Kamis, 23 Juni 2011

Sepertinya Usai


~ Untuk Nindya Noor

Lelaki itu sudah sejak semalam tidak menyandarkan tubuhnya di atas kasur. Mungkin, sekedar menutup mata untuk istirahat pun dia jengah. Lelaki itu sedang menulis surat, katanya untuk gadis yang ia cintai. Aku selalu bingung dengan kelakuan lelaki itu. Lelaki yang aku cintai dalam diam.

Sebenarnya aku tak paham juga apa yang membuat aku jatuh cinta pada lelaki itu. Lelaki dengan sepasang luka di matanya. Aku kira, luka dan kedalaman perih itu yang membuat aku cinta. Setiap aku melihat matanya kuingat waktu hujan. Seperti dalam hujan deras yang terlampau pekat. Tak ada ruang bagi tanah kering untuk mencuat. Segalanya basah.

Lelaki oh lelaki yang tak pernah tersenyum. Apa kiranya yang kamu pikirkan sekarang? Adakah rindu ataukah luka? Luka siapa lagi yang kau simpan? Kenapa tak kau bagi luka itu pada dunia? Lelaki oh lelaki, kau terlalu congkak. Bahkan mendung yang paling gelap menemukan masa terangnya. Tak perduli seberapa lama hujan turun.

Lalu kenapa kau berkeras terluka lelaki oh lelaki? Tak adakah sepotong senyum untukmu di dunia? Dimana kiranya senyummu itu lelaki? Ah dan kenapa kiranya kau menulis surat hai lelaki? Tak tahukah kau dunia telah berkelindan dalam jaringan nirkabel dan jejaring maya. Lelaki oh lelaki kepada siapakah surat itu kau kirimkan melalui jarak? Ceritakan lelaki oh lelaki.

Karena jarak mengajarkan rindu. Kau selalu suka sajak itu lelakiku. Dimana rindu itu? Siapakah rindu itu? Beruntungnya ia lelakiku. Kau yang terluka sangat hebat, apakah telah temukan hidup yang baru? Atau sekedar menanti luka baru? Lelaki oh lelaki yang terluka dalam kesunyian. Kenapa tak ada teriak dalam sekerat lukamu?

Kita pernah sepakat untuk mengubur luka, menyumpahinya dicerna belatung dan cacing tanah. Kemudian berziarah pada rumah hati yang baru, yang bebas dari tumbal dan sesaji. Kepada setiap langkah kita berbisik, mengepak huma dan rasa. Lelaki oh lelaki yang terluka merah perih. Dimana kau temukan terumbu itu?

Kamu masih diam terpaku duduk yang tak lagi tegak. Penamu dengan bebal terus menulis seolah tak hendak usai. Menyusun kata-kata yang memburai cemas seperti lautan ganas. Lelaki oh lelaki yang tak usai meragu dimanakah ketenangan itu kau buang? Ijinkan aku menjadi satu menjadi kamu menjadi segala resahmu.

Aku menanti tinta pena itu mengering dan melambatkan segala amarah yang kau tikam pelan-pelan dalam hatimu itu. Lelakiku oh lelaki yang malang, mengapa kau sedemikan lemah dan rapuh? Tak tahukah kau lelakiku yang malang bahwa mereka yang menyebut diri pejantan tak sudi menangis seperti yang kau lakukan. Meratapi sebuah kertas dengan pena ditangan.

Remang hari yang mulai jalang melarut dalam mendung pekat serupa aspal cair di jalanan. Lelakiku yang gundah, lelakiku yang resah ceritakan padaku. Ceritakan padaku tentang semua cinta menahun terlanjur mengakar di rasamu itu. Kenapa lelakiku oh lelaki yang pendek akal jua lemah pikiran. Mengapa kau tak sadar aku disini? Seseorang yang menantimu memandangmu haru di tiap tiap detik waktu berganti.

Lelakiku yang hina, lelakiku yang kucinta dengan luka. Tak tahukah kau ada cara mengiba tanpa jadi hina. Bukan lagi menghamba serupa budak meronta pada junjungan terhadap perasaan yang tak lagi mampu dibungkam. Kenapa lelakiku oh lelaki yang tiada punya nyali, mengapa kau diam dalam bahasa dan menggurah pena serupa bicara? Dimana kuasamu lelakiku. Lelakiku yang kucinta.

Kepada siapa lalu aku harus berharap jika kau terus begini lelakiku? Mengapa kau lakukan lagi lagi kebodohan yang tak berkesudahan. Berbicara tentang tengik bacin yang bahkan kau tak pernah paham artinya. Demi apa? Lalu saat semua tata jagadpramuditamu bergejolak kau terluka. Mengadu pada kata-kata seolah mereka adalah mesias yang membasuh sembuh lukamu. Lelakiku oh lelakiku naifnya dirimu.

Setiap jalan terjal memiliki akhir yang degil lagi muram. Seperti kau lelakiku, lelaki yang tak usai disakiti namun tak juga berhenti mencintai. Serupa laron yang mencintai lelampu yang membuatnya mati terbakar. Kenapa jika boleh bertanya kenapa kau lakukan ini lelakiku? Lelaki yang tak juga paham saat untuk berhenti. Berhenti disakiti dan bangkit berdiri.

Apakah yang kau tunggu? Waktu kian menua dan tak pernah ada detik yang terulang lelakiku. Apakah kau sadari bahwa setiap luka yang ditoreh tak akan mengring secepat kau menghela nafas. Lelakiku oh lelakiku yang malang kian muram. Dia pikir bahwa kata-kata dalam suratnya akan menyembuhkan segala luka yang terlanjur mengendap perih. Apa yang hendak kau katakan lelakiku oh lelakiku yang bebal.

Sudah turun hujan dan pecah segala yang kering dengan air. Saat kau lelakiku yang diam dan bodoh kemudian selesai. Selesai menuliskan kata-kata penuh amarah yang bahkan tak kumengerti isinya. Lelakiku oh lelaki yang pintar tapi bodoh bukan buatan. Hendak kemana kau sehabis hujan? Mengirimkan kertas lusuh dalam surat bodoh dan berharap dunia kembali sempurna?

Lalu kau pergi dalam rinai hujan yang terlampau berat. Mengajak basah semua tubuhmu. Menghilang di keramaian derik tetes air yang meliar. Sementara surat tengik itu separuh terbuka. Teronggok begitu saja di tepi meja. Hanya kulihat satu kalimat menyeruak dalam barisan kata surat itu. Lelakiku oh lelakiku salahkah jika kemudian aku mengintip?

Kuputuskan menjual rasa maluku, rasa jengahku dan kehormatanku pada langit yang memuntahkan petir. Kudekati pelan-pelan surat itu dan melihat sebaris kalimat yang teronggok. Kubaca satu persatu kalimat yang terjalin rapi itu. Lalu seutas senyum merambati bibirku. Aku tahu kau akhirnya bisa bertindak bijak. Aku tahu kau pada akhirnya bisa menjadi pintar untuk sekali saja dalam hidupmu yang tengik itu lelakiku yang kucinta.

***

Sepucuk surat terbuka diantara tumpukan buku-buku yang tak jelas apa judulnya. Keempat sudut surat itu tertekuk lusuh dan hampir basah dengan air hujan. Sebuah kertas tak masuk sempurna dalam surat lusuh itu. Samar-samar terlihat sebuah kalimat yang menyembul. Sebuah peringatan atau permintaan, entahlah.

Sayang kau terlalu bodoh untuk percaya aku akan diam saja kau lukai, go fuck yourself!

1 komentar: