Kamis, 26 Mei 2011

Hikayat Sekarmadji

~ tersesat melawan atau diam terjajah?

Sekarmadji Maridjan sedang duduk dan dengan tekun mendengarkan Haji Oemar Said di sebuah rumah pemondokan di Surabaya. Ia tak sendirian ada pria muda yang kelak akan menjadi seorang ‘bung besar’ di negeri ini. Saat itu tak ada Indonesia, tak ada pancasila. Hanya sebuah cita-cita tentang nation yang berdaulat dan bebas dari pencoleng yang berkulit putih.

Pria asal Cepu Jawa Tengah ini adalah anak seorang mantri candu Belanda. Seperti kebanyakan priyayi saat itu ia mendapat kesempatan untuk belajar di Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK). Karena kecerdasan dan kejeniusan yang ia miliki, Sekarmadji melanjutkan sekolahnya Europeesche Lagere School (ELS) dan terakhir mengeyam pendidikan dokter di Nederlands Indische Artsen School (NIAS).

Mengenal nasionalisme, komunisme dan islam pada saat kekuasaan Belanda sama dengan menjadi subversif disaat ini. Tiga pemikiran yang menjadi duri dan onak dalam kekuasaan kolonial saat itu. Sekarmadji yang kedapatan menyimpan buku-buku tentang komunisme dan nasionalisme dipaksa memilih. Berhenti berpikir tentang kebebasan atau keluar dari NIAS.

Sekarmadji tak peduli, untuknya kebebasan berpikir jauh lebih penting daripada status dokter pada zaman hindia yang menjanjikan kemapanan. Demi menjaga integritas diri dan idealisme, Sekarmadji memilih untuk dikeluarkan dari posisi dokter jawa. “Bukan untuk itu aku belajar, rakyat harus bermartabat. Insyaallah aku akan hidup,” ungkapnya kepada residen Belanda yang memaksanya memilih.

Selepas dikeluarkan dari sekolah kedokteran, Sekarmadji yang mendapat didikan keras dari haji Oemar Said, menemukan laboratoriumnya. Melihat perjuangan rakyat Indonesia yang ditindas ia mengamini satu hal. “Negara ini harus merdeka, dengan islam itu jalannya,” ungkap Sekarmadji pada dirinya sendiri. Lalu berbekal keilmuan, agama dan kemampuan bernegosiasi. Sekarmadji bergabung dalam barisan bung besar demi satu cita-citra Negara yang merdeka.

Sekarmadji lalu melakukan perjuangan gerilya untuk memuali tentang nation yang berdaulat. Ia bergerak dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Satu kota ke kota lainnya. Bergelut dengan para pejuang republik yang mengimpikan ide sama. Tak peduli ia kiri, kanan, tengah, merah, biru, hijau. Semua golongan semua jalan demi satu tujuan kemerdekaan.

Negara baru kemudian lahir pada 17 Agustus 1945, Indonesia namanya. Tetapi tak lama, sekarmadji kecewa, negara muda ini dipaksa tunduk melalui perjanjian yang menurutnya cuma akal-akalan. “Renvile adalah penghinaan, najis untukku tunduk pada seruan kafir,” katanya. Sekarmadji memutuskan berontak, seperti juga Ronggolawe yang berontak pada Majapahit. 7 Agustus 1949 ia mengumandangkan Darul Islam. Dengan gelar diri "Panglima Tertinggi Tentara Islam Indonesia."

Bung besar muntab, bung besar merasa dikibuli. Dengan segala daya dan upaya bung besar menekan ruang gerak Sekarmadji. Selama 13 tahun ia dipaksa bergerilya di hutan-hutan jawa barat. Ditemani keris "Ki Dongkol" dan "Ki Rompang" Sekarmadji menganggap dirinya sebagai imam mahdi, ratu adil, mesias yang akan mengembalikan kedaulatan negeri yang terjajah ini. perjuangan jihad dengan gerilya, laku prihatin, puasa dan dakwah islam merupakan jalan hidup NII. Tidak ada cuci otak, tidak ada pemaksaan dan tak ada Jizyah (uang pungutan).

Dan seperti saat ia pertama kali belajar mengenai nation, Sekarmadji Maridjan tengah terduduk di sebuah gubuk tua di hutan gunung Rakutak Jawa Barat. Salah satu kakinya terluka dalam temaram langit sore 3 Juni 1962 itu. “Sudahlah, ini mungkin waktu saya,” ungkapnya kepada Letda Suhanda dari Batalyon 328 Kujang, pemimpin bala tentara republik yang kala itu datang. Setelah 13 tahun melakukan perlawanan ia menyerah, negara islam yang ia idamkan sudah tamat.

Seolah ingin menggenapi Death Alone, sebuah sajak karya Pablo Neruda. Pada September 1962, Sekarmadji Maridjan yang juga bernama Kartosuwiryo menghembuskan nafas terakhir sebagai seorang desertir yang makar pada negara. Ironi, karena negara yang menghukum mati adalah negara yang turut ia bidani kelahirannya.

Kematiannya sunyi, tak banyak yang hadir. Hanya seorang ustad, beberapa petugas dan tempat yang senyap. Sebuah panggung kematian yang sunyi untuk seorang pemimpin besar. Lamat-lamat di pelosok ujung Indonesia terdengar sajak Neruda. “Death is drawn to sound, like a slipper without a foot, a suit without its wearer.”(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar