Selasa, 14 Juni 2011

Semalam Di Atap Langit


keranda awan datang
bawa bayangan
serupa detak waktu
menghambur rindu
di sela pikuk zaman


kukira kita telah memisahkan diri
menyatakan perang terhadap kebersamaan
melarung segala ingatan dan kenangan
kupikir ini sebuah kepastian
semacam nubuat yang telah digenapi

kukira kita setuju jika rindu
tak melulu tentang rasa pilu
tentang sendu yang tertahan di uluhati
merambati setiap pembuluh birahi
sekedar getar haru, menikam serupa belati

kukira kita sudah lunasi semua perasaan kita
di kotamu malam itu
seusai rancak lagulagu menlantun seirama lalu angin
lindap jalan, kalis hujan, dan pekat malam
menjelajahi segala yang senyap dalam bahasa sunyi

kukira kita memaafkan kebodohan
sebagaimana adam meratapi keterlanjangan
"cinta" katamu. bukan kata murah yang diobral dipasar
di hutanhutan, di peraduan
tapi bukankah segala rusuk merindu satu bersama tubuh?

kukira kukira kukira kukira kukira kukira
kukira sampai kapan kau kira kira?

semua sudah selesai
agas tak lagi sengatkan haru pada pembulu
malam ini kita hadapi
api jadah
ati gundah
rebah


4-6-2011 - Sragen selepas Surakarta

Sambil mendengarkan The Mars Volta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar