Sabtu, 07 Mei 2011

Lima Generasi Menjaga Tradisi


foto oleh Heru Putranto
menjadi salah satu warisan budaya dan adat

Beberapa petak sawah tampak baru saja ditanam di sebuah pematang di dusun Duplang. Ada sebuah jalan setapak kecil yang menyimpang di antaranya. Suara air mengalir gemricik di salah satu sudut sawah. Jalan kecil itu mengarah ke kediaman milik Mualim, seorang petani tua yang tinggal bersama beberapa cucunya.


Di pekarangan rumah Mualim ada yang berbeda. Dua buah batu besar bulat terlihat sejajar di antara rimbunnya pohon sengon. Sekilas bebatuan itu tak berbeda seperti batu sungai biasanya, tapi jika dilihat dengan seksama. Ada bekas gigir melingkar yang menghaluskan sudut-sudut batu tersebut sehingga berbentuk oval sempurna.


Batu tersebut adalah batu menhir yang baru 2010 lalu ditemukan. Sebuah peninggalan prasejarah dari zaman neolitikum. “Batu itu nyembul, setelah digali ternyata menhir,” kata Mualim yang juga pemilik tanah pekarangan tersebut. Warga sekitar kemudian menyebut situs terebut sebagai situs Kendal.


Situs kendal sendiri tak jauh dari situs Duplang, situs prasejarah lainnya dari desa Kamal Kecamatan Arjasa. Letaknya tak lebih dari 500 meter, sedikit menjorok ke dalam karena di pinggir jalan menuju situs Kendal ada sawah. “Ya memang sulit dicapai, kadang gak keliatan,” kata Mualim dalam bahasa madura.


Desa Kamal Kecamatan Arjasa adalah desa purba yang sudah dikenal sejak lama. Pada masa kolonial beberapa peneliti asal Belanda pernah melakukan penelitian mengenai manusia purba di Indonesia. Dan salah satunya adalah Van Heekeren, dalam bukunya The Stone Age of Indonesia, berkisah mengenai desa Kamal tua yang memiliki banyak sekali peninggalan jaman purba.


Tetapi meski banyak memiliki peninggalan purbakala, kondisi desa ini tak makmur. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan. Beberapa jalan di desa ini juga rusak parah. Pendatang yang tak biasa bisa saja terjatuh apabila tak hati-hati. Jalan yang paling parah ada di sekitar situs Duplang. Bebatuan yang lumayan besar menyembul di jalanan yang aspalnya terkelupas. Apabila hujan turun lumpur yang menggenang mampu menenggelamkan ban motor.


Dari dalam rumah Mualim ada seorang perempuan muda yang keluar. Wajahnya tirus, ia memakai daster yang dipadu dengan cardigan. Sejenak berjalan ia duduk bersama Mualim di pelataran rumah. “Saya Juhairiyah, juru pelihara situs Kendal ini,” katanya memperkenalkan diri.


Juhairyah adalah satu-satunya dari 18 Juper yang ada di Jember dan generasi kelima dari keluarga Sudarman Abdurahim yang menjaga situs purbakala di desa Kamal kecamatan Arjasa. “Saya dan adik saya Wahyudi juga menjadi Juper desa Kamal,” katanya menjelaskan. Hampir seluruh keluarga Juhairiyah memang berprofesi sebagai Juper. Ia mengaku sudah sangat terikat dengan keberadaan batu-batu tersebut.


Sangking cintanya dengan batu-batu tersebut pada saat ramai pencurian batu purbakala pada 2001 lalu. Juhairiyah bersama Ayah, Ibu dan adiknya berpatroli setiap malam untuk menjaga batu-baru bersejarah tadi. “Kadang dari jam 10 malam sampai pagi, saya dan ibu saya, hanya perempuan keliling desa menjaga batu,” katanya.


Foto oleh : Heru Putranto
Juhairiyah generasi kelima penjaga Situs Kamal Arjasa

Bahkan setelah ibu dari Juhairiyah meninggal beberapa tahun lalu. Kebiasaannya menjaga batu tak hilang. Sehingga ia kemudian memutuskan total untuk menjaga situs-situs prasejarah yang ada di desa Kamal. “Saya dulu bekerja setelah lulus SMA, tapi karena bapak butuh banyak tenaga saya berhenti dan kerja jadi pembantu Juper,” kata wanita muda ini dalam bahasa madura.


Dedikasi keluarga Sudarman Abdurahim memang telah diakui oleh pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). “Sebelum saya datang, pak Darman (panggilan Sudarman Abdurahim) telah menjaga situs Duplang,” kata Didik Purbandriyo. Koordinator BP3. Dalam beberapa kesempatan ia menceritakan bahwa dedikasi total keluarga Sudarman Abdurahim dilakukan tanpa pamrih. Sebagai penghargaan maka ia merekomendasikan Wahyudi, salah satu anak Sudarman Abdurahim sebagai PNS.


Musim hujan yang menyapa Jember akhirnya tiba juga ke desa Kamal. Langit abu-abu mulai berarak di langit Kamal. Beberapa kali dentuman petir terdengar di udara. Wajah Juhairiyah mendadak sendu, ada kegelisahan yang tersirat di matanya. “Bapak sudah sepuh, rumahnya gubuk kalo hujan kadang bocor,” ungkapnya saat ditanya mengapa sedih.


Meski berperan penting dalam pelestarian peninggalan sejarah Jember tak serta-merta membuat kehidupan Juhairiyah dan keluarganya makmur. Gaji tak seberapa sebagai tenaga honorer Juper tak mampu menghidupi keluarganya. Sebagai tambahan ia dan suaminya bekerja sebagai pengepul daun untuk dikirim ke luar kota. Dari pekerjaan inilah ia mengaku dapat mencukupi kehidupan sehari-harinya.


Perjuangan dan pengorbanan Juhairiyah tak hanya sampai disitu. Beberapa kali ia mengusahakan dengan dana pribadi untuk menyelamatkan situs-situs purbakala. Mulai dari pembuatan peta strategis untuk menunjukan letak benda-benda purbakala tersebut. Sampai dengan pendataan jumlah benda purbakala yang ada dengan cara manual.”Ada sekitar 3600 peninggalan yang ada di Arjasa ini, tapi beberapa saya pendam biar tak dicuri,” ujarnya.


Dengan berlalunya waktu hujan akhirnya benar-benar turun di desa Kamal. Rintik yang tak seberapa itu membasahi tanah membawa aroma khas hujan. Juhairiyah menghela nafas. Entah sampai kapan ia akan mampu menjaga situs tersebut. “Biar ditawar orang 1 milyar batu-batu itu, tak akan saya berikan, ini warisan nenek moyang saya, bukti bahwa keluarga saya telah ada sejak dulu,” katanya dalam nada sendu.

1 komentar:

  1. kadang-kadang, saya merasa "hal-hal" seperti ini tak lagi penting, yang mati biarkan mati, yang terlupa biarkan saja terlupa, kesibukan pada masa silam itu sebenarnya untuk apa ? entalah,

    BalasHapus