Sabtu, 25 Juni 2011

Mitos Diplomasi Dan Kedaulatan

~ Het is geen roman,’t is een aanklacht!

Mari kita mulai catatan ini dari sebuah fragmen dari film 300 garapan Zack Snyder. Saat utusan Kaisar Xerses dari Persia datang menemui Raja Leonidas penguasa Sparta. Membicarakan penyerahan dan kepatuhan total Sparta kepada Xerses dengan imbalan keamanan dan kejayaan. Namun di sisi lain harus tunduk sebagai budak dan menjadi jajahan. Melihat kekuatan Persia yang Maha Kuasa seolah tuhan, Xerses menyebut dirinya God Kings, raja biasa akan gentar dan sesegera mungkin akan mengiyakan ketundukan.

Tapi Leonidas bukan sembarang raja. Dia adalah Leonidas yang mengalami upacara kedewasaan di alam bebas dengan segala keliarannya. Dengan buas Leonidas menolak tawaran itu sembari menendang utusan Persia itu ke dalam the bottomless pitt. Akhir diplomasi sudah dapat jelas terlihat. Tidak ada tawaran untuk sebuah ketundukan, lebih baik mati berkalang tanah daripada diinjak sebagai budak.

Lalu kita pindah sedikit ke fragmen lain dimana 280 pasukan Republik Texas dibawah pimpinan William Travis dan James Bowie terkepung dalam benteng Alamo. Sementara itu ke 2.400 barisan pasukan Gubernur Antonio López de Santa Anna dengan garang mengepung benteng itu lebih dari 13 hari. Segala macam diplomasi yang diberikan Gubernur Antonio tak juga diterima oleh benteng Alamo. Segalanya tumpul di depan semangat nasionalisme dan tanggung jawab yang bebal.

Apakah mereka menang? Tentu tidak, ke 280 pasukan Republik Texas berujung pada kematian yang terhormat. Sedangkan Gubernur Antonio terpaksa kehilangan 600 lebih pasukannya. Hanya itu? Tidak, sebuah gerakan revolusioner muncul di Texas dengan masif meluluh lantakan segala invasi Meksiko. Dengan teriakan “Remember the Alamo,” batalion intifada Texas mampu mengusir gerombolan Gubernur Antonio jauh-jauh. Kedaulatan lahir diantara tumpukan tumbal (atau martir?) yang dihormati sebagai semangat kolektif dan bukan hanya statistik mortalitas perang belaka.

Tak perlu berlama-lama untuk kita menuju Singasari sekitar Abad XI dimana Raja Kertanegara sedang duduk dihadapan dua utusan Kubilai Khan. Penguasa mutlak daratan mongol yang sedang menjadi pengendali langit dan bumi. Dengan sedikit basa basi dua utusan itu meminta Kertanegara untuk tunduk. Dengan imbalan menjadi bagian dari kerajaan adikuasa Mongol, jika menolak maka balatentara Khan agung akan menggetarkan Javadwipa. Apakah Kertanegara gentar?

Sedikitpun Kertanegara tak gentar, malah dengan gahar ia mengambil sebilah keris di punggungnya dan mengiris telinga kedua utusan itu. “Khan boleh datang ke Javadwipa, dengan jalan duduk dan meminta maaf padaku, selebihnya ia berujung sebagai bangkai,” teriaknya geram. Apakah ia berbuat naif? Tentu, melihat peta kekuatan Singasari dan Mongol saat itu. Tindakan Kertanegara tak lebih dari bunuh diri. Tapi sekali lagi kedaulatan bukan sesuatu yang kita pelajari di buku dan dalam kelas. Ia berada dalam diri dan pikiran.

Ketiga kerajaan dan negara di atas sudah tumpas, hancur, bubar dan gulung tikar. Mereka berujung pada kefanaan karena tak mampu memenuhi diktum Darwin mengenai “Survival of the fittest.” Tetapi semangat mereka tetap menginspirasi masing masing pewarisnya dengan kebanggan (atau fasisme?) akan negara dan tanah airnya. Bahwa segala penghinaan yang tak berbalas merupakan kehinaan. Dan hanya ada satu padang Kurusetra untuk menyelesaikan segala sengketa itu.

Katakan bahwa adigium John Dingell, anggota senat terlama dan rekan dekat lebih dari 4 presiden Amerika, yang berujar bahwa “Perang adalah kegagalan diplomasi” adalah benar. Namun dalam perspektif kedaulatan negara orang orang yang saya sebutkan sebelumnya, “Diplomasi adalah kegagalan dari perang.” Tak ada satupun dalam perang yang mewakili diplomasi, namun dalam diplomasi segalanya adalah perang kepentingan.

Diplomasi sesungguhnya hanya tentang kompromi, mengenai bargaining dari komprador dan penjajah, mengenai kedegilan intelektual di depan mitos negara adi kuasa, paranoia atas statistik jumlah senjata dan kekuatan ekonomi, serta impotennya nyali untuk melakukan perjudian terhadap kekuatan diri sendiri. Menyitir kata-kata pukulun diplomasi Amerika, Henry A Kissinger, Diplomasi adalah seni untuk tetap berkuasa.

Lalu sebenarnya apa itu diplomasi? Mengapa begitu penting? Atau malah sebenarnya, seperti banyak kebudayaan pop, dibuat seolah-olah sangat dibutuhkan. Secara sederhana diplomasi adalah upaya menengahi, menyelesaikan, dan membuat kesepakatan bersama terhadap suatu masalah dan keinginan. Tak lebih dari itu, namun kebutuhan dan pola pikir manusia yang terlampau (dibuat) kompleks menjadikan diplomasi suatu hal yang susah dilakukan.

Dalam banyak hal diplomasi dilakukan karena suatu permasalahan yang terjadi sudah terlampau pelik dan mentok. Seperti utang yang terlampau banyak, hukuman yang terlalu berat atau arogansi yang teramat sangat. Semua adalah ranah dan tujuan dari diplomasi. Kembali meminjam pemikiran Kissinger dalam Diplomacy, yang mengungkapkan, bahwa kebutuhan bersama dan kepentingan yang berbeda menjadi faktor utama dalam terhambatnya penyelesaian (rekonsiliasi).

Tetapi apakah sebutuh itu? Diplomasi dalam konteks kekinian adalah seni berkata-kata, berdebat dan berjualan. Seperti seorang makelar di pasar maling. Ia selalu diliputi rasa takut salah membuat keputusan dan gagal lalu berujung pada penjara. Sementara itu diplomat (sebutan orang yang jago diplomasi?), yang entah apa fungsinya, seringkali malah menjadi sekedar jabatan kosong atau liburan bergaji.

Terlalu banyak kegagalan permasalahan politi luar negeri kita untuk dimaklumi. Afirmasi atas kurangnya kekuatan ekonomi, politik dan militer selalu jadi kambing hitam. Mereka yang demikian ini apa tak malu kepada Dalai Lama yang negaranya bahkan tak punya kekuatan militer, namun berani melakukan kampanye dan perlawanan terhadap Cina.

Okelah Dalai Lama memang tak menang, tak berkuasa, tapi setidaknya ia berani menjadi diplomat tanpa perlu berbasa basi. Tak perlu melumat banyak buku politik namun pada akhirnya hanya stagnan pada wacana kosong dan busa debat. Saya bahkan sangat malu untuk menuliskan nama Teuku Tiro dan Aung San Su Kyi. Karena dua nama itu terlalu heroik dan suci jika dibandingkan dengan diplomat kelas kacang yang ada di Indonesia. Apakah saya sedang melankolis? Tidak, ini hanya Het is geen roman,’t is een aanklacht! Bukan sekedar roman, ini adalah gugatan!

Saya sudah terlanjur jijik dan antipati terhadap mereka yang mengaku sebagai diplomat. Entah karena fungsi mereka yang seringkali tak berguna atau keberadaan mereka yang sebenarnya malah menambah ruwet masalah. Saya ingat permasalahan Indonesia, GAM, dan perdamaian diselesaikan oleh orang-orang yang malah bukan diplomat. Yang satu insinyur, yang satu sarjana sosial dan yang terakhir bahkan lulusan ekonomi.

Sebenarnya bagaimana cara kita memperoleh diplomat? Sejauh pemahaman saya belum pernaha da sekolah tinggi pendidikan diplomat di Indonesia. Kalau sekolah camat yang luar biasa kampret bertebaran di mana-mana. Saya malah jadi sinis, dari 350 juta penduduk Indonesia apakah tak ada satupun yang bisa berani berbuat dan melakukan perubahan sigifikan?

Semua yang saya kenal telah belajar politik luar negeri dan diplomasi selalu berkata. “Semua terlalu kompleks untuk bisa dimengerti otakmu yang sederhana itu,” well, try me. Apakah saya harus terus menunggu kegagalan demi kegagalan kebijakan politik? Seperti kematian buruh migran, pencaplokan wilayah, penistaan kedaulatan dan sebagainya dan sebagainya.

Mereka yang saya tanya selalu menjawab sistem politik Indonesialah yang korup dan rusak sebagai biang keladinya. Lalu apa guna segala macam ilmu, buku dan pertemuan-pertemuan yang dikonsumsi oleh para diplomat? Sekedar show of force atawa retorika? Kata-kata, diluar usaha pemberdayaan, adalah taik kucing. Serupa orasi sompral dari mahasiswa baru yang tak tuntas mengeja marxisme sebagai gerakan sosial.

Sejarah terlampau banyak membuktikan bahwa kedaulatan negara tak selalu diraih dari diplomasi. Kedaulatan negara diraih dari konsistensi sebuah pemerintahan/kerajaan terhadap apa yang mereka yakini sebagai tanggung jawab. Lupakan pancasila, uud, dan segala simbol brengsek mengenai nasionalisme. Semangat kolektif yang lahir karena kesamaan nasib dan kepedulian sosial merupakan inisiasi paling awal untuk memulai kedaulatan. Memulai segalanya dari nol, peduli setan dengan orang lain dan kerja keras bersama.

Tentu semua itu tak mudah. Manusia adalah mahluk sosial paling manja yang pernah diciptakan tuhan. Manusia akan sulit bertahan hidup tanpa blackberry, mall, buku, musik, listrik, viagra, facebook, Justin Bieber dan segala macam residu televisi. Kita mungkin hidup tanpa mereka, tapi akan sangat sulit sekali. Egoisme yang terlalu pekat karena paparan egosentrisme teknologi dan ketersesatan kebutuhan membuat manusia terlampau nyinyir terhadap perubahan yang merujuk pada kebersamaan.

Meminjam istilah Adorno dan Horkheimer, masyarakat paska industri, merupakan citra manusia yang hanya bisa merengek terhadap kesulitan dan menghamba pada kemudahan. Kedaulatan yang diimpikan akan selalu imajiner jika tak dibarengi usaha nyata melakukan perubahan. Semacam onani tanpa meraih orgasmus. Lalu sampai kapan diplomasi kita, yang didasari kedaulatan rakyat, akan dicapai dan diperoleh? Tak satu setan pun tahu! Ujar Gie dalam liang kuburnya.

Tapi tentu saja semua yang saya tulis ini hanya sekedar omong kosong. Apalah saya yang tak pernah belajar tentang diplomasi, politik dan basa basi bacot mengenai negara (yang saya anggap tak lebih menarik daripada mendengarkan hairmetal dan membaca Ary Ginandjar). Tetapi dengungan kata-kata Max Havelar, yang ditulis Multatuli, membuat saya terlampau jengah. Dengan memegang kepala dan mendelik pada resident Hindia, Max berkata “Saya tak suka menggugat siapa pun,” teriaknya kasar. “Tapi kalau harus, biar dia kepala tentu saya akan gugat.” Ah Max kau hanya sok tahu!(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar