Sabtu, 07 Mei 2011

Yang Purba Yang Di Lupakan

foto oleh Heru Putranto.
Kondisi situs Duplang di Desa Kamal Arjasa


ARJASA - Hujan mulai turun perlahan di Desa Kamal Kecamatan Arjasa. Siang hari itu awan mendung berarak dari arah utara ke selatan. Membawa rintik hujan yang tak terlalu pekat. Sementara itu Sudarman Abdurahim atau Darman sedang duduk termenung di depan rumahnya. Hawa dingin yang menusuk seolah tak berarti, malah asik sendiri merokok klobot dengan baju tipis di badan. Mata Darman menerawang lesu, sesekali hembusan rokok klobotnya menguap di udara.


Dalam diam keremangan hujan pria tua berumur 74 tahun itu memandang serangkaian batu di sebeberang rumahnya. “Sebelum ayah dari ayah saya lahir, batu-batu itu sudah ada di sana,” katanya seraya menujuk ke tumpukan batu tua itu. Di usia senja pria tua itu tak kehilangan semangat. Setelah menghisap rokok klobotnya Darman berdiri mengambil sapu. Ia hendak membersihkan dedaunan di pekarangan rumahnya.


Di samping rumah Darman ada semacam taman yang dihiasi oleh batu-batu besar. Beberapa diantaranya sangat besar dan lainnya kecil. Pohon sengon dan tanaman-tanaman kecil dipadupadankan dengan tumpukan batu tadi. Di salah satu sudut pohon beringin berdiri tegak di dekat batu paling besar. Belukar akar merambat di kisi-kisi batu itu. Ada kesan tua nan angker dari taman itu. “Ini situs Duplang, salah satu dari situs pra sejarah yang ada di Arjasa,” kata Darman dalam bahasa Indonesia terbata.


Desa Kamal, melalui situs Duplang, sebenarnya sudah jauh lebih dikenal peradaban dunia daripada kota Jember. Pada masa penjajahan Belanda melalui salah satu penelitinya, Van Heekeren dalam bukunya The Stone Age of Indonesia telah memperkenalkan Jember pada dunia. “Sebelum Jember ada, sini (desa Kamal) sudah ada duluan,” kata Darman. Pria lulusan sekolah rakyat ini memang tak asal bicara, dalam buku Van Heekeren, desa Kamal Arjasa mendapat porsi penjelasan yang lumayan panjang. Sebagai desa dengan penemuan benda prasejarah terlengkap.


Namun kondisi situs yang telah melegenda itu kini memprihatinkan. Jalan menuju situs itu sudah sangat rusak parah. Jalan akses masuk ke situs yang menanjak itu telah tak jelas bentuknya. Pada musim hujan seperti saat ini, jalan menanjak itu rawan licin. Tak jarang pak Darman sendiri terjatuh jika tak hati-hati. “Ini dibikin 2005 sebulan rusak, mending lewat jalan sana (menunjuk jalan memutar) lebih aman,” katanya.


Tak jauh dari situs Duplang, Rafi Ahmad, pelajar SD kelas 3 sedang bermain. Bersama teman-temannya Rafi, begitu ia biasa disapa, berlarian kecil di sawah. Wajah ciliknya tak menyiratkan lelah meski peluh mengalir deras diwajahnya. Sejurus kemudian ia naik menuju situs Duplang. Tanpa ragu bocah berumur sembilan tahun itu berlarian disela-sela batu purba itu. “ Ini (batu) harus dijaga, kata ebok (ibu) punya orang (zaman) dulu,” ujarnya sambil tertawa.


Sementara itu jauh di arah timur Jember. Hawa sejuk langsung menyeruak di antara barisan pohon sengon di salah satu sudut desa Seputih Kecamatan Mayang. Ada sebuah jalan kecil tak terawat yang rusak menuju dusun Sumberjeding. Namun apabila terus ditelusuri jalan yang awalnya rusak dan bergelombang itu sedikit demi sedikit menjadi baik. Tak sampai 500 meter, jalan yang awalnya dikelilingi oleh rimbun pohon telah berganti menjadi kebun tebu.


Tak banyak yang tahu apabila di dusun tersebut tersimpan peninggalan prasejarah yang amat penting. Sebuah peninggalan peradaban masa purba yang dikena dengan situs Sarkofag. “Yang tahu ya hanya orang sini sama orang-orang dari BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) saja mas,” ujar Misyo, Juru Pelihara (Juper), situs Sarkofag.


foto oleh Heru Putranto.
Monumen Batu Kangkang yang diduga menjadi di duga menjadi tempat tinggal manusia purba


Dusun tersebut relatif terpencil, untuk sampai kesana butuh waktu setengah jam dari kota dengan menggunakan motor. Meski terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kota. Dusun Sumberjeding memiliki kisah tentang Manusia Kangkang atau manusia yang tinggal di batu-batu. “Dinamakan manusia Kangkang karena mereka ngangkang (berjongkok) diantara batu-batu besar yang dijadikan tempat tinggal,” kata Didik Purbandriyo, koordinator BP3.


Di salah satu kebun tebu yang tersembunyi terdapat susunan batu tak beraturan. Di tengahnya ada sebuah batu besar menjulang tegak yang dikelilingi oleh batu lebih kecil berserakan dan berantakan. Jika dilihat sekilas memang tampak tak ada yang penting. Tetapi jika dilihat lebih dekat pada dinding batu yang paling besar terdapat kikisan serupa paku.


Batu-batu itulah yang diduga sebagai lokasi dimana para manusia kangkang biasa bercengkrama dan bergaul. “Istilahnya batu-batu itu dipakai sebagai tempat cangkruk dan di sekitarnya biasa ditemukan kerang,” kata Didik menjelaskan. Keberadaan manusia Kangkang Jember tersebut diakui Didik telah pasti. Malah beberapa contoh fosilnya telah dikirimkan ke museum nasional.


Sebenarnya tanah di mana batu tersebut berada merupakan tanah milik pribadi. Sehingga jika pada musim tanam tebu seperti saat ini situs Sarkofag akan tersembunyi dari pandangan mata. “Mending gitu dek, jadi maling susah nyari,” kata Musio. Ia tak hendak berkelakar. Terhitung sejak 2007 banyak makelar yang menawar sarkofagus tersebut tapi ia tolak. Beberapa malah mencoba mencurinya secara terang terangan. Karena kesigapan Musio maka pencurian tersebut dapat digagalkan.



foto oleh Heru Putranto.
Didik Purbandriyo bersama saya di Situs Sarkofag Dusun Sumber Jeding Mayang

Namun kondisi batu-batu tersebut seolah tak terawat. Beberapa batu tampak ditutupi lumut hijau pekat. “Ini bukannya tak terawat, tapi saya sibuk cari uang tambahan,” ujar Musio seraya tertawa. Ada senyum getir yang dipaksakan di wajahnya. Sudah empat bulan ini Musio tak digaji. Ia bisa saja menjual batu-batu tersebut jika mau. Tetapi pria berumur 47 tahun ini menolak. “Pernah ditawar 175 juta tapi saya tolak, ini warisan anak cucu,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar