Dan pada satu sudut ruangan tergelap, anda mengharapkan sebuah akhir yang tak lagi perih.

Menarasikan kematian adalah usaha untuk menjelaskan rasa itu. Bukan kematian benar menusuk kalbu ujar Chairil Anwar dalam sajak Nisan. Ia tak hendak menceritakan kematian, tetapi tentang duka maha tuan tak bertahta. Mengenai rasa kehilangan yang terlanjur luka, perih dan merasuk ke dalam urat nadir.

Peti Mati Kekasihku Monolog Karya Halim Bahris

Buat saya yang awam sastra, sajak Nisan milik Chairil Anwar, menggambarkan kehilangan atas kematian dengan sangat sempurna. Tak ada sajak yang dengan lengkap memotret perasaan seseorang yang di paksa menghadapi kematian. Saya pun demikian, saya memang tak asing dengan kematian. Tetapi rasa kehilangan akan kematian itu yang membuat saya harus belajar sangat pahit saat kakak saya meninggal.

Baru kemudian saya bisa menemukan tandingan sajak Chairil pada salah satu Caping milik Goenawan Moehamad (GM) yang berjudul Indonesia. Di tengah perkabungan, seluruh keluarga kami ketakutan dan menangis. Hanya ibu yang teguh: seperti tiang rumah yang ajaib. GM seolah merekonstruksi ulang prosesi pemakaman kakak saya. Disitu saya dipaksa menghadapi sebuah realitas, Kematian yang sunyi, seperih apapun, harus dihadapi.

Saya kira itulah yang coba di gambarkan oleh kawan saya Halim Bahriz, dalam sebuah lakon monolog berjudul ‘Peti mati kekasihku” yang dipentaskan pada hari sabtu (26/3) kemarin. Dalam banyak hal, saya pikir, Halim sukses. Ia mampu merepresentasikan rasa kehilangan, ketakutan, getir rasa dan kebingungan akan kematian dengan apik. Tetapi bukan tanpa cela, bukankah tak ada manusia (apalagi karya manusia) yang sempurna?

Karya yang dibuat sebagai pentuk penghargaan Halim terhadap Zaki, yang juga kawan saya, merupakan karya yang patut mendapatkan apresiasi. Setidaknya ada beberapa kritik dan pujian yang saya catat dalam kacamata awam saya terhadap seni monolog dan teater. Anda bisa membaca naskahnya di sini.

Fragmen Favorit saya dalam Petimati Kekaihku

Pertama-tama adalah penempatan dan warna lampu yang saya kira ada beberapa kefatalan. Kombinasi warna merah-hijau yang saling melawan atau tidak padu seharusnya di hindari. Sebagai orang yang sudah paham dengan lukisan, Halim selaku sutradara harusnya sudah paham akan teori ini dan Arik juga selaku penata lampu kawakan dari teater tiang rupanya lalai dengan kondisi ini.

Pada beberapa fragmen adegan, saat si kekasih berpindah dari satu sudut peti mati ke arah bangku, perpindahan warna merah dan hijau itu sungguh membuat mata saya tidak nyaman. Seperti dipaksa memandang ‘medan perang’ ke arah ‘padang rumput’. Saya pribadi lebih suka apabila, kedua sudut itu diberi keseluruhan warna merah, atau hijau sama sekali. Tetapi ini sekedar catatan saja.

Catatan yang kedua adalah pada gesture dari pelaku monolog yang dilakukan oleh Koplak dari UKM Dolanan. Awalnya saya begitu terkesima dengan mimik dan akting Koplak pada intro monolog ini. Saya seolah memandang cermin, saat kematian kakak saya, apa yang dilakukan Koplak juga saya lakukan. Duduk meringis menahan tangis yang tak keluar. Ada luka yang terlampau perih disitu.

Memang ada beberapa bagian dari adegan yang menggambarkan kemarahan, tetapi kemarahan yang saya tahu dari kematian tak seperti tu. Kemarahan yang di lakukan oleh Koplak adalah kemarahan yang eksplosif dan binal. Sedang kematian dari orang-orang yang kehilangan adalah ratapan dan lemah lunglai.Selebihnya Koplak sangat baik memerankan tokoh itu.

Monolog yang dibangun Koplak suaranya terdengar jelas, ekspresif dan menjiwai. Sedikit tentang dialog, ada beberapa bagian, terutama saat terakhir pembacaan puisi oleh sang kekasih, Koplak kecolongan momen untuk beraksi. Seperti saat pembacaan puisi yang kemudian disambut dengan gerakan menyobek kertas-kertas puisi dan teriakan penuh amarah. Momen itu terlewat karena setelah lagu dan puisi berakhir si Koplak baru melakukan improvisasi tersebut.

Koplak dan salah satu bentuk Improvisasinya

Monologis harus berdialog dulu dengan dirinya sendiri, kemudian berdialog dengan penonton. Kalau mereka tidak memiliki kemampuan itu, dia gagal kata Radhar Panca Dahana. Saya pikir Koplak sedikit demi sedikit bisa memberikan ruang itu pada para penonton.

Catatan ketiga yang terakhir dan paling fatal menurut saya adalah pengisi suara pada puisi kekasih dalam monolog ini. Welud, saya nilai terlalu cair dalam membaca puisi milik Zaki. Buat saya, Welud harusnya memahami dahulu latar Zaki sebagai penulis puisi itu, dan bagaimana puisi itu bisa tercipta. Sehingga bisa terjadi sinergis antara suara dan penekanan karakter kata dalam puisi Zaki.

Selain kurang pahamnya Welud dengan puisi Zaki, Halim selaku Sutradara tak memberikan Welud ruang untuk mengapresiasi puisi Zaki secara personal. Yang terjadi kemudian adalah pembacaaan naskah puisi, bukan pembacaan puisi. Sangat datar dan dibeberapa bagian malah absurd. Seingat saya Halim menganti kata Puisiku menjadi Aku, beberapa logika kontesktual jadi tak masuk. Khususnya kampungmu kampungku sama saja tak butuh aku? Nah lo.

Koplak, aktor dalam Peti Mati Kekasihku

Sisanya saya hendak mengutip Bertolt Brecht, “Don't be afraid of death so much as an inadequate life.” Meski kematian perih, dalam lakon pun demikian, tak baik bagi mereka yang hidup terlalu lama merayakan kematian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar