Kamis, 16 Februari 2012

Memanusiakan Manusia






Apakah semua anggota organ garis keras  itu sekumpulan idiolog yang kaku?

Hari ini saya menemukan jawabannya. Ada tetangga kosan, sebut saja ia Usman, ia seorang simpatisan HT. Dalam setiap demonstrasi penolakan Obama dan Amerika ia selalu ikut. Dalam setiap kajian mengenai hukum negara islam ia selalu datang. Awalnya saya mengira ia adalah seorang yang fanatik. Seseorang yang taklid buta menginginkan khilafah sebagai harga mati perubahan di republik ini.

Sambil makan pecel kami berbincang sebentar mengenai kehidupan. Sekedar basa basi karena telah bertemu di jalan. Di tengah perbincangan ponsel saya berbunyi, nada derngnya adalah potongan lagu rage againts the machine. "Wah suka Rage juga mas?" tanya Usman. karena tak menyimak saya jawab "Apa mas?" "Itu lagunya. Rage Againts The Machine?" saya terkejut karena bang usman yang punya jenggot tipis itu mengenal Zack dan kawan-kawan.

Perbincangan itu lantas mengantarkan kami pada perbincangan mengenai lagu-lagu kanon RATM dan musik lain. Ternyata saat mudanya (Usman saya perkirakan berusia 30 tahunan) merupakan penggemar musik seperti RATM, Megadeth dan Antrax. Dengan dandanan celana kain cingkrang dan kaus bertuliskan Khilafah Sedunia, saya pikir saya sedang bermimpi. Bagaimana tidak? komunitas yang selalu getol menolak demorkasi liberal dan menyeru pada hukum syariah islam ini ternyata menyukai musik yang dianggap kafir.

Sepertinya saya lupa bahwa dalam suatu hikayat Rasullulah yang diriwayatkan Abu Hurrairah "Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya." juga ayat dari Al Maidah 8 " Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.”  Saya lupa bahwasanya orang-orang seperti Usman juga mungkin habib-habib FPI merupakan manusia biasa. Dimana saat muda mereka memiliki memori kolektif terhadap sebuah trend.

Bukan tidak mungkin jika Beib Rizieq pada masa mudanya adalah metal head yang menggemari Motley Crue dan Kix. Bagaimana jika Abu Bakar Baasyir adalah fans berat Tiga Dara atau Muddy Watters? Semua kemungkinan kemungkinan itu menjadikan para tokoh garis keras tadi menjadi sesosok manusia biasa. Bahwa mereka juga sama seperti kita makan nasi, nonton televisi, membaca koran dan buang air. melahirkan pemahaman bahwa mereka juga memiliki perasaan, keinginan, gairah dan obsesi.

Adalah tak adil jika kemudian kita menghakimi para tokoh garis keras, juga para pengikutnya sebagai manusia yang kering. Dengan bayangan mereka adalah orang-orang kaku yang kerjaannya hanya membaca kitab, mengkafirkan orang dan melakukan pengrusakan. Bagaimana jika dalam kesehariannya mereka adalah orang-orang yang biasa kita temui di jalan? Sebagai kernet angkot, petugas pajak atau mahasiswa S3?

Pilihan Usman untuk kemudian bergabung dalam HT adalah murni hak asasinya sebagai manusia merdeka. Sebagaimana juga pilihan manusia lain untuk beriman kepada Yesus, Budha atau YHWH. Tak ada manusia lain, atau kelompok yang berhak memaksakan kehendaknya itu. “Saya tak pernah merasakan paksaan atau cuci otak seperti yang dituduhkan orang liberal itu,” katanya. Saya tak berani membayangkan jika ia tahu bahwa saya adalah seorang pemikir bebas?

Penilaian-penilaian terhadap manusia lain akan berujung kepada seberapa besar lingkar otak kita dalam melakukan analisa. Apakah kita menganggap mereka pahwalan atau seorang preman. Tak salah jika para remaja tanggung yang mengidolakan restorasi negara (juga keimanan) bersikap ekstrim terhadap kondisi kekinian. Siapa yang tak jengah (atau bernafsu) melihat gadis dengan rok mini? Atau dijual bebasnya minuman keras? Atau bagaimana kapitalisasi perusahaan barat telah merongrong kedaulatan negeri ini?

Keimanan, seperti yang dikatakan Al Imam Syafi’i, memiliki tingkatan-tingkatan. Ada iman yang sangat sempurna, ada iman yang berkurang, dan ada iman yang jelas kekurangannya dan ada pula iman yang bertambah. Seorang zuhud seperti Imam Syafi’i pun, dalam hidupnya menghindarkan diri dari pertentangan tafsir keimanan. Juga pertentangan mengenai moralitas dan kebenaran diri sendiri.

Dalam suatu pertemuam Imam Syafi’i pernah ditantang berdebat mengenai suatu permasalahan. Namun perdebatan itu dilakukan atas dasar kebencian pribadi dan bukan usaha mencari rahmat illahi. Maka sang imam menyampaikan sebuah ayat “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (An’am: 68)

Maka manusia dengan otak paling lemot pun akan bisa menilai bagaimana asmaul husna di perlakukan. Apakah ia dibiarkan diumbar dijalanan dengan parang terhunus dan mulut menuh khamr. Atau dalam sebuah majelis yang santun dan mengedepankan argumentasi dan rasa cinta kasih. Saya tak mengatakan bahwa Usman dan rekan-rekannya adalah para penjual nama tuhan di jalanan. Lebih dari itu saya menghormatinya sebagai manusia yang juga bisa alpa.

Saya kira Usman merujuk pada kejadian Ahmadiyah di Cikeusik. Saya benar-benar tergoda untuk bertanya pendapat HT terhadap ahmadiyah. Namun dari matanya saya percaya bahwa Usman adalah manusia yang mencintai perdamaian. Juga seorang muslim yang meyakini hukum dalam An Nisa: 93. “....Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.

Lalu bagaimana kemudian awal mula kekerasan itu terjadi? Mengenai sekelompok manusia yang mengaku pewaris kebenaran illahi? Mungkin para remaja tanggung yang tak sempat merasakan kegetiran tragdei 98 perlu membaca sejarah. Bagaimana Pam Swakarsa dibentuk militer sebagai dalih pengendalian masa. Dan bagaimana organisasi fasis berlabel agama itu menjadi sektarian dan semakin radikal.

Usman dalam perbincangan yang sangat singkat itu memberikan saya pemahaman yang luas. Bahwa sebagai manusia ia juga memiliki kekurangan, memiliki keinginan, dan juga memiliki kesamaaan dengan manusia lain. Fakta jika ia juga menggemari Farrokh Bulsara adalah sebuah kejutan yang keras. Bahwa mereka yang senantiasa membawa panji-panji hitam kilafah adalah manusia biasa seperti kita.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi perbedaan? Apakah dengan menunaikan dictum grup hiphop homicide yang mengatakan “Fasis yang baik adalah fasis yang mati,” lantas jika demikian apa beda kita dengan kaum fasis yang kita lawan tadi? Mengingat kata-kata Gandhi yang bijak. “Jika setiap kejahatan mata dibayar dengan mata. Maka seluruh dunia akan diisi oleh orang buta,”

Kanjeng Nabi Muhammad seperti juga Sidharta di bawah pohon bodhi sedang berupaya memutus mata rantai kekerasan. Pada zamannya kanjeng Nabi harus berhadapan dengan hukum barbar suku-suku arab. Dimana setiap pembunuhan harus dibayar dengan qisas atau diganti dengan harta yang banyak. Maka inilah arti Islam (atau As Salam) sebagai damai mewujud. Sebagai rahmatan lil alamin.

Ia lantas bercerita tentang Hari Mukti, salah satu tokoh HT, juga merupakan mantan rocker dan penggemar musik keras. “Tapi kalau dalam hati mas Usman sendiri gimana?” tanya saya. “Gak pernah ada yang namanya mantan metalheads. Selamanya demikian. Tapi sekarang saya lebih banyak dzikir,” katanya. Perkataanya membuat saya terbayang, bagaimana jika Zack de La Rocha suatu saat menjadi seorang mubaligh?

3 komentar:

  1. Coba cari tahu lagi, ternyata para simpatisan FPI sepanjang Pantai Utara Jawa Timur adalah penggemar berat Kumar sanu dan Alka Yagnik, beserta lirik-lirik ajaibnya.

    BalasHapus
  2. wah iyakah? ternyata mereka juga suka musik juga hahaha

    BalasHapus
  3. Ada baiknya sebelum memberikan penilain tersendiri terhadap pribadi terhadap seseorang, kita menghabiskan waktu dengannya barang sejam diwarung kopi. Suka tulisan ini. hehe

    BalasHapus