Dan selamat sejahteralah atasnya dihari dilahirkan, dihari dia meninggal dan dihari dia akan dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 15)
Tapi
dalam hidup saya yang tak seberapa panjang ini. Saya menemukan bahwa nikmat
islam bukan sesuatu yang given. Ia membutuhkan sebuah pergulatan dan perjuangan
untuk mendapatkannya.
Islam,
seperti juga seluruh agama lain, mengajarkan kebajikan, sikap welas asih dan terkadang
juga kekerasan. Tergantung darimana perspektif anda melihatnya. Namun satu hal
yang jelas islam tak pernah mengajarkan kesompralan untuk mengatur klaim
kebenaran terhadap firman agama lain. Well, anda bisa membaca surat
Al Kafirun. Seorang dengan IQ paling tiarap dapat memahami makna surat
itu sebagai kartu kuning terhadap liturgi umat lain. Semacam kredo New Yorker
untuk berkata mind your own religion.
Selang
semalam sebelum natal tiba. Puluhan akun twitter dan blog beramai ramai
mempersoalkan keabsahan natal umat Kristiani. Bahwa 25 Desember adalah perayaan
kaum pagan (beberapa menuliskan kafir) terhadap pemujaan dewa matahari Apollo.
Beberapa
negara di Eropa Timur seperti Ukraina , Russia
dan Macedonia
melaksanakan natal di antara 7 dan 19 Januari. So? Sama juga berbedanya umat
islam yang berebut kuasa perihal penentuan satu Syawal. Sekali lagi perbedaan
adalah fitrah. Karena jika Allah berkehendak fasis dengan menyatukan seluruh
umat. Maka hal itu adalah pekerjaan maha mudah bagi Nya.
Perdebatan
mengenai keabsahan natal. merupakan perdebatan yang menurut saya terlalu tolol
untuk dimasuki. Karena jauh daripada itu substansi natal bukan pada kapan itu
berlangsung. Karena Natal bagi umat kristiani (dalam hal ini Khatolik) tak
melulu tentang perayaan dan hadiah. Namun juga tentang masa advent, sebuah
penantian, persiapan untuk menyambut kelahiran sang putera Tuhan. Merujuk
diskusi saya dengan Romo Yudhi, pastor Paroki Gerjea Katolik Santo Yusup, masa
advent adalah masa pertaubatan. Dengan kata lain sebuah sikap (lagi-lagi) pasrah
untuk mengakui kejumudan diri.
Natal
juga sebagai momen retrospeksi. Bahwa pada saat kelahiran - Nya. Yusuf dan
Maria yang hamil tua sedang berjalan di tengah malam di kota
Bethlehem . Di malam dimana seluruh
bintang bersinar sangat terang. Setelah berjalan di seluruh penjuru kota ,
dengan perut melilit, Maria tetap tabah meski ditolak menginap dimana mana. Seperti
juga dalam islam, sebelum terjadinya hijrah, muslim diasingkan oleh kaum
Quraish Mekah.
Maria
dan Yusuf terus berjalan. Tentu tak mudah dengan perut membesar dan sebuah
tanggung jawab iman, Maria merasa menanggung beban seluruh umat manusia. Mereka
berjalan sampai menemukan sebuah kandang untuk tempat berteduh dan melahirkan
bayi Yesus. Hingga orang-orang majusi yang menyembah api merasa berbahagia
karena bintang terang telah lahir di Betlehem.
Apakah
Yesus lahir 25 Desember? Itu bukan perkara penting. Sama dengan perdebatan
mengenai Nabi terakhir Ahmad atau Muhammad. Karena semua ini adalah perkara
Tauhid dan Tauhid adalah masalah keyakinan. Apa yang menjadi keputusan bahwa 25
Desember, terlepas itu perayaan kaum pagan romawi terhadap Apolo, adalah hak dan
milik umat katolik. Dan jika umat islam, atau siapapun mereka yang mengklaim
menjadi pewaris kebernaran Islam tak punya hak apapun untuk ambil bagian.
Imam
Syamsuidin As Sarakhsy al Mabsuth dalam Darul Ma'rifah mengatakan natrukuhum
wamaa yadiinun (biarkan saja masing-masing mereka menenukan pilihan aqidah
mereka). Umat non islam atau kalangan ulama menyebut ahludz dzimmah (artinya
tanggung jawab merujuk kepada nasib mereka merupakan tanggung jawab Allah). Berhak
dilindungi dan diberikan kebebasan untuk melakukan segala liturgi dan akidah
yang mereka yakini.
Mengenai
tafsir umat kristiani (dalam banyak surat
Allah menyebut mereka nasoro atawa ahlul kitab) bahwa 25 Desember adalah hari
kelahiran kristus putra Allah. Itu sepenuhnya adalah tauhid dan aqidah milik
mereka. Sebagai umat islam kita bahkan dituntut untuk menjamin kemerdekaan dan
hak mereka untuk beribadah sesuai dengan ajarannya. Termasuk juga saat mereka
ahludz dzimmah melakukan da'wah.
Logikanya
sederhana. Jika kita sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah dan
menyebarkan agama dengan imbalan surga firdaus yang kekal. Maka mereka dengan
tauhid dan aqidah yang mereka yakini juga pasti memiliki pemahaman serupa. Adalah
sebuah oxymoron jika kemudian kita mengaku beriman dan bertakwa tetapi takut
saat ada umat lain berdakwah. Apakah selemah itu iman kita sehingga perlu
mengekang dan menindas umat lain dalam beribadah?
Dalam
Islamologi karangan Maulana Muhammad Ali, ulama Ahmadiyah Lahore, mengatakan
bahwa jika iman kita kuat. Tidak perlu takut terhadap perubahan yang
bagaimanapun. Karena ajaran awal yang diberikan kepada Nabi adalah kesabaran
dan ketaatan yang tulus. Ia juga membedah dua tahapan dakwah awal islam. Sebagai
fase Mekah dan fase Madinah. Dimana pada fase Mekkah belum ada syariat dan
seluruh umat diminta untuk bersabar. Karena kesabaran itulah kunci dari sebenar
benarnya iman.
Dalam
sejarah dan kesepakatan konsili Nicea, Gereja Katolik berusaha untuk berkembang
dan beradaptasi dengan masyarakat yang ada. Seperti juga umat islam bersepakat
mengenai hal-hal yang tak tertulis dalam Al Quran dan Hadist. Ini merupakan
ijtihad versi gereja Katolik, yang menurut pendapat saya pribadi, patut
dihormati dan dihargai.
Gereja
katolik dan seluruh sekte dalam kristen bersepakat melalui konsili Nicea. Seperti
juga islam bersepakat dalam sidang isbat penentuan idul fitri (yang konyolnya
tak pernah ada perdebatan mengenai idul adha). Semua agama memiliki
perdebatannya sendiri. Bagaimana Calvinis, Opus Dei, Katolik dan Orthodox
memiliki akidah dan tauhidnya sendiri. Kita sebagai umat islam hendaknya
bertoleransi saja.
Islam
adalah agama kedamaian. Seperti etimologi awal As Salaam yang berarti
perdamaian. Islam merupakan rahmatan lil alamin. Tak hanya bagi umat muslim
sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia dan mahluk hidup di antaranya. Kita
bahkan dilarang dan dilaknat Allah untuk tak menghina tuhan umat lain. Seperti
dalam Al An'aam ayat 108. "dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan
mereka selain Allah. Karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas
tanpa pengetahuan,"
Islam
juga melakukan adaptasi, infiltrasi dan modifikasi. Seperti saat permulaan
masuknya islam ke Indonesia
melalui pesisir utara. Tentu kita kenal tembang lir ilir gubahan Sunan Kalijaga
dan bagaimana ia memanfaatkan kebudayaan tersebut sebagai infilitrasi islam ke
tanah jawa. Gereja Katolik juga sama. Pada saat kekaisaran Konstatinus agung,
mereka menyadari bahwa tak mungkin memaksakan ajaran kasih yang luas tanpa ada
kesepakatan melngenai kanon-kanon keimanan. Tanpa ini mustahil ajaran kasih
bisa masuk kedalam relung warga romawi dengan kerelaan.
Adaptasi
adalah kunci keberlangsungan sebuah ajaran. Islam, saya kira juga demikian. Bukankah
islam hanya ada satu di masa Rasulullah Muhammad? Namun kini ada ratusan sekte
dan aliran yang mengklaim kebenaran tunggal. Belum lagi perdebatan Fiqih,
Tauhid dan Syar'i antara Sunni dan Syiah. Gereja katolik juga demikian sampai
dimana mereka terpaksa harus berpisah dengan saudara-saudara protestan. Bahwa
tafsir adalah sebuah efek apa boleh buat dari sebuah agama.
Tak
perlu memaksakan logika agama sendiri terhadap agama lain. Anda yang muslim tak
akan dapat menemukan satupun alasan rasional mengenai trinitas. Seperti juga
umat katolik tak dapat menemukan rasionalitas terhadap ajaran hindu mengenai
tertidurnya Wisnu untuk menciptakan dunia pararel lain. Karena memang agama tak
masuk akal. Dan melogikakan agama adalah pekerjaan paling tolol setelah menjadi
dubing sinetron mak lampir di Indosiar.
Saya
lahir dari keluarga dengan latar belakang islam yang sangat beragam. Kakek saya
adalah seorang Kyai di Banyuwangi, ayah saya adalah pengurus cabang
Muhammadiyah Bondowoso, Kakak saya yang pertama adalah simpatisan hizbut tahrir
dan yang lain adalah self proclaimed eslam protestan. Ini bukan upaya
gagah-gagahan. Ini adalah curhat karena lahir dalam keluarga semacam ini bisa
jadi semacam neraka atau surga tergantung perspektif anda melihat.
Dari
sekian banyak pendapat mengenai tafsir saya diajarkan untuk memiliki kehendak
bebas. Semacam keberanian mencari tahu tentang apa sebenarnya agama islam itu. Bukan
hanya diam saja dan duduk menerima bahwa islam adalah A B C dan seterusnya. Kritis
bukan berarti nyinyir dan liberal. Ada
beberapa batas yang tak perlu lagi dipertanyakan. Seperti keesaan Allah dan
kenabian Muhammad. Tetapi dari kebebasan itu saya malah mendapatkan banyak
pemahaman. Meminjam istilah Romo Yudhi, dalam setiap kebudayaan/literatur ada
bibit-bibit keimanan tuhan.
Terakhir
ada baiknya kita melaksanakan wasiat Umar Ibn Khatab perilhal ahludz dzimmah
seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori. Uushiikum bidzimmatillahi fainnahuu
dzimmatu nabiyikum. (Aku berwasiat kepada kalian agar menjaga Dzimmah
Allah, karena sesungguhnya ia juga merupakan Dzimmah kalian)
ini layak jadi pemenang pulitzer dhan.
BalasHapussuka banget sama tulisan ini dhan, great!!
BalasHapusmakasih mbak.. :D
BalasHapus: like this...
BalasHapus