Sabtu, 18 Februari 2012

Jember Pada Suatu Masa


Pasar tanjung tempo dulu (foto oleh Frans Yughananta)

H Mohammad Handanuhendro S.H adalah pria dengan rambut keperakan dan wajah yang teduh. Dalam menikmati masa pensiunnya ini, Handanu, begitu ia disapa lebih banyak diam dirumah dan menikmati waktu berkumpul bersama keluarga. “Saya mengabdi untuk Jember lebih dari 32 tahun. Sama dengan masa bakti Pak Harto,” katanya berkelakar.

            Handanu adalah sedikit dari warga pendatang Jember yang mengamati dan mengalami langsung perubahan Jember sejak tiga dekade silam. Ragam variasi perkerjaannya dalam kepemerintahan Jember telah banyak memberinya pemahaman mengenai kota Tembakau ini. “Saya pertama kali datang 1970 dan bekerja sebagai pegawai rendah sampai terakhir menjadi sekda pada 2002 lalu.”

            Pada 1970 an Jember tidaklah sebesar sekarang. Suasana kota Jember lebih seperti kota di pegunungan karena banyak pohon tinggi dan berhawa sejuk. Handanu sangat mengingat kenangan ini, karena sebagai orang yang besar di Malang, Jember membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. “Waktu itu tak banyak kendaraan bermotor, sepeda aja jarang. Tenang dan sejuk sekali seperti Malang.” 

            Nama Jember sebenarnya dikenal berdasarkan jurnal kepemerintahan Belanda di Jawa Timur, Provinciaal Blad Ban Oost Java, tertanggal 7 September 1929. Handanu sendiri tak banyak paham mengenai ini. Namun dari perbincangan ringan dengan beberapa warga sepuh asli Jember. Diketahui bahwa Jember awalnya tidak dikembangkan sebagai kota administratif namun kota Perkebunan. “Jadi dulu pun saya sempat menjadi asisten pembantu untuk mengurus perusahaan perkebunan ini. dan memang sangat besar sekali perkebunan di Jember ini.”

           Mantan Sekab Jember ini juga berkisah mengenai kekagumannya dengan arsitektur Belanda tempo dulu. Seperti Alun-alun kota yang kini telah banyak berubah. Dahulu lokasi alun alun jauh lebih besar dengan rumput dan pohon yang lebat. Dan disebelah masjid jami’ lama ada penjual rujak yang sangat enak. “Saya dulu suka sekali kesana. Rujaknya segar dan sangat laris. Jadi kalau beli harus antri.” 

Jember tempo dulu hanyalah sebuah kota kecil dengan sedikit penduduk. Hal ini juga digambarkan dalam catatan sejarah kota yang ada di profil kabupaten Jember sebagai "Kota asri yang penduduknya mengenal satu sama lain." Sedangkan di jaman itu, pusat perdagangan sekaligus pusat hiburan masyarakat adalah Kompleks Pasar Tanjung sampai Jalan Sultan Agung. Di tempat itulah, perekonomian Jember digerakkan oleh masyarakat Tionghoa.

Terminal Lama Jember di Dekat Pasar Tanjung (foto oleh Frans Yughananta)





























Toko itu terletak di belokan Jalan Samanhudi yang menuju Jalan Sultan Agung, dekat dengan Jembatan Jompo. Di bangunan yang penuh dengan alat-alat pertanian, timbangan, dan peralatan besi lainnya, Suroso menjalankan usahanya setiap hari. Toko itu menjadi saksi bisu kondisi kawasan pecinan di Jalan Samanhudi.

            Suroso mengenang, dulu, ketika jaman perjuangan kemerdekaan ketika kawasan itu menjadi pusat perekonomian yang digerakkan oleh para pedagang Tionghoa, rasa persaudaraan begitu terasa. “Setiap malam, para pemilik toko di sini mengadakan pertemuan di tengah jalan itu,” katanya. Mereka mengobrol ngalor-ngidul sambil merasakan kudapan dan minuman.

            Membicarakan kondisi negara sampai kemajuan perdagangan yang mereka lakukan. Di pertengahan abad ke-19, ada migrasi masyarakat Tionghoa yang termasuk bangsa Hokkien. Mereka datang sebagai pelaku ekonomi. Di antara mereka ada yang bekerja sebagai pedagang hasil bumi, pedagang kelontong, tukang kredit, rentenir maupun usaha di bidang pertanian. Dan mereka membentuk pemukiman sendiri, yang berpusat di kawasan Pasar Tanjung, khususnya Jalan Samanhudi.

            Sampai saat ini pun, masih banyak keturunan mereka yang tinggal di sana. Melanjutkan usaha kakek dan nenek mereka. Di masa itu, kebanyakan dari mereka menjual barang-barang kebutuhan hidup. Seperti sembilan bahan pokok, dan kebutuhan bahan bakar, seperti minyak tanah. Meski tak sedikit pula yang memilih bekerja sebagai pengusaha properti dan juga bisnis perusahaan perbankan.

           Sementara itu jauh sebelumnya pada 1850 George Birnie, seorang Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan tembakau di Jember. Hasilnya kemudian dipasarkan ke Eropa. Dan mendapat pengakuan kualitas sangat baik. Hal ini yang kemudian menjadi cikal bakal dimana Jember semakin berkembang sebagai kota pertanian dan perkebunan. Dalam catatan perusahaannya dikatakan, Birnie membawa pekerja asal Madura untuk bekerja di ladang tembakau.


Vila Rembangan Lokasi plesir para Tuan dan Noni Belanda (foto oleh Frans Yughananta)

Kebanyakan ladang tembakau yang dibuat Birnie berada di kawasan utara Jember. Sehingga sampai sekarang keturunan mereka banyak mendiami daerah itu. Hal ini bisa dilihat. Sementara kawasan selatan Jember banyak dihuni oleh orang-orang perantau dari Magelang, Sragen, Ngawi dan sebagaian dari Bugis.

            Handanu mengatakan bahwa kawasan selatan Jember yang subur, memang banyak didiami oleh pendatang asal Jawa karena insting sebagai petani. Pertemuan dua kebudayaan ini yang kemudian membentuk Jember dengan begitu banyak budaya campuran. “Saat saya datang 1970 orang Jember itu dikenal dengan setengah satu. Maksudnya banyak menggunakan kata kerja dan benda dengan awalan setengah dan satu. Seperti lun alun dan lan jalan,” katanya.

            Namun Jember sempat mengalami peristiwa kelam berdarah saat Pemberontakan PKI terjadi pada tahun 1965. Sungai Bedadung yang membelah Jember sempat memerah dengan darah. Kebanyakan memang bukan warga Jember tapi dari pinggiran Jember yang berbatasan dengan Bondowoso. “Imbasnya adalah banyak aktifitas orang tionghoa yang ditutup. Karena saat itu China adalah negara komunis,” kata Suroto.

            Padahal pada 1950-1960an setiap Imlek tiba selalu ramai dan meriah. Karena pusat kota Jember memang dihuni oleh para warga Tionghoa. Saat itu jalanan pada malam hari ditutup, barongsai, liang-liong dan para penari tumpah ruah di jalanan untuk unjuk kebolehan. “Saya ingat papa saya dulu suka bagi angpau sama tetangga. Jadi kita orang dulu sama orang lokal akrab,” kata Suroto.

            Namun Intruksi Presiden Soeharto (Inpres) No 14/1967 tentang larangan kegiatan bagi kaum tionghoa membuat semua itu hilang. Banyak di antara kaum tionghoa yang terpinggirkan dan harus merelakan usahanya hilang karena dituduh antek PKI. “Suasana sangat mencekam. Padahal bupati pertama Jember itukan keturunan tionghoa,” lanjutnya.

            Meski Jember telah banyak berkembang selama 83 tahun terakhir, tapi ada beberapa landmark (situs bersejarah) yang masih tegak berdiri sampai hari ini. Seperti gedung mesjid Jami’ yang dulunya merupakan kantor wedana (pejabat setara wakil bupati). “Gedung itu dulu ada aula dan kantor pemerintahan. Lengkap dengan tempat tinggal Wedana,” kata Handanu.

            Pusat pertokoan di kawasan jalan Sultan Agung juga dulunya dua arah. Dan semakin meningkatnya perekonomian dan penduduk kota Jember membuat kota ini berkembang semakin jauh. Beberapa gedung seperti BTN yang dulunya gedung bank Indonesia mengalami perubahan nama dan fungsi. Namun kondisi gedung-gedung ini setidaknya masih dirawat dengan baik.

Jember dulunya hanya sebuah afdeling dibawah naungan gewesteljik bestuur besoeki yang dipimpin residen dan hanya memiliki enam distrik seperti distrik Jember, Sukokerto, Mayang, Rambipuji, Tanggul dan Puger. Pemerintah Hindia Belanda lantas meningkatkan status Jember menjadi Regentschap yang setara kabupaten. “Waktu itu yang ditunjuk menjadi bupati adalah Notohadinegoro dia menjadi orang pribumi pertama yang menjadi menjadi pemimpin Jember,” tutur Handanu.


Kantor Wedana Jember yang pernah beralih jadi masjid (foto oleh Frans Yughananta)



Handanu lantas berkisah bahwa surat penetapan Jember sebagai Kabupaten ditandatangani Belanda tertanggal 9 Agustus 1928. Namun surat itu berlaku efektif 1 Januari yang dikemudian hari dianggap sebagai hari ulang tahun kota Jember. “Tapi jika melihat warisan budaya dan keanekaragaman budaya yang ada. Usia Jember jauh lebih dari itu.”

Perkembangan kota Jember yang dinamis dan cepat ini juga mengalami permasalahannya sendiri. Seperti banyak gedung gedung tua warisan Belanda yang harus “mengalah” karena kurang representatif atau mengganggu “pembangunan”. Tengok saja kondisi alun-alun kota Jember yang tak lagi dikelilingi gedung tua khas belanda. Seperti Kantor pengadilan lama, atau Hotel Djember yang legendaris.

Bekas kantor kawedanan yang terletak di jalan Sultan Agung juga kini berubah menjadi pusat pertokoan. Handanu juga menjelaskan jika gedung pusat penelitian dan kakau Indonesia yang diresmikan pada 1 Januari 1911 dengan nama Besokisch Proefstantion pun telah dipugar. “Sayang sekali sebenarnya. Dikota lain sedang berlomba merawat dan melestarikan tapi disini ada yang dibiarkan atau bahkan di hancurkan.” 

Handanu juga berkisah mengenai patung Moh Sroedji yang ada di depan kantor Pemda Jember. Dahulu patung itu berada di sisi barat alun-alun. Namun karena letaknya yang berdekatan dengan mesjid banyak yang keberatan. Karena dapat dimakn`i sebagai usaha menyembah patung tersebut. “Sehingga harus dipindahkan untuk kepentingan bersama,” katanya meniru koran lama.

Jika Jember merawat landmark-landmark tadi bukan tak mungkin Jember akan dikenal seperti Praha, ibukota negara Ceko yang terkenal dengan gedung-gedung berasitektur baroq. Gedung peninggalan Belanda di Indonesia dirasa sangat istimewa karena di negeri asalnya, arsitektur semacam ini jarang ditemui. Kelak kita yang muda ini hanya bisa gigit jari. Dan mengagumi masa lampau lewat gambar foto yang usang.
            

5 komentar:

  1. kalau liat jember di zaman dahulu kykx seruh dech,,,,,

    BalasHapus
  2. Jadi ingat masa kecil... di pertigaan antara Jl. Sultan Agung dan masjid Jamik lama serta kantor wedana di tengah2-nya dulu ada kolam ikan... isinya ikan mas... Ada juga tugu dengan ujung lampion berbentuk nyala api lilin berwarna merah.. ahh masih banyak lagi

    BalasHapus
  3. hm... rasanya baru kemarin ya.. ingat rembangan saya pernah mandi waktu itu. banyak kupu2bersayap lebar. Pasartanjung ingat penampung air. sekitar thn1970. saya berada di bawahnya. trimakasih sdh menayangkan foto jember jaman dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tahun 1970 an mas BG (Banyuwangi Blogger) ada di bawahnya, jangan2 usia kt sebaya. Ingat pangkalan oplet tua itu, ingat tiap kali ke Puger naik oplet sambil tiap kali sopirnya ngisi air radiatornya hahaha

      Hapus
  4. Ketika disebutkan "Hotel Djember", ingatan saya langsung melayang pada sekitar 30 th yg lalu. Ya, di halaman "Hotel Djember" itulah saya dan teman-teman masa kecil bermain setiap sore. Halamannya luas dengan pohon cemara berjajar di depannya. Ada tiga bangunan di sana, lokasi paling utara berfungsi sbg Gedung Bioskop, sedangkan dua yg lain sbg Hotel. Tepat di depan bangunan tengah, terdapat bagunan kecil yg konon berfungsi sbg penjualan ticket masuk bioskop. Saat saya sering bermain disana setiap sore, bagunan itu sudah berfungsi sbg Puskesmas. Malam harinya, sepulang mengaji, saya dan teman-teman "berburu" cicak dan tokek di sana. heheheee.... Sayangnya bangunan bersejarah itu kini sudah musnah, termasuk juga kampung halaman saya yang terletak tepat dibelakang "Hotel Djember" dan kini berubah menjadi Gedung Bank BRI......

    BalasHapus