Kamis, 22 Desember 2011

Anak Mama


"Dhani nggak apa2? jng lp mkn. jg kesehatan y mama syg dhani"
Ibu saya itu reinkarnasi Nostradamus. Mungkin juga Jayabaya. Atau Ronggowarsito. Atau Merlin. Entahlah. Tapi yang jelas dia tahu kapan saya sedang jatuh, sedih dan membutuhkan dukungan. Padahal saya bukan orang yang suka bicara. Dalam banyak hal saya menyimpan masalah sendiri. Meski sering labil untuk kemudian mempostingkan perasaan ke dalam social media. Well, mungkin ini penyakit masyarakat digital paska industri. Scizhocybernia. Kecemasan digital.

Ibu saya gagap teknologi. Gagap informasi. Tapi tak membuat ibu saya buta terhadap masalah yang ada. Saya dulu ingat saat SD ibu saya berujar "Pak Harto mari ngene mudun, wes wayahe mandeg," itu sekitar tahun 96. Jauh sebelum gejolak ekonomi dan politik 98 terjadi. Dan entah karena kebetulan atau karena ibu saya 'mandhi' pak Harto benar-benar mundur. Dalam setiap ibu selalu ada kekuatan tersembunyi yang akan membuat anaknya merasa bangga telah dilahirkan.

Ibu saya tak tahu facebook atau twitter atau blog. Dia hanya tahu Al Quran, Dapur dan Masjid. Tapi dia tahu jika saya ada masalah, sakit atau sedih. Pernah saat kuliah semester 3 saya sakit tipes di kosan. Saya tak memberi tahu Ibu dan ia datang pada hari kedua dengan air mata. Ibu saya mimpi kakinya di injek gajah. Entahlah analogi gajah dan ukuran tubuh saya mungkin memiliki kemiripan.

Ibu saya marah karena tak diberitahu sedang sakit. Dan ia menjemput paksa saya untuk pulang beristirahat di rumah. 

Sampai hari ini saya tak tahu apa yang mendorong ibu saya untuk datang kala itu. Ibu sepertinya punya indra keenam untuk bisa meramalkan kondisi anaknya. Semacam radar untuk mendeteksi kebohongan, keadaan atau bahkan perasaan paling tersembunyi dari diri anaknya. Semua ibu memiliki indra ini. Tak hanya ibu saya tapi seluruh ibu yang melahirkan anak-anak paling hebat di dunia.

Hari ini ibu saya tiba-tiba menegur keadaan saya. Meminta anaknya yang badung ini untuk menjaga diri, jangan telat makan dan jaga kesehatan. Entahlah apa yang mendorong dia untuk melakukan itu. Mungkin ibu tahu kalau saya sedang sedih. Atau tahu saya sedang sangat labil. Apapun itu saya percaya tak ada satupun anak di dunia yang sanggup sembunyi dari perhatian ibunya.

Tak banyak yang mengetahui jika hari ini terjadi Kongres Perempuan Indonesia (1) pada 22-25 Desember 1928 (beberapa bulan seusai sumpah pemuda pemudi). Muhidin M Dahlan, seorang kronik sejarah Indonesia merekam ini dari majalah Isteri yang mencatat dengan detil kongres itu. Kongres itu diikuti 30 pergerakan semasa. Di situ ada Nyi Hajar Dewantara. Ny Ali Sastroamidjojo dll. Perdebatan paling mencuat saat itu adalah Poligami (Organ Sedar dan Aisjijah bertarung keras dalam forum).

Untuk memperingati Hari Kongres Perempuan Indonesia yang jatuh hari ini 84 tahun lalu itu di Yogyakarta. Saya ingin menulis ulang kisah ini. Tentang bagaimana kepedulian sederhana dari seroang perempuan bisa jadi mood booster paling ampuh. Ini juga tulisan untuk segala ibu, tak melulu bagi mereka perempuan yang melahirkan tapi dengan asih dan asuh merawat anak-anak, yang dengan rock and roll telah tulus mencintai kita. 


Terimakasih mamah. Dhani juga sayang mamah.

1 komentar:

  1. mimpi kakinya di injek gajah -> NGAKAK :D


    ibu pasti bangga sama abang <3

    BalasHapus