Senin, 05 Desember 2011

Dear Irine

foto oleh : Monica Anggraeni Dewi


Mari kita mulai tulisan ini tentang revolusi Kuba. Sebuah fragmen sederhana saat Ernesto Guevara De La Serna berdebat dengan Fidel Castro. Saat itu 1959 dan diktaktor Kuba, Fulgencio Batista, kabur ke amerika. Di satu ruangan di pinggir Havana, Ernesto dan Fidel bersitegang mengenai apa yang akan dilakukan seusai revolusi.

Ernesto bertanya kepada Fidel. "Apa yang hendak kau lakukan kepada sisa pendukung Batista?" Dengan tegas Fidel menjawab. "Paredon!"

Wajah si tampan Ernesto langsung menjadi mendung. Sementara suasana diluar lapangan Havana masih sangat meriah. Paredon secara harfiah adalah bahasa Spanyol untuk menghadap Tembok. Namun sejarah kemudian menjadikan kata ini sebagai sebuah bentuk lain teror.

Paredon adalah istilah paska revolusi Kuba untuk ekskusi mati. Pada masa peralihan kekuasaan politik Kuba. Seluruh tawanan politik dikumpulkan dalam gedung yang luas. Seperti stadion dan gedung olahraga. Disana mereka diadili secara jamaah oleh masyarakat. Ada perwakilan pemerintah yang kemudian akan memutuskan hukuman.

Namun kamu tahu Irene? Sebagian besar pendukung Batista yang ditangkap dan diadili oleh rakyat itu berakhir tragis. Karena saat itu hanya ada satu vonis bagi mereka yang dianggap pengkhianat. "Paredon!"

Ernesto menolak ini. Menurutnya sebuah rezim otoriter yang tumbang tak harus dihabisi dengan kekerasan. Jika dengan cinta bisa memperbaiki keadaan. Maka kekerasan tak perlu ada. Tapi Ernesto bukan Fidel. Dan Fidel adalah orang yang saat itu mendapat mandat sebagai pemimpin besar Kuba. Perdebatan ini berakhir dalam kesunyian.

Ku kira kamu perlu tahu ini Irene. Apa yang akan aku ceritakan nantinya adalah tentang perasaan sakit dan dendam akibat pengkhianatan dan ketidak jujuran. Perhal rasa sakit yang kemudian tertinggal dan mengenai bagaimana kamu bertahan dari perasaan kamu sendiri.

Dalam perjalanan hidupnya kemudian Ernesto menyesali ketidakmampuannya membiarkan kebencian mengambil alih Kuba. Kebencian tak pernah menyelesaikan apapun. Ia hanya akan melumat pelan perasaan manusia dan menjadikan mereka patung. Hingga akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan.

Ernesto tidak sendirian Irine. Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan, adalah contoh orang yang berkhianat dan berakhir pada penyesalan. Orang yang menyerah kepada kebencian dan obsesi hingga akhirnya mengorbankan persahabatannya. Kukira kamu tahu kisah ini Irene.

Bersama Mohandas Karamchand Gandhi, Ali Jinnah memimpikan negara India yang berdaulat. Negara yang terbebas dari penindasan Inggris. Mereka berdua kemudian menjadi sahabat dalam perjuangan. Melawan tirani Inggris. Mohandas Ghandi dengan satyagraha sedangkan Ali Jinnah dengan perjuangan hukum dan politik.

Namun pada tahun 1947 Ghandi dan Jinnah harus berpisah. Terkadang dalam persahabatan ada hal-hal perih yang mesti dilakukan untuk jadi dewasa.

Jinnah mendirikan Pakistan dan meninggalkan Ghandi beserta India. Sebelum berdirinya Pakistan, kedua sahabat ini bertemu untuk terakhir kalinya. Saat itu Ghandi menangis dan sakit. Ia berkata "Tolong jangan tinggalkan India sahabatku. Ambillah posisiku. Jadilah perdana Mentri India. Tapi kau jangan pergi," namun permintaan ini ditolak Jinnah.

Kelak Jinnah menyesali keputusannya ini. Di ambang nafas menuju kematiannya Jinnah berkata. "Duh yang maha agung. Jika saja aku mendengar sahabatku," katanya.

Kukira kamu perlu tahu ini Irene. Seperti yang ku bilang. Jangan pernah mengambil keputusan saat kamu sedang emosi. Kesedihan hanya akan membutakan nalar dan kemarahan hanya akan membuat kita malu.

Semua ini diawali satu pada satu alasan. Sejak awal Fidel dan Ernesto tak pernah jujur tentang ending dari perjuangan mereka yang melahirkan Paredon. Sementara Ghandi dan Jinnah sama-sama sungkan berbicara perihal perbedaan keyakinan konsepsi negara ideal.

Segala yang berawal dari ketidakjujuran hanya akan membawa luka. Mungkin ada kebahagiaan. Seperti yang sesaat dialami Jinnah. Namun pada akhirnya penyesalan itu selamanya melekat.

Irine. Kamu gadis baik. Kamu dan aku mungkin sama. Orang yang disandera kenangan dan kerap kali menyerah pada keadaan daripada kemudian melawan. Kita sama-sama terlalu takut untuk berdiri dan berhenti berharap. Rasa nyaman akan masa lalu kerap kali berjelaga. Dan itu Irene harus kamu lawan.

Kamu punya kesempatan untuk berdiri dan berkuasa atas keinginan kamu sendiri. Tidak hanya diam meratapi nasib yang terlanjur tengik. Kamu gadis baik dengan banyak pesona. Kamu bisa nari. Bisa nulis. Bisa digoblok goblokin. Namun diatas itu semua kamu bisa membuat orang yang ada disekitar kamu nyaman. Aku tahu itu. Karena kamu bikin aku nyaman. Apalagi pas bayarin makan nasigoreng sapi.

Kukira kamu harus berhenti menangis. Berhenti menunggu penyelesaian dari orang lain. Kamu harus tahu, tak ada satupun orang di kolong langit yang berhak menentukan nasib kita. WS Rendra dalam sajak bersatulah pelacur pelacur kota Jakarta menulis :


"Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban"

Sesalkan apa yang mesti kamu sesali Irine. Itu manusiawi. Karena kamu bukan Dahlan Iskan yang hatinya sudah diganti. Kamu gadis biasa yang bisa putus asa dan sedih. Tapi jangan pernah kamu relakan diri sendiri untuk jadi kurban. Menjadi tumbal yang entah kapan bisa kamu sudahi. Jadi bangunlah Irene. Dan sudahi tangisan kamu. Cuci muka lalu tidurlah. Kutuk semua nama yang melukaimu. Lalu bangkit berdiri.

Jangan cengeng. Karena tangisan tak akan menyelesaikan masalah.

Sincerely.
Orang Jember Paling Kece di Selokan Mataram

1 komentar:

  1. feels like somebody is advising me...:) ah Dhani...:)

    BalasHapus