Sabtu, 07 Mei 2011

Tertinggal dan Terbuang

foto oleh Heru Putranto
Kondisi Sarkofagus di situs Sarkofag Dusun Klanceng

Suasana dusun Klanceng pada Sabtu pagi itu sepi. Awan mendung yang berarak di langit semakin menambah muram suasana. Wahyudi kemudian termenung, sesaatt kemudian ia bercerita mengenai masa lalunya sebagai Juper. “Dulu desa ini sempat mencekam, sering terjadi pencurian barang purbakala,” katanya.


Sudah sejak 1988 Wahyudi menjadi Juper di kawasan Arjasa dan selama itulah ia berjibaku melawan pencurian terhadap benda-benda purbakala yang banyak tersebar di kawasan tersebut. “Sempat ramai itu tahun 89 dan 2000an, sampai harus jaga tiap malam,” kata Wahyudi.


Ia memang tak sedang membual berdasarkan data dari polsek Arjasa saja, ada sekitar 16 batu kenong yang diamankan. Ini semua merupakan barang bukti yang disita pada satu periode (80an) pencurian saja. Sedang sisanya yang dari periode pencurian tahun 2000an disimpan di halaman kantor kepala desa Kamal.


Wahyudi merasa resah pada awal-awal ia menjadi Juper. Karena kebanyakan dari para pencurinya adalah warga dari desa Kamal. Beberapa ia kenal betul sebagai tetangga. “Yang nyuri orang sini, tapi disuruh sama orang-orang luar, “ kata pria ini sambil menguap. Namun tak semua pencurian dapat ia gagalkan. Sebagian besar dapat lolos ke luar karena ia mencurigai adanya keterlibatan oknum aparat desa.


Sebagai bagian tanggung jawab karena gagal melakukan pengamanan. Wahyudi kemudian melakukan investigasi untuk melacak dimana batu-batu yang tercuri tersebut. Ia menemukan batu tersebut tersebar di daerah Bondowoso, Situbondo bahkan sampai Bali. “Kata pak Didik (koordinator BP3 Jember) malah ada yang sampai keluar negeri, balai lelang kristi apa gitu namanya,” katanya polos.


Karena luasnya area yang harus dijaga, Wahyudi tak sendiri menjaga situs-situs di desa Kamal kecamatan Arjasa. “Selain saya ada yang lebih tua, namanya pak Darman sama anaknya Yudi juga dulu paling sering ronda pas lagi rame pencurian,” ungkapnya. Mereka bertiga saling bahu membahu menjaga keamanan situs purba di desa Kamal.


Sementara itu Sudarman Abdurahin, Juper situs Duplang, sedang menyapu halaman situs Duplang yang saat itu sedang penuh dengan reruntuhan daun. Di salah satu dolmen tampak bunga-bunga serupa sesaji yang diberikan oleh para pengunjung situs. “Itu bukan sesaji, hanya ‘bawaan’ saja dari pengunjung,” katanya menjelaskan.


foto oleh Heru Putranto
Sudarman dan menantunya Firdaus, garda terakhir perlindungan situs prasejarah Kamal Arjasa

Hampir seluruh hidup Darman dibaktikan untuk menjaga kelestairan situs prasejarah di desa Kamal. Tak jarang ia melakukan sendiri penggalian dan perawatan situs-situs yang dianggap rawan pencurian. “Ada banyak yang saya kuburkan, daripada ngenakan maling lebih aman di dalam tanah,” katanya menjelaskan.


Menurut Darman ada sekitar 3600 buah peninggalan sejarah yang tersebar di empat dusun di desa Kamal. Tetapi dalam kurun waktu 1985-2001 saat marak pencurian terjadi angka itu tak bisa di benarkan lagi. “Saya sekarang tak tahu ada berapa, mungkin tinggal setengahnya saja,” kata Darman seraya beristirahat.


Keterangan Darman dibenarkan oleh Aiptu Barno, Babin polsek Arjasa, yang telah bertugas sejak 1981. Menurutnya ramai pencurian itu terjadi saat banyak art shop dari bali yang mencari benda purbakala untuk dijadikan barang seni. Sehingga pengepul barang-barang purba dari Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi bermunculan. “Orang sini hanya dimanfaatkan, belinya ke penggali murah tapi kalau sampai ke penjual bisa jutaan,” kata Aiptu Barno.


Ia menjelaskan bahwa pada masa itu juga masyarakat acuh dengan keberadaan benda-benda purbakala. “Kita saat itu kurang paham dengan pentingnya benda (batu purbakala) itu, tetapi setelah dijelaskan kepolisian dan BP3 turut menjaga,” katanya.


Hal yang sama juga disampaikan oleh Didik Purbandriyo, koordinator BP3 Jember. Pencurian yang ada di desa Kamal memang sudah lama terjadi, namun yang membuatnya miris adalah fakta di situs lain masih terjadi pencurian. “Tenaga Juper kita hanya 18 orang, sedang situs yang ada puluhan mana bisa?” kata Didik perlahan.


Dari data BP3 saja ada 366 benda purbakala yang diamankan dari pencurian. Selebihnya terkubur dan dianggap hilang. Situs-situs yang dianggap hilang berkisar di daerah Balung karena memang sangat minim orang. “Kadang disana kalau malam seperti pasar, penggali liar masang lampu terang di tengah ladang untuk nyuri batu,” kata Didik.


Meski hilang tak menjadikan Didik diam saja, sesekali ia mengerahkan tenaga dan kenalan untuk melacak keberadaan batu itu. Sama seperti Wahyudi, Juper Situs Klanceng, Didik melakukan investigasi lebih jauh ke pulau Bali. Di sana ia menemukan banyak benda-benda purbakala Jember yang dijual di beberapa Art Shop.


Hal ini kemudian mendorongnya untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian Bali. Dan hal ini lumayan sukses meredam laju pencurian batu-batu prasejarah asal Jember. “Di Polres Bali ada sekitar 60 batu kenong yang diamankan, beberapa batu kenong kembar yang jika dijual harganya bisa sampai 15 juta,” kata Didik.


Foto oleh Heru Putranto
Batu Kenong hasil pencurian yang disita dan disimpan di Kantor Kepala desa Kamal Arjasa


Tak hanya itu ada beberapa benda purbakala di situs Krajan dan Kreongan berupa Arca Polinesia yang ditaksir berharga 500 juta. Jika kemudian arca ini hilang tentu merupakan aib yang sangat besar bagi kota Jember. “Dolmen yang di situs Duplang itu ditawar 1.5 M oleh kolektor asal Bali, ada juga orang Belanda yang nawar segitu, jadi wajar kalau banyak yang mau nyuri,” kata Didik.


Sebenarnya benda-benda purbakala tersebut adalah aset berharga kota Jember. Namun karena kurang peduli dan pemahaman yang tak utuh mengenai sejarah membuat benda purbakal tersebut terlantar. Didik menyadari itu, oleh karenanya ia mengharapkana danya musium untuk menjaga benda purbakala tersebut. “Kalau ada Musium kita bisa mengamankan benda sejarah tadi sekaligus menjadi wahana pendidikan bagi masyarakat, sayang samapi sekarang itu tak pernah ada tanggapan,” ujarnya lesu.

2 komentar:

  1. Iyo yo, harusnya ditaroh museum biar aman... Kepengen main ke sini aku, Dhan! :)

    BalasHapus