Kamis, 15 Desember 2011

Catatan kecil yang panjang


~ Boleh lapar tapi tak boleh berhenti tulis membaca.

Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah senja keemasan yang pecah di horison, sambil menulis sebuah catatan dan ditemani secangkir kopi hitam pahit yang pekat? Kopi yang memiliki rasa pahit getir dimana saat kau rasakan di ujung lidahmu akan tersisa getir yang teramat sangat. Seperti film tengah malam yang mengantarkanmu tidur namun berhasil merebut perhatianmu hingga ia usai.

Catatan kecil yang muncul dari rasa heboh dan meletup-letup seusai kau membaca sebuah buku yang sangat menarik. Catatan yang awalnya hendak kau buat pendek, namun berubah menjadi epos panjang, sehingga kau butuh semua keberanianmu untuk menghentikan catatan panjang ini. Seperti semua anak mami yang mesti lepas dari sapihan ibunya untuk pertamakalinya bermain di pantai.

Awalnya kau hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggangmu akibat hujan deras, yang bulir bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan kau pun terdiam lalu teringat sebuah buku baru yang tak sempat kau baca. Lalu diam-diam mencari-cari diantara ratusan tumpukan buku. Seperti kerinduan di sebuah terminal yang menunggu kedatangan.

Jari-jarimu terus menulis dan menulis dan menulis. Sampai sebuah aroma pisang goreng melayang dan menghentikan konsentrasimu dalam menulis catatn kecil yang panjang. Lalu kau sesap lagi hangat kopi pahit itu dan menunggu manis getirnya hilang. Lalu kau mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya perlahan lahan. Seperti kesabaran seorang suami yang menunggu istrinya berdandan.

Kukira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiranmu dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat.

Lalu kau melihat senja yang pudar itu pelan-pelan menjadi gelap yang terlalu pekat. Saat kau sedang asik menulis pada bagian klimaks catatn kecilmu yang panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi kau terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli. Bebunyian itu terus nyalang berteriak dari sebuah benda yang berpendar-pendar. Seperti lonceng peringatan bagi umat untuk kemudian larut dalam komuni putra maria.

Kau masih terus dan terus menulis sebuah catatan kecil yang kini sudah menginjak usia halaman kelima. Kau yang awalnya hanya menulis tentang sebuah fragment buku, kini berkembang menulis perihal kebencian, kemarahan, dendam dan sebuah rasa nyeri yang tertahan. Kau terus menulis tanpa menyadari air hangat asin berderai-derai mengalir dari kedua matamu yang kosong menatap nanar monitor. Seperti sebuah aliran perigi pada musim hujan paling deras.

Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Kau masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji  tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan.

 "Kriiuiuiuiuiuiuiuik" dan bunyi keparat itu benar-benar memecah konsentrasimu yang sedari pagi kau bangun dengan keangkuhan. Kau terpaksa harus tunduk kali ini. Pisang goreng hangat tadi sudah tandas tak bersisa, sementara cangkir kopi pahitmu sudah selesai dan tinggal ampas. Dengan malas kau berdiri menjerang air dan mulai menyedu kopi pahit lain. Seperti kebeblan yang tak pernah mengakui kekalahan

Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiranmu terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang panjang dan telah tamat berumur 20halaman. Kau membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan. Lantas kau berkata lirih "Meh kok jadinya puisi galau?"

Terdengar ketukan panjang pada keyboard.

"Ctrl A Del."

1 komentar: