Apakah semua anggota organ garis keras itu sekumpulan idiolog yang kaku?
Hari ini saya menemukan jawabannya. Ada tetangga kosan, sebut
saja ia Usman, ia seorang simpatisan HT. Dalam setiap demonstrasi penolakan
Obama dan Amerika ia selalu ikut. Dalam setiap kajian mengenai hukum negara
islam ia selalu datang. Awalnya saya mengira ia adalah seorang yang fanatik.
Seseorang yang taklid buta menginginkan khilafah sebagai harga mati perubahan
di republik ini.
Sambil makan pecel kami berbincang sebentar
mengenai kehidupan. Sekedar basa basi karena telah bertemu di jalan. Di tengah
perbincangan ponsel saya berbunyi, nada derngnya adalah potongan lagu rage
againts the machine. "Wah suka Rage juga mas?" tanya Usman. karena
tak menyimak saya jawab "Apa mas?" "Itu lagunya. Rage Againts
The Machine?" saya terkejut karena bang usman yang punya jenggot tipis
itu mengenal Zack dan kawan-kawan.
Perbincangan
itu lantas mengantarkan kami pada perbincangan mengenai lagu-lagu kanon
RATM dan musik lain. Ternyata saat mudanya (Usman saya perkirakan
berusia 30 tahunan) merupakan penggemar musik seperti RATM, Megadeth dan
Antrax. Dengan dandanan celana kain cingkrang dan kaus bertuliskan
Khilafah Sedunia, saya pikir saya sedang bermimpi. Bagaimana tidak?
komunitas yang selalu getol menolak demorkasi liberal dan menyeru pada
hukum syariah islam ini ternyata menyukai musik yang dianggap kafir.
Sepertinya saya lupa bahwa dalam suatu hikayat
Rasullulah yang diriwayatkan Abu Hurrairah "Seorang muslim itu adalah
saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya."
juga ayat dari Al Maidah 8 " Dan
janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat
adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.” Saya lupa bahwasanya
orang-orang seperti Usman juga mungkin habib-habib FPI merupakan manusia biasa.
Dimana saat muda mereka memiliki memori kolektif terhadap sebuah trend.
Bukan tidak mungkin jika Beib Rizieq pada masa
mudanya adalah metal head yang menggemari Motley Crue dan Kix. Bagaimana jika
Abu Bakar Baasyir adalah fans berat Tiga Dara atau Muddy Watters? Semua
kemungkinan kemungkinan itu menjadikan para tokoh garis keras tadi menjadi
sesosok manusia biasa. Bahwa mereka juga sama seperti kita makan nasi, nonton
televisi, membaca koran dan buang air. melahirkan pemahaman bahwa mereka juga
memiliki perasaan, keinginan, gairah dan obsesi.
Adalah tak adil jika kemudian kita menghakimi
para tokoh garis keras, juga para pengikutnya sebagai manusia yang kering.
Dengan bayangan mereka adalah orang-orang kaku yang kerjaannya hanya membaca
kitab, mengkafirkan orang dan melakukan pengrusakan. Bagaimana jika dalam
kesehariannya mereka adalah orang-orang yang biasa kita temui di jalan? Sebagai
kernet angkot, petugas pajak atau mahasiswa S3?
Pilihan Usman untuk kemudian bergabung dalam HT
adalah murni hak asasinya sebagai manusia merdeka. Sebagaimana juga pilihan
manusia lain untuk beriman kepada Yesus, Budha atau YHWH. Tak ada manusia lain,
atau kelompok yang berhak memaksakan kehendaknya itu. “Saya tak pernah
merasakan paksaan atau cuci otak seperti yang dituduhkan orang liberal itu,”
katanya. Saya tak berani membayangkan jika ia tahu bahwa saya adalah seorang pemikir bebas?
Penilaian-penilaian terhadap manusia lain akan
berujung kepada seberapa besar lingkar otak kita dalam melakukan analisa.
Apakah kita menganggap mereka pahwalan atau seorang preman. Tak salah jika para
remaja tanggung yang mengidolakan restorasi negara (juga keimanan) bersikap
ekstrim terhadap kondisi kekinian. Siapa yang tak jengah (atau bernafsu)
melihat gadis dengan rok mini? Atau dijual bebasnya minuman keras? Atau
bagaimana kapitalisasi perusahaan barat telah merongrong kedaulatan negeri ini?
Keimanan, seperti yang dikatakan Al Imam Syafi’i,
memiliki tingkatan-tingkatan. Ada
iman yang sangat sempurna, ada iman yang berkurang, dan ada iman yang jelas
kekurangannya dan ada pula iman yang bertambah. Seorang zuhud seperti Imam
Syafi’i pun, dalam hidupnya menghindarkan diri dari pertentangan tafsir
keimanan. Juga pertentangan mengenai moralitas dan kebenaran diri sendiri.
Dalam suatu pertemuam Imam Syafi’i pernah
ditantang berdebat mengenai suatu permasalahan. Namun perdebatan itu dilakukan
atas dasar kebencian pribadi dan bukan usaha mencari rahmat illahi. Maka sang
imam menyampaikan sebuah ayat “Dan apabila kamu melihat orang-orang
memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka
membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan
larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu
sesudah teringat (akan larangan itu).” (An’am: 68)
Maka manusia dengan otak paling lemot pun akan
bisa menilai bagaimana asmaul husna di perlakukan. Apakah ia dibiarkan diumbar
dijalanan dengan parang terhunus dan mulut menuh khamr. Atau dalam sebuah
majelis yang santun dan mengedepankan argumentasi dan rasa cinta kasih. Saya
tak mengatakan bahwa Usman dan rekan-rekannya adalah para penjual nama tuhan di
jalanan. Lebih dari itu saya menghormatinya sebagai manusia yang juga bisa
alpa.
Saya kira Usman merujuk pada kejadian Ahmadiyah
di Cikeusik. Saya benar-benar tergoda untuk bertanya pendapat HT terhadap
ahmadiyah. Namun dari matanya saya percaya bahwa Usman adalah manusia yang
mencintai perdamaian. Juga seorang muslim yang meyakini hukum dalam An Nisa:
93. “....Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka
balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan
melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
Lalu bagaimana kemudian awal mula kekerasan itu
terjadi? Mengenai sekelompok manusia yang mengaku pewaris kebenaran illahi?
Mungkin para remaja tanggung yang tak sempat merasakan kegetiran tragdei 98
perlu membaca sejarah. Bagaimana Pam Swakarsa dibentuk militer sebagai dalih
pengendalian masa. Dan bagaimana organisasi fasis berlabel agama itu menjadi
sektarian dan semakin radikal.
Usman dalam perbincangan yang sangat singkat itu
memberikan saya pemahaman yang luas. Bahwa sebagai manusia ia juga memiliki
kekurangan, memiliki keinginan, dan juga memiliki kesamaaan dengan manusia
lain. Fakta jika ia juga menggemari Farrokh Bulsara adalah sebuah kejutan yang
keras. Bahwa mereka yang senantiasa membawa panji-panji hitam kilafah adalah
manusia biasa seperti kita.
Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi
perbedaan? Apakah dengan menunaikan dictum grup hiphop homicide yang mengatakan
“Fasis yang baik adalah fasis yang mati,” lantas jika demikian apa beda kita
dengan kaum fasis yang kita lawan tadi? Mengingat kata-kata Gandhi yang bijak.
“Jika setiap kejahatan mata dibayar dengan mata. Maka seluruh dunia akan diisi
oleh orang buta,”
Kanjeng Nabi Muhammad seperti juga Sidharta di
bawah pohon bodhi sedang berupaya memutus mata rantai kekerasan. Pada zamannya
kanjeng Nabi harus berhadapan dengan hukum barbar suku-suku arab. Dimana setiap
pembunuhan harus dibayar dengan qisas atau diganti dengan harta yang banyak.
Maka inilah arti Islam (atau As Salam) sebagai damai mewujud. Sebagai rahmatan
lil alamin.
Ia lantas bercerita tentang Hari Mukti, salah
satu tokoh HT, juga merupakan mantan rocker dan penggemar musik keras. “Tapi
kalau dalam hati mas Usman sendiri gimana?” tanya saya. “Gak pernah ada yang
namanya mantan metalheads. Selamanya demikian. Tapi sekarang saya lebih banyak
dzikir,” katanya. Perkataanya membuat saya terbayang, bagaimana jika Zack de La
Rocha suatu saat menjadi seorang mubaligh?
Coba cari tahu lagi, ternyata para simpatisan FPI sepanjang Pantai Utara Jawa Timur adalah penggemar berat Kumar sanu dan Alka Yagnik, beserta lirik-lirik ajaibnya.
BalasHapuswah iyakah? ternyata mereka juga suka musik juga hahaha
BalasHapusAda baiknya sebelum memberikan penilain tersendiri terhadap pribadi terhadap seseorang, kita menghabiskan waktu dengannya barang sejam diwarung kopi. Suka tulisan ini. hehe
BalasHapus