Jumat, 24 Juni 2011

Bapak Desain Grafis Persma Jember



Begini saja, jika ada anak Persma Jember yang mengatakan bahwa ia mampu ngelayout dengan baik tapi tak mengenal nama Widi Widahyono. Well anda boleh kenalkan saya padanya untuk saya injak muka dan meludahinya pelan-pelan. Benar, jika anda membaca judul sontoloyo dari tulisan ini maka anda tahu bahwa saya sedang melakukan sebuah klaim. Klaim terhadap suatu titel dan identitas kedirian.

Saya ingin bercerita tentang seseorang yang saya hormati sebagai begawan, wali, suhu, master, sinuhun, dosen dan ustad sekaligus. Seseorang yang dikenal tak banyak bicara tetapi dikenal dengan sejuta karya yang membahana. Orang itu adalah Widi Widahyono. Punggawa desain grafis Persma Jember dan orang yang mampu mengangkat derajat layouter dalam sebuah organisasi pers setara dengan pemimpin umum dan pemimpin redaksi.



Mas Widi tinggal di daerah paling tertinggal di Jember. Ledok Ombo, menurut BPS Jember, merupakan kantong buta huruf terbesar di Jember. Hampir 80% orang disana putus atau tak sekolah. Ini data valid tanya saja sama kepala desa Ledok Ombo kalau anda tak percaya. Sangat mengagetkan dari tempat semacam itu bisa lahir seorang dengan kemampuan jenius dalam melayout.

Mas Widi sebenarnya baru berkenalan dengan layout saat beliau mulai aktif di UKPKM Tegalboto. Diperkenalkan software desain oleh Pukulun Semiotika, Poskolonialisme, dan Multikulturalisme, Sigit Budi Setiawan, membuat mas Widi jadi keranjingan layout. Meski sebelunya ia pernah kuliah di ITS dalam jurusan teknik informatika, Mas Widi mulai serius mendesain sejak di Tegalboto.

Software yang pertama digauli Mas Widi adalah Page Maker yang konon katanya sangat anying sekali. Butuh berlayer layer dan kejelian tinggi untuk menata sebuah gambar dan kata menjadi sinergis. But Widi the All Mighty membuktikan bahwa ia memang dilahirkan untuk jadi tukang layout. Seingat saya Newsletter Tegalboto Pos yang bertajuk Sandal merupakan salah satu karya, yang segera menjadi klasik, dari Mas Widi.

Dalam banyak hal dia tak sekedar belajar dan menautkan apa yang ia terima dalam kanvas kosong. Ada sebuah tanggung jawab sosial dan hati (bukan moral) untuk berkarya dan melawan. Hingga pada akhirnya Mas Widi menciptakan sebuah alterego perlawanan gerilya grafis. Kick by Grapic the Aestethic of Propaganda. Well jika anda pernah melihat sebuah poster mirip gambar korek api dengan judul, awas ada maling di sekitar kita, well itu karya mas Widi.




Mari kita coba lepaskan Anxiety of Influence dalam mitos-mitos yang melingkupi Mas Widi. Seperti fakta bahwa dia Cina, tapi gak pelit, bahwa ia sebenarnya adalah alien dari galaksi Tuetentmonto yang menyaru dalam bentuk manusia labil, atau bagaimana Mas Widi bisa sangat cool dan jarang bicara, atau bagaimana bisa mempesona banyak wanita tanpa menjadi ganjen. Mas Widi adalah mitos itu sendiri.

Hari ini sinuhun begawan Widi telah melakukan ruwat skripsi sebagai alih jenjang mahasiswa abadi menjadi pengangguran terdidik. Kini tongkat maraton sebagai koboi kampus melekat pada saya. Well dalam banyak hal saya akan sedih, tapi kali ini saya akan terima dengan penuh kebanggaan. Karena yang memberi adalah mas Widi. Tentu ia tak ingin saya terus diam dan tak segera lulus. Saat memberi gelar itu ia berkata "Ndang lulus le, sumpek delok raimu."



Mas Widi yang terkasih dan metal selalu. Mungkin ini hanya sekegar gumaman tak penting. Sekedar Rendesvousez dari hidupmu yang selalu Rawk itu. Tapi sekarang dengan gelar ditangan. Mari Mas kita MAJU BERKARYA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar