![]() |
Pasar tanjung tempo dulu (foto oleh Frans Yughananta) |
H Mohammad Handanuhendro S.H adalah pria dengan rambut keperakan dan
wajah yang teduh. Dalam menikmati masa pensiunnya ini, Handanu, begitu ia
disapa lebih banyak diam dirumah dan menikmati waktu berkumpul bersama
keluarga. “Saya mengabdi untuk Jember lebih dari 32 tahun. Sama dengan masa
bakti Pak Harto,” katanya berkelakar.
Handanu adalah sedikit
dari warga pendatang Jember yang mengamati dan mengalami langsung perubahan
Jember sejak tiga dekade silam. Ragam variasi perkerjaannya dalam
kepemerintahan Jember telah banyak memberinya pemahaman mengenai kota Tembakau ini. “Saya
pertama kali datang 1970 dan bekerja sebagai pegawai rendah sampai terakhir
menjadi sekda pada 2002 lalu.”
Pada 1970 an Jember
tidaklah sebesar sekarang. Suasana kota Jember
lebih seperti kota
di pegunungan karena banyak pohon tinggi dan berhawa sejuk. Handanu sangat
mengingat kenangan ini, karena sebagai orang yang besar di Malang , Jember membuatnya jatuh cinta pada
pandangan pertama. “Waktu itu tak banyak kendaraan bermotor, sepeda aja jarang.
Tenang dan sejuk sekali seperti Malang. ”
Nama Jember sebenarnya dikenal berdasarkan jurnal kepemerintahan Belanda di Jawa Timur, Provinciaal Blad Ban Oost Java, tertanggal 7 September 1929. Handanu sendiri tak banyak paham mengenai ini. Namun dari perbincangan ringan dengan beberapa warga sepuh asli Jember. Diketahui bahwa Jember awalnya tidak dikembangkan sebagai
Mantan Sekab Jember ini juga berkisah
mengenai kekagumannya dengan arsitektur Belanda tempo dulu. Seperti Alun-alun kota yang kini telah
banyak berubah. Dahulu lokasi alun alun jauh lebih besar dengan rumput dan
pohon yang lebat. Dan disebelah masjid jami’ lama ada penjual rujak yang sangat
enak. “Saya dulu suka sekali kesana. Rujaknya segar dan sangat laris. Jadi
kalau beli harus antri.”
Jember tempo dulu hanyalah sebuah kota kecil dengan sedikit penduduk. Hal ini juga digambarkan dalam catatan sejarah kota yang ada di profil kabupaten Jember sebagai "Kota asri yang penduduknya mengenal satu sama lain." Sedangkan di
jaman itu, pusat perdagangan sekaligus pusat hiburan masyarakat adalah Kompleks Pasar Tanjung sampai Jalan Sultan Agung. Di tempat itulah,
perekonomian Jember digerakkan oleh masyarakat Tionghoa.
Toko itu terletak di belokan Jalan Samanhudi yang menuju Jalan Sultan Agung, dekat dengan Jembatan Jompo. Di bangunan yang penuh dengan alat-alat pertanian, timbangan, dan peralatan besi lainnya, Suroso menjalankan usahanya setiap hari. Toko itu menjadi saksi bisu kondisi kawasan pecinan di Jalan Samanhudi.
Suroso mengenang, dulu, ketika jaman
perjuangan kemerdekaan ketika kawasan itu menjadi pusat perekonomian yang
digerakkan oleh para pedagang Tionghoa, rasa persaudaraan begitu terasa.
“Setiap malam, para pemilik toko di sini mengadakan pertemuan di tengah jalan
itu,” katanya. Mereka mengobrol ngalor-ngidul sambil merasakan kudapan
dan minuman.
Membicarakan kondisi negara sampai
kemajuan perdagangan yang mereka lakukan. Di pertengahan abad ke-19, ada
migrasi masyarakat Tionghoa yang termasuk bangsa Hokkien. Mereka datang sebagai pelaku ekonomi. Di antara mereka
ada yang bekerja sebagai pedagang hasil bumi, pedagang kelontong, tukang
kredit, rentenir maupun usaha di bidang pertanian. Dan mereka membentuk
pemukiman sendiri, yang berpusat di kawasan Pasar Tanjung, khususnya Jalan
Samanhudi.
Sampai saat ini pun, masih banyak
keturunan mereka yang tinggal di sana. Melanjutkan usaha kakek dan nenek
mereka. Di masa itu, kebanyakan dari mereka menjual barang-barang kebutuhan
hidup. Seperti sembilan bahan pokok, dan kebutuhan bahan bakar, seperti minyak
tanah. Meski tak sedikit pula yang memilih bekerja sebagai pengusaha properti dan juga bisnis perusahaan perbankan.
Sementara itu jauh sebelumnya pada 1850 George
Birnie, seorang Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan tembakau di
Jember. Hasilnya kemudian dipasarkan ke Eropa. Dan mendapat pengakuan kualitas
sangat baik. Hal ini yang kemudian menjadi cikal bakal dimana Jember semakin
berkembang sebagai kota
pertanian dan perkebunan. Dalam catatan perusahaannya dikatakan, Birnie membawa
pekerja asal Madura untuk bekerja di ladang tembakau.
![]() |
Vila Rembangan Lokasi plesir para Tuan dan Noni Belanda (foto oleh Frans Yughananta) |
Kebanyakan ladang tembakau yang dibuat Birnie
berada di kawasan utara Jember. Sehingga sampai sekarang keturunan mereka
banyak mendiami daerah itu. Hal ini bisa dilihat. Sementara kawasan selatan
Jember banyak dihuni oleh orang-orang perantau dari Magelang, Sragen, Ngawi dan
sebagaian dari Bugis.
Handanu mengatakan
bahwa kawasan selatan Jember yang subur, memang banyak didiami oleh pendatang
asal Jawa karena insting sebagai petani. Pertemuan dua kebudayaan ini yang
kemudian membentuk Jember dengan begitu banyak budaya campuran. “Saat saya
datang 1970 orang Jember itu dikenal dengan setengah satu. Maksudnya banyak
menggunakan kata kerja dan benda dengan awalan setengah dan satu. Seperti lun
alun dan lan jalan,” katanya.
Namun Jember sempat
mengalami peristiwa kelam berdarah saat Pemberontakan PKI terjadi pada tahun
1965. Sungai Bedadung yang membelah Jember sempat memerah dengan darah. Kebanyakan
memang bukan warga Jember tapi dari pinggiran Jember yang berbatasan dengan
Bondowoso. “Imbasnya adalah banyak aktifitas orang tionghoa yang ditutup.
Karena saat itu China
adalah negara komunis,” kata Suroto.
Padahal pada
1950-1960an setiap Imlek tiba selalu ramai dan meriah. Karena pusat kota Jember memang dihuni
oleh para warga Tionghoa. Saat itu jalanan pada malam hari ditutup, barongsai,
liang-liong dan para penari tumpah ruah di jalanan untuk unjuk kebolehan. “Saya
ingat papa saya dulu suka bagi angpau sama tetangga. Jadi kita orang dulu sama
orang lokal akrab,” kata Suroto.
Namun Intruksi Presiden Soeharto (Inpres)
No 14/1967 tentang larangan kegiatan bagi kaum tionghoa membuat semua itu
hilang. Banyak di antara kaum tionghoa yang terpinggirkan dan harus merelakan
usahanya hilang karena dituduh antek PKI. “Suasana sangat mencekam. Padahal bupati
pertama Jember itukan keturunan tionghoa,” lanjutnya.
Meski Jember telah
banyak berkembang selama 83 tahun terakhir, tapi ada beberapa landmark (situs
bersejarah) yang masih tegak berdiri sampai hari ini. Seperti gedung mesjid
Jami’ yang dulunya merupakan kantor wedana (pejabat setara wakil bupati).
“Gedung itu dulu ada aula dan kantor pemerintahan. Lengkap dengan tempat
tinggal Wedana,” kata Handanu.
Pusat pertokoan di
kawasan jalan Sultan Agung juga dulunya dua arah. Dan semakin meningkatnya
perekonomian dan penduduk kota Jember membuat kota ini berkembang
semakin jauh. Beberapa gedung seperti BTN yang dulunya gedung bank Indonesia
mengalami perubahan nama dan fungsi. Namun kondisi gedung-gedung ini setidaknya
masih dirawat dengan baik.
Jember dulunya hanya sebuah afdeling
dibawah naungan gewesteljik bestuur besoeki yang dipimpin residen dan
hanya memiliki enam distrik seperti distrik Jember, Sukokerto, Mayang,
Rambipuji, Tanggul dan Puger. Pemerintah Hindia Belanda lantas meningkatkan
status Jember menjadi Regentschap yang setara kabupaten. “Waktu itu yang
ditunjuk menjadi bupati adalah Notohadinegoro dia menjadi orang pribumi pertama
yang menjadi menjadi pemimpin Jember,” tutur Handanu.
Handanu lantas berkisah bahwa surat penetapan Jember sebagai Kabupaten
ditandatangani Belanda tertanggal 9 Agustus 1928. Namun surat
itu berlaku efektif 1 Januari yang dikemudian hari dianggap sebagai hari ulang
tahun kota
Jember. “Tapi jika melihat warisan budaya dan keanekaragaman budaya yang ada.
Usia Jember jauh lebih dari itu.”
Perkembangan kota Jember yang dinamis dan cepat ini juga
mengalami permasalahannya sendiri. Seperti banyak gedung gedung tua warisan
Belanda yang harus “mengalah” karena kurang representatif atau mengganggu
“pembangunan”. Tengok saja kondisi alun-alun kota Jember yang tak lagi dikelilingi gedung
tua khas belanda. Seperti Kantor pengadilan lama, atau Hotel Djember yang
legendaris.
Bekas kantor kawedanan yang terletak di jalan
Sultan Agung juga kini berubah menjadi pusat pertokoan. Handanu juga menjelaskan jika gedung pusat penelitian
dan kakau Indonesia
yang diresmikan pada 1 Januari 1911 dengan nama Besokisch Proefstantion
pun telah dipugar. “Sayang sekali sebenarnya. Dikota lain sedang berlomba
merawat dan melestarikan tapi disini ada yang dibiarkan atau bahkan di
hancurkan.”
Handanu juga berkisah mengenai patung Moh
Sroedji yang ada di depan kantor Pemda Jember. Dahulu patung itu berada di sisi
barat alun-alun. Namun karena letaknya yang berdekatan dengan mesjid banyak
yang keberatan. Karena dapat dimakn`i sebagai usaha menyembah patung tersebut.
“Sehingga harus dipindahkan untuk kepentingan bersama,” katanya meniru koran
lama.
Jika Jember merawat landmark-landmark
tadi bukan tak mungkin Jember akan dikenal seperti Praha, ibukota negara Ceko
yang terkenal dengan gedung-gedung berasitektur baroq. Gedung peninggalan
Belanda di Indonesia dirasa sangat istimewa karena di negeri asalnya,
arsitektur semacam ini jarang ditemui. Kelak kita yang muda ini hanya bisa
gigit jari. Dan mengagumi masa lampau lewat gambar foto yang usang.
kalau liat jember di zaman dahulu kykx seruh dech,,,,,
BalasHapusJadi ingat masa kecil... di pertigaan antara Jl. Sultan Agung dan masjid Jamik lama serta kantor wedana di tengah2-nya dulu ada kolam ikan... isinya ikan mas... Ada juga tugu dengan ujung lampion berbentuk nyala api lilin berwarna merah.. ahh masih banyak lagi
BalasHapushm... rasanya baru kemarin ya.. ingat rembangan saya pernah mandi waktu itu. banyak kupu2bersayap lebar. Pasartanjung ingat penampung air. sekitar thn1970. saya berada di bawahnya. trimakasih sdh menayangkan foto jember jaman dulu.
BalasHapusKalau tahun 1970 an mas BG (Banyuwangi Blogger) ada di bawahnya, jangan2 usia kt sebaya. Ingat pangkalan oplet tua itu, ingat tiap kali ke Puger naik oplet sambil tiap kali sopirnya ngisi air radiatornya hahaha
HapusKetika disebutkan "Hotel Djember", ingatan saya langsung melayang pada sekitar 30 th yg lalu. Ya, di halaman "Hotel Djember" itulah saya dan teman-teman masa kecil bermain setiap sore. Halamannya luas dengan pohon cemara berjajar di depannya. Ada tiga bangunan di sana, lokasi paling utara berfungsi sbg Gedung Bioskop, sedangkan dua yg lain sbg Hotel. Tepat di depan bangunan tengah, terdapat bagunan kecil yg konon berfungsi sbg penjualan ticket masuk bioskop. Saat saya sering bermain disana setiap sore, bagunan itu sudah berfungsi sbg Puskesmas. Malam harinya, sepulang mengaji, saya dan teman-teman "berburu" cicak dan tokek di sana. heheheee.... Sayangnya bangunan bersejarah itu kini sudah musnah, termasuk juga kampung halaman saya yang terletak tepat dibelakang "Hotel Djember" dan kini berubah menjadi Gedung Bank BRI......
BalasHapus